Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 54. Aku ternoda


__ADS_3

Pov Ghea


...🍀🍀🍀...


Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, saat itulah aku membuka mata. Kulihat ada 5 orang pria dengan wajah mereka yang ditutup oleh masker hitam. Siapa mereka? Seingatku aku sedang berjalan di gang dan kemudian....


Hah?


Diriku terlonjak kaget saat melihat mereka sedang merapikan pakaian mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sedang meresletingkan celana. Apa yang terjadi sebenernya disini? Dan kenapa tubuhku sakit semua?


"Makasih ya manis, kamu sangat memuaskan!" ucap seorang pria kepadaku dengan suara manjanya.


Aku mengerutkan kening, tak paham apa yang sebenernya terjadi. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku saat itu. Siapa mereka dan kenapa aku bisa bersama mereka?


"Bobol perawan memang beda ya rasanya, mantap!" ku dengar seorang pria berbadan cukup besar itu bicara pada temannya. Siapa yang mereka maksud dengan perawan? Apa aku? Tanyaku didalam hati.


"Iya benar bro, rasanya mantap..." seorang pria menatapku dengan tatapan tajam. Bisa kulihat dia tersenyum walau wajahnya ditutupi topeng.


Alangkah terkejutnya diriku, saat aku melihat bajuku yang robek robek, bahkan aku tidak memakai segitiga pengaman. Astaga! Apa yang terjadi?


Kulihat di paha, tangan dan kakiku ada banyak tanda merah disana. Kenapa aku bisa begitu? Pikiranku melayang kemana-mana, aku mulai berpikir buruk tentang diriku sendiri.


"Hah!!"


Salah satu dari mereka mendekat padaku dan bertanya dimana rumahku karena mereka akan mengantarku ke rumah. Aku syok dan bingung, apa yang harus aku lakukan saat ini.


"Per-pergi kamu!" Aku mendorong pria yang hendak memelukku itu, aku yakin mereka bukanlah orang baik.


Pikirku masih melayang, kenapa penampilanku seperti ini? Apakah aku sudah ternoda? Mereka memperkosaku? Ya Tuhan!


Aku mencoba berdiri dengan kedua kakiku, berjalan keluar dari sana, meski aku tak tahu aku ada dimana dan kemana jalan pulang.


Kelima pria yang baru saja memuaskan n*fsu bejatnya padaku itu membiarkanku pergi begitu saja. Aku bahkan lupa memakai segitiga pengaman milikku yang ada disana. Rasanya sakit hatiku melihat mereka memandangku dengan sinis. Apalagi saat mereka tertawa mengatakan mereka puas dengan tubuhku.


Tanpa sadar air mataku mengalir, aku pun berhasil keluar dari gudang tua itu dan pulang ke rumah diantar seorang ojeg yang kebetulan lewat disana.


Sepulangku ke rumah, ibu langsung menyambutku dengan wajah cemas. "Ghea! Ibu kan sudah bilang jangan pulang malam," ibu menepuk tubuhku dengan cukup keras.


Kulihat ibu ternganga melihat kondisiku, baju dan tampilanku yang acak-acakan ini tentu saja menarik perhatiannya. Aku hanya bisa menangis saat ini menatapku begitu, "Nak, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu?"


Ibu melihat ke arah leherku, entah apa yang lihat dia disana. Matanya melebar seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.


"Ibu..." tak sanggup aku mengatakan apa yang sudah terjadi padaku, aku hanya bisa menangis di pelukannya. "Ibu...hiks..."


"Ada apa? Kamu kenapa nak?" Ibu memelukku, lalu dia membawaku masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Disanalah aku melihat Maura yang tak lain masih kakak iparku dan juga kakak sepupunya berada disana sedang duduk santai. Kulihat Maura menoleh ke arahku dengan terperangah, seakan bertanya dalam hatinya ada apa denganku?


"Ada apa?" akhirnya kakak iparku yang bodoh ini bertanya juga. Aku sebal sekali kepadanya karena dia bodoh oleh cinta kakakku.


"Ibu gak tau nak, pulang-pulang...Ghea sudah seperti ini,"


Aku tau apa yang ada dipikiran ibu saat ini, pasti dia berpikir hal yang sama denganku. Aku yang merasa kotor saja tidak bisa menyingkirkan pikiran itu, ah...mungkin aku memang sudah ternoda. Mungkin Maura dan kakaknya juga menertawakanku saat ini karena aku selalu bersikap tidak sopan terhadap mereka.


Maura mendekati ku, lalu dia bertanya sesuatu yang membuatku tercengang. "Siapa yang ganggu kamu? Katakan!"


