
...🔪🔪🔪...
Beberapa saat sebelum Bryan akan berangkat ke hotel tempatnya akan menikah dengan Maura. Dia pulang ke rumahnya dulu, ia melihat Bara masih berpura-pura hilang ingatan didepan mamanya.
"Bryan? Kamu sudah pulang? Apa kamu gak langsung pergi kesana?" Tanya Clara merujuk pada tempat pernikahannya dan Bryan.
Pria itu berjalan mendekati Clara dan Bara yang sedang duduk di kursi ruang tengah. "Iya Ma, aku pasti akan pergi ke tempat pernikahanku dan Maura."
"Ohok...ohok..." Bara langsung tersedak mendengarnya, tersedak dengan ludahnya sendiri.
Apa? Maura akan menikah dengan Bryan? Secepat ini?
Bryan ini gimana sih? Katanya dia ingin menyembunyikan pernikahannya dari Kenzo. Tapi kok dia malah membongkarnya sendiri. Sebelumnya, Clara sudah sepakat dengan Brian untuk menyembunyikan hal ini dari Bara. Lalu kenapa tiba-tiba Bryan membongkarnya?
"Bara, ah--maksudnya Kenzo juga harus hadir dalam acara pernikahanku. Dia tidak boleh melewatkannya, Ma."
"Maura... kenapa kamu menikah dengan istriku?!"
Bryan tertawa sinis mendengar sandiwara Bara yang masih saja berlanjut itu. "Sudahlah Bara, jangan berpura-pura lagi. Aku memaafkan semua kesalahanmu karena kamu adalah adikku." Atensinya menatap tajam kepada sang adik.
Terlihat raut wajah Bara yang panik dan pucat. "Kakak benar-benar keterlaluan! Maura itu istri aku, masa iya kakak mau jadi pebinor? Kakak harus tau aturan!" cecar Bara yang membuat Bryan semakin tertawa sarkas.
"Hahaha...Bara, sudahlah jangan bersandiwara lagi."
"Bryan, kamu apa-apaan sih nak? Kenapa kamu bicara seperti itu pada adikmu?" Clara masih belum tahu sandiwara yang dilakukan oleh Bara.
"Mama, Jangan marah-marah dong mah nanti penyakit darah tinggi Mama kumat loh." ucap pria itu lalu menyerahkan sebuah rekaman kepada mamanya. "Coba deh, mama lihat ini."
Clara mengambil rekaman itu, dia melihat dan mendengarnya. Percakapan Vera dan Bara, yang menunjukkan bahwa Bara berpura-pura hilang ingatan. "Kenzo...kenapa kamu--"
"Ma, aku bisa jelasin semuanya." Bara sudah ketahuan belangnya, dia bisa berpura-pura lagi di depan Clara.
"Kenzo... kamu itu tidak begini nak? Kamu itu anak baik, kamu gak mungkin kan merebut apa yang menjadi milik kakak kamu?" Clara berusaha menghentikan rasa iri dan dengki di dalam hati Bara.
"Ma, tapi aku mencintai Maura..."
"Mama tau, kalau Maura pernah menjadi masa lalu kamu. Namun itu kan dulu dan sudah berlalu, sekarang Maura bahagia bersama Bryan kakak kamu. Mama juga tau, bagaimana rasanya melupakan orang yang sangat kita cintai, itu tidak mudah. Tapi kamu lihat ini? Vera, gadis ini sepertinya sangat mencintai kamu... mengapa kamu tidak coba membuka hati untuknya?"
Clara pendapat bahwa Vera sangat mencintai Bara. "Ma..."
"Maura mencintai kakakmu dan begitu juga dengan sebaliknya."
Entah kenapa kata-kata Clara menenangkan sedikit ruang gelap di dalam hatinya. "Coba untuk ikhlas ya nak. Masih banyak wanita di luar sana yang mencintaimu, ya salah satunya adalah gadis ini." .
Bara terdiam lalu dia menundukkan kepalanya, mungkin dia sudah mulai berpikir bahwa apa yang dilakukan dunia ini salah.
Mungkin memang sudah seharusnya aku melepaskan masa lalu. Ya Allah, betapa sulitnya hati ini.
"Maaf kak, aku tidak akan mengganggu pernikahan Kakak aku janji. Aku akan mencoba untuk ikhlas." Bara meminta maaf pada kakaknya.
