
...🍁🍁🍁...
Dengan perhatian, Bryan menghampiri istrinya yang sedang berjalan menuruni anak tangga. "Sayang, kok kamu udah bangun sih? Aku kan udah bilang, tiduran aja sampai kamu puas..." suara dariton rendah khas pria itu selalu berhasil membuat Maura terpesona.
"Gak apa-apa kok, aku udah puas bobonya." jawab Maura sambil menggandeng tangan suaminya.
"Tapi tubuh kamu masih sakit, sayang." Ditatapnya wanita itu dengan cemas.
"Hubby-ku, aku gak apa-apa kok. Lagian malu tau, masa menantu baru tiduran di kamar terus. Kan malu sama mama mertua, Nanti disangkanya menantunya malas." cicit wanita itu dengan bibir yang memanyun.
"Gak dong sayang, mama tidak mungkin berpikir seperti itu pada menantunya yang tersayang ini." Bryan memapah istrinya berjalan menuruni tangga menuju ke meja makan.
Maura hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Sementara tatapan Bara masih tertuju kakak dan kakak iparnya, Clara menyadari tatapan Bara pada kakak dan kakak iparnya yang baru saja menikah itu.
"Kenzo..."
"Ya, ma?" sahut Bara yang lalu menoleh ke arah Clara.
"Kapan kamu mau bawa Vera kemari? Mama ingin berbincang lebih banyak dengannya," ucap Clara tiba-tiba yang entah apa maksudnya.
Kenapa mama. tiba-tiba membahas masalah Vera? Apa Mama bermaksud ingin mengalihkan perhatianku dari Maura?
"Nanti dulu ma, aku lagi pendekatan dulu sama dia...jadi belum bisa aku bawa ke rumah. Malam ini aku ada janji juga kok sama dia, mama gak usah khawatir. Aku bisa move on kok,"
Clara langsung tercekat dengan mata membulat menatap ke arah putranya. Rupanya Bara sangat peka dengan apa yang dia tunjukkan, memang Clara khawatir jika Bara masih menyimpan rasa pada kakak iparnya sendiri.
"Iya Kenzo, Mama yakin waktu akan membuat kamu melupakannya." ucap Clara sambil tersenyum tipis seraya menyemangati putranya itu.
Cinta yang baru akan membantu kamu melupakan cinta lama.
Kini Maura, Bryan, Bara dan Clara sudah berada di meja yang sama. Mereka memakan makanan yang sudah tersaji di atas piring. Di sela-sela makan siang mereka, Bryan mengatakan kesepakatannya dengan Maura semalam tentang tempat tinggal mereka.
"Ma, Ken, aku sama istriku sudah membuat keputusan untuk tempat tinggal kami. Untuk hari Senin, Selasa dan Rabu, aku dan Maura akan menginap di rumah...Kamis, Jumat, Sabtu, kami akan menginap disini. Terus hari minggu, kami mau menghabiskan waktu berdua saja di apartemen ku."
Wanita paruh baya itu menghentikan makannya manakala dia mendengar penjelasan Bryan. "Loh? Kenapa pindah-pindah begitu? Kenapa gak disini aja?"
"Ma, jadi ayah mertuaku kan belum sembuh benar. Maura ingin memperhatikan ayahnya juga, jadi kami mengambil keputusan seperti ini untuk masalah tempat tinggal. Gak apa-apa kan, Ma?" Bryan menjelaskan dengan lembut kepada mamanya.
"Ma, kalau mama enggak setuju...gak apa-apa, Maura tinggal disini aja seterusnya." ucap Maura merasa tak enak kepada ibu mertuanya.
"Oh...enggak gitu sayang, kamu boleh kok ke rumah kamu kapan aja. Cuma Mama itu khawatirnya kamu tuh capek, bolak-balik sana kemari."
Maura menggelengkan kepala sembari tersenyum, "Nggak kok Ma, insya Allah gak apa-apa."
"Ya udah, lakukan yang kalian inginkan. Tapi, mama gak mau kalau sampai anak gadis Mama kecapean." Clara melirik ke arah Bryan, mau wanti-wantinya untuk menjaga Maura.
Bryan dan Maura hanya tersenyum menanggapi perkataan mamanya. Terlihat kebahagiaan di wajah pasangan pengantin baru.
Ya Tuhan, kenapa aku masih merasa tidak rela melihat Maura bahagia? Padahal dulu aku memperlakukannya dengan sangat buruk. Tidak ada kebahagiaan pengantin baru seperti yang kulihat saat ini di wajahnya, saat itu aku hanya melihatnya menangis karena kekejamanku.
Usai makan siang, Maura membantu asisten rumah tangga di rumah itu untuk membereskan piring-piring yang kotor. "Non, gak usah...biar bibi yang bereskan." kata bi Sumi, salah satu Art di rumah itu.
__ADS_1
"Gak apa-apa bi, aku udah biasa kok..."
"Maura, udah biar bi Sumi aja yang kerjain!" Titah Clara pada menantunya, untuk diam saja.
"Gak apa-apa Ma, Maura bisa kok." Maura mengambil piring kotor lalu membawanya ke dapur. Ditemani oleh bi Sumi juga menuju ke dapur.
