
...🍀🍀🍀...
Pertanyaan dari Clara sontak saja membuat semua orang yang sedang menikmati makan siangnya mendadak terdiam. Maura langsung menatap mama mertuanya dengan heran.
"Ma..." lirih Maura.
Ya Allah kenapa mama nanyanya kayak gitu sama kak Vera?
Maura tidak enak hati karena mama mertuanya bertanya hal sensitif seperti itu yang bisa menyinggung perasaan Vera. Benar saja Vera langsung berkeringat dingin, dia bahkan sampai menjatuhkan sendok yang sedang dia pegang.
Prak!
"Ma-maaf..." bisik Vera gugup. Gadis itu mengambil sendok di lantai. Dia kelu kehilangan kata-kata, tak tahu harus jawab apa.
Bara melirik kekasihnya yang terlihat gugup itu, lalu Bara memegang tangan Vera seraya menenangkannya. "Ma, sebenernya Vera sudah tidak perawan lagi." jawab Bara.
Kedua mata Clara membulat, alisnya terangkat ke atas. Maura juga kaget dengan pengakuan Bara, apa benar Vera sudah tidak virgin lagi?
Raut wajah Clara menampakan emosi pada Vera, sebenarnya bukan masalah Vera perawan atau tidak. Tapi masalahnya nama baik, Clara tak mau Bara bersama dengan orang yang pernah bekerja di tempat hiburan malam.
"Hah! Sudah mama duga kalau wanita ini--"
"Bara belum selesai ngomong, Ma! Dengarkan Bara sampai akhir."
"Tapi--"
Bak pawang Clara, Maura bisa menenangkan ibu mertuanya yang mudah tersulut emosi kalau menyangkut soal Vera. "Ma, tenang dulu dan dengar penjelasan Bara." ucapnya lembut.
"Oke, kamu mau bilang apa?" tanya Clara sambil menahan nafasnya.
"Maafin Bara sebelumnya Ma, Vera emang udah gak virgin lagi--itu karena Bara yang udah...." Bara menggantung ucapannya disana.
"Kamu udah APA?" suara Clara meninggi, penasaran dengan ucapan Bara selanjutnya.
Vera dan Maura juga menatap Bara, menantikan apa yang akan dikatakan pria itu. "Bara yang udah mengambilnya, Bara mengambil virginnya Vera."
"APA?!"
Clara tercengang mendengar ucapan Bara, dia langsung berdiri dari kursinya. Menatap Bara dan Vera dengan emosi. "Ma, mama tenang dulu..."
"Tante, saya minta maaf!" kata Vera pada Clara.
__ADS_1
"Ver, kenapa kamu minta maaf sama mamaku? Aku yang salah, aku khilaf..." ucap Bara pada Vera.
Plakk!
Sebuah tamparan melayang keras di pipi Bara dari tangan Clara. Tampak kekecewaan di wajahnya pada Bara, dia tidak pernah mau anak-anaknya melakukan one night stand. Walaupun dia lama tinggal diluar negri, dia selalu mengajarkan kepada Bryan untuk selalu menjaga cinta dengan tidak merusak.
"Bara! Apa kamu melakukannya bersama Vera karena kamu ingin mendapatkan restu dari mama?!" Teriak Clara emosi, dia menuduh Bara menggagahi Vera karena ingin mendapatkan restu.
"Awalnya iya, Ma...dan Bara yang maksa Vera. Tapi saat tau Vera berdarah...aku langsung menghentikannya, dari situ aku tau kalau Vera masih suci sebelumnya." tutur Bara menjelaskan.
"Bara...." lirih Vera cemas melihat Bara yang dimarahi mamanya.
"Kamu ini benar-benar!!" Clara pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang ada di meja makan. Bara dan Vera tampak bingung karena mereka tak mendapatkan jawaban dari Clara.
"Bar...gimana ini?"
"Tenang aja Ver, aku akan bicara sama mama."
"Kalian diem dulu disini ya, aku yang akan bicara sama mama. Bahaya kalau kalian bicara pada mama sekarang, mama lagi emosi." jelas Maura melihat situasi.
"Tolong ya kak," ucap Bara pada Maura dengan hormat.
