
...🍀🍀🍀...
Nathan mendesah, dia tak habis pikir karena Maura masih saja baik pada ayahnya. "Ayah belum meninggal dan dia orang tua kita, gimana bisa kakak, maksud ku bapak...meminta seperti itu pada ayah?"
Maura meralat ucapan sebelumnya yang mengatakan kakak pada Nathan. "Apa kamu bilang? Ayah kita? Dia itu ayahmu saja, bukan ayahku!"
"Kenapa bapak begitu keras kepala? Walaupun bapak membencinya ,tapi dia tetap ayah kita. Aku, Bu Jessica dan pak Nathan bersaudara satu ayah kan? Kita ini saudara pak dan aku ingin membangun hubungan persaudaraan dengan pak Nathan dan Bu Jessica." Jelas Maura tulus ingin membangun hubungan persaudaraan dengan dua orang itu.
Nathan menautkan alisnya, "Apa aku tidak salah dengar? Kamu... ingin menjalin hubungan persaudaraan dengan aku dan kakakku? Aku tak sudi bersaudara dengan kamu! Anak dari pelakor!"
"A-apa?"
"Ibu kamu, dia itu pelakor! Kamu jangan lupa, kalau ayahmu menikah lebih dulu dengan ibuku!" Kata Nathan seraya mengejek Maura. Jelas kalau dia tidak mau disebut bersaudara dengan Maura.
Plakkk!!
Tamparan melayang keras ke pipi Nathan, Maura marah padanya.
"Jaga mulut kamu ya! Atau aku akan kehilangan rasa hormat sama kamu...pak Nathan!"
Nathan terkekeh. "Hah! Emang benar kan? Ibu kamu itu pelakor."
"Terserah!" Tepis Maura kesal.
Maura berusaha untuk tidak menggubris ucapan Nathan, ia memilih untuk pergi meninggalkan Nathan yang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Nathan melihat Maura yang kembali masuk ke kamar ayahnya.
"Kenapa dia bisa berubah menjadi lebih dewasa? Biasanya dia akan mudah marah-marah dan berdebat. Kenapa sekarang dia..." Nathan merasa sikap Maura mulai berubah menjadi lebih dewasa.
Apa mungkin karena kini dia bersama dengan seseorang yang usianya jauh lebih tua darinya? Makanya dia jadi lebih dewasa. Pikir Nathan dalam hatinya.
Ya, memang benar. Maura sudah mulai berubah sedikit demi sedikit. Bersama dengan Bryan yang lebih dewasa darinya, membawa dia menjadi lebih dewasa juga. Mungkin ini yang namanya kekuatan cinta, bukan masalah waktu berapa lama mereka bersama. Tapi masalahnya adalah hati, masalahnya adalah kecocokan. Meski keduanya berbeda usia, tapi mereka cukup cocok.
****
Satu Minggu telah berlalu sejak Samuel di vonis mengalami stroke ringan. Pagi itu Maura berencana pergi bekerja seperti biasa, sebelum itu dia menemui ayahnya lebih dulu di kamar. Ia melihat suster Anna sudah stay disana seperti biasa untuk menjaga ayahnya. Terlihat Samuel tak bisa menggerakkan setengah badannya, bibirnya tertarik ke bawah, satu tangannya bengkok.
Dia melihat ada keresahan di wajah Anna, ketika sedang mengecek ayahnya. "Pagi suster Anna."
"Pagi Bu Maura." Anna balas menyapa Maura.
"Suster Anna, maaf saya bertanya hal ini pada suster. Apa suster merasa nyaman bekerja di rumah ini?" Tanya Maura yang melihat keresahan di wajah Anna.
Anna tidak langsung pertanyaan Maura dengan cepat, ia sempat terdiam dengan bingung. "Ehm-- Bu Maura."
"Ya? Apa ada masalah? Suster Anna, jangan sungkan sama saya ya?" Maura tersenyum ramah pada Anna.
"Sebenarnya saya memiliki pasien lain dan saya akan semakin sibuk kedepannya--jadi--" Anna tergagap.
