
...🍀🍀🍀...
Melihat nama Gilbert tertera di ponselnya, membuat Bryan kesal dan memilih panggilan telepon tersebut. Daripada menganggu moodnya, sebagai pengantin baru. Bryan memilih pergi ke kamar mandi.
****
Sementara itu di rumah sakit jiwa.
"Sial! Kalau begini caranya, aku harus menemui Bu Clara secara langsung." Gumam Gilbert kesal karena teleponnya tidak diangkat oleh Bryan.
Gilbert akan melakukan segala cara untuk membebaskan putri satu-satunya dari dalam rumah sakit jiwa. Sekalipun dia harus menyerahkan semua hartanya.
"Pah, gimana? Pasti kak Bryan mau melepaskanku, kan?" Tanya Stella yang berada di depan kaca, dia duduk di sana dan melihat ayahnya.
"Maaf Stella, papa belum bisa membebaskan kamu." ucap Gilbert dengan berat hati menyampaikan berita kurang baik ini.
"Apa? Ini pasti karena wanita sialan itu pah! Pasti karena dia, kak Bryan menolak untuk membebaskan aku! Gara-gara wanita penggoda itu, aku kehilangan kak Bryan...pah, wanita itu jahat...." Stella menyalahkan Maura atas semua sikap Bryan padanya.
"Nak, papa mohon sadarlah. Bryan sudah menikah, dia tidak mencintaimu, kamu harus sadar!" Seru Gilbert berusaha menyadarkan putrinya bahwa Bryan tidak pernah mencintai dirinya.
Stella menatap papanya dengan tajam, "Apa maksud papa? Kak Bryan itu mencintaiku pa! Kak Bryan dia sangat mencintai aku! Dia akan menikah dengan ku!" Kata Stella dengan suara yang meninggi.
"Stella!"
"Aku cuma pengen kak Bryan pa, aku cuma pengen kak Bryan..." Stella menangis. Sebentar sebentar dia menangis, sebentar sebentar lainnya dia tertawa. Mentalnya memang sedikit terganggu, dari kecil Stella sudah menunjukkan adanya kelainan jiwa.
Gilbert, sang papa menyadari akan hal itu. Namun dia tidak menyangka bahwa kejiwaan anaknya akan separah ini. Meski begitu, Gilbert tidak mau anak satu-satunya, mendekam di dalam rumah sakit jiwa atau dipenjara.
Ketika Stella mengamuk dan mulai kehilangan kendali, para petugas Rumah sakit jiwa segera membawanya pergi dari sana. Lalu setelah ini Gilbert rencana untuk menemui Clara di rumah keluarga Xander.
*****
Malam itu Maura dan Bi Sumi sedang menata makan malam di atas meja makan. Bi Sumi memuji Maura yang membuat masakan enak.
"Si non, pinter banget deh masak-masakan yang enak. Bibi aja kalah!" Bi Sumi tersenyum.
"Ah...bibi bisa aja deh, yang aku masak ini cuma masakan biasa kok." Kata Maura sambil menata piring kosong di atas meja.
__ADS_1
"Hehe, beneran non...dari baunya aja udah enak. Non kayak jebolan master chef!" Bi sumi mengacungkan jempolnya, seraya memuji Maura.
"Aish...si bibi bisa aja deh. Ya udah bi, aku ke lantai atas dulu ya. Mau manggil suamiku," ucap Maura berpamitan pada bi Sumi untuk pergi ke lantai atas.
"Iya non, biar bibi yang bawa air minumnya." Jawab Bi Sumi sambil tersenyum.
Maura menganggukan kepalanya. Ia pun meninggalkan meja makan dan pergi ke lantai atas.
"Loh? Hubby, kemana?" Maura bertanya-tanya ketika dia tak melihat siapapun di kamar.
Kemudian dia pun berjalan menuju ke ruang fitnes pribadi di ujung lantai dua itu. Dia melihat suaminya sedang olahraga dengan treadmill. Terlihat tubuhnya tanpa sehelai benang, hanya mengenakan boxer saja. Terlihat tubuhnya yang basah karena keringat.
Hem....gak heran tubuh dan staminanya bagus. Dia rajin olahraga sih.
"Gimana little girl? Suamimu ini sangat tampan, bukan?" Tanya Bryan sambil tersenyum pada istrinya.
Maura langsung menelan salivanya, dia ketahuan sedang melihat suaminya diam-diam. "Ehem...biasa aja tuh."
Dih, pedenya mulai lagi.
