
Jika Dea tidak cepat pulang ma*ilah semua orang yang berada di rumah, jika opa nya tau cucu kesayangan nya itu pergi dengan keadaan perut besar.
Tidak lama kemudian Dea dan Mei pun tiba di rumah Sisil, saat masuk ke dalam rumah Mei terbelalak saat melihat Dio yang tengah duduk di ruang keluarga bersama dengan Sisil dan opa nya.
Ya, karena setelah pulang dari studi nya Dio belum sekalipun menemui Mei, rasanya Mei ingin melompat ke dalam pelukan Dio. namun ia urungkan mengingat disana ada papa dari Rio.
"Assalamualaikum, hai opa apa kabar" ucap Dea, ia langsung memeluk opa nya itu. sementara ayah Rio dengan antusias memeluk Dea penuh sayang, karena memang Dea dan Dena lah yang selalu ia anggap sebagai tanggung jawab nya any harus ia jaga. karena Dio laki-laki bisa melindungi dirinya sendiri. namun hal itu tidak membuat kasi sayang sang opa berkurang sedikitpun kepada cucu laki-lakinya yang akan menjadi penerus keluarga Artadinata.
"Hei ada apa dengan perut mu? apa kau sedang sakit" tanya sang opa, saat menyadari bahwa perut Dea buncit.
Semua orang yang berada di ruangan itupun berusaha menahan tawa nya, agar tidak pecah dan tidak membuat sang opa tersinggung.
"Hmmmmm, aku tidak apa-apa opa aku sehat ko" jawab Dea.
"Lalu ini, kenapa perut mu buncit apa kau cac*ngan" celetuk nya membuat Dea mendengus, ya memang opa nya itu belum di beri tahukan oleh mama nya Rio.
"Mana ada cac*Ngan opa, amit-amit" cebik nya.
"Wahhh jangan bilang kalo kamu sedang" ucapan opa nya itu terhenti saat melihat senyum di bibir Dea mengembang, sungguh melihat senyum cucuk nya itu ia merasa bahagia.
"Iya Dea sedang mengandung opa" jawab Dea, ia meletakkan tangan sang opa di atas perut nya, papa Rio menatap Dea yang tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika suami mu itu kencang juga, satu kali sembur ia bisa menanam bibit unggul nya" ucap sang opa membuat Sisil dan Dio tertawa, keduanya tidak bisa lagi menahan untuk tidak tertawa.
Sementara Mei gadis itu hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya, ia takut jika dirinya tertawa maka akan membuat sang opa tersinggung.
"Heh dasar cucuk luknut, sue kamu ya ngetawain orang tua" ucap papa Rio membuat Dio kembali tertawa, ia benar-benar tidak habis fikir dengan opa nya itu.
"Opa ini bagaimana, jika orang sudah menikah sudah pasti akan memiliki anak bukan" ujar Dio.
"Ya, apa kau juga sudah tidak sabar untuk menyemburkan lahar panas kepada Mei" celetuk opa nya, kali ini Dea dan Sisil yang tertawa.
"Mana ada begitu" dengus Dio.
"Hah sudahlah tidak usah malu, aku sudah berpengalaman dalam hal seperti itu" jawab sang opa.
"Jika opa sudah berpengalaman kenapa anak opa cuma ayah dan aunty Sabil saja, itu artinya opa tidak ada tenaga untuk membuat banyak anak bukan" ujar Dio meledek sang opa.
"Hei kau tanyakan kepada ayah mu yang tidak ada ahlak itu, dia selalu mengatakan tidak ingin punya adik" ucap papa Rio, ia mengatakan bagaimana dulu Rio merengek agar tidak memiliki adik lagi saat mama nya akan program kehamilan. karena memang mama Rio sedikit sulit untuk mengandung kembali.
"Kenapa begitu" tanya Dio.
__ADS_1
"Ayah mu itu selalu memakai alasan tidak ingin ribet dengan menjaga adik nya, bahkan ia selalu mengancam akan pergi jika memiliki adik. dasar bocah semprul untung saja aku memiliki Sabylla jika tidak hampa lah hidupku." jawab papa Rio, membuat Dea dan Dio tak henti-hentinya tertawa melihat opa tua nya itu menggerutu.
"Opa sungguh kau lucu" ujar Dio.
"Bahkan kau lihat ayah mu dengan curang memiliki tiga anak, sedang kan aku hanya memiliki dua anak saja itupun Sabylla dan dirinya. ingin memiliki anak lagi tapi itu tidak mungkin, bisa di bu*uh aku oleh ayah mu itu" katanya membuat Dio terbahak-bahak.
"Sudahlah opa, tidak memiliki anak lagi pun opa memiliki banyak cucuk, bahkan kau akan memiliki banyak cicit opa" ucap Dio, mengingat papa Rio kepada Carl anak angkat Dea.
Ia menatap wajah Dea seakan bertanya dimana Carl anak mu itu, Dea yang mengerti tersenyum dan memegang tangan opa nya.
"Namanya Carl Yudistira opa" ucap Dea, membuat semua orang terdiam melihat reaksi papa Rio.
"Berikan nama marga keluarga kita" ucap papa Rio lembut.
"Sudah opa, kamu menambah nama Abrisham di belakang nya. Carl Yudistira Abrisham itulah namanya saat ini" ujar Dea.
"Dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat, bahkan ia akan sangat menyangi mu nak. jangan pernah menyinggung mengenai dirinya yang hanya sekedar anak angkat, jadikanlah dia anak kandung mu jangan sampai adik-adiknya tau jika mereka tidak sedarah sekalipun harus tau buat lah adik-adiknya nanti patuh dan menyayangi nya" ucap sang opa.
"Jangan pernah berbuat tidak adil, katakan itu kepada suami mu. jika dia tidak bisa adil dalam membagi hak waris maka biarkan aku yang mengalihkan ahli waris ku kepadanya, lagipula putraku tidak membutuhkan hartaku. hartanya saja sudah sangat banyak" tambah nya lagi.
"Opa tenang saja, kami sangat menyayangi Carl bahkan diapun sangat menyayangi kami diaini" balas Dea tersenyum mengingat Carl yang posesif.
"Bagus lah, bawa dia di acara pertunangan Dio. aku yakin dia sangat tampan dan akan mengalahkan tampan nya Dio yang akan bertunangan nanti" ceplos nya membuat Dio mendengus, sementara Sisil tertawa memegangi perutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Happy reading ππ€
Nih yang di incar menjadi ahli waris nya papa Artadinata π mau banget kan jadi Carl π Tulung dong genteng banget meleleh gue oh my ππ
Carl Yudistira Abrisham
***N**: Tulung Thor Tulung pen gue bawa pulang π
A: ngaco π€£
N: boleh lah pinjem semalem π€£
A: Jan ngaco Lo π€£
N: ayolah Thor π
A: pertanyaan nya emang dia mau Lo bawa balik π€£
N: pasti kagak lah Thorπ€£ yaampun insecure gue kalo jalan sama dia π€£
A: ngapa tuh? π
N: tangan dia lebih mulus dari muka gue Thor π€£
A: gue yang buluk ini mundur kalo udah bahas soal yang mulus-mulus Mumun sue Loπ€£
N: apalah dayaku yang hanya beli skincare harus nabung dan ngirit duluπ€£
A: apalag daya gue yang gak kesentuh skincare π€£
N: boong Lo ya π€£
A: kepo Lo π€£πͺπ€£
__ADS_1
N: π€£π€£π€£*