Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 122. Clara bahagia


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Dengan polosnya Maura bertanya pada Clara, apa yang dimaksud teman Clara itu. 'Ngisi?' ngisi apa? Makanan atau apa?


"Ngisi itu ini loh neng..." wanita paruh baya itu mengisyaratkan tangannya pada perut kemudian membundarkan tangannya.


"Hah?"


"Itu loh tekdung!" celetuk wanita paruh baya yang duduk disamping Clara.


Dari raut wajahnya, kini Maura mengerti apa maksud dari ucapan dan isyarat teman-teman ibu mertuanya. Mereka pikir Maura mungkin sedang hamil, ya begitulah kira-kira ucapan mereka yang bisa Maura terka.


Apa aku hamil? Apa secepat ini?


Tanpa sadar tangannya menyentuh perut datarnya sendiri, membayangkan jika memang ada benih cintanya dan Bryan di dalam sana. Pasti Bryan akan sangat bahagia dengan kehadirannya.


"Woah jeng Clara, selamat ya... akhirnya mau jadi nenek juga." kata salah satu temannya sambil terkekeh.


"Jeng Clara nyusul juga nih, hehe."


"Hehe, tunggu dulu dong ibu-ibu. Kita tanya dulu menantu saya." kata Clara sambil tersenyum ramah. Kemudian dia melirik ke arah Maura. "Sayang, mama mau tanya sama kamu. Kapan terakhir kali kamu datang bulan?"


Aneh rasanya mendapat pertanyaan seperti itu membuat hati Maura berdebar. "Hem...pas aku nikah sama Bryan, hari itu aku baru berhenti datang bulan, Ma."


"Itu berarti sekitar 6 minggu yang lalu ya sayang?" tanya Clara dan Maura mengangguk menjawabnya.


Mendengar penjelasan Maura membuat Clara dan semua ibu-ibu disana langsung tersenyum lebar.


"Wah...pas dong! Tokcer tuh langsung jadi," ucap seorang ibu-ibu senang.


Mereka pun memberi selamat pada Maura dan Clara. Padahal belum jelas juga Maura hamil atau tidak. Setelah ibu-ibu arisan pulang semuanya meninggalkan rumah Clara. Clara langsung bicara dengan menantunya.


"Sayang,"


"Ya, Ma? Sahut Maura seraya menatap ibu mertuanya. Dia baru saja mau membantu bi Sumi Bi Ijah untuk membereskan piring-piring kotor.


"Kamu coba periksa pakai test_pack dulu ya sayang, nanti baru ke rumah sakit."

__ADS_1


"Hem...iya Ma," jawab Maura sambil tersenyum lembut.


"Tenang aja sayang, kalau nanti hasil tesnya menunjukkan kalau kamu belum hamil gak apa-apa kok. Mungkin belum waktunya aja," ucap Clara sambil mengelus rambut Maura.


"Mama gak sedih?"


"Gak lah! Kenapa mama harus sedih? Toh kamu masih muda dan masih banyak kesempatan kan?"


Maura terdiam, dia tau dalam hati ibu mertuanya itu. Apalagi ketika ibu-ibu arisan tadi membicarakan cucu-cucu mereka, Clara terlihat sedih dan diam saja. Ya, semoga dia benar-benar hamil agar bisa menyenangkan hati ibu mertuanya juga.


"Iya Ma, Maura tes dulu pakai test_pack ya Ma." ucap Maura.


"Mama suruh bi Ijah buat beli test pack nya! Kamu tes aja sekarang disini ya." Saran Clara yang memang tak sabar.


Maura mengangguk menurut pada ibu mertua. "Ya Allah, semoga benar-benar kabar baik." doanya dalam hati.


Clara langsung memerintahkan Bi Ijah membeli tes_pack saat itu juga. Dan tak berselang lama benda kecil itu sudah berada di tangan Maura. Ia pun segera masuk ke kamar mandi dan melakukan tes dengan alat tersebut.


CEKLET!


Pintu kamar mandi di dapur itu terbuka, Maura keluar sambil memegang alat tes itu. Clara menatapnya penuh harap. "Gimana sayang?"


