Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 146


__ADS_3

sepulang dari sekolah nya Mei sedang menemani sang bunda yang tengah memotong sayuran di dapur, Sisil sangat senang karena kehadiran Mei ia jadi ada teman di rumah saat kedua anaknya tengah sibuk.


"Mei kamu pulang sekolah tadi naik apa?" tanya Sisil


"aku naik ojek bunda" jawab nya membuat Sisil membuka mulutnya.


"kenapa naik ojek?" tanya sisil lagi


"terus aku harus naik apa? masa aku harus naik kuda" jawab nya lagi


"kenapa nggak naik taksi aja atau apa gitu Mei" ucapnya.


"ribet ah bunda, lagian nunggu taksi nya lama kan nanti Mei telat pulang" jawab Mei.


"bunda Abang sama kak Dea suka pulang jam berapa?" tanya Mei


"jam empat Mei emang kenapa?" jawab Sisil


"oh pantes udah jam tiga Abang belum pulang juga" ujarnya.


setelah memotong sayuran Mei dan Sisil memutuskan untuk ke ruang tengah untuk menonton televisi, dan saat itu juga Dio dan Dea pulang. Dio merasa kesal karena ia menjemput Mei namun yg di jemput malah sudah pulang.


"assalamualaikum" ucap keduanya


"walaikumsalam" jawab Sisil dan juga Mei.


"bocah tengik, Lo kenapa pulang duluan" ucap Dio saat melihat Mei


"ya terus Mei harus pulang kapan? nunggu Abang?" jawab nya


"Lo sengaja ngerjain gue ya" ujar Dio


"mana ada Mei ngerjain Abang yg ganteng ini" ucap Mei membuat Dea tersenyum.


"cih. minggir Lo" ujar Dio menggeser posisi duduk Mei.


"ihh Abang apaansi! itu kan Masi banyak tempat" gerutu Mei


"berisik" ucap Dio


"kak Dea Abang nya nih nakal" adu Mei kepada Dea.


"udah biarin aja pagi sensi dia" ucap Dea


"Abang lagi pms ya? ko sensi" tanya Mei membuat Dea dan Sisil tertawa.


"sembarangan kalo ngomong" kesal Dio


"Abang ganteng" panggil Mei


"....." tanpa menjawab


"abaaaaang" panggil nya lagi


"......" namun Dio masih diem


"OMG helloooo Abang Bud*k ya" ucap Mei membuat Dea tertawa. namun Dio hanya melirik nya sekilas.


"Abang ganteng nggak boleh gitu, nanti Abang suka sama Mei eh Mei nya udah sama orang" ucap Mei polos.


"Mei kalo Dio suka sama Mei emang Mei mau" tanya Dea

__ADS_1


"insyaallah kita berjodoh haha" jawab nya dengan logat menggoda, membuat Sisil dan Dea tertawa.


melihat dirinya terpojokkan Dio pun bergegas ke kamar nya untuk mengganti pakaian, begitupun dengan Dea. saat Dea ingin merebahkan dirinya Mei masuk ke kamar nya.


"kakak ada yg nyariin noh di bawah" ucap Mei


"nyariin? siapa?" tanya Dea


"nggak tau ibu-ibu cantik banget kaya bundah" ucap Mei


"bilangin aku tidur" ujar Dea


"nggak boleh gitu kak masa mau boong kan dosa" ucap Mei


"yasudah ayo" ajak Dea menarik tangan Mei.


Dea pun menghampiri sang bunda yang tengah mengobrol dengan tamu yang di maksud Mei, ya itu adalah tetangganya yang memiliki rumah istana di sebrang rumah Dea.


"hey sayang" ucap ibu alin


"Tante...eh mami maksudnya" balas Dea tersenyum.


"cantik sekali" ucap mami alin


"makasih" jawab Dea malu-malu.


"kakak muka nya merah kaya kepiting rebus" ucap Mei polos membuat Dea menatap nya tajam.


"iya sayang kakak nya malu-malu ya" ujar Sisil di angguki oleh meitha.


"Dea kamu mau nginep rumah mami ya, mami sendirian" ucap alin membujuk Dea


"eh...kok nginep?" tanya Dea menatap sang bunda


"tapi..tapi Dea belum ijin ayah, iya Dea belum ijin sama ayah" jawab nya gugup.


"nggak usah mami alin udah ijin sama ayah sayang" ucap Sisil membuat Dea kesal.


"ya Dea mau ya nginep rumah mami,suami mami nggak ada lagi ke luar negeri. anak-anak mami juga sama mereka lagi studi di luar negeri" ujar mami alin.


(ohhhh jadi si gnteng kulkas empat pintu itu lagi nggak ada... hmmmm tapi gimana ya aku ko takut) batin Dea


"gimana bunda" tanya Dea kepada Sisil.


"yasudah tidak apa-apa sayang" jawab Sisil


"baiklah Dea mau" balas Dea.


Dea pun pergi ke rumah mami alin untuk menginap, dan menemani wanita paruh baya itu.


di tempat lain sedang ada percekcokan antara curut dan tikus.


"Abang ayolah bantuin Mei ngerjain tugas" pinta Mei yang saat ini berada di kamar Dio.


"gak mau, ke kak Dea aja kenapa" ucap Dio


"kakak nggak ada lagi nginep di rumah mami alin" ujar Mei


"gue ada urusan Mei" ucap Dio memakai sepatu nya.


dengan cepat Mei mengambil sebelah sepatu milik Dio, dan melemparkannya ke luar jendela kamar...

__ADS_1


hal itu membuat Dio menganga, sepatu limited edition milik nya bernasib nyangkut di atas pohon.


"anak curuuuuuttttt sial*n sepatu gue" teriak Dio namun Mei hanya tertawa mengejek.


"Abang sepatunya lepas" ucap Mei masih tertawa.


"bukan lepas kampr*t Lo lempar" teriak Dio meratapi nasib sepatu nya yang menggantung, bukan tidak bisa beli lagi namun itu salah satu sepatu kesayangannya.


"haha Mei gak sengaja Abang" ucapnya membuat Dio merangkul pundak nya.


"ambil sepatu gue gak hah" ujar Dio


"haha Abang ampun Mei kecekik ini" ucap Mei masih tertawa.


"ambil" ucap Dio


"Mei gak bisa manjat pohon Abang, tapi kalo manjat hati Abang Mei ahlinya haha" ujar Mei tertawa.


"Lo bener-bener ya kalo bukan orang udah gue bejek-bejek Lo" umpat Dio


"haha Abang lepas leher Mei sakit" ucap Mei


"itu sepatu gue gimana Mei yaampun bocah.... tengik" umpat Dio


"haha Abang nanti Mei ganti sepatu nya pake bakiak" ucap Mei lagi


"serius Lo nyebelin" ucap Dio melepaskan Mei


"nyebelin apa ngangenin" ujar Mei.


"serah Lo anak curut" ucap Dio membuat Mei kembali tertawa.


Mei dan Dio memang sering berdebat soal hal-hal kecil, namun perdebatan itulah yang membuat nya selalu ceria.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


N**: aku aneun babang DioπŸ˜‚


A: Sama aku aneun gak? 😁


N: nggak sama kamu aneun up doang🀣


A: sial*n πŸ˜’

__ADS_1


N: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚*


__ADS_2