"Hem...baiklah, kamu harus tepati janjimu." Bryan dan Kenzo alias Bara saling memeluk setelah mereka berekonsiliasi. Semoga Bara di pegang janjinya dan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Setelah Bryan bersiap dengan setelan jasnya itu mereka bertiga pergi ke hotel tempatnya akan melakukan akad nikah bersama Maura.
****
Di dalam mobil, setelah Brayen menerima telepon yang terputus dari Maura, dia terlihat panik. Melihat Bryan panik membuat Clara dan Bara ikut panik juga. Kenapa tiba-tiba anaknya meneriakkan nama Maura dan menyuruh supir mempercepat laju mobilnya ke hotel tempat dirinya akan menikah dengan Maura.
"Ada apa kak?" tanya Bara pada kakaknya itu.
"Aku gak tau, seperti ada yang membekap mulutnya!"
"Apa?" Clara dan Bara terkejut mendengarnya.
Mobil itu pun cukup kencang menuju ke arah hotel Xander. 5 menit kemudian ,mereka bertiga sampai di depan hotel itu setelah ngebut. Bryan segera keluar dari mobil, diikuti dengan Bara dan Clara.
"Eh...saya kira saya terlambat datang, ternyata pak Bryan baru datang?" Tanya Evan pada Bryan yang baru saja datang. Nafasnya memburu, terlihat wajahnya panik. Evan memegang kursi roda yang ada Samuel disana.
Saking paniknya, Bryan buru-buru masuk ke dalam hotel dan mengabaikan pertanyaan Evan. Bara mengekorinya dari belakang. Evan bertanya-tanya kenapa Bryan dan Bara terburu-buru seperti itu. "Bu Clara, ada apa?"
"Nanti akan saya jelaskan, tapi sekarang kita harus cari Maura dulu!" Kata Clara cepat.
"Maura? Memangnya dia kemana?!" Evan terkejut mendengar penuturan dari Clara.
"Mauraa...kemwaaana..." Samuel juga bertanya hal yang sama.
Clara dan Evan buru-buru masuk ke dalam sana, tanpa basa-basi lagi mereka mencari Maura di sekitar hotel itu. Sementara Samuel bersama Arya diluar sana.
Pertama-tama Bryan pergi ke kamar hotel, tempat Maura di rias oleh Selly. Terlihat Selly dan dua orang petugas keamanan yang mengobrol didepan kamar itu.
"Pak Bryan," sambut Selly dengan wajah resahnya.
"Ada apa ini?" Tatapannya tertuju pada Selly dan dua petugas keamanan di hotel itu.
Bara juga sama, dia menatap tajam pada tiga orang yang terlihat resah itu. "Pak... sebenarnya--"
Selly mulai menceritakan apa yang terjadi secara singkat dan jelaskan kepada Bryan. Tentang dirinya yang meninggalkan Maura di dalam kamar sendirian karena bermaksud mengambil perhiasan mahkota untuknya. Namun, saat dia kembali Maura sudah tidak ada di kamar. Lalu seorang petugas keamanan mengatakan bahwa dari CCTV, ada dua orang berpakaian hitam yang membawa Maura pergi.
Xander bersaudara itu melihat rekaman CCTV, untuk melihat siapa orang yang sudah membawa Maura pergi dari sana. "Dari bentuk tubuhnya...dia--" Mata Bryan melebar tatkala dia melihat sosok yang ramping dan bertubuh mungil itu. Dia yakin sosok itu adalah seorang wanita dan wanita itu adalah...
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini kak? Apa Kakak punya musuh?" Bara melirik pada Bryan seraya bertanya padanya.
"Dia... ternyata masih sama seperti yang dulu, sial! Seharusnya aku tidak pernah membiarkannya! Kali ini... Aku tidak akan memaafkannya!"
BRAK!
Aku salah, seharusnya aku tidak lengah. Mengapa bodoh tidak menempatkan bodyguard di sini? Aku pikir, semuanya akan berjalan lancar tanpa ada halangan. Namun siapa sangka semua hal ini akan terjadi.
Tangan Bryan menggebrak meja dengan emosi. Lalu dia meminta orang-orangnya untuk mencari Maura. Bara dan Evan juga ikut membantu untuk mencari Maura.
