
Setelah kepergian mami alin Dea dan Mae menatap Julian dengan horor, Julian membalas tatapan keduanya dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Julian kepada Mae dan dea.
"Apa" balas Mae.
"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu" ucap Julian.
"Nggak apa-apa, aku mau jalan-jalan keluar" jawab Mae, beranjak dari duduknya.
"Mae ikut" ucap Dea, mengekor di belakang Mae.
"Mai ihhhh jangan pergi dong, tar aku mual lagi ini" ucap Julian, yang sudah merasa tidak enak pada perut nya.
"Ikutin aja apa Jul" ucap Mae, yang terus saja berjalan.
"Haih ngeselin" ucap Julian, yang lagi-lagi membuat perut nya mual.
"Iya nggak jadi, gak nyebelin nggak" ujar nya, membuat Dea terkekeh.
Mereka pun berjalan-jalan di taman komplek, Mae dan Dea terlihat bercengkrama dengan asik. hingga tiba-tiba Dea berhenti dan melihat penjualan cilok.
"Jul" panggil Dea.
"Iya kenapa de?" tanya Julian.
"Pengen itu" tunjuk nya kepada Abang cilok.
"Emang boleh makan cilok?" tanya Julian.
"Boleh, cepet beliin" ucap Dea.
"Haih, ini Lo yang Midun ngapa gue yang ribet" Grutu Julian, hingga tiba-tiba Mae memanggil nya.
"Julian" panggil Mae.
"Kenapa lagi ini?" tanya Julian.
"Lihat itu apa" tunjuk Mae, kepada pohon mangga yang berada di samping rumah tetangga nya.
"Pohon mangga" ucap Julian.
"Iya tau, maksudnya yang itu" tunjuknya kepada buah mangga muda.
"Buah mangga, kenapa emang" ujar Julian.
"Kayak nya kalo makan itu enak Jul" ucap Mae.
"Itu Masi mentah Mai" ucap Julian, namun ia di kagetkan oleh teriakan Dea.
"Julian" pekik Dea.
"Hah yaampun kenapa Dea" tanya Julian.
__ADS_1
"Beliin gue cilok" dengus nya.
"Tinggal beli doang apa susah nya sii" ucap Julian.
"Gue mau nya Lo yang beliin Jul" ucap Dea memelas.
"De yang midunin Lo bang Justin, ngapa jadi gue yang dibikin kelimpungan" ujar Julian.
"Jul ponakan Lo pengen uncle nya yang beliin" ucap Dea, mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"Hah" ucap Julian menghela nafasnya, ia melihat mata binar Mae yang terus menatap buah mangga.
"Jul itu" rengek nya.
"Kamu tunggu bentar, aku beli cilok dulu udah itu kita beli buah mangga muda nya" ucap Julian, berlalu meninggalkan Mae dan Dea.
Setelah selesai dengan keinginan Dea, Julian kembali kepada Mae ia mengajak sang istri untuk membeli buah mangga. namun Mae menolak nya.
"Kenapa, katanya mau beli buah mangga muda" ucap Julian.
"Ihhhh nggak mau beli, aku maunya buah yang itu" ucap Mae, membuat Julian semakin bingung.
"Gimana cara ngambil nya Mai, mending kita beli aja ya" ucap Julian.
"Ih nggak mau, anak kamu maunya yang itu" kekeh Mae.
"Ya terus gimana caranya" tanya Julian.
"Ya manjat lah Julian, aku mau kamu manjat pohon itu." jawab Mae, membuat Julian menganga.
"Iyalah kamu mah, manjatin aku aja kamu bisa tanpa protes. masa menjat pohon pake protes ini permintaan anak kamu." ceplos mae ia mengelus perutnya, dan itu membuat Julian menggeleng tidak percaya.
"Mai gak usah bocor juga dong" ucap Julian, ingin marah ia takut jika anak nya akan membuat Julian semakin tersiksa. lebih baik di iya kan saja biar bumil nya bahagia.
"Jadi gimana?" tanya Mae.
"Yaudah iya aku manjat, tapi bilang dulu sama yang punya ya" ucap Julian.
"Ih nggak usah langsung petik aja" ucap Mae.
"Wah jangan g*la dong, anak gue bapak nya banyak duit yakali cuma buah mangga aja make ny*long" ujar Julian.
"Turutin aja apa Jul, kemauan anak Lo itu" ucap Dea.
"Tapi ini dosa de nggak boleh begitu" ucap Julian.
"Biasanya juga lo_" ucapan Dea terhenti.
"Udah de gak usah di bahas, kalo Lo bahas kejelekan gue dijamin gue bakal muntah disini" ucap Julian membuat Dea tertawa puas.
"Yaudah gue nyerah dan gue manjat puas" ucap Julian, Mae pun mengangguk dengan bahagia. Julian melihat wajah Mae yang berbinar merasa ada yang aneh dengan perasaan nya, ia merasa bingung kenapa melihat senyum di wajah Mae membuat nya tenang dan damai.
Julian mulai memetik buah mangga nya, dalam hati ia komat-kamit agar si empunya pohon tidak keluar. namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya, Julian mendengar suara teriakan wanita yang memintanya untuk turun.
__ADS_1
Melihat seorang ibu-ibu dengan memegang sapun di tangan nya Julian menelan Saliva nya dengan kasar, ia mencari keberadaan Mae dan Dea namun tidak ada.
"Haaaahhhh, anak gue nakal rela liat bapak nya di gebukin emak-emak" ucap Julian, sambil turun.
"Apa yang kau lakukan dasar mal*Ng" Peking wanita itu.
"Bu maaf, saya bukan maling Bu. tadinya saya mau membeli buah mangga nya tapi istri saya yang sedang ngidam meminta saya untuk langsung manjat" ucap Julian menjelaskan.
"Ngeles saja kamu, jelas-jelas kamu mau mal*Ng" pekik nya.
"Begini saja Bu, daripada ibu harus marah-marah dan teriak-teriak lebih baik saya bayar buah mangga nya" ucap Julian, jujur ia merasa kesal dan marah. namun apa boleh buat di saat seperti ini bahkan saat perut nya bergejolak minta mengeluarkan isi nya, Julian tetap menahan nya.
"Gitu dong dari tadi, yasudah bayar lima ratus ribu" ucap wanita itu.
"Baiklah, ini uang nya Bu" ucap Julian yang mulai jengah, perse*an dengan harganya yang di mahal kan. yang jelas Julian sudah tidak ingin berdebat lagi yang akan membuat nya mual lebih lama.
Julian pun mengambil lima buah mangga yang tadi di petiknya, ia bergegas pulang untuk menemui istrinya yang nakal itu.
"Setiba nya di rumah Julian di kejutkan oleh Dea dan Mae yang tengah memakan buah mangga yang sudah matang, Julian menghela nafasnya berat.
Ingin sekali ia mengumpati dua wanita yang kini di hadapan nya, namun Julian berusaha menahan nya mengingat keduanya tengah mengandung.
Sebelum Dea dan Mae meminta yang aneh-aneh, Julian pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ๐๐ค
A**: gue nulis part Julian ko lier ya๐
N: ngapa tuh thor๐
A: orang ngidam kaya gimana, gue belum ngerti jadi kalo ada yang sedikit aneh Mon maklum ya๐
N: haha iya Thor pasti gue maklumi ko๐
A: makasih Uun๐
__ADS_1
N: sama-sama Thor๐ค*