Bryan dan Clara tersenyum melihat Maura pergi ke dapur. Pasalnya mereka tau Maura adalah anak yang berasal dari keluarga kaya, biasanya jarang anak dari keluarga kaya yang mau terjun ke dapur. Tapi Maura berbeda, dia bukan gadis manja seperti pada umumnya meski dirinya diperlakukan seperti seorang putri.
"Bryan, kamu pintar sekali cari istri."
"Iya dong Ma, mama juga puas kan dengan pilihanku? Selain cantik, baik, lembut, Maura juga adalah seorang gadis yang kuat...makanya aku sangat menyukai dia."
"Kamu benar,"
"Iya Ma, hanya pria bodoh dan buta saja yang melepaskan gadis baik seperti Maura."
Bara yang masih ada di sana, langsung tercengang mendengarnya. Ia tersindir dengan ucapan kakaknya itu. Pria bodoh dan buta itu adalah dirinya.
"Hahaha, tapi itu semua sudah masa lalu. Jadi, ya sudahlah...jangan di bahas lagi. Sekarang aku akan membahagiakan Maura," ucap Bryan sambil tersenyum pada Bara.
Bara tidak merespon, sampai akhirnya dia kembali berpamitan pada Kakak dan juga ibunya untuk segera kembali ke kantor.
*****
Beberapa menit kemudian, Bara sampai di kantornya. Dia masih bekerja di kantor kamarnya sebagai manager penting di sana.
"Pak Bara, apa bapak mau kopi?" Tanya seorang pria pada Bara yang fokus pada laptopnya.
"Oke...eh tapi Bara, saya mau tanya dulu dong!"
"Apa?"
"Apa benar kata orang-orang kalau mantan istri bapak sekarang jadi kakak ipar bapak?" tanya pria itu yang membuat Bara menghentikan fokusnya.
"Pak, jawab dong? Apa itu benar? Kalau iya... berarti kayak judul sinetron dong ya, mantan istriku kakak iparku...hehe."
Bara meremass tangannya sendiri, dia melirik tajam ke arah pria itu. "Choki, kamu belum memfotokopi dokumen itu kan?"
"Ah? Apa pak?" Pria itu mendongakkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus selesaikan fotokopi itu sore ini juga, saya tunggu!" Ujar Bara tegas.
Mendadak Bara menjadi dingin dan tegas pada bawahannya itu. Dia memang tidak senang disinggung soal masa lalunya.
Bara pun memutuskan untuk menelepon Vera di sela-sela waktu sibuknya. Vera langsung mengangkat telepon dari Bara karena saat itu kebetulan dia sedang beristirahat.
"Halo Bar,"
"Vera, aku ganggu gak?"
"Gak kok, kebetulan aku lagi jam istirahat. Barusan aku habis cuci-cuci piring kotor, kebetulan juga pelanggan hari ini nggak terlalu banyak. Ada apa Bar?" tanya Vera yang mendengar suara Bara terdengar tak terlalu baik.
__ADS_1
"Aku ceritakan nanti saat kita bertemu. Oh ya, nanti malam jadi kan?" Tanya Bara pada Vera.
"Iya, jam 6 juga aku udah di rumah kok."
"Oke, entar aku jemput."
"Ya, Bar."
Tuut...
Bara menutup teleponnya setelah itu, "Haahhh...kenapa rasanya masih hambar ya? Masih belum ada rasa sama Vera." gumam Bara sambil menghela nafas. "Lucu sekali, mantan istriku...kakak iparku? Hah! Sial, aku kesel!" Bara memegang kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.
*****
Seharian itu, Bryan dan Maura menikmati waktu santai mereka di dalam kamar. Bukan hanya tentang hubungan suami-istri yang itu, namun hubungan yang lain.
Mereka saling membicarakan kesukaan dan ketidaksukaan mereka terhadap sesuatu satu sama lain. "By, ini sudah sore."
"Ya, terus?" Tangan Bryan masih melingkar di tubuh istrinya.
"Udah dong peluk akunya, kamu harus mandi."
Bryan melakukan kepala."Oke, mandi bareng yuk?"
"Nggak ah, aku mau ke dapur dulu. Kamu mandi duluan ya By."
"Mau ngapain ke dapur?"
"Bantuin Bi Sum, masak dong."
"Hem....kamu disini aja ah,"
"By, aku mau masak masakan kesukaan kamu. Istri yang baik, harus memasak untuk suaminya."
Bryan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan istrinya. "Ya udah deh,"
Maura beranjak dari pangkuan suaminya, kemudian Bryan ikut berdiri. Dia langsung memagut bibir istrinya tanpa aba-aba, memberikannya ciuman intens dan menuntut.
"Selamat masak little girl, aku mandi dulu ya."
"Iya Hubby....oh ya aku siapkan dulu airnya ya,"
"Gak usah, aku bisa sendiri." Bryan mengecup lagi Maura di keningnya. Dia pun tersenyum memandangi kecantikan istrinya yang sudah menjadi candu.
Maura menganggukan kepala, kemudian dia pergi keluar dari kamar itu bergegas menuju ke dapur. Sementara itu Bryan mengambil handuknya dan bergegas menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat di mencapai daun pintu.
Dreett...
dreett...
Vibrasi ponsel dan suara dering dari ponselnya membuat Bryan membalikkan badan melihat ponselnya yang atas di atas nakas. "Mau apa lagi dia?!" Keningnya berkerut, matanya sinis menatap nama yang tertera di ponselnya saat ini.
__ADS_1
...*****...