****
Sementara itu, Maura tersadar di dalam sebuah ruangan yang suram dan minim cahaya. Mulutnya di lakban, kedua tangannya diikat dengan erat, kedua kakinya juga sama.
Hah? Dimana aku? Siapa orang yang sudah melakukan ini?. Maura hanya bisa membatin karena dia tak bisa bicara ketika mulutnya tertutup rapat.
Maura menatap ke sekelilingnya, dia berada di sebuah ruangan atap-atapnya sudah mulai roboh. Terlihat banyak sarang laba-laba di sana.
"Hey! Apa kamu sudah sadar?"
Deg!
Gadis itu menelan salivanya kuat-kuat ketika mendengar suara seorang wanita menyambutnya. Sambutan yang dingin dan menyeramkan. Lalu dilihatnya seorang wanita berambut pendek, pirang, sedang berjalan ke arahnya sambil membawa pisau dan botol yang entah apa isinya.
"Hmphh.... hmphh.."
Maura meronta-ronta, dia mengenali wanita itu. Ya, dia adalah Stella. Wanita yang pernah diceritakan Bryan sangat terobsesi kepadanya.
Uh...aku tidak bisa bergerak. Ikatan ini terlalu kuat.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa kok. Kakak duduk tenang disini saja ya?" Stella tersenyum smirk, senyuman yang mampu membuat Maura bergetar hebat karena takut. Senyuman itu tajam dan menusuk, seperti bukan senyuman orang yang normal.
"Hmphh!! Hmphh!!"
Stella tersenyum mendengar Maura terus mengoceh, entah ocehan apa, tak terdengar jelas juga karena mulutnya dilakban. "Kakak mau bicara ya?" Stella tersenyum, dia melihat sorot mata tajam Maura kepadanya. "Oke deh ayo kita ngomong kak!" wanita itu langsung melepaskan lakban yang menutupi mulut Maura dengan sekali tarikan.
"Ahh!" perih rasanya, lakban itu dilepaskan begitu saja.
"Gimana kak? Udah enakan?!"
"Kamu.... apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kita bahkan tidak saling mengenal!"
Dengan pisaunya, Stella menaikkan dagu Maura. Sungguh ngeri, karena pisau itu bisa saja menyentuh lehernya salah-salah kalau dia bergerak sedikit saja.
"Kakak... kita memang tidak saling mengenal, tapi sepertinya kita bermusuhan."
"Apa karena Bryan? Kamu melakukan ini karena Bryan?" Tebak Maura padangan.
Gila! Dia benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Bryan, gadis ini mengalami gangguan mental. Maura meringis, kasihan dan iba pada gadis itu.
Sedikit sedikit Stella menangis, dan 1 detik kemudian dia tertawa seperti orang gila. "Jadi kak... apa yang harus aku lakukan pada kakak? Kakak maunya aku melakukan apa? Kakak ingin aku merusak reputasi kakak, merusak wajah Kakak, atau membunuh kakak!"
Maura menelan salivanya, tatapan mata dan ucapkan Stella yang tajam sepertinya memang tidak main-main. Karena wanita ini memang tidak sehat mentalnya. "Hahaha, Apa kamu pikir dengan melakukan semua itu padaku....Bryan akan meninggalkan diriku?"
"Apa kamu bilang?!" Stella menautkan alisnya ke atas.
"Meski kamu merusak reputasiku, rusak wajahku, atau bahkan membunuhku...Bryan tidak akan pernah berpaling dariku kepada dirimu. Dan jika dia tahu kalau kamu melakukan semua ini, kamu sendiri tahu kan apa yang akan terjadi! Kamu akan berakhir di rumah sakit jiwa atau dipenjara!"
"Hah? Apa Kakak sedang mengancamku? Kak... kamu sangat percaya diri sekali ya. Menurut kakak kenapa aku bisa bebas semudah itu setelah aku menteror kak Bryan? Itu karena kak Bryan melepaskanku dan dia mencintaiku."
Aku harus mengulur waktu sampai seseorang datang menyelamatkanku. Aku yakin Bryan dan Kak Evan akan mencariku.
"Hahahaha.... rasanya halumu itu terlalu tinggi ya," Maura tertawa mengejek gadis itu. Dia berusaha mengajak Stella untuk bicara agar mengulur waktu.
