Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 210


__ADS_3

Malam hari Sisil memasuki kamar Dea dilihatnya sang putri sedang terlelap, Sisil duduk di samping tempat tidur Dea dan mengelus pipi putri nya.


Jika di perhatikan tubuh Dea lebih berisi dari sebelumnya, namun Sisil masih bingung dengan pemikiran nya sendiri.


"Kak bangun" panggil Sisil.


"Emmmhhh" lenguh Dea.


"Bangun nak, makan malam dulu" ucap Sisil.


"Lima menit lagi Abang" ucap Dea, tanpa sadar dirinya berada di rumah sang bunda. dan itu membuat Sisil tersenyum, karena itu artinya selama ini justin memperlakukan Dea dengan baik.


"Nak ini bunda" ucap Sisil menepuk pipi Dea.


"Enghhh. eh bunda" ujarnya saat membuka mata.


"Makan dulu nak, kamu belum makan malam" ucap Sisil.


"Bunda sudah?" tanya Dea.


"Sudah tadi bunda liat kamu nyenyak banget, gak tega mau bangunin" jawab Sisil, Dea pun mengangguk.


Dea dan Sisil turun ke bawah dilihat nya sang ayah sedang menonton film bersama Mei dan Dena, Dea tersenyum dan lagi-lagi mengelus perutnya. hal itu tidak lolos dari pandangan Sisil.


"Aduh" ucap Dea tiba-tiba.


"Kenapa kak?" tanya Sisil khawatir.


"Nggak tahu Bun, kepala aku pusing" jawab nya.


"Yasudah kamu makan dulu, ayo bunda suapin" ucap Sisil, menuntun Dea.


Dea melihat makanan yang berada di meja makan namun tidak ada yang membuat nya berselera, Sisil yang melihat raut wajah anak nya merasa bingung.


"Kaka kenapa?" tanya Rio yang tiba-tiba muncul.


"Eh ayah, gak apa-apa" jawab Dea, Rio mengecup pipi anak nya dan duduk di hadapan Dea.


"Muka nya ko asem amat" ucap Rio.


"Aku gak nafsu makan" balas Dea.


"Kakak harus makan nanti sakit nak" ucap Rio.


"Nggak mau ayah" balas Dea.


"Yasudah kakak mau makan apa?" tanya Sisil.


"Pasta Bun aku mau pasta" jawab Dea dengan mata yang berbinar.


Namun hal itu membuat Rio dan Sisil saling memandang, karena tidak biasanya Dea ingin pasta saat makan malam.


"Oke kita pesan" jawab Rio.


"Nggak aku mau Mei yang masakin pastanya" ujar Dea membuat Mei yang fokus menonton pun menoleh.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya mei.


"Buatin aku pasta Mei" jawab Dea, membuat Mei menganga.


"Kakak kan biasanya pesan" ucap Mei.


"Nggak mau kali ini aku mau kamu yang masak" balas Dea.


"Tapi me_" belum sempat Mei berkata Dea sudah memotong nya.


"Kalo Mei gak mau ya aku gak mau makan" ucap Dea santai, dan itu membuat Rio dan Sisil memandang Mei lalu mengangguk.


"Ya baiklah, tapi aku di bantu bunda ya. soalnya aku gak bisa masak pasta, kali masak mie aku juaranya" ujar Mei membuat Rio tersenyum.


"Oke" balas Dea antusias.


Mei mendekati Sisil lalu berbisik kepada sang bunda, dan mengatakan bahwa niat sang bunda untuk memeriksa Dea itu harus di lakukan. Sisil yang mendengar itu hanya tersenyum, karena Mei yang menjadi sasaran utama Dea.


Sambil menunggu Mei memasak Dea beranjak ingin mendekati Dena adik bontotnya, namun tiba-tiba tubuhnya limbung dan.


Bruuuk... Dea tergeletak tidak sadarkan diri.


Hal itu membuat Rio, Sisil juga Mei terkejut. tanpa menunggu lama Rio berlari ke arah putrinya itu.