Wanita hamil itu menganggukkan kepalanya, dia pun meninggalkan meja makan dan menyusul ibu mertuanya ke kamar. Sementara Vera dan Bara masih menunggu di ruang tengah, menanti keputusan final dari Clara.
"Mama..."
"Tante..."
Pasangan kekasih itu menatap sendu penuh harapan pada Clara. Disamping Clara ada Maura yang menyunggingkan senyuman, seraya mengedipkan mata seolah mengisyaratkan sesuatu. Vera melihat hal itu.
"Kalian menikah saja!" kata Clara tiba-tiba. Membuat pasangan kekasih itu tercengang karena bahagia.
"Ma...mama serius?!" Bara memegang kedua tangan mamanya. Padahal Bara sangat sulit membujuk mamanya untuk merestui mereka berdua, pasti lah ini karena Maura.
"Iya, tapi masalah ini dan itu mengenai pernikahan kalian...mama yang akan urus." kata Clara jaim.
Bara dan Vera memeluk Clara dengan bahagia, mereka berterimakasih pada Clara karena mau memberikan restu pada mereka.
"Makasih ma, makasih!"
"Berterimakasih pada Maura juga, dia yang bujuk mama."
__ADS_1
"Kak, makasih ya." ucap Bara seraya tersenyum pada Maura.
"Makasih Ra," sambung Vera yang juga mengucapkan hal yang sama.
"Sama-sama. Oh ya kalau gitu, kita teruskan makannya yuk!" ajak Maura berusaha mencairkan suasana.
Ya, mungkin sekarang waktunya Maura dan Bara memiliki kehidupan masing-masing tanpa ada dendam dan mereka hanya harus bahagia dengan orang yang tercinta.
Mereka semua kembali ke meja makan, untuk menikmati cemilan yang tersisa. Tiba-tiba saja Maura mual-mual kembali ketika melihat ada keong di atas mangkuk. "Uwekk...uwekk..."
Wanita itu berlari menuju ke kamar mandi. Vera, Bara dan Clara melihatnya dengan cemas. "Wah pasti gara-gara keong ini, Maura jadi mual lagi! Bi Sumi, kenapa ada keong disini sih? Aduh!" protes Clara pada Bi Sumi.
Mendengar namanya dipanggil, Bi Sumi langsung datang dan ia meminta maaf pada majikannya. "Aduh maaf Bu, saya habis beli keong tadi...lupa bawa ke dapur, malah simpan disini."
"Aduh Bi...udah tau Maura anti sama yang anyir anyir sekarang, kalau Bryan tau dia nanti ngoceh sama saya."
"Maaf Bu," BI Sumi hanya bisa mengatakan maaf.
Clara pun pergi menyusul menantunya ke kamar mandi. Sementara Bara dan Vera masih bertanya-tanya ada apa dengan Maura. Akhirnya Vera menanyakannya pada Bi Sumi yang masih ada disana.
"Bik, apa Maura lagi sakit?"
"Bukan sakit non, tapi lagi ngidam."
"Ngidam?" Vera dan Bara saling melirik satu sama lain.
"Maura hamil?!" Ucap Bara dan Vera bersamaan. Mereka menebak dengan benar. Lalu keduanya tersenyum dengan kabar bahagia ini. Ditambah lagi kabar bahwa mereka akan segera menikah, setelah mendapat restu.
****
Di rumah sakit jiwa, Stella sedang ditemani seorang perawat di kamarnya. Mereka membawakan obat untuk Stella. Dengan patuh Stella meminum obatnya, dia bersikap seperti orang baik disana.
"Selamat beristirahat ya Bu Stella, saya yakin kalau Bu Stella begini terus...maka Bu Stella bisa sembuh."
Sial! Aku kan tidak sakit, aku tidak gila. Kenapa juga aku harus sembuh?
"Iya suster, terimakasih sudah merawat saya." kata Stella sambil tersenyum.
Perawat itu pun keluar dari kamar Stella. Setelah si perawat telah pergi jauh, Stella mengeluarkan apa yang dia genggam ditangannya. Ada beberapa gantung kunci disana.
"Ckckck...dasar orang-orang bodoh." seringai terlihat dibibir Stella.
__ADS_1
...****,...