Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 93. Donor darah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


CEKLET!


Pintu ruangan UGD itu akhirnya terbuka lebar, seorang dokter pria keluar dari UGD dengan raut wajah kurang menyenangkan. Dokter pria itu melihat ke arah Maura dan Bryan yang baru saja beringsut dari tempat duduk mereka. "Dokter, bagaimana keadaan Bara?" Tanya Maura mendahului Bryan yang sebenarnya ingin bertanya juga tentang keadaan Bara.


Sungguh, Bryan tidak nyaman ketika Maura menanyakan keadaan mantan suaminya dengan wajah cemas seperti itu. Dia sadar, bahwa rasa yang ia miliki saat ini adalah cemburu. Bryan berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa cemburunya ini, ia tau bahwa sekarang bukan waktunya untuk cemburu.


"Pasien kehilangan banyak darah dan kemungkinan besar pasien mengalami cedera kepala yang cukup serius, saat ini keadaan pasien sedang kritis." Jelas dokter itu pada Maura.


Mulut Maura terbuka lebar, dia menutup mulut itu dengan satu tangannya. Sedangkan yang lain memegang erat tangan Bryan.


Bara, karena aku kondisi Bara jadi kritis seperti ini? Ya Allah...


"Lalu bagaimana agar bisa menjadi lebih baik, dok?" Tanya Bryan pada sang dokter, sambil memegang tangan Maura seraya menenangkan Gadis itu dari rasa tidak tenang.


"Untuk saat ini pasien membutuhkan transfusi darah, namun sayangnya stok darah pasien di bagian PMI rumah sakit sedang kosong."


"Maaf dok, kalau boleh saya tahu golongan darahnya apa?" Tanya Bryan pada dokter itu.


"Golongan darahnya Rh-null." Ungkap sang dokter cemas.


Maura dan Bryan tercengang mendengar ucapan dokter. Karena Jenis golongan darah Rh-null adalah paling langka di dunia. Hingga saat ini, baru ada 43 orang yang dilaporkan memiliki golongan darah ini. Selain kelangkaannya, golongan darah ini dapat ditransfusikan ke semua jenis golongan darah. Namun, orang dengan golongan darah Rh-null hanya bisa menerima transfusi darah dari jenis golongan darah yang sama dan sulit untuk menemukan golongan darah yang sama.


"Dokter, saya akan membantu untuk mendapatkan donor darah itu dengan segera. Little girl, kamu jangan cemas ya...tidak akan terjadi apa-apa padanya. Hmm..." Bryan memegang tangan Maura seraya menenangkannya.


Gadis itu masih menangis, ia mengangguk pelan setelah mendengar Bryan mengatakan tentang donor darah untuk Bara. Hatinya sedikit tenang, ia peduli pada Bara bukan karena masih mencintainya tapi karena dia merasa cemas pada penolongnya. Tapi Bryan tampaknya mengartikan kekhawatiran Maura dengan yang lain.


Apa segitu cemasnya kamu sama Bara? Apa kamu masih suka sama mantan suamimu itu? Ini gak benar kan, Maura?


"Baik pak, saya juga akan meminta informasi bila ada yang mempunyai golongan darah ini dan kalau bisa segera! Karena pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi ." Ucap dokter yang juga akan usaha untuk mencari donor darah Bara.


Maura memegang dadanya, dia terlihat resah dan gelisah. Hanna yang ada disana ikut cemas melihat Maura seperti itu. "Hanna, bisa tolong jaga Maura sebentar?" Tanya Bryan pada Hanna untuk menjaga Maura, karena ia akan mengurus dulu masalah donor darah.


Hanna menjawab Bryan dengan anggukan. Dia menghampiri Maura dan berusaha menenangkannya. "Maura, duduk dulu yuk! Aku bawain minum ya? Tenang aja...Bara gak akan kenapa-napa." Ucap Hanna pada sahabatnya itu.


"Little girl, aku akan telpon dulu disebelah sana ya? Kamu sama Hanna dulu disini." Kata Bryan pada calon istrinya itu.


Bara, walaupun kamu adalah rivalku tapi aku tidak mau kamu mati.


Belum sempat Bryan melangkah pergi dari sana, Clara tiba-tiba saja datang dan menghampiri ke arah Maura.

__ADS_1


"Mama?"Tanya Bryan terheran-heran melihat mamanya ada disana.


"Bryan! Gimana keadaan calon menantu mama? Kata Ferry, kamu ke rumah sakit karena Maura--" Clara terlihat panik, namun wajah paniknya menjadi sedikit lega saat dia melihat Maura dan Hanna sedang duduk disana. "Maura sayang? Kamu gak apa-apa nak?" Clara menatap Maura dengan cemas layaknya anak sendiri.


"Tante....aku gak apa-apa." Maura menggelengkan kepalanya.


Bara yang sedang menelpon, meninggalkan Clara, Maura dan Hanna didepan ruang UGD. Dia berupaya mencari donor darah untuk Bara. Menghubungi setiap rumah sakit yang ada di ibu kota.


Dokter dan suster terlihat bolak balik ke rumah UGD. Membuat Maura semakin cemas pada keadaan Bara. Hingga beberapa saat kemudian, dokter mengatakan pada Maura bahwa keadaan Bara semakin kritis dan harus secepatnya mendapatkan donor darah.


"Dokter.. maaf saya mau tanya, golongan darahnya apa ya?"