"Kakak" teriak ketiganya bersamaan.


"Kak bangun" ucap Rio memeluk tubuh Dea.


"Bun kenapa ini?" tanya Rio.


"Nggak tau ayah, Mei panggil dokter" ucap Sisil.


"Kak bangun" ucap Sisil mengelus kepala Dea.


Saat Sisil dan Rio sedang menunggu dokter ponsel Dea berdering, dilihatnya Justin yang menghubungi Dea.


Sisil dan Rio saling pandang karena bingung apa yang harus di katakan kepada Justin, namun mereka berfikir Dea istri Justin maka ia harus memberi tahu Justin.


****Percakapan telepon*


Sisil**: assalamualaikum bang.


Justin: walaikumsalam, loh ko bunda yang angkat. Dea nya kemana ya Bun?


Sisil: ah iya, anu bang ini Dea nya Pi..pingsan bang.


Justin: apa! kenapa bisa pingsan.


Sisil: bunda gak tau bang kita lagi nunggu dokter dulu.


Justin: yasudah kabari Abang Bun.


Sisil: iya bang, bunda tutup dulu telepon nya ya bang.


Justin: iya Bun*.

__ADS_1


Panggilan terputus, di hatinya Justin merasa khawatir bukan main. ingin sekali ia kembali ke tanah air namun apalah daya urusannya belum selesai.


Dokter yang akan memeriksa Dea pun tiba, dan segera memeriksa keadaan Dea.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Rio.


"Begini tuan nona muda baik-baik saja, mungkin ini hanya karena kelelahan" jawab dokter itu tersenyum.


"Tapi ini tidak seperti biasanya dok, biasanya secapek apapun dia gak sampe pingsan" ucap Sisil.


"Iya nyonya karena nona muda sedang mengandung dan usianya baru menginjak empat minggu, jadi tubuh nya akan mudah lelah. saya sarankan nona tidak banyak mengerjakan pekerjaan yang membuatnya lelah, karena kondisi kandungan masih muda jadi rentan untuk mengalami keguguran" jelas dokter itu membuat Sisil, Mei dan Rio terkejut.


"Saya akan memberikan vitamin untuk nona muda tuan, dan saya permisi undur diri" ucap sang dokter, diikuti oleh Mei.


Sementara Rio dan Sisil memandang wajah pucat Dea, tidak percaya? tentu saja mereka tidak percaya apalagi Sisil.


Selama ini Dea tidak pernah mau di sentuh oleh Justin, lalu apa ini? putri nya saat ini tengah mengandung. bagaimana apa Dea akan menerima nya atau malah akan membuat Dea tertekan.


"Bunda gimana ini, kita mau ngomong apa sama kakak?" tanya mei saat tiba.


"Mau tidak mau Dea harus tahu Bun, itu anak nya lagi pula dia punya suami yang akan bertanggung jawab kan" ucap Rio.


"Ayah benar, dengan seperti ini Dea akan merasakan tanggung jawab yang lebih besar" ujar Sisil.


Saat tengah berbincang Dea pun membuka matanya, Sisil yang melihat itu merengkuh tubuh Dea kedalam pelukannya.


"Bunda" lirih Dea.


"Iya nak, selamat sayang selamat" ucap Sisil.


"Maksudnya bunda selamat untuk apa?" tanya Dea.


Sebelum Sisil menjawab ia menatap manik mata Dea, ia menatap penuh kasih sayang dan cinta nya hingga membuat Dea semakin kebingungan.


.


.


.


.


.


.


***semangat membaca 😊🤗


A**: doain hari ini biar banyak up nya ya😁


N: harus banyak Lo udah bikin gue nunggu dua hari😒


A: doain mangkanya biar badan gue nya kuat😁


N: kuat menghadapi kenyataan ya Thor 😂

__ADS_1


A: haha iya bener🤣


N: an*Ir🤣🤣🤣*


__ADS_2