
Hari ini Sisil tengah sibuk menyiapkan pakaian sang suami, yang sedari tadi berteriak memanggilnya.
Kebiasaan Rio membuat Sisil repot, padahal sudah memiliki tiga anak, ralat empat ya di tambah Mei yang sudah di anggap anak oleh Rio.
Mei selalu puas menertawakan sang bunda yang selalu menggerutu kesal, karena tingkah manja sang suami.
"Sayang" teriak Rio.
"Bunda" teriaknya lagi.
"Bun ayah manggil" ucap Mei.
"Biarin aja ayah mu wed*n. dikira hutan pagi-pagi udah teriak aja" balas Sisil.
"Hahaha bunda parah masa ayah dikatain begitu" ucap Mei.
"Kamu tahu sayang, ayah kamu itu manja nya gak ngilang. padahal anak nya sudah empat" adu Sisil. namun lagi-lagi Rio memanggil nya.
"Bunda sayang" panggil Rio.
"Ck. udah Bun samperin dulu ayah nya, kalo gak di samperin bisa roboh ini rumah gara-gara ayah terima Mulu" ucap Mei.
"Ya baiklah bunda titip Dena sama kamu sayang" ucap Sisil, Mei pun mengangguk.
Sisil menaiki tangga menuju ke kamarnya, setibanya di kamar Sisil melihat Rio yang menatap nya dengan kesal.
"Lama" protes Rio.
"CK. kamu itu ya mas nyebelin" ucap Sisil membuat Rio mendengus.
"Apanya yang nyebelin?" tanya Rio.
"Kamu kenapa teriak-teriak hm" balas Sisil.
"Ya karena aku kangen kamu" ucap Rio.
"Cih. baru sebentar kamu gak liat aku loh mas. lagian manja banget sii, yang manten baru anak mu loh tapi yang manja kamu" cetus Sisil membuat Rio terkekeh.
"Hehe sayang beda lah, mereka menikah belum ada cinta. kalo kita sudah terbukti buah cinta kita sudah ada tiga" ucap Rio bangga.
"Ya terserah kamu lah mas. terus kenapa kamu manggil-manggil" ucap sisil
"Jam ku dimana?" tanya Rio, membuat Sisil melengos.
"Kamu kebiasaan, kalo apa-apa ya dicari dulu sayang. kalo cari jam ya di tempat nya lah" jawab Sisil mengambil kan jam tangan Rio.
"Hehe makasih" ucapnya mengecup bibir sang istri sekilas.
"Ya, sudah ayo turun. anak kamu udah nunggu buat sarapan" ucap Sisil, membuat Rio terdiam.
"Mas kamu lupa, dirumah ini masih ada dua anak gadis yang jadi tanggung jawab kita" ucap Sisil mengingatkan sang suami.
"Oiya, yasudah ayo" ajak Rio menggandeng tangan Sisil.
Sisil dan Rio pun turun menuju ruang makan, setibanya di ruang makan Rio di sambut oleh putri bontot nya.
"Molning ayah" ucap Dena.
__ADS_1
"Morning Dea junior" ucap Rio. karena melihat Dena ia berada melihat putri sulung nya.
"Ayah aku dena bukan kakak Dea" Rajuk nya.
"Dena kan mirip sama kak Dea sayang" ucap Rio.
"Tapi beda aku lebih tantik" kesalnya.
"Iya iya kamu yang lebih cantik, dan lebih centil" ucap Rio membuat mata Dena berkaca-kaca.
"Ayahhh" rengek nya.
"Apa" jawab rio.
"Bunda...huuuuuuuaaaaaaaa ayah dahat ayah gak sayang Dena" tangis Dena pun pecah.
"CK.nangis" ledek Rio.
"Mas kamu ini ya, seneng banget ledekin anak nya" ucap Sisil.
"Lucu sii" jawab Rio.
Sementara Mei hanya tersenyum saja melihat ayah dan anak itu, keduanya sama-sama manja dan selalu memperebutkan sang bunda.
...
Di tempat lain Dea sedang berjalan terburu-buru, dan tiba-tiba tangan nya di tarik oleh seseorang.
"Astagfirullah, Dodi kamu ngapain?" ucap Dea kaget. ya orang yang menarik Dea adalah Dodi, posisi Dea semakin tidak aman karena bukan hanya Joni yang mengincarnya.
"Ya gak usah pegang-pegang kan bisa" ucap dea menepis tangan Dodi.
"Dea" panggil Dodi kembali memegang kedua tangan Dea.
"Ih apaan sii, lepasin" ucap Dea kesal.