"Rh-null."


"Golongan saya Rh-null, dok. Apa dokter bisa mengambil darah saya?" Tanya Clara berbaik hati ingin mendonorkan darahnya pada orang yang tidak tau dia siapa.


Maura dan Hanna menoleh ke arah Clara dengan kaget. Entah ini kebetulan atau bagaimana? Golongan darah mereka bisa sama.


"Benarkah itu Bu? Kalau begitu ibu bisa ikut saya untuk pemeriksaan sebentar." Kata dokter itu sambil tersenyum.


Bryan juga terkejut mendengar apa yang dikatakan ibunya pada dokter, bisa-bisanya dia lupa kalau mamanya punya golongan darah yang langka itu. Tapi apakah ini memang sebuah kebetulan?


Tanpa pikir panjang, Clara masuk ke dalam ruang UGD setelah mendapat izin dari Bryan untuk mendonorkan darahnya karena keadaan Bara yang sudah sangat kritis dan tidak bisa menunggu lagi.


"Bu, apa ibu sudah siap?" Tanya seorang suster pada Clara, ia sudah bersiap untuk mentransfusi darah Clara untuk Bara.


Clara menganggukan kepalanya. Dan dimulailah transfusi darah itu. Setelah transfusi darah, Bara akan di operasi kepalanya.


****


Didepan ruang UGD, Bryan, Hanna dan Maura masih stay disana. Hingga telpon dari kantor membuat Hanna terpaksa harus meninggalkan Maura. "Ra, maaf banget...aku harus pergi ke kantor."


"Gak apa-apa kok Han, ada Bryan disini."


"Oke. Pak Bryan, saya titip teman saya ya pak!" Seru Hanna berpesan pada Bryan untuk menjaga temannya itu.


Hanna pun pergi dari sana setelah mendapat jawaban anggukan dari Bryan. Ya, Hanna bisa santai karena ada Bryan yang berada disisi Maura dan selalu ada untuknya. Hanna turut bahagia untuk temannya.


"Little girl, kamu jangan khawatir ya...Bara pasti baik-baik saja." Bryan masih berusaha menenangkan Maura.


"Bry... karena menyelamatkan aku, dia jadi seperti ini."

__ADS_1


Bryan diam dan tak berkomentar apa-apa. Lalu Maura pun menyadari bahwa Bryan marah padanya. "Bry, kamu jangan salah paham! Aku cemas sama dia bukan karena aku masih ada perasaan sama dia, tapi ini karena aku khawatir sama penolongku!" Maura berusaha menjelaskan pada Bryan agar ia tak salah paham dengan rasa cemasnya pada Bara.


"Udah...gak usah jelasin apa-apa lagi. Aku paham kok." Pria itu berusaha tersenyum, walau hatinya terbakar cemburu. Namun disisi lain dia berterimakasih pada Bara, jika bukan karena Bara. Pasti Maura yang berada disana dalam keadaan kritis.


Terdengar suara langkah kaki orang yang sedang berlari mendekat ke arah mereka. Ya, itu adalah Ghea dan Alya. Adik dan ibu Bara.


Mantan isteri dari Bara Rahadian itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan menatap Ghea juga Alya. Dia lah yang tadi mengabari Ghea tentang kondisi Bara.


"Ghea? Bu Alya? Kalian--"


Plakkk!!


Bryan terkejut bukan main, ketika tangan Ghea menampar pipi calon istrinya. Alya juga sama terkejutnya dengan tindakan kasar Ghea pada Maura. "Ghea!" Teriak Alya seraya menatap anak gadisnya itu.


"Kamu---dasar anak kurang---" Tangan Bryan melayang, dia menatap Ghea dengan murka.


Maura menahan tangan Bryan, "Stop Bry! Please..."


"Maura! Anak ini--"


"Aku gak apa-apa." Maura tidak mau ribut-ribut di rumah sakit. Dia memilih diam saja dan fokus pada keadaan Bara.


"Gara-gara kamu ya! Kakakku selalu kena masalah, dasar kamu pembawa sial!" Ghea memakai Maura dengan kesal dan menyalahkannya.


"Diam kamu anak kurang ajar! Jangan kamu memakai calon istri saya, atau saya akan memberikan pelajaran sama kamu!" Tunjuk Bryan pada wajah Ghea. "Jika saja...kamu bukan wanita, aku pasti sudah memukulmu dan kekurangan ajaranmu itu!"


Perdebatan itu terhenti ketika Clara keluar dari ruang UGD, Maura segera menghampiri Clara yang jalan terhuyung-huyung. "Tante? Tante gak apa-apa kan?"


"Iya, Tante gak apa-apa kok. Kamu tenang aja ya, anak itu lagi di operasi didalam."


"Ma, mama pusing? Bryan antar pulang ya?"


"Iya, mama emang mau pulang kok..."


Saat beranjak dari tempat duduk itu, tiba-tiba saja ada benda jatuh ke bawah. Clara memungut benda itu, yang ternyata adalah sebuah kalung dengan bandul gembok. "I-ini...ini..."


"Tante, ini kalungnya Bara." Ungkap Maura.


"Ya Allah!!" Clara terkejut bukan main saat melihat kalung itu ditangannya. Bryan juga melebar saat melihat kalung gembok tersebut.


"Ma...ini kalungnya Kenzo."

__ADS_1


...****...


__ADS_2