"Kamu mengejekku?!" Rasanya Stella terhina diejek seperti itu oleh seseorang yang akan menjadi istri dari pria yang dia cinta. Stella pun menggerakkan pisaunya ke leher Maura dan menggoresnya sedikit untuk menakutinya.
SRET!
"Ahh!" Pekik wanita itu merasakan sedikit sakit di lehernya, dia juga merasakan ada sedikit darah segar mengalir di sana.
"Gimana kak? Sakit kan?" Tanya Stella dengan wajah tanpa dosa.
"Hahaha...gak, aku nggak sakit sama sekali. Sebenarnya kamu yang sakit, otakmu yang sakit, kamu gak waras artinya kamu gila."
Plakk!!
Sebuah tamparan melayang keras pada pipi Maura. Bahkan pipi Maura sedikit tergores oleh kuku cantik Stella. "Aku gak gila! Aku waras, aku hanya mencintai seseorang... apa aku salah?! HAH!!"
"Tidak, mencintai seseorang tidaklah salah. Tapi bagaimana cara mencintai orang itu, kamulah yang salah."
Stella menatap Maura penuh kebencian.
"Salahmu dalam mencintainya itu salah dan yang kamu rasakan itu bukan cinta. Tapi obsesi dan ambisi,"
Plakkk!!
Lagi-lagi Stella menampar Maura, kali ini di pipi kanannya. Maura sebenarnya sudah sangat geram ingin membalas pukulan Stella, namun dia tidak gerak dengan posisi yang terikat kencang seperti ini.
"Enggak! Aku itu cinta sama kak Bryan, kamulah yang tidak mencintainya!"
__ADS_1
"Nggak, kamu salah... yang benar adalah Bryan dan aku saling mencintai."
Bry, kamu di mana sih? Kenapa kamu belum datang juga?
Stella emosi lagi dan dia pun kali ini menendang punggung Maura. Hingga gadis itu terjatuh ke lantai kotor itu.
"Diam! Cinta kak Bryan itu hanya untukku! Dia tidak mencintai orang lain selain aku!" Stella menggelengkan kepalanya.
Maura menahan sakit di punggungnya karena Stella yang menendangnya. Kemudian tanpa diduga duga Stella menyiramkan sesuatu ke wajah dan tubuh Maura dari botol yang dibawanya.
"Apa yang kamu--"
Bensin? Dia menyiramku dengan bensin.
"Kalau kamu mati, atau wajahmu hancur karena terbakar...kak Bryan pasti akan meninggalkanmu!" Stella mengambil sesuatu dari dalam jaket hitamnya.
"Tidak, jangan melakukan hal yang bodoh! Kamu akan menyesal karena kamu menyakitiku, Bryan tidak akan membiarkanmu!" Maura mulai merasakan ancaman ketika Stella berniat membakarnya, kini ditangan Stella ada korek api gas.
Bry, kamu ada di mana? Bryan! Tolong selamat aku dari wanita gila ini. Maura memanggil nama kekasihnya dari dalam hati.
Stella mengabaikan Maura, lalu ia menjatuhkan korek api gas itu. Mata Maura terbelalak melihatnya. Namun sebuah tangan menangkap korek api gas itu.
"Hah? Siapa yang--"
Pria bertubuh tinggi dan berbadan tegap itu, sudah meringkus tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah Stella. Dia adalah Bara. "Wanita gila!" sungutnya marah.
Lalu tamatlah Stella, apalagi ada Bryan dan beberapa petugas rumah sakit jiwa di sana. Bryan langsung menghampiri Maura yang berada dalam posisi terbaring dan kedua tangan juga kedua kaki yang terikat.
Buru-buru Bryan membuka ikatan yang mengikat tubuh kekasihnya itu..
"Bry... akhirnya kamu datang," ucap gadis itu merasa lega.
"Iya aku sudah datang, maaf aku terlambat..." lirih Bryan sambil menatap kekasihnya yang pucat itu.
Tangan Maura berhambur memeluk Bryan. "Hiks...untunglah kamu datang,"
"Maaf, maaf aku terlambat!" Bryan balas memeluk Maura seraya menenangkannya.
