Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 129. Bawaan bayi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Setelah berhasil mengelabui dokter dan perawat di rumah sakit jiwa, akhirnya Stella mencari celah keluar dari sana, apalagi ia sudah mendapatkan kunci ditangannya.


"Aku harus memilih dulu kunci yang aku gunakan untuk kabur nanti malam, tapi kunci yang mana ya?" gumam Stella, yang lalu memilih-milih kunci untuk pelariannya nanti malam.


Selama di rumah sakit jiwa, Stella selalu menunjukkan sikap baik dan meminum obatnya tepat waktu. Padahal dia tidak pernah minum obat dan hanya berpura-pura saja meminumnya. Stella dengan sikap baik itu, membuat para dokter dan perawat disana menurunkan kewaspadaannya terhadap Stella.


Begitu mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam kamarnya, Stella buru-buru menjatuhkan kunci yang banyak itu ke bawah ranjangnya, setelah memilih beberapa kunci. Lalu dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Eh, Stella! Apa kamu lihat kunci?"


"Kunci apa ya suster?" tanya Stella dengan wajah polosnya seolah-olah dia baru mau tidur.


Suster itu melihat-lihat ke arah ranjang Stella, lalu dia melihat kunci di bawah lantai tepat bawah ranjang tempat Stella tidur. Suster itu segera mengambil kuncinya. "Alhamdulillah...ketemu, kalau ilang...nanti dokter kepala bisa marah sama saya." suster itu terlihat lega karena sudah menemukan kuncinya.


"Hehe, lain kali hati-hati ya suster..." ucap Stella seraya tersenyum manis dan hangat pada suster itu.


"Iya Stella...kamu anak baik, saya yakin kamu pasti akan cepat keluar dari sini." Doa si suster pada Stella tulus.


"Aamiin..." jawabnya lembut.


Kemudian suster itu pergi meninggalkan kamar Stella, tak lupa dia mengunci kamar itu. Stella tersenyum licik, dia sudah menyiapkan serangkaian rencana untuk keluar dari sana nanti malam.


"Maura...kamu lihat saja, aku akan buat kamu menyesal karena sudah merebut kak Bryan dariku!" Stella tersenyum smirk, dia benar-benar membenci Maura dan ia memiliki aura membunuh.


*****


Sore itu Bryan pulang kerja bersama dengan Bara dengan naik mobil Bryan, karena mobil Bara ditinggalkan di rumah demi mengantar Vera dengan menggunakan kendaraan umum, itu keinginan Vera. Di sepanjang perjalanan Bara menceritakan tentang Clara yang akhirnya setuju dengan pernikahannya dan Vera.


"Wow...bagus dong Bar, kalau mama setuju sama pernikahan kamu dan Vera. Tapi kenapa mama bisa langsung setuju?" tanya Bryan yang duduk di samping Bara yang sedang menyetir.


"Ini karena istrimu kak, dia sudah membantuku untuk membujuk mama... pokoknya makasih banget buat istri kakak." Tersirat senyuman bahagia di bibir Bara.


"Syukurlah, Maura memang yang terbaik...itu sebabnya aku sangat mencintainya."


"Ya, itu sebabnya dulu kakak berusaha keras untuk mendapatkannya sekalipun dia masih istri orang." celetuk Bara sambil terkekeh pelan.


"Come on Bara, itu kan sudah lalu." ucap Bryan dengan senyuman canda.


"Hehe iya kak, aku bercanda kok. Oh ya, kakak ipar sedang hamil ya?" tanya Bara tentang Maura.


"Iya, lah kok kamu tau?"


"Ya...gak sengaja tau juga sih, tadi pas di rumah dia mual-mual saat nyium bau anyir." jelas Bara yang membuat Bryan terkejut.


"APA? Maura mual-mual? Apa parah?" tanya Bryan dengan atensi tajam.


"Tenang kak...gak apa-apa kok, tadi langsung dikasih minyak angin sama makanan yang manis-manis sama Vera dan mama, mualnya jadi ilang."


Bryan menghela nafas berat, masih terlihat kekhawatiran di wajahnya, meski Bara sudah menjelaskan kalau Maura baik-baik saja.


"Inilah yang membuatku khawatir."


"Kenapa?"


Bryan menatap adiknya. "Bar, apa sebaiknya aku berhenti kejar saja selama Maura hamil? Kamu yang ambil alih perusahaan!"


Bara tercengang mendengar itu, matanya melebar. Dia rasa tidak mungkin mengambil alih perusahaan sebagai pimpinan perusahaan, sungguh berat untuknya memikul tanggung jawab sebesar itu. "Tidak kak, aku tidak mau!"


"Kenapa?!"


"Tanggung jawab sebesar itu, tidak bisa melakukannya Kak. Lagipula aku ingin menjadi karyawan biasa saja yang tidak terlalu terikat dengan beban dan kewajiban berat."


"Ayolah Bar, aku ingin mempunyai banyak waktu untuk istriku." keluhnya.

