
...~Tidak semua kenyataan itu manis, malah banyak kenyataan yang pahit...
...Tidak semua jujur itu indah, kadang ada yang tersakiti karena kejujuran ~...
...🍁🍁🍁...
Nathan masuk ke dalam rumah sakit jiwa yang letaknya berada di ujung kota itu. Setelah memastikan Nathan masuk ke dalam sana, barulah Maura turun dari taksi dan ikut masuk ke dalam rumah sakit jiwa.
Ternyata usahanya untuk mengikuti Nathan tidaklah mudah, dia harus melalui prosedur kunjungan disana dan tidak sembarang orang boleh masuk.
"Maaf mbak, mbak mau jenguk siapa?" Tanya seorang petugas rumah sakit jiwa yang memakai seragam putih itu.
"Ehm...barusan kakak saya masuk ke dalam. Saya sedang mengikuti dia, mas..saya ingin tau dia menjenguk siapa karena saya khawatir. Apa mas bisa mengizinkan saya masuk ke dalam untuk melihat kakak saya?" Maura berakting memelas didepan petugas pria itu.
Petugas rumah sakit itu mengernyitkan dahi, seolah tak percaya dengan alasan yang diberikan oleh Maura. "Maaf mbak, saya tidak bisa mengizinkan seseorang sembarang masuk." kata si petugas itu tegas.
"Pak, saya mohon...saya benar-benar khawatir dengan kakak saya. Saya penasaran dengan siapa yang dijenguknya," ucap Maura sambil melirik ke arah buku daftar pengunjung yang baru saja ditulis oleh Nathan secara diam-diam.
Nathan---Jessica?
Maura melihat nama Jessica di samping nama Nathan.
"Pak, apa yang dijenguk kakak saya bernama Jessica?" Maura menatap petugas itu dengan tajam.
Jika aku tidak salah, mungkinkah Jessica ini adalah kakaknya pak Nathan.
"Ya benar," petugas judes itu menutup bukunya.
"Astagfirullah...hiks... ternyata selama ini...kakak saya berada disini. Pak, tolong izinkan saya bertemu dengannya, demi kemanusiaan pak! Saya harus melihat benarkah kakak kedua saya menemui kakak pertama saya!" Seru Maura sambil menangis.
Petugas itu akhirnya termakan oleh bujukan dan rayuan dari Maura. Dia mengizinkan Maura untuk masuk karena Maura menunjukkan bukti bahwa dia mengenal Nathan dan wanita bernama Jessica ini. Diam-diam Maura mengikuti Nathan yang sedang berjalan melewati lorong panjang, kemudian Nathan berhenti di sebuah pintu tepatnya di ujung lorong itu.
Maura juga melihat ada beberapa orang gila disana sedang berjalan-jalan bersama suster. Ada yang memegang boneka, ada yang sedang bernyanyi dan berteriak-teriak.
"Eh, apa pak Nathan masuk ke dalam sana? Ish...ini semua karena aku tidak fokus saat melihat orang-orang gila itu," gerutunya yang lalu mengikuti Nathan ke ruangan ujung lorong.
Dia melihat ruangan itu terbuka, mengintip siapa yang ada didalam sana. Terlihat Nathan berada di dalam sana bersama seorang wanita cantik berambut panjang, berpakaian pasien yang duduk di sofa sambil menggendong boneka wanita yang dikepang dua.
"Kakak, aku datang." Sapa Nathan pada wanita itu dengan senyuman tipis dibibirnya. Senyuman yang miris dan menyimpan kesedihan.
Maura dengan jelas mendengar Nathan wanita itu dengan sebutan kakak. Maka memang benar bahwa Nathan menemui kakaknya dan kakaknya itu memang mengidap gangguan jiwa. Maura terkejut karena dia mengenali wanita itu sebagai sekretaris ayahnya yang sudah lama berhenti kerja.
"Nathan? Kamu datang? Kenapa kamu lama sekali datangnya? Apa kamu gak lihat keponakan kamu sudah kangen?" Jessica menyodorkan boneka itu pada Nathan.
__ADS_1
Nathan duduk disamping Jessica yang terlihat tampak normal, namun mentalnya sakit. Mengira boneka adalah seorang anak, adalah hal yang gila. "Iya kak, aku juga kangen sama anak kakak." Nathan melihat ke arah boneka perempuan itu.
Ya Allah, sampai kapan kakak akan seperti ini.
"Eh! Kamu kan sudah tau namanya, kenapa masih panggil anak kakak? Panggil Erika, namanya Erika. Erika, ayo sapa om kamu." Jessica tersenyum lebar, dia memperkenalkan boneka itu sebagai Erika, anaknya.
"Kak...bisakah kakak melupakan semuanya? Ayo kak, kita pulang...mau berapa lama lagi kakak disini?" bujuk Nathan pada kakaknya yang berusia sekitar 30 tahunan itu. Sudah sangat lama Jessica berada disana dan setiap Nathan mengunjungi Jessica, dia selalu berusaha untuk mengajak kakaknya pulang dan kembali hidup normal.
Tiba-tiba saja raut wajah Jessica berubah saat adiknya mengatakan tentang melupakan semuanya.
