
Siang hari Dea merasa perut nya keram ia pun berjalan ke ruang tengah untuk menemui mami alin, Dea duduk di dekat mami nya itu Sabil meringis hal itu membuat mami alin menoleh.
"Kamu kenapa de?" tanya mami alin yang mulai khawatir.
"Perut Dea keram mi" jawab nya.
"Udah mau lahiran kali" ucap Mae, namun Dea hanya diam saja.
"Mi" pekik nya tiba-tiba membuat mami alin dan Mae terlonjak kaget.
"Hoyy, de ngagetin aja" ujar mami alin.
"Perut Dea sakit" lirih nya, Mae yang melihat Dea kesakitan langsung berlari untuk memanggil Justin.
"Bang Dea bang" teriak Mae.
"Apasi mai teriak-teriak ini bukan hutan" ucap Justin.
"Yaelah bang, gak ada yang bilang ini hutan kali" cebik mae.
"Ya terus kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Justin, membuat Mae menarik tangan Abang ipar nya itu.
"Ikut dulu lah jangan banyak ngoceh" ucap Mae membuat Justin mendesis.
"Mimpi apa saya punya adik ipar kaya kamu" cebik Justin.
"Mimpi indah bang, udah si itu anak Abang udah mau brojol Jan banyak ngomong" ucap Mae membuat Justin terbelalak.
"Apa?" pekik nya membuat Mae berhenti melangkah.
"Perut Dea sakit bang kaya nya mau lahiran" ucap Mae.
"Kamu ini kenapa gak ngomong dari tadi" kesal Justin membuat Mae menganga.
"Kenapa jadi gue yang salah dah" gerutu Mae, saat Justin akan menghampiri Dea ia melihat istrinya itu sedang menarik-narik ana yang mencoba menenangkan Dea.
"Anaaaa sakit na" pekik Dea.
"Iya nona saya juga sama sakit" balas ana, karena sejak tadi Dea mencengkeram erat bahu dan tangan ana.
"Yang mau lahiran saya kenapa kamu ikut sakit" ucap Dea membuat ana mendesis.
"Nona untung ini bahu buatan tuhan, coba kalo buatan manusia udah remuk kaya bubuk rengginang" ucap ana membuat mami alin tertawa, sementara Dea ia merasa bersalah karena kasar kepada ana.
"Sayang" panggil Justin.
"Abang sakit bang" lirih Dea.
"Kita kerumah sakit sekarang" ucap Justin, ia mengangkat tubuh Dea yang membesar. sementara Dea tidak melepaskan tangan nya dari ana.
"Nona lepasin tangan nya" lirih ana.
"Gak mau, tangan kamu itu buat alat kalo saya kesakitan" ucap Dea membuat ana melongok.
"Ancur sudah ancur tangan gue" gerutu ana, membuat Justin tersenyum senang. karena bukan dirinya yang menjadi korban sang istri.
__ADS_1
"Sabar ya na, nanti saya kasi Abang buat kamu" ucap Justin membuat ana mencebik kesal.
"Gak mau, apa-apaan tuan" ucap ana membuat Justin tertawa kecil.
"Anaaaa" teriak Dea membuat ana ikut berteriak.
"Iyaaaa, nona iya saya disini" balas ana, karena keduanya duduk di kursi belakang dan Justin yang sedang mengemudi. sementara mami alin berada di mobil lain bersama dengan Mae.
"Sakit ana hiks... nanti kalo kamu nikah kamu juga pasti lahiran kan" racau Dea, membuat ana dan Justin menahan tawa nya.
"Tentu saja nona saya juga ingin punya anak" jawab ana.
"Bagus nanti kalo lahiran kamu jambak-jambak aja suami kamu ana" ucap Dea membuat Justin dan ana terbelalak.
"Kenapa begitu" tanya ana.
"Biar suami kamu rasain sakit kaya apa yang kamu rasain" lirih Dea.
"Udah ya udah, nona jangan ngomong Mulu lebih baik nona tenang" ucap ana.
"Saya belum mau mati ana, kenapa kamu suruh saya tenang" kesal Dea, membuat ana bingung.
"Bu...bukan itu maksudnya, tuan" panggil ana.
