Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 10. Tidak punya pilihan


__ADS_3

...✳️✳️✳️...


"Ada apa Maura?" tanya Hanna saat melihat Maura yang terlihat resah dan panik setelah menerima telepon itu.


"Aku harus segera pergi ke rumah sakit, ayahku...katanya dia..." tubuh Maura gemetar, dia terlihat syok.


"Kamu tenangkan diri kamu, katakan apa yang terjadi dan mari kita pikirkan solusinya!" Hanna berusaha menenangkan Maura.


"Kita harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayahku dulu." ucap Maura sambil menahan tangisnya.


"Oke, aku ikut ya." Hanna langsung mengambil tas selempangnya.


Kedua gadis itu pergi menuju ke rumah sakit, mereka langsung pergi ke ruang rawat Samuel. Pria paruh baya itu masih belum sadarkan diri, kondisinya masih kritis. Terlihat disana beberapa dokter dan suster sedang menggunakan alat pacu jantung pada tubuh ayahnya.


Suara mesin medis yang bergema memenuhi ruangan itu, membuat Maura khawatir dan panik secara bersamaan.


"Dokter, suster! Apa yang kalian lakukan pada ayah saya?" tanya Maura terlihat panik melihat ayahnya terlihat tidak berdaya.


"Maura...tenang, dokter sedang berusaha menyelamatkan ayah kamu." Hanna meminta Maura untuk tetap tenang.


Setelah beberapa menit para petugas medis melakukan penyelamatan terhadap Samuel. Dokter menjelaskan bahwa kondisi jantung Samuel sangatlah tidak baik dan harus segera dilakukan operasi bypass CABG) merupakan tindakan bedah untuk mengatasi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah jantung pada penderita penyakit jantung koroner, jika operasi tidak segera dilakukan maka nyawa Pak Samuel akan berada di dalam bahaya.


"Dokter, maaf...berapa ya kira-kira biaya operasi jantung itu?" tanya Maura cemas karena dia tidak punya uang sepeser pun untuk saat ini dan jika dia tau perkiraan biaya operasi ayahnya maka dia akan mencari uang itu.


"Biayanya sekitar 80 sampai 100 juta." jawab dokter itu.


Deg!


Maura dan Hanna tercengang mendengar jawaban dokter. Biaya operasi Samuel ternyata sangat besar, belum lagi biaya inapnya, sedangkan semua harta Maura dan keluarga Agradana sudah di bawah kepemilikan Bara.


"Dok, apa operasi ayah saya bisa ditunda? Maksud saya biayanya bisa dicicil?" tanya Maura kebingungan.


"Maaf, biaya operasi memang bisa dicicil tapi saya rasa keadaan pak Samuel tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Operasi harus segera dilakukan, atau kejadian seperti tadi akan terulang dan nyawanya tidak selamat." jelas dokter tentang kondisi Samuel pada Maura.


"Baiklah dok, terimakasih."


Ya Allah, darimana aku dapat uang sebanyak itu.


Hanna berkata dia akan membantu Maura, dia masih punya tabungan untuk bayar kontrakan walah uangnya tidak sampai puluhan juta. Hanna juga akan menjual perhiasan yang dia miliki untuk Maura.

__ADS_1


"Gak Han, gak apa-apa...kamu gak usah melakukan semua itu. Aku akan coba cari uang sendiri." Maura tersenyum pahit, dia duduk didepan ruang tunggu tempat ayahnya dirawat.


"Kenapa kamu bilang gitu? Apa kamu merasa uang dariku itu sedikit, makanya kamu gak mau terima?" tanya Hanna kesal.


"Hanna, bukannya gitu...aku cuma-"


Kata-kata Maura terpotong saat Bara dan Vera tiba-tiba berada di hadapan Hanna dan Maura. Hanna menatap sinis pria yang sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita yang bukan istrinya itu.


"Halo Maura," sapa Vera sambil tersenyum menyapa Maura.


"Kalian...ngapain kalian disini?" Maura menatap sinis keduanya.


"Kamu santai saja Maura, aku kesini untuk melakukan tugas seorang suami." Bara tersenyum dengan wajah yang masih banyak belur akibat ulah Evan.


Maura menarik baju suaminya, lagi-lagi dia emosi saat melihat pria yang sangat dia cintai itu. "KAMU! Apa lagi yang mau kamu lakukan padaku?"


Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku Bara? Mengapa kamu berubah? Mengapa kamu menusukku dari belakang?


Bara melepaskan tangan Maura yang mencengkram bajunya. "Tenanglah Maura...ayah mertuaku sedang sakit, aku datang kemari untuk memberikan bantuan padanya. Aku akan membayar semua biaya rumah sakitnya."


"Tidak perlu, terimakasih, kamu sudah sangat membantuku dasar pria brengsek!" Maura gemetar, menatap Bara dengan tatapan terluka dan marah.


"Seperti kamu yang berubah dalam semalam." Ucap Maura sakit hati.


"Bara, sepertinya luka di wajah kamu masih belum cukup ya? Mau aku tambahkan?" Hanna bersiap dengan tangannya yang terkepal, dia ingin meninju Bara.