"Jika suster Anna mau berhenti, gak apa-apa kok. Saya paham!" Pungkas Maura pada ucapan Anna yang belum usai.
Anna tercekat, dia melihat ke arah Maura dengan keheranan. 'Wah, cepat sekali bu Maura mengerti apa yang aku maksud'
"Suster Anna? Apa saya salah? Apa suster Anna tidak mau berhenti bekerja disini?" Pikir Maura heran melihat suster itu diam saja dan tidak menjawab apa yang dia katakan tentang berhenti bekerja.
__ADS_1
Maura paham betul pasti risih baginya untuk mengurus pasien laki-laki, sedangkan dirinya adalah seorang perempuan. Ya, setelah suster Anna berhenti rencananya Maura akan mempekerjakan Seorang perawat laki-laki.
"Tapi...pak Bryan bagaimana?"
"Hehe, jadi dari gadis suster Anna bingung karena Bryan? Semalam saya sudah berdiskusi dengannya, dia setuju kalau suster Anna mau berhenti bekerja." Jelas Maura para suster Anna.
Anna terlihat lega, ia menyunggingkan senyuman penuh rasa syukur. 'Huh, syukurlah...aku benar-benar tidak nyaman bekerja dengan pria ini'
"Sa-saya minta maaf, bila kinerja saya selama ini kurang memuaskan."
"Tidak suster Anna, justru saya yang harus berterima kasih kepada suster karena selama ini suster sudah merawat ayah saya dengan baik." Kata Maura sambil tersenyum, seraya terima kasih kepada suster yang telah merawat ayahnya selama ini.
Setelah berpamitan, suster Anna langsung pergi meninggalkan rumah itu. Dia merasa lega, seperti baru saja bebas dari kandang harimau.
Tak lama setelah suster Anna pergi, Maura duduk di atas ranjang tempat ayahnya berbaring. "Kweenwa---pahh...kamwu.."
"Ayah, aku pikir ayah sudah bertaubat setelah ayah mengalami koma dan stroke. Tapi nyatanya aku salah...aku kecewa sama ayah, semua orang bilang ayah bejat...awalnya aku gak percaya. Ternyata... kelakuan ayah sama suster Anna juga--"
Maura hanya bisa mendesah, dia tidak percaya setelah kemarin dia melihat sendiri bahwa ayahnya memiliki niat melecehkan Suster Anna.
"Mwauraa... aywahhh..." Samuel menatap putrinya yang terlihat kecewa padanya itu.
"Aku berangkat dulu ya ayah, assalamualaikum." Walau kesal pada kelakuan bejat sang ayah, Maura tetap pergi dan tak lupa mengucapkan salam. "Oh ya, nanti akan ada perawat pria yang akan merawat ayah."
"Aywah....aywahh...tidak mawuu.." Samuel berbicara tidak jelas karena bibirnya sulit bicara dan lidahnya kaku. Betapa menderitanya dia saat ini.
Sialan! Lebih baik aku mati saja kalau aku harus hidup seperti ini. Umpat Samuel dalam hatinya.
"Ayah jangan keras kepala, walau aku kecewa pada ayah. Ayah tetap ayahku, jadi aku gak akan biarkan ayah kesulitan." Wanita itu mengusap wajah ayahnya, tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar itu.
"Non Maura, ini Bi Ijah." ucap Bi Ijah dari ambang pintu.
"Masuk aja bi,"
Maura melihat bi Ijah tidak sendirian disana, dia bersama seorang pria berpakaian putih. Membawa tas hitamnya, pria itu tersenyum lebar.
"Non, bapak ini katanya mau bertemu non Maura." Kata Bi Ijah.
"Oh, mau ketemu saya? Apa kamu perawat yang akan merawat ayah saya?" Tanya Maura sambil melihat pria muda didepannya itu.
"Iya Bu, saya di perintahkan oleh pak Bryan untuk merawat pak Samuel. Perkenalkan nama saya Arya." Pria itu perkenalkan dirinya sebagai Arya.
