
Warning!
...🍀🍀🍀...
Usai acara pernikahan Maura dan Bryan. Bara mengantar Vera ke rumahnya. Ralat, bukan rumahnya tapi rumah kosannya.
Vera adalah anak yatim piatu, dia sudah bekerja sejak SMP. Banyak pekerjaan yang sudah digandrunginya, pelayan toko, pedagang sayur, bahkan kuli cuci dan setrika. Dia adalah gadis yang mandiri, wajahnya juga cantik.
Namun keadaan ekonomi membuat Vera terpaksa harus bekerja di sebuah tempat karaoke sebagai pemandu lagu. Karena gaji disana berkali-kali lipat jauh lebih besar dari gajinya bekerja di restoran ataupun sebagai pedagang. Ya, itu semua dia lakukan demi pengobatan sang nenek yang telah mengurusnya sejak kecil, setelah kedua orang tuanya meninggal.
Tidak seperti teman-temannya yang sudah kehilangan kesucian mereka, Vera berusaha menjaga kesuciannya. Meski kadang beberapa pria di sana, selalu menganggu dirinya. Hingga pada suatu hari, Bara datang menyelamatkannya dari dunia yang disebut dunia hitam itu.
Tepat saat dia akan diperkosa oleh seorang pria hidung belang. Bara pun menawarkan kerjasama sebagai kekasih pura-puranya demi memanasi Maura. Vera setuju karena dia juga tau balas budi. Selain penyelamat, Bara juga adalah pria yang ia cintai.
"Nah...sudah sampai, kalau gitu aku pulang dulu ya."
"Iya Bar, makasih ya. Sekali lagi makasih!"
"Makasih buat apa sih? Kok sampe berkali-kali bilang makasihnya?" Bara tersenyum heran
"Terima kasih karena kamu sudah memberikan hubungan kita kesempatan,"
Bara menggelengkan kepalanya. "Nggak Ver, justru aku yang harus bilang makasih karena kamu masih mau memberiku kesempatan. Tapi kamu tenang aja, aku gak akan jadiin kamu pelampiasan atau apapun...walau jujur aku masih sayang pada Maura, setidaknya untuk saat ini. Namun, aku akan mencoba membuka hatiku...jadi kamu harus buat aku jatuh cinta sama kamu!"
Vera tersenyum lembut, "Pasti, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku,"
Terimakasih atas kesempatan ini, Bara.
"Hem...ya udah, aku pulang dulu ya." Pamit Bara pada Vera.
"Iya Bara," jawab Vera. "Hati-hati..."
Bara yang sudah melangkah pergi, kembali membalikkan badannya ke arah Vera. "Oh ya, apa besok kamu ada acara?"
"Aku kerja sip pagi," jawabnya.
"Kalau kamu gak capek, malamnya...mau gak jalan sama aku?" Tanya Bara seraya menatap wanita itu dengan tatapan lembut.
"Oke, ayo." Vera mengangguk setuju.
Apa ini ajakan ngedate? Mimpi apa aku semalam, Bara ngajak aku ngedate!
"Aku jemput jam 7,"
Setelah itu Bara menaiki mobil yang berikan mamanya dan pergi dari sana. Vera tersenyum bahagia, dia tersipu-sipu dengan sikap Bara padanya. Dia pun masuk ke dalam rumah kosannya itu.
Tiba-tiba saja ada satu hal yang mengganggunya. Jika seandainya dia bersama dengan Bara, apakah Bu Clara akan menerima dirinya yang dulu pernah bekerja di tempat hiburan malam?
Ah sudahlah!
Dia menepis dulu kemungkinan itu dan memutuskan untuk fokus pada hubungannya dan Bara yang baru saja akan berkembang itu.
...❤️❤️❤️...
Kamar hotel.
Dihujaninya wajah cantik itu dengan ciuman ,dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi lalu bibirnya.
Rambut Maura, kini sudah tergerai panjang. Bryan yang melepaskan hiasan di rambutnya.
"Little girl,"
"Hem?"
"Kamu mau--sekarang?" Tanya Bryan seraya menatap gadis itu penuh harap.
"Aku sudah jadi istrimu, jadi kamu berhak melakukan apapun padaku." Gadis itu tertunduk malu menyembunyikan senyumannya yang manis. Maura paham apa yang diinginkan oleh Bryan saat ini.