"De, gue suka sama Lo de. gue mau Lo jadi cewek gue" ucap dodi, membuat mata Dea terbelalak.
"Dodi sorry gue gak bisa, dan maaf gue buru-buru" tolak Dea lembut.
"Gue gak mau tau de Lo harus terima gue, dan gue bakal terus ngejar Lo" rayu Dodi.
"Dodi sekali lagi gue minta maaf kalo gue gak bisa, dan soal Lo suka sama gue itu hak Lo. dan gue gak bisa larang setiap orang yang suka sama gue" ucap Dea.
"Tapi gue gak bisa liat Lo sama cowok lain de" ucap dodi mengeratkan cengkraman tangannya.
"Dodi Lo nyakitin gue" lirih Dea, ia terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Dodi.
Takut? tentu saja Dea merasa takut dan merasa tidak aman. karena ini kali pertama seseorang sangat terlihat begitu terobsesi kepada dirinya. mata Dea berkaca-kaca ia ingin lari namun tenaga Dodi begitu kuat.
"Dea plis terima gue" kekeh Dodi.
"Gue gak bisa, maaf gue gak bisa" lirihnya, suara Dea tercekat saat mengatakan itu.
"Dea" teriak Dodi, membuat Dea berjingkat.
"Apa kurang nya gue de? gue kurang apalagi? gue kaya apa yang Lo mau bisa gue kasi" ucap dodi membuat Dea sakit hati.
__ADS_1
Kenapa setiap orang yang menyukai nya selalu mengukur harta dan kekayaan? Dea tidak butuh semua itu, Dea tidak butuh kekayaan lelaki lain. dalam fikiran nya saat ini hanya ingin menjaga perasaan Justin yang menjadi suaminya, dan menjaga pernikahan nya sebaik mungkin.
"Dodi bukan itu maksudnya Dea, tapi beneran Dea minta maaf kalo Dea gak bisa sama Dodi. plis lepasin Dea" mohon Dea.
Bukannya melepaskan Dodi malah mencengkeram erat kedua bahu Dea, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dea karena ingin menci*mnya.
Melihat perlakuan Dodi tubuh Dea bergetar hebat, ia mengingat ciu*an pertamanya dengan Justin. dan ia tidak ingin orang lain ikut menyentuhnya.
Sebelum Dodi berhasil menyentuh nya, Dea lebih dulu menendang kaki Dodi dengan kuat. hingga membuat yang di tendang menggaduh kesakitan.
"Araaagghhh" pekik Dodi.
Dea memanfaatkan hal itu untuk berlari kencang menuju kelasnya, ia takut dan berlari sambil menangis.
"Dea, liat aja gue gak bakal lepasin Lo! apapun caranya gue bakal kejar Lo dan dapetin Lo" teriak Dodi, sambil memegang kakinya.
Setibanya di kelas Dea melihat Mae iapun langsung menubruk tubuh sahabatnya itu, dan memeluknya sangat erat. sementara Mae yang di peluk bingung dengan Dea, yang tiba-tiba muncul memeluknya sambil menangis. begitupun dengan nina ia heran kenapa yang di peluk oleh Dea Mae dan bukan dirinya.
"Eh, de Lo ngapa?" tanya Mae, Mae sangat merasakan bahwa Dea sedang ketakutan. Karena tubuh Dea bergetar di dalam pelukannya.
"Dea, hei tenang Lo kenapa" tanya Mae lagi.
"Hiks...hiks...gue takut mai" jawab Dea mengeratkan pelukannya.
"De cerita sama kita Lo kenapa" bujuk Mae, mencoba melepaskan pelukan Dea.
"Gue mau kerumah bunda mai, anter gue kerumah bunda" suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Yaudah ayo gue anter ke rumah bunda ya, tapi Lo jangan nangis lagi de" ucap Mae, menghapus air mata Dea.
Sebenarnya Mae bingung apa yang di maksudkan dengan ingin kerumah bunda? bukankah Dea tinggal di rumah sang bunda. ingin bertanya namun ia urungkan melihat kondisi Dea yang seperti ini.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like komen dan vote nya ๐๐
A**: yang bilang cerita nya datar, gak ada masalah nih gue kasi masalah ๐
N: ngapa masalah di pinta-pinta sii Thor๐
A: pasukan Lo minta jangan datar, ga asik jadi gue kasi masalah biar pada gedek dah hati nya๐
N: jangan nanti gue darting kalo gedek-gedek๐
A: kebanyakan nawar Lo ah kaya beli cabe di pasar aja๐คฃ
N: sue Lo ๐
A: ๐คฃ๐คฃ๐คฃ*
__ADS_1