Bryan cepat sekali membawa perawat baru untuk merawat ayah. Sepertinya aku harus berterima kasih padanya nanti.
"Saya Maura, tolong jaga ayah saya ya. Kalau ada apa-apa kamu telpon saya." Ucap Maura ramah pada perawat baru itu.
Tak lama setelah perkenalan singkat itu, Maura pamit pergi karena hari sudah siang dan Bryan juga sudah menjemputnya. Perawat bernama Arya itu menghampiri Samuel dan menyodorkan kursi roda. "Pak, saya akan merawat bapak...apa bapak mau jalan-jalan dengan saya?" Tanya Arya sambil tersenyum tipis, sorot matanya tajam pada Samuel. "Atau bapak mau disuntik dulu?"
Samuel bergidik ngeri melihat sorot mata Arya yang tajam padanya. Dia seperti tertekan sesuatu yang berat.
****
Di dalam mobil, Maura dan Bryan sarapan bersama. Keduanya sudah sama-sama terlambat ke kantor, padahal tadinya mereka mau sarapan bersama di kedai bubur. Tapi, mereka hanya bisa makan roti saja.
__ADS_1
"Mau lagi?" Tanya Maura pada Bryan sambil menyodorkan roti coklat padanya.
"Boleh." Bryan mempersilahkan lalu membuka mulutnya lebar-lebar. "Aaaa..."
"Ish...kamu manja banget deh, dari tadi maunya di suapi mulu." Meski menggerutu, Maura tetap melakukan apa yang diminta oleh Bryan. Dia menyuapi Bryan yang sedang menyetir itu.
Bryan terlihat puas, senang hatinya di suapi oleh Maura. "Kamu juga makan rotinya, kan?"
"Iya, ini aku makan juga kok."
"Hey little girl! Senang juga ya kalau kita berbagi makanan seperti ini." Ucap Bryan sambil tersenyum.
"Hem...iya." Sahut Maura yang masih sibuk mengunyah rotinya.
"Apalagi kalau kita sudah menjadi suami-istri, kita akan berbagi semua hal dan melakukan semua bersama-sama. Tidur bersama, mandi bersama, ngompol bersama dan--"
Hup!
"Cukup, jangan diterusin lagi! Ujung-ujungnya kamu jadi mesum, kan?" Maura menutup mulut Bryan dengan satu tangannya. Lalu Bryan menjilati jari Maura yang berlumuran cokelat.
"Hem...enak."
"Ish...Bry, kamu tuh ya?" Desis Maura kesal dengan perilaku Bryan.
Rasanya aneh, Bryan menjilati jariku seperti ini.
Mobil Bryan berhenti ketika dia melihat lampu merah. Bersama dengan mobil lainnya.
"Little girl, aku mau minum dong."
"Oke." Gadis itu mengambil botol air minum, dia membukanya lalu menyodorkannya pada Bryan.
"Suapin dong!" Serunya manja.
"Emang bisa ya minum disuapin juga?" Gadis itu terkekeh kecil.
"Bisa, ini juga masuk konsep berbagi." Lirik Bryan pada Maura.
"Gimana?"
"Sini, aku ajarin...kayaknya kamu belum bisa." Bryan melepas seat beltnya dengan cepat dia menyambar botol yang berisi air minum itu. Lalu dia meneguknya dan...
"Itu kamu bisa sendi---hmmphh!!"
Maura terkesiap dengan Bryan yang tiba-tiba saja menyatukan mulut mereka berdua. Bryan menyalurkan air minum itu melalui mulutnya. Alhasil, keduanya jadi berciuman.
Din....Din...Din...
Suara klakson berbunyi bersahutan.
Segeralah Maura mendorong dada bidang Bryan, terlepaslah pagutan bibir diantara mereka. "Bry, jalankan mobilnya! Kamu ini...ish..."
Bryan tersenyum manis, melihat bibir merah Maura yang basah karenanya.
__ADS_1
...*****...