Maura tidak pernah merasakan diperlakukan lembut seperti ini, di malam pertama pernikahannya. Dulu, saat menikah dengan Bara. Tidak ada percakapan mesra seperti ini, karena Bara membawa wanita lain ke atas ranjang pernikahan mereka.
Dulu Maura rasanya sakit hati, kalau dia teringat dengan malam pertamanya yang suram. Tapi, sepertinya kali ini akan lain ceritanya. Sebab mereka saling cinta, tidak ada dendam di antara mereka, tidak ada kepalsuan, yang ada hanya ketulusan dan perasaan sayang.
Tangan Bryan meraih dagu Maura, membuat kedua mata mereka bertatapan penuh cinta dan nanar. "Setelah kejadian beberapa saat yang lalu, apa kamu tidak lelah?"
"Nggak, kan kamu dengar sendiri kata dokter. Aku cuma mengalami luka luar saja, dan tidak sakit kok."
"Yakin? Mau malam ini?" Tanya Bryan yang masih mengkhawatirkan kondisi Maura. Dia takut jika ritual itu mereka lakukan malam ini, Maura akan semakin lelah..
"Kalau kamu gak mau malam ini, ya udah mending kita tidur aja." Gadis itu beranjak dari ranjang menuju ke meja rias yang ada di sana. Bermaksud untuk membersihkan make up yang ada di wajahnya.
Namun, sepasang tangan lingkar di tubuhnya dan menghentikan langkahnya. Tangan itu memeluk Maura dengan eratnya, dari belakang. "Ahhh! Bry..."
"Aku tanya sekali lagi, kamu beneran nggak kenapa-napa kan? Kalau aku mau malam ini, gak masalah kan? Maura, aku cuma gak mau kamu merasa gak nyaman."
Wanita itu tersenyum, lalu kepalanya menoleh ke belakang. Ia berjinjit, kemudian mencium bibir Bryan dari depan.
"Maura!"
"Kamu banyak omong deh, jadi mau sekarang apa nanti?"
On fire!
Begitulah tetapan Bryan pada Maura saat ini. Sungguh dia tidak bisa membayangkan bahwa pernikahannya bersama wanita yang dicintainya telah terwujud. Bukan hanya membayangkan saja, bukan hanya dalam fantasinya saja dia bisa melihat Maura, kini dia bahkan memilikinya. Jiwa, raga dan juga hati.
"Ya, i want you now..." bisiknya di telinga Maura, lalu di gigitnya telinga Maura dengan pelan.
"Ughhh...Bry," lirih Maura kegelian. "Geli Bry..." desahh gadis itu.
__ADS_1
Suara wanita itu membuat Bryan menggila, pikirannya melayang. Kemudian dia membalikkan tubuh Maura, membuka resleting gaun yang dikenakan oleh istrinya itu. Dari atas sampai ke bawah, hingga kini hanya tersisa pakaian yang membungkus bagian dalam tubuhnya saja.
Seksi.
Cantik.
Manis,
Kulit putih bersih itu, sorot matanya yang sendu dan wajahnya yang malu-malu. Membuat candu tersendiri bagi Bryan, pria yang sudah berstatus sebagai suaminya.
"Jangan lihat aku begitu, malu..."
"Gak usah malu, kamu cantik...sayang." Bryan membuka jas, lalu beralih pada kancing kemeja putih yang dipakainya.
Tiba-tiba saja Maura mendekati Bryan, dia membantu suaminya membuka kancing kemeja itu dengan jari jemarinya. "Sayang..."
"Aku...memang belum berpengalaman, tapi aku ingin melayani malam ini, Bry..." lirihnya dengan jemari yang membuka kancing kemeja suaminya.
Bryan tersenyum, dia gemes melihat wajah malu-malu istrinya saat ini. Setelah keduanya sudah tanpa sehelai benang di tubuh mereka. Bryan menuntun istrinya untuk naik ke atas ranjang.
Dia memulai aksinya, dari mulai menghujani istrinya dengan ciuman di wajah. Lembut dan hangat, tidak ada perlakuan pria itu yang kasar terhadapnya. Semuanya lembut dan hangat.
Lenguhan, dessahan, belum apa-apa Maura sudah seperti itu. Padahal mereka belum memasuki bagian utama dari malam syahdu itu, tapi Maura sudah merasa kecanduan dengan sentuhan suaminya. Mereka masih dalam posisi duduk diatas ranjang.