"Santai saja Hanna. Maura, aku kesini untuk menawarkan bantuan, jika kamu berubah pikiran...temui saja aku di rumahku," ucap Bara sinis. "Vera sayang, ayo kita pergi." ajak Bara pada Vera.


"Iya mas." Vera tersenyum sinis pada Maura dan Hanna, tangannya terus menempel pada Bara.


Hanna terlihat kesal dengan sikap Bara yang begitu brengsek padanya. Maura yang sebelumnya membela Bara, dia tidak membelanya lagi karena sakit hati. "Sialan si Bara! Dia benar-benar pria b*jingan yang pernah aku temukan di muka bumi ini. Apa sih yang membuat dia begitu membencimu dan keluargamu? Dendam apa yang membuat dia begitu? Kamu gak salah apa-apa, kenapa dia melampiaskannya padamu? Dia benar-benar pengecut!" dengus Hanna emosi.


"Sudahlah Han, nanti saja kita pikiran itu. Sekarang aku mau cari uang untuk pengobatan ayah, tolong jaga ayahku sebentar ya Han?"


"Maura, kamu mau kemana?" tanya Hanna cemas melihat Maura yang terlihat stress.


"Aku ingat kalau ada teman ayah yang berhutang pada ayah, aku akan menagihnya. Dia pasti mau bantu aku!" kata Maura sambil berusaha tersenyum.


"Ya udah deh, aku tunggu disini ya. Kamu hati-hati Maura." ucap Hanna menguatkan Maura.

__ADS_1


Gadis itu pun pergi ke rumah teman ayahnya yang pernah meminjam uang pada Samuel, namun jawaban yang dia terima sungguh membuat terluka. Teman ayahnya mengatakan bahwa semua uangnya sudah dibayar pada Bara. Maura tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya sudah diambil oleh Bara.


Berada didalam keresahan dan kegelisahan, Maura sampai lupa makan dan beristirahat. Dia mencari uang pinjaman kemana-mana, teman-teman yang dulu bermain dan selalu belanja dengannya tidak ada yang mau membantu. Disaat seperti ini, semua orang meninggalkannya, apa dosanya? Mengapa begini? Mengapa orang-orang kejam padanya?


Tak terasa waktu pun berlalu dan hari semakin gelap, suara kilat dan langit mendung juga menghiasi datangnya malam. Maura masih sibuk mencari uang untuk ayahnya, tak peduli perutnya lapar atau mulutnya haus. Di dalam perjalanan, Maura juga menerima telepon dari kantor polisi bahwa Evan terluka karena di pukuli oleh tahanan lain.


"Arrghhhhhhhhhh!!!!" Maura berteriak kencang setelah menerima telepon dari pihak kepolisian tentang Evan. Rasanya kepala itu sudah mau pecah. "Kenapa? Kenapa? Hiks..." Maura menangis dipinggir jalan.


Kemudian teleponnya berbunyi lagi, kali ini kabar dari rumah sakit. Hanna yang menelponnya. "Maura, cepat datang kesini! Keadaan om Samuel kritis dan harus di operasi sekarang!"


"Apa?!!" Maura tersentak kaget mendengarnya, tangan dan kakinya terasa lemas. "Tunggu sebentar, aku akan segera datang!" kata Maura panik.


Maura mengirimkan pesan entah pada siapa. "Aku tidak punya pilihan lain lagi, aku harus menyelamatkan ayah dan kak Evan." Maura menahan tangisnya.


Zrassshhhh...


Hujan mengalir deras, membasahi tubuh Maura. Mengalir bersama air mata yang jatuh ke wajahnya. Maura pun pergi naik ojeg dengan uang seadanya, dia pergi ke sebuah rumah yang tidak asing baginya.


Dalam keadaan basah kuyup, Maura memasuki rumah itu. Wajahnya terlihat datar dan matanya sayu.


"Non Maura?" sambut seorang pembantu rumah tangga saat melihat Maura datang kesana.


"Dimana Bara, Bi Iyam? " tanya Maura dengan suara dinginnya.


"Den Bara ada di..."


Belum sempat bi Iyam menyelesaikan kata-katanya, Maura sudah masuk ke dalam rumah yang besar itu. Maura melihat beberapa orang menurunkan foto keluarga dinding dinding rumah, ya rumah yang dia pijaki sekarang adalah rumahnya. Tapi sekarang rumah itu sudah menjadi milik Bara.


"Kamu akhirnya datang juga?" sambut Bara yang sedang menyesap rokok sambil duduk santai di atas sofa empuk layaknya tuan muda, padahal dia hanyalah orang miskin yang mendadak kaya.


"Langsung saja, jangan basa-basi...berikan uangnya sekarang dan bebaskan kak Evan dari penjara!" Seru Maura pada suaminya yang laknat itu.


Bara menarik tangan Maura dengan kasar, hingga gadis itu duduk di pangkuannya. "Santai saja sayang, kamu yang meminta bantuan...maka kamu harus ikuti aturanku!" wajah Bara mendekat ke wajah Maura.


"Tapi, ayahku gak bisa menunggu." Maura menatap Bara dengan kebencian dan cinta disaat bersamaan.


Dia benci dengan Bara tapi masih ada cinta tersisa dihatinya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2