
...🍀🍀🍀...
Betapa bahagianya Bryan mendengar berita kehamilan Maura, seperti ada yang meledak dengan indah menyeruak di dalam hatinya. Tak bisa meninggalkan istrinya sendiri di apartemen, akhirnya Bryan mengantar Maura ke rumah mamanya karena di sana akan banyak yang menjaga Maura.
"Sayang, kamu disini dulu sama mama ya. Aku kerja dulu," ucap Bryan seraya mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Iya By, gak apa-apa. Nanti pulang kerja kamu bisa jemput aku."
"Iya sayang, kamu jaga diri kamu baik-baik ya sama anak kita." Bryan mengelus perut datar istrinya, penuh kasih sayang.
Clara, Farhan dan Nick senyum-senyum melihat Bryan yang seperti enggan untuk meninggalkan Maura. "Ah...sayang, aku sepertinya tidak rela kamu meninggalkanku,"
Mendengar ucapan suaminya, Maura langsung menaikkan bahu serta alisnya."By, kamu harus kerja demi masa depan aku dan anak kita." komentar Maura.
"Iya baiklah my girl. Oh ya Ma, pastikan Maura meminum vitamin dan obat yang diberikan dokter, terus makanannya juga tolong diperhatikan ya ma." tutur Bryan meminta pada mamanya untuk memperhatikan Maura.
"Kamu gak usah khawatir Bry, mama pasti akan jaga anak dan cucu mama." Clara tersenyum, seraya memegang tangan Maura. Dia memang selalu lembut dan penuh kasih sayang pada menantunya itu.
__ADS_1
"Bryan percaya sama mama! Dan untuk kamu Nick, kamu harus selalu stay disini dan tidak boleh jauh-jauh dari istriku." ucap Bryan mengingatkan pada bodyguardnya itu.
"Baik pak," jawab Nick datar seperti biasa, namun ia patuh.
Bryan pun pergi ke kantor menaiki mobilnya sendiri tanpa Ferry. Walau ia berat hati meninggalkan Maura meski di rumah mamanya. Ingin sekali ia mengambil libur dan menikmati harinya bersama Maura sebagai calon ayah, tapi apalah daya? Dia tidak bisa melakukannya sebab pekerjaan sudah menumpuk, karena dia sudah mengambil cuti saat ayah mertuanya meninggal dunia.
****
Siang itu pada jam makan siang, Bryan masih belum bisa keluar dari ruang rapat bersama dengan Ferry, juga karyawan lainnya. Dia sangat sibuk, berbeda dengan Bara yang saat ini berada di divisi lain perusahaan itu. Dia tidak mau mengambil tanggung jawab besar sebagai Presdir walau Bryan pernah menawarkannya.
"Assalamualaikum," ucap Vera dan Bara bersamaan, mereka melangkah masuk ke rumah mewah bak istana itu.
"Waalaikumsalam," jawab Maura dan Clara yang kebetulan sedang ada di ruang tengah.
Dengan ramah Clara mempersilahkan Vera untuk masuk dan langsung duduk di meja makan. Tak lupa Vera mencium tangan Clara dengan sopan, sebelum ia duduk di kursi meja makan bersama Bara.
Terlihat Maura sedang menata makanan, Vera yang melihat itu langsung bergerak membantu Maura yang membawa nampan berisi air mimum. "Biar aku bantu, Maura."
__ADS_1
"Makasih kak." jawab Maura ramah.
Semoga mama mau melihat kebaikan kak Vera.
Ekor mata Clara terus memperhatikan gerak-gerik Vera, ya dia memang cantik, usianya masih muda, mungkin juga dia baik, tapi ada satu keraguan dan penghalang di hati Clara tentang Vera.
"Kak Maura, kak Bryan bilang kalau dia gak bisa makan siang bersama di rumah. Dia sibuk." Bara memberitahukan pesan Bryan pada kakak iparnya.
"Ya, aku udah tau kok." jawab Maura sambil duduk di kursi bersebelahan dengan tempat duduk Clara.
Mereka pun makan dalam hening, Maura juga makan dengan baik asalkan makanan itu tidak dalam kondisi dingin. Hingga tiba-tiba saja ucapan Clara membuat semua atensi semua orang tertuju padanya.
"Vera, kamu cantik, kamu baik, jujur saya suka sama kamu. Tapi--"
Vera dan Bara mendongak ke arah Clara, menantikan apa yang akan dikatakan oleh Clara pada mereka. "Maaf, apa kamu masih perawan?"
...,*****...
__ADS_1