"Eungh...Bry,"
Ciuman Bryan yang tadi bermain-main di sekitaran wajah dan lehernya, kini pindah ke bagian depan tubuh Maura yang begitu menggoda. "AHH!!" Pekik wanita itu yang semakin menekan kepala Bryan ke dadanya. Tangan Maura meremass rambut Bryan dengan gemas.
"Sebentar ya, kita harus pemanasan dulu." Bryan menghentikan sejenak aktivitasnya meraup dua buah gunung yang ranum itu.
"I-iyaaahh..." Maura mengangguk-angguk.
Pelan tapi pasti, Bryan melakukan survei terlebih dahulu sebelum ia menjamah tubuh istrinya. Dengan lembut, Bryan mulai menelusup ke dalam lubang yang bernama lubang surgawi. Yang mana ketika dia berhasil memasukinya, maka surga dunia yang dia dapatkan.
Setelah foreplay selesai dilakukan, kedua tubuh itu mulai berkeringat. Kini Maura sudah berada dalam posisi berbaring, dengan Bryan berada di atas tubuhnya. Mengungkung tubuh gadis itu.
Kedua mata Bryan, menatap Maura dengan tatapan nanar. Tangannya membelai lembut pipi Maura, "My little girl....aku mencintaimu,"
Darah dan jantung wanita itu berdesir hebat, manakala atensi Bryan hanya tertuju kepada dirinya. Ditambah dengan ungkapan cinta yang membuat dirinya semakin tersipu. "Aku juga, aku mencintaimu...my Bry..." lirihnya lembut.
Akhhh!!
Maura berusaha menahan suaranya, manakala benda kebanggaan milik suaminya menembus tubuhnya. Kemudian setelah itu seisi ruangan terdengar suara menggema dari pasangan yang tengah memadu kasih Di malam syahdu itu. Malam dimana Bryan mengecap keindahan dunia, merasakan manisnya lubang surgawi yang membawanya ke surga ke-7.
Ini adalah yang pertama kalinya untuk Bryan yang masih perjaka, namun yang kedua untuk Maura. Tapi itu tak menjadi masalah, sebab hanya kali ini Maura merasakan kenikmatan bercinta. Dengan Bara, dia tak merasakannya. Hanya sakit, yang dia rasakan saat itu.
Tidak cukup sekali, Bryan menggerayangi dan menjamah tubuh istrinya dengan berbagai macam gaya. Bahkan tidak hanya di ranjang, mereka juga melakukannya di dekat jendela kamar mereka, bahkan di sofa. Sungguh, tubuh molek Maura telah menjadi candu baginya.
"Su-sudah...Bry...sudah..." Pinta Maura yang nafasnya terengah-engah.
"Sebentar lagi ya sayang," ucap Bryan yang lalu memegang wajah Maura dan mencium bibirnya kembali.
"Arrgghh..." Bryan mengerang.
Rasanya lega, ketika Bryan mengeluarkan hasrat dan fantasinya selama ini terhadap Maura. Senangnya karena mereka sudah halal. "Sayang? Little girl?" Bryan melihat ke arah Maura yang berada di bawah tubuhnya. Wanita cantik dan terlihat lelah itu sedang tertidur pulas tanpa sehelai benang pun, setelah bergulat dengan suaminya. "Haahh? Dia langsung tidur?"
Walau Bryan merasa lemas setelah pelepasannya, ia menggendong istrinya dan memindahkannya ke atas ranjang. "Kamu adalah keindahan duniaku, little girl...nyonya Bryan Xander, aku mencintaimu... aku sangat mencintaimu." Bryan mengecup lembut kening istrinya. "Thanks for our first night, honey." ucapnya kemudian.
*****
Sinar mentari mulai menembus ruangan itu dari celah-celah jendela kamar hotel. Membangunkan wanita yang baru saja melalui malam indah bersama suaminya. "Eungh..." lenguhnya, manakala ia mulai membuka matanya perlahan. Ia membalikkan tubuhnya ke arah kanan, yang tadinya berada di arah kiri.
