Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 193


__ADS_3

Hari ini Dio akan pergi untuk melanjutkan studinya, sebelum berangkat Dio menghampiri Mei dulu yang berada di kamarnya.


"Mei gue berangkat dulu ya, Lo baik-baik jangan selingkuh" bisik Dio di telinga Mei.


"Inget gue lakuin ini biar Lo gak sedih, gue pamit" tambah nya.


Cup... Dio menciumi wajah Mei sebelum pergi.


Dio di antar ke Bandara oleh ayah bunda, Dea dan juga Justin. karena Dio pergi saat Mei masih tidur.


Dea yang melihat kegelisahan sang adik pun menarik Dio kedalam pelukannya, ia menyemangati Dio dan menenangkan nya.


"Semangat dong, jangan sedih begitu jelek Lo" ucap Dea.


"Nanti gue kangen Lo de" balas Dio.


"CK. boong banget si kangen sama gue" ucap dea


"Serius" ucap Dio.


"Lo mah kangen sama Mei ya" goda Dea, membuat Dio mendengus kesal.


"Yaudah bang jaga diri baik-baik, bunda yakin kamu bisa kok" ucap Sisil.


"Inget bang kamu harus bisa berdiri dengan kaki kamu sendiri, kaya bang Justin" ujar Rio.


"Semangat Dio, kamu pasti bisa" ucap Justin.


Dio pun memeluk mereka secara bergantian, namun ia enggan melepaskan pelukan sang bunda.


"Tenang Mei nya nanti bunda jagain ko" ucap Sisil, membuat Dio terkejut.


"Maksudnya bunda?" tanya Dio.


Sisil pun menceritakan mengenai Mei yang masuk ke kamarnya semalam, Mei menangis meminta agar Dio tidak kuliah di luar. dan dari situ Sisil menangkap jika Mei dan Dio ada hubungan, namun untuk menjaga keamanan keduanya Sisil, Rio juga Justin memutuskan tetap mengirim Dio keluar. agar Dio tidak kelewatan dalam berpacaran.


"Bunda udah tau? tapi kan Abang sama Mei gak pacaran" ucap Dio.


"Sama aja mau pacaran atau nggak, kalian gak boleh satu rumah dulu" ujar Sisil.


"Iya apalagi kita udah tau, kalo Lo udah mulai mepet-mepet sama si Mei" ucap Dea.


"Apaan si Lo de, siapa yang mepet-mepet?" ujar Dio.


"Halah mana ada cowok tahan deket-deket, sama cewek yang di sukai" cetus Dea membuat Rio tersenyum.


"Udah bang semua akan indah pada waktunya" ucap Dio.


"Udah sana elah lembek banget" ledek Dea.


"Yaudah aku berangkat dulu ya Bun" pamit nya mencium pipi sang bunda.


"Baik-baik disana" ucap Sisil.


setelah mengantar Dio dan kembali ke rumah Dea memutuskan untuk tidur lagi, karena ini masih terlalu pagi.


Jam 8 pagi Mei terbangun dari tidurnya, ia merasa mimpi jika Dio pergi. namun itu bukan mimpi Mei benar-benar merasa bahwa semalam Dio memang masuk ke kamarnya.


"Abang" teriak Mei beranjak dari tempat tidur nya. tanpa sadar bahwa kakinya terlilit oleh selimut dan.


Bruuuk... Mei terjatuh, ia menangis sejadi-jadinya tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya. Mei teriak dengan kencang, hingga membuat Sisil menghampiri nya.


"Araaagghhh Abang jahat! hiks...hiks..." teriak Mei.


"Mei sayang kamu kenapa nak?" tanya Sisil memeluk Mei.

__ADS_1


"Abang mana bunda" tanya mei.


"Mei Abang kan udah pergi nak" jawab Sisil.


"Bunda bohong kan, Abang gak pergi kan Bun" lirihnya.


"Mei Abang udah pergi, tapi kan Abang pergi juga nanti balik lagi" ucap Sisil.


"Nggak Abang jahat....hiks...hiksss... Abang gak boleh pergi bunda Abang gak boleh pergi" teriak Mei, membuat Dea yang masih terlelap di kamarnya langsung bangun dan berlari keluar.


"Mei" ucap Dea, berjongkok di hadapan Mei.


"Kenapa Bun?" tanya nya kepada Sisil.


"Ngamuk kak, kirain si Abang udah bilang sama Mei. taunya" jawab sisil, membuat Dea membuang nafas nya kasar.


"Kurang asem emang" gumam Dea.


"Gimana ini kak, mana ayah lagi pergi terus ini si Mei gimana?" tanya Sisil.


"Bingung aku Bun, ini kalo udah soal hati aku nyerah" jawab Dea membuat Sisil menepuk dahinya.


"Kamu udah nikah juga, coba panggil Justin" ucap Sisil.


"Lah bunda yang si Mei mau Dio bukan justin. lagian si Abang udah jalan ke kantor" balas Dea.


"Mei udah ya jangan nangis" rayu Sisil.


"Mei kamu gak sendirian, disini ada kita ko" tambah Dea.