__ADS_1


"Maaf kak, lagian aku tidak punya potensi untuk menjadi seorang presiden perusahaan. Kakak juga tau sendiri kan? Saat aku mengelola perusahaan Agradana? Aku tidak bisa melakukannya dengan baik." tutur Bara sambil tersenyum.


"Aahhh...kenapa sih aku harus menjadi seorang presiden?" gerutu Bryan yang ingin punya banyak waktu dengan Maura di rumah, tapi dia punya beban dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin perusahaan.


Setelah melalui 15 menit perjalanan, mereka pun sampai di rumah Xander grup. Bryan dan Bara melangkah beriringan masuk ke dalam rumah, mereka melihat Maura, Vera dan Clara sedang tertawa-tawa menonton sesuatu di televisi.


"Hahaha... benar-benar lucu sekali, ngakak aku!" Maura tertawa terbahak-bahak, sambil menikmati cemilan di sampingnya, cemilan Chiki.


"Bagaimana bisa Go mi nam berbuat begitu?!" celetuk Vera sambil terkekeh.


"Sudah mama duga, kalian akan suka drakor yang mama putarkan ini! Makanya jangan nonton drakor jaman now saja, yang jaman dulu feel-nya lebih dapat." ucap Clara merasa bangga karena merekomendasikan drama Korea pada Vera dan Maura. Ketiga wanita itu tampan menikmati suguhan drama korea, sampai tak sadar dengan kehadiran Bara dan Bryan yang sedari tadi sudah mengucapkan salam.


"Astaga kak! Kita diabaikan." desah Bara sambil menggelengkan kepalanya.


"Begitulah Maura dan mama kalau sudah ada drakor...eh tapi Vera juga suka dengan drakor?" tanya Bryan.


Bara menjawabnya dengan anggukan. "Ya ampun. Lalu bertambahlah wanita pecinta drama disini."


"Ternyata selera istri kita sama ya kak?" celetuk Bara seraya bertanya pada kakaknya.


"Hey Vera belum sah jadi istrimu!" sanggah Bryan menepis ucapan Bara.


"Tapi kan akan menjadi istriku, seminggu lagi." Bara tersenyum saat mengatakannya, percaya diri. Tatapan matanya tertuju pada Vera diruang tengah, gadis itu tertawa-tawa bersama Maura dan Clara.


Syukurlah mama dan Vera bisa semakin dekat.


"What secepat itu?!" Bryan terkejut tentang pernikahan adiknya yang tinggal seminggu lagi.


Bryan dan Bara masuk ke dalam rumah, naik ke lantai atas bersamaan tanpa menyapa dulu para wanita di bawah sana yang masih asyik menonton drakor. Bryan hendak masuk ke kamar mandi dengan maksud untuk membersihkan dirinya. Begitu dia mengambil handuk yang terganggu di dekat lemari, Bryan menampakkan keraguannya.


"Kalau aku mandi, apa my girl akan marah lagi padaku ya? Apa dia mau tidur denganku? Tapi tubuhku lengket sekali karena bekerja seharusnya, aku tidak mungkin tidur dalam keadaan begini. Ah, aku mandi saja deh...mungkin tak apalah." gumam pria itu, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi. Menanggalkan pakaiannya dan tentunya membersihkan dirinya disana.


Sementara itu dibawah sana, Maura baru menyadari bahwa mobil suaminya sudah ada di garasi. Dia pun buru-buru pergi ke kamarnya, untuk melihat Bryan dan melayaninya seperti biasa. Sekalian menanyakan apakah ia akan menginap di rumah ibu mertuanya atau kembali ke apartemen mereka.


Di dalam perjalanan, Bara tengah mengantarkan Vera ke kosannya. Mereka terlihat sangat bahagia, mendapatkan restu dari Clara sungguh adalah kebahagiaan terbesar mereka. " Maaf hari ini kamu jadi kerja setengah hari gara-gara nemenin mamaku nonton drakor."


"Bar, kamu gak usah minta maaf...aku senang kok bisa menemani mama kamu dan Maura." Vera tersenyum lembut.


"Syukurlah kalau kamu senang, tapi Vera aku mau bilang sesuatu sama kamu."


"Ya?"


"Kalau kita nikah nanti, apa kamu bisa berhenti bekerja?" Bara meraih tangan Vera.


Vera tercekat, dia melihat wajah serius kekasihnya. "Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan ini?"


"Sebenarnya aku ingin kamu menjadi ibu rumah tangga saja, melahirkan anak-anakku, jadi istri dan ibu yang baik. Aku tidak mau kamu bekerja, pekerjaan adalah kewajiban dan tanggungjawabku sebagai suami."


Gadis itu tersenyum, lalu dia mengecup pipi Bara sekilas. "Kalau itu mau kamu, fine...aku akan lakukan. Tapi, kamu harus bisa menghidupiku dan juga anak-anak kita nantinya." ucap Vera lembut.


"Ya, aku bisa..." Bara balas mengecup kening Vera penuh kasih sayang. "Aku akan jadi suami idaman buat kamu dan ayah yang baik untuk anak kita kelak, kamu bisa buktikan itu seiring dengan berjalannya waktu." sambungnya lagi tulus.