Matanya sontak terbuka lebar, begitu melihat pemandangan yang indah. Seorang pria tampan, dengan tubuhnya yang bertelanjang dada, sedang terbaring di sampingnya. "Ah...aku hampir saja lupa, aku kan sudah menikah.." gumam wanita itu sambil tersenyum, memandangi ketampanan suaminya.
Rasanya seperti mimpi, karena biasanya Maura hanya tidur sendiri tanpa ada siapapun di sampingnya. Kini dia tidur bersama seorang pria, tentu saja pria itu adalah suaminya. Jemari Maura menyentuh wajah Bryan dengan lembut, tak hentinya dia tersenyum memandangi wajah yang seperti aktris Hollywood itu.
Tiba-tiba saja tangan Bryan memegang tangan Maura, menghentikan aktivitas wanita itu mengagumi wajahnya. "Bry! Kamu udah bangun?"
"Ya, aku tau aku ini ganteng kayak pangeran. Tapi kamu gak usah lihatin aku kayak gitu, nanti aku jadi mau lagi."
Mau lagi? Mau apa? Ya ampun!
Maura membalikkan tubuhnya ke arah lain, namun Bryan menahannya. Dia memeluk tubuh mungil di balik selimut itu. "Bry, kamu mau apa?"
"Nyonya Xander, aku mau lagi dong?" Godanya pada Maura.
"Bry....semalam kan--hmph--"
Ucapan Maura terhenti saat Bryan meraup bibirnya dengan kecupan yang agak lama.
"Manis,"
"Bryan, ayo kita mandi terus sarapan pagi yuk? Kayaknya ini udah siang," Maura berusaha menghentikan tangan Brian yang mulai meraba-raba ke arah lain, titik sensitifnya.
"Pengantin baru gak apa-apa dong telat dikit, lagian kita lagi santai ini." Bryan semakin memeluk Maura erat-erat.
"Memangnya kamu gak kerja?" Tanya Maura heran, karena hari ini adalah hari Senin. Hari produktif bekerja maupun yang sekolah.
"Nggak dong! Masa pengantin baru pergi kerja? Ya libur lah sayang,"
"Kamu ambil libur berapa hari?" Tanya Maura lagi.
"Sayang...sayang, bisa nggak bahas kerjaannya nanti aja? Sekarang mending kita bahas yang semalam," ucap pria itu sambil beranjak dari tempat tidur dan mengungkung tubuh Maura.
"Ba-bahas apa?"
"Yang semalam, aku belum selesai loh. Tapi kamu udah tidur duluan..." bibirnya memanyun.
__ADS_1
"Semalam....udah--"
"Sayang, sekali lagi yuk? Di kamar mandi, kan belum?" Bujuk rayu pria itu pada istrinya.
Hem...siapa yang semalam bilang sekali doang? Sekali, jadi dua kali, dua kali jadi tiga kali dan---ahhh.
Maura teringat kejadian semalam di mana Bryan menggempurnya habis-habisan. "Bry, tapi aku gak bisa berdiri, kakiku lemas... tubuhku sakit, punggungku juga sakit!"
"Tidak masalah sayang, aku yang akan bawa kamu ke kamar mandi. Kamu cukup diam, aku aja yang gerak!" Bryan sudah menggendong Maura ala bridal.
"Bry, kamu mesum!"
"Habisnya kamu bikin aku nagih, salah sendiri....kamu bikin aku jatuh cinta dan kamu bikin aku candu. Jadi, rasakan saja betapa dalamnya cintaku sama kamu, nyonya Xander."
Wanita itu tidak dapat menolak tugasnya sebagai seorang istri, melayani suaminya adalah kewajiban Maura. Mereka pun kembali bergulat di kamar mandi, dinyalakannya shower guna meredam suara mereka di dalam sana.
Terutama suara Maura yang menjerit, mendesah, memenuhi ruangan itu. Setelah 20 menit kemudian,mereka sudah berendam didalam bathub berduaan dengan air hangat. Saling membersihkan tubuh masing-masing.
"Bry..."
"Panggilnya sayang dong." ralat Bryan pada istrinya.
"Sebenarnya aku nggak mau panggil kamu sayang, panggilan sayang itu terlalu pasaran." Kata Maura sambil tersenyum.
"Terus, kamu mau manggil aku apa?"
"Hem....By, hubby..." entah dari mana terlintasnya nama itu. Rasanya lucu saja jika Maura memanggilnya dengan panggilan Hubby.