Aku terperangah mendengar kata-kata yang sedikit namun bermakna seperti sebuah perhatian. Kulihat mata polosnya itu mencemaskanku. Mengapa? Mengapa dia begitu? Bukankah selama ini aku sudah tidak sopan padanya?


"Apa urusanmu?" Kataku yang masih saja sarkas padanya.


"Ini rumahku dan aku berhak bertanya pada orang yang berada di rumah ini. Aku harus tau apa yang terjadi pada orang rumah ini. Katakan padaku apa yang terjadi?"


Kenapa? Kenapa dia berkata seolah dia peduli kepadaku? Belum lagi tatapan Revandra padaku, aneh sekali!


Bibirku kelu, tak mampu aku menjelaskan semua yang terjadi padaku, aku pun berlari masuk ke dalam kamarku dan menangis disana. Aku malu....aku malu pada kakak iparku terutamanya, karena dia terlihat benar-benar peduli padaku.


Aku merebahkan diriku setelah mengunci pintu kamar dan menangis tersedu-sedu. Kudengar samar-samar suara kakak iparku itu memanggil dan juga suara ibu, tapi aku tak peduli dan aku pun masuk ke dalam kamar mandi.


****


...POV author...


"Sudah lama sekali mama tidak makan denganmu, Bryan." Clara tersenyum senang bisa makan dengan putranya. Dia memotong steak di piring dengan pisau dan garpu.


"Iya lama sekali ya, mama kan sibuk dengan jalan-jalan mama itu." Bryan menyeruput minuman yang ada didalam gelasnya.


"Mama kan jalan-jalan juga ada alasannya! Mama bosan tau, kamu terus saja sibuk kerja. Kalau kamu sudah menikah nanti dan kamu sudah kasih mama cucu, mama tidak akan kemana-mana dan akan mengurus cucu mama saja. Mama tidak akan peduli lagi sama kamu, huh!"


Terkadang kelakuan mamanya memang seperti anak kecil, lebih dari anak kecil. Ya, selalu saja minta jodoh dan cucu untuk anaknya.


"Mama berpikir terlalu jauh,"


Aku saja tidak tahu Maura akan bersamaku atau tidak, aku jadi tidak percaya diri karena dia masih marah.


"Kenapa memangnya? Suatu saat nanti kamu kan akan menikah dengan gadis yang katanya akan kamu bawa dua bulan lagi ke hadapan mama," Clara mengomel lagi.


Dreett...


Dreett...


Ponsel Bryan bergetar, dia pun mengambil ponselnya di dalam saku jas. "Ma, sebentar!" Bryan meminta agar ibunya diam sebentar saja dan dia akan mengangkat telpon.

__ADS_1


"Halo Ferry, gimana?"


[....]


"Sudah kamu kerjakan tugas dariku?"


[....]


"Baguslah, semoga dia jadi tau mengenai arti kesopanan! Lalu bagaimana yang berada di lapas?"


Bagus, semoga dia jera walaupun mereka hanya berpura-pura menodainya.


[....]


Kali ini Bryan berbisik pada Ferry yang sedang bicara dengannya di telpon itu."Tetap saja lanjutkan, aku mau dia memohon untuk bercerai."


[....]


"Oh ya Ferry, tolong belikan sekotak mashmallow yang besar, coklat dan sebuket bunga mawar putih."


Entah apa jawaban yang diberikan oleh Ferry padanya, Bryan langsung menutup telponnya.


*****


Di dalam penjara, Bara meminta sipir penjara untuk mengizinkannya menelpon keluarganya. Sipir itu mengizinkannya.


"Halo, ini siapa?" Tanya Maura pada orang dengan nomor yang tidak dikenal itu.


["Maura, ini aku."]


"Kamu--" mendengar suara itu membuat Maura langsung ingin menutup telponnya.


["Jangan tutup telponnya! Dengarkan dulu aku bicara! Sebentar saja..."] Pinta Bara.


Maura terdiam mendengar apa yang akan Bara katakan.


["Maura, ayo kita bercerai..."]


Maura memegang dadanya sesaat dia merasa jantungnya berhenti berdetak. Wanita itu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Perlahan-lahan air mata itu jatuh membasahi pipinya.


["Maura, kamu dengar aku kan?"]


"Maaf, barusan sinyalnya jelek...aku tidak mendengarnya. Katakan sekali lagi," Maura menyeka air matanya. Ini yang dia inginkan tapi mengapa dia malah menangis.


["Aku setuju, kita bercerai."] Bara mengucapkannya sekali lagi.

__ADS_1


"Baik, aku akan bebaskan kamu dari penjara setelah kamu tanda tangan suratnya. Besok, kita bertemu."


...****...


__ADS_2