Pria itu menunjukkan senyum di bibir sensualnya. Sungguh membuat Maura tergoda karenanya. Bryan semakin mendekati Maura yang berada di ambang pintu. "Sayang, aku ganteng kan? Aku maccho? Lihat otot ku ini!"
"Otot-otot ini yang buat kamu lelah semalaman loh. Haruskah aku kurangi tenaganya atau tambah lagi?
"By, apaan sih...kenapa kamu olahraga jam segini? Nanti kamu harus mandi lagi, kan?"
"Gak apa-apa. Terus kenapa kamu kemari?" Bryan mengelus rambut Maura yang di ikat satu.
"Makan malamnya udah siap, aku kesini buat kasih tau kamu. Tapi kayaknya kamu harus mandi dulu deh," ucap Maura melihat seluruh tubuh suaminya berkeringat.
Tiba-tiba saja Bryan menggendong Maura sampai ke atas. "Woah!! By, kamu ngapain?!"
"Mandi bareng yuk,"
"By!" Seru Maura sambil melihat kesana kemari, takutnya ada yang melihat dirinya.
"Kamu juga belum mandi sore kan? Kita mandi bareng aja ya," lirih pria itu seraya menggoda istrinya.
__ADS_1
"Ah....nggak, kamu mandi sendiri aja. Ntar aku nyusul," Maura menolak.
Aku udah tau mandi yang kamu maksud itu seperti apa.
"Cuma mandi aja kok, beneran...aku gak akan ngapa-ngapain." Bryan tersenyum, dia menunjukkan dua jarinya seraya bersumpah.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya. Aku masih pegel, terus kamu jangan macam-macam." Pinta Maura mewanti-wanti Bryan.
Bryan menganggukkan kepalanya, ia pun membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi dan mandi bersama. Bukan mandi yang seperti itu, tapi benar-benar hanya mandi.
****
Malam itu tepat pukul 7, Bara menjemput Vera di kosannya. Dia sedang mencoba menata perasaannya dan mencoba menjalin kisah baru dengan wanita lain.
"Bara, aku udah siap!" ucap seorang wanita yang membuat Bara menoleh ke arahnya.
Bara terpana melihat penampilan wanita yang ada di belakangnya itu. Dia menggunakan dress selutut, berwarna hitam, menunjukkan kulitnya yang putih bersih terlihat lebih bercahaya. Vera tersenyum dan sontak saja membuat Bara terperangah.
Cantik sekali Vera.
Ya, sosok Vera ini memang sangat cantik. Tak heran dia bisa terpilih sebagai wanita pemandu lagu yang paling cantik di tempatnya bekerja dulu. Bahkan banyak pria hidung belang yang ingin membuking dirinya. Minta ditemani, atau bahkan meminta lebih dari itu. Tapi Vera selalu menolak meski diberikan bayaran mahal dan pernah ada seorang pria yang menawarkannya untuk menjadi istri kedua. Dia juga menolak hal gila itu. Akan tetapi saat Bara menolongnya dari dunia hitam itu dan berpura-pura sebagai pacarnya. Vera menerimanya dengan senang hati, itu semua karena Vera sudah tertarik kepada pria bernama Bara dari awal pertemuan mereka. Meski Bara tak tahu tentang perasaannya.
"Ayo kita pergi, Ver."
"Ayo Bar,"
Vera mengikuti Bara berjalan di belakangnya. Tak sengaja tangan mereka bertabrakan. Kemudian Bara memegang tangan Vera dan menggenggamnya. "Bara...kenapa kamu pegang tanganku?" Vera menatap tangannya yang di genggam oleh pria itu.
"Tanganku sakit kalau terus bertabrakan begitu, jadi ku genggam saja." Kata Bara dengan sikap jaimnya.
Vera tersenyum, ucapan Bara yang sederhana itu nyatanya bisa membuat hatinya melayang. Padahal kapan itu terdengar modus, namun Vera senang dengannya.
Ya baiklah, dimulai dari pegangan tangan dulu...mungkin aku akan segera merasakan perasaan cinta lagi. Melupakan kakak iparku.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, lalu pergi ke restoran yang salah satu mejanya sudah di pesan oleh Bara. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk sampai ke sana. Bara mengajak Vera masuk ke dalam restoran.
Mereka pun duduk di salah satu meja dan memesan makanan. Keduanya mengobrol tentang satu sama lain, untuk membangun sebuah chemistry dan hubungan yang lebih intim.
__ADS_1
...*****...