"Setuju!" Bryan mengecup lembut pipi Maura dengan penuh kasih sayang.
"Oh ya By... udah ini kita mau ke mana?" Tanya Maura pada Bryan, setelah pernikahan mereka.
"Kita istirahat dulu aja disini, atau kita akan pergi bulan madu ke luar negeri?"
"Ah! Nggak, aku nggak mau bulan madu...banyak kerjaan di kantor." Wanita itu menggelengkan kepalanya, menolak untuk berbulan madu.
"Sayang....kok kamu gak mau sih? Kita baru nikah loh."
"By, kita tunda dulu ya bulan madu kita? Kamu kan sibuk dengan proyek bos Singapore, aku juga sibuk di kantor dan aku khawatir sama keadaan ayah yang belum membaik. Gak apa-apa kan?"
"Hem ya udah deh, kalau kamu maunya begitu. Lagian ngelakuin itu kan bisa dilakukan di manapun," pria itu tersenyum memandang istrinya.
"Ish...kamu mesum banget deh! Mikirnya kesitu terus," Maura mencubit hidung suaminya dengan gemas.
"Emang aku mikir apaan? Aku cuma bilang ngelakuin itu..."
"Ish....udah ah, aku lapar. Aku mau makan, by."
"Oke,"
Mereka aktivitas mandi, kemudian setelah itu mereka berpakaian dan memesan makanan untuk sarapan. Keduanya sama-sama menikmati makanan mereka sambil tersenyum bahagia.
Ya, siapa juga yang tidak bahagia setelah malam syahdu itu.
"By...."
"Yes, my girl?" sahut Bryan yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya, atensinya tertuju pada Maura.
"By, nanti kita tinggal dimana? Kita pulang ke mana? Ke rumah mama, apa rumahku?"
"Sayang, semuanya terserah kamu aja. Kamu mau kita tinggal di rumah mama, rumah kamu, atau apartemen kamu. Bebas,"
"Hem, kenapa jawabannya gitu? Kita kan berdua by, tapi keputusan hanya padaku saja? Kamu juga harus mengeluarkan pendapat." protesnya menggerutu. Baginya pernikahan dijalani oleh dua orang, maka dari itu semuanya harus sama-sama nyaman.
"Terus aku harus jawab apa? Aku sih terserah kamu aja,"
"Kalau terserah aku, bisa gak kita tinggal di rumahku dulu? Atau kita bolak-balik aja, misalkan hari Senin, Selasa, Rabu kita tidur di rumahku. Kamis, Jumat, Sabtu, Kita nginep di rumah mama Clara. Minggu kita bisa menginap di apartemen kamu." Saran Maura pada suaminya.
Maura tidak bisa meninggalkan ayahnya begitu saja sebelum keadaannya benar-benar pulih. Bryan memahami apa maksud istrinya, dia langsung setuju tanpa protes apapun. "Oke sayang, gak masalah. Dimanapun asalkan sama kamu, everything is fine."
"Makasih By, jadi artinya kamu setuju kan?"
"Iya sayang. Tapi, habis ini kita ke rumah mama dulu ya,"
Maura menganggukkan kepalanya. Setelah selesai sarapan, Maura dan Bryan bersiap untuk pergi ke rumah Xander grup.
Tok,tok, tok!
"Sayang, tolong bukain pintunya bentar!" Ujar Bryan pada istrinya, karena dia masih berada didalam kamar mandi.
"Iya by,"
Maura membuka pintu kamar itu, lalu di melihat seorang pria paruh baya dengan wajah cemas sedang berdiri di hadapannya. "Maaf, bapak siapa ya?" Tanya Maura dengan alis yang sedikit terangkat.
Siapa pria ini?
"Maaf Bu, apa benar ini kamarnya Bryan?"
"Iya pak, benar. Bryan suami saya."
"Apa bisa saya bertemu dengannya?" lirih pria paruh baya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Maura merasa iba melihatnya menangis.
"Siapa sayang? Pegawai hotel?"
Bryan melihat pria paruh baya itu, dia langsung terlihat tidak senang dengan kehadirannya. "Ini by, ada yang cari kamu." jawab Maura sambil melihat raut wajah suaminya yang kesal itu.
"Bryan...bapak mau bicara sama kamu!" pria itu menatap Bryan dengan memelas.
__ADS_1
...*****...