Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 99. Sandiwara Bara


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Evan langsung mengatakan apa yang menjadi inti pembicaraannya, dia meminta agar Bryan segala menikahi Maura. "Maaf pak Bryan, bukan maksud saya untuk mendesak Bapak menikahi adik saya secepatnya. Tapi...saya khawatir dengan hal yang akan terjadi di masa depan,"


"Saya paham, apakah Pak Evan memikirkan hal yang sama dengan saya?" Atensinya teralihkan kepada Evan yang saat ini berwajah serius.


Evan menganggukan kepala, Dia merasa bahwa mantan suami adiknya itu bersandiwara pura-pura hilang ingatan agar bisa kembali mendapatkan Maura. "Saya akan bicara dengan Mama saya, saya memang memiliki niat untuk menikahi Maura secepatnya."


"Iya pak Bryan, maafkan saya kalau saya terkesan terburu-buru. Saya meminta hal ini demi kebaikan hubungan adik saya dan Pak Bryan juga. Walaupun Bara adalah adik Pak Bryan sendiri...tapi maaf, dia masih licik."


Evan tanpa ragu mengatakan bahwa Bara masihlah orang yang licik. Dia memanfaatkan kesempatan sebagai saudara Bryan dan hilang ingatan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tebakan Evan memang benar, tapi dia tak punya bukti bahwa Bara berbohong. Bryan terdiam, kan dia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Evan. "Pak Evan, tidak usah khawatir... saya akan segera menentukan tanggal pernikahan, saya juga tidak mau kehilangan cinta satu-satunya di dalam hidup saya." ucapnya tulus.


Apalagi adikmu adalah cinta pertama dan terakhirku, mana mungkin aku melepaskannya.


"Baik pak, kalau begitu saya bisa bernafas lega. Hanya ini saja yang ingin saya bicarakan kepada bapak, jangan lepaskan Maura dan bahagiakanlah dia."


Terlihat senyuman manis mengembang di bibirnya. "Kalau anda tidak percaya kepada saya. Saya akan buat surat perjanjian, di masa depan saya berselingkuh dari Maura... saya akan serahkan setengah harta saya, bahkan seluruh hidup saya sebagai jaminannya."


"Hahahaha.... bagaimana kalau saya minta bapak dikebiri saja?" Gelak Evan, goda pria yang akan segera menjadi adik iparnya itu.


Bryan tidak terlihat bercanda , dia serius dengan ucapannya tentang perjanjian itu. "Saya serius pak Evan, sekarang juga saya akan buatkan surat itu dengan pengacara saya. Agar saya tidak berani macam-macam di masa depan, saya janji bahwa adik Pak Evan hanya akan menjadi satu-satunya."


"Hehehe, baiklah saya akan meminta surat perjanjian itu nanti. Bukan karena saya tidak percaya kepada bapak, tapi karena saya ingin tahu sejauh mana ketulusan bapak kepada adik saya." Evan mendengar ucapan yang serius dari Bryan, padahal dia hanya bercanda dan sekedar menggodanya saja.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Ini sudah sangat larut," Pria itu beranjak dari tempat duduknya seraya berpamitan kepada Evan.


Pria itu pun pergi meninggalkan rumah Maura, ia langsung kembali ke rumah setelahnya. Tidak pergi ke rumah sakit untuk bersama mamanya menjaga Bara.


Terlihat tunjukkan pukul 12.00 malam, dia masih terjaga dan tidak bisa memejamkan matanya saat itu. Dia pun membuka dompetnya, terlihat fotonya bersama Bara waktu kecil.


Bara alias Kenzo terlihat lucu di dalam foto itu, keduanya tersenyum bahagia dan saling menyayangi. Siapa sangka ketika mereka dewasa mereka malah menjadi rival cinta? Hadirnya seorang wanita cantik bernama Maura, telah menjadi penengah di antara mereka berdua.


Siapa sangka? Bahwa kerukunan antara adik dan kakak itu tidak seharmonis dulu. "Kenzo...kamu bukan Bara, kan? Kenzonya kakak itu yang ini kan?" jari telunjuk Bryan menunjuk ke arah foto seorang anak laki-laki yang wajahnya lucu sekali.


Bara, jika kamu memang benar-benar adikku.... sumpah demi Tuhan aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Kamu memang saudaraku, aku sayang padamu, akan tetapi dalam urusan wanita adalah hal yang berbeda.


Sakit hati Bryan, ingat dengan kenangan masa lalu bersama adiknya. Dia benar-benar ingin menyayangi Kenzo seutuhnya, tapi sepertinya itu tak mudah sebab Kenzo alias Bara masih berusaha untuk mendapatkan Maura, calon istrinya. Dan Bryan tidak mau mengalah untuk itu meskipun kepada adiknya sendiri. Bukannya dia egois, namun ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dimiliki bersama.


Bryan dalam kegalauannya sendiri, pikirannya masih terngiang dengan wajah Clara yang memohon agar Bryan mengizinkan Maura untuk berpura-pura menjadi istri Bara. Malam itu Bryan menghabiskan malamnya dengan kebingungan dan kegalauan.


*****


Pagi itu di rumah sakit, Bara duduk bersandar di head board ranjang yang dia duduki. Sementara mamanya membawa mangkuk berisi bubur, dia bersiap untuk menyuapi anaknya. Namun Bara menolak untuk disuapi oleh Clara.


"Ayo Kenzo, kamu harus makan ya? Biar kamu cepat sembuh." Bujuk Clara kepada anaknya, sambil yang berisi sedikit bubur.


