
Hari begitu cepat berlalu keluarga Mae dan Dea selalu di lingkupi oleh kebahagiaan, dengan pertumbuhan anak mereka.
Aiden dan Aleta saat ini berusia satu tahun, dan tingkah nya yang tidak bisa diam membuat Dea cukup kewalahan.
Tidak salah jika Justin memberikan tiga suster untuk putranya itu, Aiden menjadi anak yang sangat cerdas dan aktif. namun Justin khawatir dengan pertumbuhan anak nya yang begitu cepat, maka dari itu ia akan selalu memantau Aiden dimanapun dirinya berada.
Saat ini Dea tengah menjaga putranya itu bermain di ruang khusus anak-anak yang berada di rumah nya, Aiden dan Aleta tidak pernah bertengkar justru mereka terlihat saling menyayangi.
"Ai jangan nanti kamu jatuh yaampun" ujar Dea, ia melihat anak nya yang berusaha untuk naik ke atas kursi.
"Mom, au itu mom" rengek nya, Aiden berbicara layak nya anak kecil yang cadel dan menggemaskan.
"Iya tapi jangan kamu ambil sendiri, kan ada mommy kamu bilang. mom sorry can you get it for me" (mom maaf boleh kau ambilkan itu untukku). ujar Dea, ia bukan memanjakan Aiden. hanya saja di usia nya yang masih balita Aiden selalu berusaha melakukan apapun sendiri.
Mendengar ucapan Dea mata bulat Aiden mengedip lucu, Mae yang melihat nya tertawa Mae dan Dea selalu membagi kasi sayang nya satu sama lain untuk Aiden dan Aleta.
"Mom solly" ujar nya.
"Baiklah, apa yang kamu inginkan" tanya Dea.
"Toy cal" (mobil-mobilan). jawab nya.
"Ini boy, ambillah" ucap Dea, ia melihat Aiden duduk dengan tangan yang memainkan mobilan nya.
"De" panggil Mae.
"Hmmmmm" jawab Dea.
"Gak kerasa ya udah satu tahun usia Aiden dan Aleta, itu artinya udah enam bulan Carl pergi jauh dari kita" ucap Mae, membuat Dea menoleh. ingin menangis jika ia mengingat putranya itu, Carl selalu menelpon Dea dengan sendu bahkan ia selalu memanyunkan bibirnya karena merindukan mom dan adik nya.
"Iya Mai, bahkan Aiden dan Aleta sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas" ujar nya.
Saat tengah asik bermain tangan Aiden terjepit pintu lemari mainan nya, hal itu membuat nya menjerit bukan karena sakit namun karena kaget.
"Huaaaaaaaa mommy, hiks... mommy" jerit nya, membuat Dea dan Mae menoleh.
__ADS_1
Dea yang terkejut langsung melompat ke arah Aiden, di lihat nya tangan Aiden merah. panik tentu saja Aiden bagaikan anak berlian untuk Daddy nya.
"Kamu kenapa ai, yaampun manjat-manjat lemari segala" kekeh Dea.
"Aban ai tenapa" tanya Aleta.
"Abang ai nya kejepit El" jawab Dea.
"Daddy huaaaaaa" tangis nya, mendengar Aiden menagis Mae bingung. karena selama ini Aiden tidak pernah menangis.
"Tumben nangis" tanya Mae.
"Itu Mai pintu lemari mainan yang itu kan kalo nutup ngegas banget kaya ngajak berantem, mungkin dia kaget kali" ujar Dea, ia menggendong Aiden sambil cekikikan.
"Emak edan, anak nangis emak nya cekikikan" dengus Mae, yang juga merasa lucu.
"Aiden yang kejepit gue ikut kaget, udah lagi Melo ngomongin Carl lah bocah bikin gue shock pas liat tangan nya kejepit sampe merah memar begini" ucap Dea, ia menunjukkan jari Aiden.
"Gue yakin bapak nya bakal ngomel de" ucap Mae.
Sore hari Justin pulang dari kantor, ia melihat Aiden yang tertidur di kamar nya. Justin mendekat dan mencium pipi gembul putranya itu.
Tidak sengaja tangan Justin menyenggol lengan mungil putranya, hingga membuat Aiden terbangun dan menangis.
"Hiks..hiks... Daddy takit" lirih nya, membuat Justin mengernyit bingung.
"Sakit? apanya yang sakit" tanya Justin.
"Tanan ai takit" tangis Aiden pun pecah, bukan hanya soal tangan namun hari ini Aiden sangat terlihat rewel.
Justin yang mendengar ucapan putranya langsung melihat tangan mungil Aiden, betapa terkejutnya ia melihat tangan Aiden memar dan sedikit bengkak.
"Lah tangan nya kenapa?" tanya Justin panik, ia langsung mengangkat tubuh Aiden.
Dea yang mendengar ada suara langsung keluar dari kamar mandi, ia melihat Justin yang menggendong putranya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: gue gemes sendiri sama Aiden 😂
N: kenapa begitu 🤣
A: kalo aslian lucu kali ya 😆
N: keren ya Thor 😂
**A: lah iya 😆😆😆***
__ADS_1