Wanita cantik berambut panjang dan memiliki bola mata berwarna coklat itu pun mengangguk. "Iya Ma, kalau gak salah garis dua kan, Ma?" tanyanya lagi meyakinkan.


Clara mengangguk, ia tersenyum haru lalu memeluk menantunya penuh kasih sayang. Dia sangat bahagia dengan berita baik ini. Maura juga senang karena Ibu mertuanya sangat bahagia.


"Makasih banyak sayang, kamu sudah memberikan kebahagiaan kepada keluarga ini. Pasti Bryan akan sangat senang kalau dia tau,"


"Ma, jangan dulu kasih tau Bryan ya...aku akan kasih tau dia nanti." pinta Maura pada ibu mertuanya.


"Iya sayang, oke deh."


Kemudian Clara langsung memanggil Bi Sumi dan memintanya untuk membeli sayur, buah dan susu ibu hamil. Clara begitu heboh menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.


"Ma...jangan dulu beli kayak gituan, ini kan belum pasti."


"Ini sudah pasti sayang, hanya tinggal pergi ke dokter dan cek usia kandungan kamu." Kata Clara. "Oh ya, mama panggil dokter Haris aja ya sayang?"

__ADS_1


"Gak ma, nanti aja. Aku mau kasih tau Bryan dulu," Maura menolak dan ingin memberitahukan kepada suaminya lebih dulu sebelum periksa ke dokter.


"Ya udah sayang. Oh ya, mama mau bicara sesuatu sama kamu."


"Ya, ma?"


"Kamu dan Bryan tinggal lagi disini ya?"


"Iya Ma, tapi Maura bicara dulu sama Bryan ya..." Maura setuju saja dengan saran ibu mertuanya itu.


"Makasih sayang, kamu emang anak mama yang baik. Mama senang deh Bryan memilih kamu sebagai istri, jadi mama punya anak perempuan." Clara memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.


Maura terdiam sejenak kemudian dia mulai bicara tentang hubungan Vera dan Bara pada ibu mertuanya. Maksud baik membantu hubungan Vera dan Bara, agar mendapatkan restu. Maura bahkan menceritakan tentang semua kebaikan Vera pada Clara. Namun Clara terlihat tidak merespon Vera.


"Ma...kak Vera orangnya baik kok. Mama deh kenalan dulu deket sama dia, walaupun dia pernah kerja di tempat dalam tanda kutip, tapi aku yakin dia orang baik, Ma. Dan Bara juga mencintainya, mama coba ya untuk buka hati sama dia?" bujuk Maura sambil memegang tangan Clara.


Tidak enak menolak permintaan dan niat baik menantu kesayangannya itu. Akhirnya Clara mengangguk dengan terpaksa. "Ya deh, mama akan coba bicara dulu sama Vera dan Bara. Ini semua karena kamu yang minta, kamu yang bilang dia baik...jadi mama percaya kamu."


"Pokoknya mama coba dulu kenalan sama kak Vera lebih deket lagi, kak Vera itu baik Ma." wanita itu mencoba membuka pikiran ibu mertuanya tentang Vera.


"Iya sayang," jawab Clara.


Ya udah deh, aku coba untuk mengikuti saran Maura. Mungkin saja Vera itu menang tidak seperti yang ku pikirkan.


Setelah itu Maura dan Nick pergi dari rumah Clara untuk kembali ke apartemen Bryan. Tak hentinya Maura tersenyum sambil memegang perutnya.


Ternyata kamu sudah ada disini nak.


"Bu, sudah sampai..." ucap Nick yang ternyata sudah membuka pintu mobil itu.


Sepertinya ada hal baik yang terjadi pada Bu Maura. Dari tadi dia senyum-senyum terus.


"Oh ya, makasih pak Nick."


Maura keluar dari mobilnya, Nick berjalan tepat dibelakangnya. Tak lama kemudian Maura sampai di apartemennya, dia tak sabar untuk memberitahu Bryan bahwa dirinya sedang hamil.


"Gimana aku kasih Hubby ya? Hem...hah! Aku ada ide!" Maura tersenyum, lalu dia buru-buru masuk ke kamarnya, entah apa yang akan dia rencanakan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2