"Apa maksud kamu? Mana bisa aku melupakan si SAMUEL bajingan itu, bapak bangsat dan brengsek yang sudah mengambil kesucianku secara paksa! Tidak, aku tidak bisa melupakannya...anakku juga mati karena dia, padahal anakku adalah cucunya juga. Aku gak bisa melupakan semua itu, semua KEBEJATANNYA!!" Teriak Jessica mengutuk Samuel, pria yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
Maura mendengar dengan jelas perkataan Jessica, yang mengatakan bahwa ayahnya adalah Samuel. "Tidak mungkin kan? Nama ayahku dan Bu Jessica sama. Ini...gak mungkin." Tangan Maura menutup mulutnya yang ternganga, dia masih mencerna yang baru saja dia dengar.
Wanita itu kembali melihat Nathan dan Jessica. Nathan memegang tangan Jessica, pria dingin itu menangis sedih. "Samuel, ayah kita. Dia sedang koma dan tidak tahu kapan akan siuman, aku pikir itu cukup untuk membayar rasa sakit hati Kakak..tapi ternyata tidak."
Ayah kita? A-apa maksudnya? Ayahku adalah ayah pak Nathan dan Bu Jessica?!. Maura berkata dalam hatinya.
Dia sangat deg degan mengetahui banyak fakta mencengangkan seperti ini. Dia sampai mengelus dadanya, menelan ludah, dia masih penasaran dengan obrolan Nathan dan Jessica.
"Kak, aku mohon...jangan seperti ini. Kita coba hidup normal ya kak?" Bujuk Nathan pada kakaknya dengan lembut. Dia sedih melihat kakaknya begitu terpukul.
Ya, jelas saja!
Dia diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri, yaitu Samuel sampai hamil, setelah hamil Samuel membunuh anaknya. Itulah yang bisa Maura tangkap dari percakapan Nathan dan Jessica. Tapi, dia masih tidak percaya dengan semua itu.
Setelah cukup mendengar banyak hal, Maura memutuskan untuk melangkah pergi dari sana. Tepat saat Maura pergi baru berjalan beberapa langkah, Jessica mengamuk karena bujukan Nathan dan membuat Nathan harus keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Jessica yang ditangani petugas rumah sakit jiwa untuk ditenangkan.
Nathan terkejut melihat punggung seseorang yang tidak asing. "Ibu Maura?"
Maura membalikkan badannya, Nathan tercengang melihat wanita itu yang ternyata benar-benar Maura. "Kenapa kamu ada disini? Apa kamu mengikutiku?" Tebak Nathan yang merujuk pada tuduhan.
Wanita itu terdiam, pertanda bahwa diamnya itu memang benar. Mata Maura berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Kamu punya telinga gak sih? Punya mulut gak? Kok gak ngomong? Saya lagi nanya!" Ujar Nathan.
Kenapa wajahnya seperti itu? Apa dia sudah tau sesuatu?
"Saya memang mengikuti bapak," bibir Maura gemetar, dia mengepal tangannya dengan kuat.
"Sungguh kamu tidak sopan, sama seperti ayahmu!" Seru Nathan ketus.
"Ayah saya juga ayah bapak dan Bu Jessica," ucapan Maura membuat Nathan tercengang.
__ADS_1
"Kamu....dia bukan ayah saya!" Sangkal Nathan. "Saya tidak punya bapak bangsat seperti dia, seorang penjahat wanita!"
"Saya sudah dengar semua percakapan kalian, jadi intinya saya dan kalian berdua saudara satu ayah, beda ibu kan?" Maura sakit hati ketika mengatakannya.
"Kalau iya...kenapa? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nathan sambil menatap Maura dengan tajam.
****
Setelah bicara dengan Nathan dan kebenaran terungkap, Maura berharap ayahnya cepat sadar dan mengkonfirmasi semuanya. Dia tidak menyangka ayahnya memang brengsek, bukan hanya Alina yang disakiti tapi Jessica, wanita yang ternyata adalah putri kandungnya sendiri.
Sepulang dari sana, kaki Maura gemetar. Jantungnya masih berdegup kencang, tak kuasa menahan fakta menyakitkan ini. Tubuhnya lemas, dia pun duduk duduk di depan kursi rumah sakit jiwa. Bahkan setelah Nathan pergi, Maura masih berada disana.
"Ayah...ayah...hiks..."
Dreett....
Dreett...
Ponsel Maura bergetar didalam sakunya, Maura melihat siapa yang menelpon. Maura langsung mengangkatnya. "Halo..."
["Halo, Maura kamu dimana? Kata pak Evan, kamu sakit. Tapi kok kamu gak ada di rumah? Aku di rumah kamu."]
"Ma-maaf pak, sa-saya..."
["Kamu kenapa? Suara kamu...kamu dimana? Aku jemput ya?"] Bryan terdengar cemas mendengar suara Maura.
"Aku di depan rumah sakit jiwa xxx," jawab Maura lemas.
["Oke, kamu tunggu disana. Aku segera datang. Jangan kemana-mana ya?"]
"Ya."
Bryan penasaran kenapa Maura bisa berada di rumah sakit jiwa , namun dia mengesampingkan dulu untuk bertanya karena dia merasa ada yang tidak benar dengan suara Maura.
Beberapa menit kemudian, Bryan melihat Maura didepan rumah sakit jiwa. Bryan menghampirinya yang sedang melamun dan matanya sembab. "Maura,"
Ada apa dengannya?
Maura berdiri, dia tersenyum melihat Bryan. "Bapak sudah datang?"
"Maura, kamu---"
Tiba-tiba saja Maura jatuh pingsan dan tubuhnya di topang oleh Bryan dengan cepat.
__ADS_1
"Maura! Hey, kamu kenapa? Maura?!" Bryan panik melihat wanita itu tiba-tiba tak sadarkan diri.
...****...