
Bara termenung menatap foto mantan kekasihnya yang sudah lama tiada karena bunuh diri dan kebejatan Samuel, yang saat ini pria itu memiliki hubungan keluarga dengannya menantu dah ayah mertua. Dia bertanya-tanya pada selembar foto yang terpasang pada bingkai itu.
"Al, jika kamu ada disini...kamu pasti bahagia kan melihat aku balas dendam pada Samuel dan putrinya? Kamu senang kan melihat Samuel dan putrinya menderita? Orang yang membuatmu hancur dan membuatmu tiada, aku membantumu membalasnya...Al, kamu pasti akan mendukungku kan? Jika kamu ada disini, kamu pasti akan bilang makasih dan kamu akan senang. Ya kan Alina? Apa yang aku lakukan pada Maura...ini benar kan? Aku gak salah kan?"
Entah kenapa Bara tiba-tiba jadi meragukan tindakannya kepada Maura. Benar atau salahkah dia memperlakukan istrinya lebih parah dari pada babu? Padahal wanita itu sangat mencintainya dan bahkan memilih menikahi Bara yang saat itu mengaku sebagai anak yatim piatu.
Tiba-tiba saja Bara juga teringat masa lalunya bersama Maura. Masa-masa dimana mereka berpacaran dulu, dimana Maura sangat mencintai Bara dan rela melakukan apa saja untuknya. Bahkan dia tidak memandang status Bara yang miskin dan tetap memilih menikah dengan Bara. Namun sekarang, keadaan sudah berubah karena dendam.
"Ahhh...kenapa aku jadi berpikir yang bukan-bukan? Harusnya aku senang karena telah membalaskan dendam Maura, tapi kenapa aku tidak tenang dan perasaanku sedikit..." Bara memegang dadanya, entah kenapa dia memikirkan Maura. Entah perasaan apa yang saat ini dia rasakan pada Maura.
*****
🍁Rumah kontrakan Hanna🍁
Usai menyajikan air putih, Maura duduk disebrang tempat Bryan duduk. Pria tampan itu menikmati air putih yang Maura bawakan, meminumnya seolah air itu adalah minuman terenak yang pernah dia minum.
Kenapa wajah si narsis ini begitu?
"Kenapa? Aku tampan kan?" Bryan tersenyum, lalu dia meletakkan
Maura mendelik terkejut saat mendengar pertanyaan percaya diri Bryan. "Tidak!"
"Lalu kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku sudah tau kalau aku bisa membuat siapa saja terpesona termasuk dirimu."
"Iya sepertinya itu benar, lalu kenapa bapak malah menggoda saya? Bapak kan bisa berpacaran dengan para wanita yang terpesona pada anda."
"Hohoho, mereka memang terpesona padaku tapi sayangnya aku tidak terpesona pada mereka. Orang yang membuatku terpesona hanya ada satu dan dia sedang didepan mataku saat ini." Bryan menatap Maura penuh kejujuran, tanpa ragu dia menggoda Maura.
Kedua mata Maura melebar, dia tidak tau mau bicara apa. Dia memalingkan wajahnya dari Bryan yang terus menatapnya. "Sa-saya tidak akan termakan ucapan bapak,"
Aku tau Maura, hatimu masih belum bisa menerima orang lain. Masih ada sisa rasa disana untuk pria itu, tapi kamu tenang saja...aku yakin waktu akan memudarkan perasaanmu padanya. Dan aku yakin, aku bisa membuatmu berpaling sepenuhnya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau makan ucapanku, tidak apa-apa...karena yang aku beri bukan ucapan tapi bukti." Bryan tersenyum penuh kesungguhan.
Maura menatap wajah tampan itu dengan bingung, menangkap apa maksud dari ucapan Bryan padanya? Bukti apa yang dia maksud? Dia tidak bertanya apa-apa tentang itu dan dia malah membahas tentang bisnis.
"Ehem, karena hari sudah semakin malam...bagaimana kalau kita segera bahas bisnis?"
__ADS_1
"Oke, silahkan." Bryan menatap Maura sambil tersenyum.
Maura membuka tasnya, dia mengambil amplop berwarna coklat, kemudian dia membuka amplop itu. Disitu ada secarik kertas, bertuliskan surat kontrak lengkap dengan materai yang terpasang.
"Silahkan baca ini pak! Saya sudah membuatnya, kalau bapak merasa ada yang kurang silahkan katakan pada saya. Bisa saya revisi lagi."
Bryan mengambil kertas itu, dia senyum-senyum membacanya. Maura mengerutkan keningnya saat melihat Bryan.
Surat perjanjian pacaran pura-pura? Gadis kecil ini benar-benar lucu. Dia selalu bisa membuatku tertawa.