Bukannya menjawab Mei malah berlalu, dan menutup pintu kamar nya. itu membuat Sisil dan Dea melongok.


"Bun ini gimana" tanya Dea.


"Mei buka pintunya" teriak Dea.


"Mei kamu gak boleh kaya gini Mei, buka" tambah nya lagi.


"Nggak mau, kalian jahat hiks...hiks..." balas Mei. membuat Dea yang berada di luar terkejut.


"Bunda aku jahat katanya" adu Dea.


"Aku jahat apaan? kan aku gak sakitin Mei" lirihnya.


"Mei kita jahat apanya?" tanya Sisil.


"Kenapa bunda sama kakak gak bangunin Mei, kenapa kalian biarin Abang pergi" jawab Mei.


"yaampun Bun, orang jatuh cinta ribet amat ya. untung gue belum cinta sama si Abang" ucap Dea membuat Sisil menyentil nya.


"Mei kita bukan sengaja gak bangunin kamu, tapi si Abang yang minta katanya dia gak mau ganggu tidur nya kamu" balas Sisil.


"Bun udah lah biarin tenang dulu, lagian kalo kita bahas Dio Mulu nanti yang ada makin ke inget dia" ujar Dea.


Iya bener juga kamu kak" balas Sisil.


"Kapan aku pernah salah emang?" tanya Dea.


"Selama ini si belum pernah ya" jawab Sisil. membuat Dea tertawa dan memeluk nya.


"Udah ah ngomong sama bunda mah bikin aku ketawa Mulu, mending aku mandi" ucap Dea berlalu ke kamar nya.


...


Setelah membersihkan diri Dea menghampiri sang bunda yang sedang menyuapi Dena, Dea tersenyum melihat kecantikan adiknya itu ia benar-benar terpana.

__ADS_1


"Hei sayang, cantik banget adiknya kakak" ucap Dea menciumi pipi gembul nya Dena.


"Hihi Deli hihi tata Deli" ucap Dena.


"Dena tinggal sama kakak aja lah ya, jangan sama bunda" ucap Dea.


"Mana ada begitu, kalo mau ada temen nya bikin anak" cetus Sisil.


"Astagfirullah bunda, ngomongnya suka bener. eh gak boleh aku belum kelar kuliah kan masa udah punya baby aja" ucap Dea.


"Gak apa-apalah kak, lagian mau sampe kapan kamu puasain si Abang? kasian lah kak" ujar Sisil. ia ingin mencoba membuat Dea paham akan kewajiban nya selain mengurus keperluan justin, juga Dea harus memenuhi kebutuhan batin nya.


"Maksudnya gimana?" tanya Dea.


"Ya kamu masa mau nyuru si Abang jaga jarak aman terus, berapa tahun bunda tanya?" balas Sisil.


"Aku kan mau kejar materi paling dua tahun Bun" ucap Dea.


"Terus si Abang harus nunggu selama dua tahun? yakin kamu kalo dia bakal setia?" ujar Sisil.


"Ihhhh bunda kok ngomong nya gitu sii? kan Abang pilihan ayah sama bunda" ucap Dea.


"Meskipun begitu, dia juga laki-laki normal kak. apalagi di usianya sekarang, dia juga punya nafsu gak kasian kamu biarin si Abang tahan nafsunya?" ujar Sisil membuat Dea terdiam.


"Kamu gak bisa egois kak, bunda sama ayah gak ngajarin kamu buat egois. kita memang selalu negrtiin kamu, kita selalu berusaha buat ikutin maunya kamu. tapi kali ini beda, bagaimanapun Justin suami kamu. dia laki-laki yang punya hasrat, jangan sampai karena keegoisan kamu bikin dia cari wanita lain buat puasin hasratnya" ucap Sisil, mencoba menjelaskan.


"Tapi aku belum siap punya anak" balas Dea.


"Banyak cara biar kamu gak punya anak dulu, kalian bisa menundanya. tapi kamu jangan lupain kewajiban kamu sebagai seorang istri" ucap Sisil.


(bukannya gak mau jadi istri yang baik, cuma kan gue belum tau perasaan nya bang Justin ya. kalo dia gak suka sama gue gimana? kalo dia ninggalin gue nanti pas gue udah serahin semuanya ke dia kan repot) batin Dea.


"Iya nanti aku fikirin lagi Bun" ucap Dea.


Sisil mengerti akan ketakutan anaknya, namun ia tidak ingin Dea seperti dirinya dulu yang menahan Rio untuk menyentuhnya. Justin dan Rio itu beda, Rio benar-benar menutup diri kepada wanita tapi Justin? ia banyak di gilai wanita apalagi Justin laki-laki muda yang tampan dan mapan.


.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


A**: Dio nya udah otw gaes, biar bisa cepet halalin neng Meimei😁


N: halalin gue gak Thor😁


A: minta sama laki Lo Sono UunπŸ˜‚


N: haihhhh kejam bener πŸ˜’


A: lagian elo! jangan mau punya orang lebih baik syukuri punya sendiri πŸ˜‚


N: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ akupadamu lah πŸ€—


A: 😁😁😁*

__ADS_1


__ADS_2