"Ana saya tidak mau kena imbasnya ana" ucap Justin membuat ana mendengus kesal.
"Ini kenapa jadi ana yang bingung, nona tangan ana sakit" lirih nya.
"Maaf ana kali ini aja, saya gak mau lahiran lagi ana" ucap Dea.
"Yasudah buat nona saya rela" balas ana.
Dea pun langsung di bawa menuju ruang persalinan, saat di perjalanan menuju rumah sakit ketuban Dea sudah pecah hal itu mengharuskan Dea di operasi cecar mengingat ada dua nyawa di dalam nya.
"Tuan nona harus segera di operasi" ucap dokter itu.
"Lakukan yang terbaik dok lakukan yang terbaik" ucap Justin, tanpa menunggu lama Justin menandatangani surat persetujuan.
Ia pun ikut masuk kedalam ruang bersalin, namun saat masuk Justin melihat Dea mengeluarkan banyak darah.
"Sayang" panggil Justin kepada Dea yang sedikit sadar.
"Abang baby, hiks... baby Abang" lirih nya.
"Iya sayang baby nya baik-baik saja kamu tenang ya" ucap Justin.
Tidak lama kemudian terdengar suara bayi yang berbeda jenis kelamin yang menggema, bayi itu menangis bersamaan dengan Dea yang tidak sadarkan diri.
"Dokter istri saya" ucap Justin.
"Tenanglah tuan nona akan baik-baik saja" ucap dokter itu.
"Bagaimana saya bisa tenang" kesal Justin.
"Tuan lebih baik anda adzani dulu kedua bayi anda" ucap seorang suster membuat Justin mematung.
__ADS_1
"Dua?" tanya nya.
"Ya tuan bayi anda kembar seorang laki-laki dan seorang wanita" ucap suster itu membuat Justin meneteskan air matanya, ia mengambil bayi nya dan mengadzani nya satu persatu. setelah itu Justin berjalan kedekat Dea dan menciumi wajah istrinya itu.
"Terimakasih atas perjuangan kamu sayang makasih, aku janji tidak akan menyakiti hatimu lagi" ucap Justin.
Justin keluar dari ruang persalinan ia melihat mami alin, Mae, bunda Sisil dan ana yang tadi di aniaya oleh istrinya itu.
Justin memeluk sang mami dan menangis haru, ia tidak menyangka jika ia memiliki 4 anak saat ini.
"Selamat sayang, kamu harus jadi Daddy yang baik untuk anak dan istri kamu" ucap mami alin.
"Hmmmmm, terimakasih mi" ucap Justin, setelah itu dia memeluk bunda Sisil.
"Selamat nak, bunda titip Dea dan anak-anak kamu oke" ucap sang bunda.
"Terimakasih bunda" balas Justin, saat di dekat Mae Justin menatap adik ipar nya itu.
"Saya gak mungkin meluk kamu kan, bisa-bisa di bogem saya sama Julian dan Dea" ucap Justin membuat Mae menganga.
"Yaampun, siapa yang minta di peluk dah pede bener" cebik Mae membuat semua nya tertawa geli, Justin pun ikut tertawa karena ia benar-benar merasa bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€ jangan lupa like komen dan vote ππ
N**: semangat Thor Lo jangan nyerah, jangan dengerin apa kata deterjen π gak apa-apa Lo di katain gini gitu yang penting buat gue Lo selalu up.
A: iya Uun makasih, cuma gue bingung aja ya ada yang komen sampe ngajak mereka keluar dan biar gue yg nulis aja baca cerita gue sendiri π
N: gak apa-apa Thor, inget orang kaya gitu cuma nyinyir doang. harus nya dia juga sebagai penulis tau posisi Lo bukan malah nyudutin eloπ
A: eh iya ya, gue liat dia juga penulis punya dua novel π
N: nah kan, kenapa dia gak baca ceritanya sendiri aja. sekarang banyak Thor orang yang merasa dirinya paling bener padahal kan belum tentu juga dia bener π
A: dah lah biarin aja, yang penting bukan gue yang begituπ
N: bener banget, ngajak orang keluar lah ngapa gak sendiri aja Ferguso π
__ADS_1
A: udah gak apa-apa, biarin aja gimana seneng nya dia π
N: ngakak dong gue π€£*