"Pak? Kenapa bapak tertawa? Apa ada yang lucu disurat itu?"
"Tidak, tidak ada yang lucu. Tapi apakah kamu benar-benar mau pacaran kontrak denganku bukan mau pacaran sungguhan?" Goda Bryan lagi pada Maura.
Ish, pria ini... kenapa dia tak bisa berhenti menggangguku?
"Bapak bilang apa sih?!" Maura menatap tajam pada Bryan.
"Hahahaha, baiklah aku bercanda. Jadi, kamu mau pacaran pura-pura denganku dan itu pun secara diam-diam? Kamu juga mau aku membantu mengambil perusahaan Agradana grup?"
"Maaf kan saya lupa menuliskan tentang keuntungan bapak. Tapi maaf untuk sekarang saya tidak bisa membayar bapak untuk saat ini, kalau saya sudah mendapat kembali perusahaan keluarga saya, saya akan membayar bapak!" Maura berkata dengan jujur dan kesungguhan.
Tentu saja dalam berbisnis keduanya harus saling diuntungkan, apalagi untuk pebisnis seperti dia.
"Bagaimana ini? Tapi aku mau bayaran dimuka, biaya akting dan memanfaatkan diriku ini...mahal loh." Bryan menaikkan alisnya, dia senang melihat Maura bingung.
"Bapak mau berapa?" Tanya Maura dengan wajah polosnya.
"Yang saya mau bukan uang tapi-"
BRAK!!
Hanna tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah dan memukul Bryan dengan sapu. "Orang jahat! Jangan macam-macam sama temanku ya!"
"Aduh duh!! Sakit!!" Bryan meringkuk kesakitan.
"Hanna, hentikan! Jangan pukul lagi!" Maura tidak tega melihat Bryan dipukuli oleh Hanna dengan sapu.
__ADS_1
"Maura kamu gak apa-apa kan? Kamu gak di apa-apain sama pria hidung belang kan? Tenang saja, walau harus memukulnya sampai mati, aku rela dipenjara untuk kamu!"
"Hanna, kamu ngomong apaan sih? Jangan pukulin dia! Dia pacarku!" Maura melindungi tubuh Bryan dari pukulan Hanna.
Ah, apa yang baru saja aku katakan? Pacar?
Bryan tersenyum bahagia mendengar Maura mengakui dirinya sebagai pacar. Hanna juga ikut tercengang.
Akhirnya keributan itu berakhir saat Maura menjelaskan siapa Bryan dan apa maksud pria itu datang ke rumah kontrakannya. "Hanna, ayo minta maaf sama pak Bryan." Ucap Maura sambil mengobati luka di wajah Bryan dengan obat merah.
"Aduh duh...sakit," Bryan merintih kesakitan padahal dia tidak merasa sakit sama sekali.
Senangnya di perhatikan oleh little girl.
"Minta maaf? Maura apa kamu gak lihat, dia kelihatan jelalatan dan tengil!" Hanna menatap tajam ke arah Bryan.
"Hanna jangan lihat orang dari covernya dong,"
"Iya bener juga, kamu kan ketipu sama si brengsek Bara saat lihat cover dia yang seperti malaikat itu."
Tiba-tiba saja Maura terdiam ketika Hanna menyebutkan tentang Bara. Hanna pun langsung pamit pergi dari sana seolah menghindar. "Maaf, aku gak akan ganggu kalian lagi. Aku ke kamar saja! Kalau ada apa-apa teriak ya, Ra." kata Hanna perhatian pada sahabatnya itu.
Hanna pergi meninggalkan Maura dan Bryan di ruang tengah. Setelah itu tanpa berbasa-basi, Maura dan Bryan menandatangani kesepakatan. "Kamu harus ingat ya, ketika aku menelpon atau mengirim pesan padamu, kamu wajib membalas."
"Saya tidak akan lupa pak, tenang saja pak! Saya akan datang jika tidak ada halangan, untuk memenuhi panggilan bapak!"
Tanpa diduga ternyata pak Bryan hanya ingin ditemani makan saja, bukan yang lain. Aku pikir dia seperti pria lain yang meminta tubuh sebagai gantinya. Sepertinya dia tidak sebrengsek itu. Setidaknya dia lembut padaku walau sikapnya agak pecicilan, setidaknya dia tidak seperti Bara.
"Okay, jadi kita deal ya!" Bryan mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Maura.
Maura tersenyum kemudian dia berkata. "Deal!"
Bara, tunggulah...aku akan mengambil kembali semua milik keluargaku.
Maura dan Bryan berjabatan tangan. "Tunggulah aku Maura, aku pasti bisa membuatmu bercerai darinya. Aku bisa mendapatkanmu."
...*****...
__ADS_1