Dia memang ingin serius dalam hubungannya kali ini, kedua dan untuk selamanya. Sudah cukup Bara melakukan banyak dosa. Kini dia kembali ke jalan yang benar dan ingin bahagia bersama wanita pilihannya Vera.


"Iya Bara, aku percaya kamu dan aku juga akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita."


Setelah perbincangan manis itu, Bara berpamitan pulang. Dia mengecup bibir Vera sebelum masuk ke dalam mobil, ia tersenyum bahagia, begitu pula dengan Vera.


*****


Maura kembali mual-mual ketika Bryan selesai mandi. Bryan jadi kebingungan dan merasa bersalah pada istrinya.


"Uwekk...uwekk..."


Tok,tok,tok!

__ADS_1


"Sayang, sayang buka pintunya!" Bryan menggedor pintu kamar mandi dengan cemas. "Maafin aku sayang, aku gak akan mandi lagi...biarkan saja aku baru keringat, biarlah." kata Bryan pasrah.


"Bryan, ada apa sih? Kenapa istri kamu mual-mual lagi?" tanya Clara yang sudah ada didepan pintu kamar, bersama dengan Farhan yang terlihat cemas mendengar suara mual-mual.


Bryan menatap mamanya dengan memelas dan sedih. Ia pun menjelaskan pada Clara dan Farhan (Pria paruh baya itu) tentang ,kondisi Maura.


"Masa aku harus bau terus supaya mau dekat Maura dan calon anakku? Aku mandi...dan Maura malah seperti ini."


Farhan tersenyum mendengarnya. "Nyonya, gejala kehamilan nona Maura mirip dengan ngidamnya nyonya dulu saat nyonya mengandung tuan muda Bryan."


"Benar, ya tuhan! Kok bisa mirip begini? Uh.. dia pasti tersiksa." gumam Clara dengan kening berkerut, namun bibirnya tersenyum.


"Jadi waktu hamil Bryan dulu, mama kayak gini juga sama Alm papa?" tanya Bryan.


"Iya dan mama suruh papa kamu gak mandi pakai sabun yang wangi, jangan pakai deodoran apalagi parfum." saran Clara pada putranya.


"Ya udah deh, Ma...Bryan akan ikuti saran mama. Bryan gak mau kalau Maura mual-mual terus."


"Jangan lupa di peluk Mauranya ya, nak. Wanita hamil paling senang di sayang sayang dan kamu harus memaklumi kalau permintaan Maura aneh-aneh itu bawaan bayi." tutur Clara menjelaskan.


Bryan menganggukan kepala, mendengarkan saran mamanya dengan baik. Setelah itu Bryan menghilangkan harum ditubuhnya dengan membersihkan tubuhnya lagi tanpa sabun. "Masih bau gak?"tanya Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Gak!"


"Boleh naik ke ranjang kan? Bobo sama kamu?"


Maura mengangguk seraya tersenyum menyambut suaminya. Wanita hamil itu sudah memakai baju piyama tidur berbahan satin, warna merah. Dia terlihat begitu cantik dengan rambut panjangnya dan selalu membuat Bryan terpesona.


Pria itu sudah naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Maura. Tangan Bryan mengelus perut datar istrinya. "Sayang, jangan rewel disana ya... kasihan mama kalau susah makan, nanti kamu sama mama sakit."


"Iya By, aku akan coba nahan mual ku!" kata Maura seraya mengusap pipi suaminya.


"Gak apa-apa sayang, kalau kamu mau makan sesuatu. Bilang ya sama aku, sayang?"


"Iya By,"


"Yuk kita tidur, udah malam." Bryan menarik selimut dan memakaikan selimutnya untuk Maura.


"Bentar dulu By," ucap Maura seraya memegang tangan Bryan.


"Ya sayang?"


"Besok kita pulang ke apartemen, kan?" Maura menatap suaminya, yang kini sudah memeluk dirinya.


"Kamu gak mau tinggal disini, sayang?"


"Bukannya gitu By, tapi aku mau--"


"Sayang...jangan ragu, bilang aja!"


"Aku mau kita tinggal berdua dulu, nanti kalau aku sudah hamil besar...aku baru mau tinggal disini. Ta-tapi kamu jangan salah paham By, ini bukan karena aku gak nyaman sama mama atau siapapun yang ada di rumah ini, entah kenapa aku ingin saja. Kamu jangan salah paham, aku--"


Cup!


Kembali Bryan mengecup bibir istrinya yang merah itu sekilas. "Udah gak usah dijelasin lagi, aku gak salah paham kok dan aku benar-benar paham. Besok kita pulang ke apartemen ya."


"Aku cinta kamu By," Maura terharu dengan perhatian Bryan yang begitu lembut kepadanya.


"Aku juga sayang. Nah ayo tidur!" ajaknya.


****


Malam itu Stella sudah berhasil keluar dari rumah sakit jiwa. Dia mengelabui petugas dengan menggunakan seragam suster. Sekarang dia berada di jalan dan langsung menelpon seseorang.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2