Bara sakit hati melihat itu, matanya mengembun. Kini ia sadar bahwa cinta Maura memang bukan untuknya lagi. Mau seperti apapun dia berusaha, jika cinta itu tidak ada. Maka tidak akan ada yang kembali. Maura memang untuk Bryan.
Disisi lain Stella ditangkap pihak rumah sakit jiwa, gadis itu meneriakkan nama Bryan seperti orang gila. "Kak Bryan! Kamu tidak boleh menikah dengan wanita jaalang itu. Kamu hanya untukku! Kamu itu untukku, kak!" Teriak Stella meronta-ronta saat dibawa oleh petugas rumah sakit jiwa.
Terlihat Bryan sudah menggendong Maura dengan ala bridal. "Bara! Lapor polisi sekalian, aku tidak mau dia bebas dari hukuman hanya karena dia gila!"
Bryan geram, melihat ada luka di wajah, pergelangan tangan dan leher Maura. Dia tidak rela jika Maura terluka.
"Iya kak," ucap Bara sambil mengambil ponsel didalam saku bajunya dan hendak memanggil anggota kepolisian.
"Nggak kak! Kakak gak boleh begini kak, aku melakukannya karena aku cinta sama kakak!"
Suara Stella pun tak terdengar lagi, bersamaan dengan melajunya mobil rumah sakit jiwa. "Maura....dia--" Bara menatap Maura yang memeluk Bryan dengan erat.
Ah untuk apa aku bertanya, kan sudah ada kak Bryan sekarang.
"Aku akan mengurusnya, makasih sudah membantuku Bara." ucap Bryan tulus pada Bara.
Pria itu menganggukkan kepalanya, terlihat senyuman getir dibibirnya.
Setelah itu Maura dibawa ke salah satu kamar hotel, dia membersihkan tubuhnya dan lukanya di obati oleh dokter. "Bry, aku baik-baik saja!"
"Ssstt....diam! Aku tidak mau mendengar kamu mengoceh, biarkan dokter ini kan pekerjaannya dengan baik atau dia tidak akan pernah pergi dari sini!"
Di satu sisi Maura senang dengan perhatian Bryan padanya. Siapa pun wanita akan senang dengan keposesifan kekasihnya, pertanda bahwa pria itu begitu mencintanya. Tapi Maura merasa bawa ini berlebihan.
"Tapi aku benar-benar tidak apa-apa, ini cuma luka luar saja!" Kata Maura berusaha meyakinkan orang-orang di sana bahwa dia baik-baik saja.
"Kamwwuu harwuss di perwiksaa.." Samuel juga ikut bicara, terlihat sebuah kecemasan di dalam wajahnya.
"Iya Maura, sudahlah... hanya diperiksa saja kan? Bryan tidak akan berhenti sampai dia tenang." Clara memahami benar bagaimana sifat anaknya. Dia tidak akan tenang hanya oleh kata-kata saja.
"Tolong bekerja sama dengan saya ya Bu, kalau tidak pak Bryan tidak akan membiarkan saya tidur nyenyak." Kata dokter Haris, dokter keluarga Xander.
Gadis ini sangat manis dan dia menjadi korban ke posesifan pak Bryan dimasa depan. Haahh... beruntungnya dia. Karena lelaki di keluarga Xander itu setia.
"Em...baiklah pak dokter." Maura pun menurut, dia diperiksa oleh dokter Haris.
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, dokter Haris membacakan hasil diagnosanya bahwa Maura hanya mengalami luka luar saja. Semua orang lega mendengar hal itu. Tak berselang lama, penghulu yang akan menikahkan Bryan dan Maura datang.
"Bagaimana ini pak? Baru saja terjadi sesuatu pada pengantin wanitanya," ucap Clara.
"Oh, jadi pernikahannya batal saja?"
"Tidak pak! Kalau bapak mau menunggu sekitar 15 menit lagi, kita adakan pernikahannya sekarang."
Perkataan Maura sontak saja membuat semua orang disana melihatnya. Apalagi Bryan. "Maura, kamu kan baru saja..."
"Aku gak apa-apa, kita menikah sekarang aja." Maura memegang tangan Bryan. Dia tidak mau menghancurkan acara yang sudah Bryan susun untuk pernikahan mereka.
"Oke, kita nikah sekarang."
__ADS_1
...*****...