Bara menggelengkan kepalanya. "Nggak Ma," wajahnya terlihat sedih dan memelas hingga membuat Clara menjadi tidak tega.


"Hem...kenapa tidak mau, nak? Apa kamu mau makan yang lain? Tapi kata dokter kamu tidak boleh makan makanan yang sembarangan dulu." Clara begitu perhatian kepada anaknya itu.


"Ma, katanya cowok yang kemarin itu adalah kakak kandungku , ya?" Tanya Bara mengarah kepada Bryan.


Clara menaikkan satu alisnya, ia menatap Bara. "Iya, dia adalah kakak kamu... kakak yang sangat menyayangi kamu, dari kecil dia selalu melakukan apa saja untukmu."


"Hem... gitu ya. Mama bilang kalau dia sayang padaku, tapi kenapa dia tidak ada di sini untuk menemaniku? Apa dia tidak senang padaku? Dia tidak suka aku ya, Ma?" Tanyanya dengan sepasang mata polos menatap sang mama.


Ya Allah, Kenzo sampai berpikir seperti itu kepada kakaknya. Bryan juga sih, Kenapa dia tidak datang kemari. Apa dia masih marah dengan permintaanku tadi malam?


"Nggak, bukannya gitu Ken...kakak kamu hanya sedang sibuk saja. Nanti siang dia akan datang kemari," jelas Clara pada Bara, dengan wajah yang sedikit tidak enak.


Nanti aku harus telpon Bryan, masa adiknya sakit dia gak datang ke rumah sakit. Padahal Bryan sangat sayang pada Kenzo, kenapa sekarang Bryan cuek pada adiknya?


"Oh gitu ya ma...terus istri aku mana Ma?" Bara menanyakan Maura pada Clara.


Aku tidak boleh membiarkan Bryan berduaan terus bersama Maura. Aku harus selalu berada didekatnya supaya pernikahan mereka batal.

__ADS_1


"Oh...dia...dia..."


"Apa dia gak mau datang kesini? Kenapa ya ma? Padahal aku sama Maura udah pacaran sejak lama dan kami juga menikah karena cinta, apa dia udah gak cinta lagi sama aku?"


Bara terus saja bicara untuk mendapatkan simpati mamanya. Dia cara seolah-olah dirinya tertindas, mungkin inilah yang namanya playing victim.


Terlihat kebingungan di wajah Clara, dia tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Dia saja tidak tahu tentang masa lalu Bara dan Maura. Clara hanya tau sekilas dari cerita Bryan, kalau dulu Bara dan Maura menjalin cinta selama 4 tahun. Namun pernikahan mereka kandas dalam beberapa bulan, karena Bara menikahi Maura karena dendam. Bryan juga sering menceritakan kekesalannya pada Bara karena selalu menyiksa batin Maura.


Clara bingung, benar-benar bingung. Di satu sisi ada anak sulungnya yang dia cintai, sama halnya seperti anak bungsunya Disisi lain Bara baru saja kembali dalam hidupnya dan dia ingin menebus bertahun-tahun tanpa kehadiran anak bungsunya ini dengan memberikannya banyak kasih sayang dan apa yang dia inginkan.


"Ma...kok mama diem sih?" Tanya Bara sambil menatap Clara dengan tatapan sayu. Clara sendiri baru saja tersadar dari lamunannya.


"Mama gak apa-apa nak," ucap Clara. "Kamu makan dulu ya, mama suapin? Supaya nanti kamu bisa minum obat." Bujuk Clara lagi pada anaknya.


Lagi-lagi Bara menggelengkan kepalanya, dia menolak untuk memakan bubur yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Clara bingung, bagaimana caranya untuk membujuk Bara. Anak itu hanya terdiam melamun sambil berkata bahwa dia merindukan istrinya dan kenapa istrinya tidak berada di sana saat dia sakit?


Tidak tega melihat anaknya galau seperti itu, akhirnya Clara mengambil langkah. Dia yang saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju ke kantor bersama Bryan.


Dreett...


"Little girl, itu ponsel kamu?" Tanya Bryan sambil melihat ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Hari ini dia tidak menyetir sendiri, tapi dijemput oleh Ferry dan itu artinya dia duduk di kursi belakang bersama Maura


"Iya sayang, Ini emang ponselku yang bunyi."


"Apa? Kamu barusan...panggil aku apa?" Bryan langsung tersipu malu mendengar katak sayang keluar dari bibir cantik nan ranum milik calon istrinya tersebut.


Maura mengabaikan pertanyaan Bryan karena dia fokus pada ponsel bergetar yang diambilnya dari dalam tas selempang. "Mama Clara?" gumam Maura melihat nama yang tertera di ponselnya dalam mode panggilan.


Buru-burulah dia mengangkat telepon dari calon ibu mertuanya itu. "Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam Maura, kamu ada dimana sekarang? Mama boleh minta tolong nggak sama kamu?" Suara Clara di seberang sana terdengar seperti khawatir.


"Aku lagi dijalan, Ma. Mau minta bantuan apa?" Tanyanya sopan dengan suara yang lembut dan indah seperti biasanya. Suara yang selalu mampu menggetarkan hati seorang kaum Adam yang bernama Bryan.


Bryan fokus pada Maura dan dia mendekati Maura agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh mamanya.


"Tolong... kamu ke rumah sakit sekarang ya, nak? Kenzo... dia gak mau makan, sepertinya kalau ada kamu di sini dia mau makan. Dia juga terus menanyakan kamu, tolong ya ke sini dulu sebelum pergi ke kantor? Bujuk Kenzo supaya dia mau makan,"


"Haaahhh...." Bryan menghela nafas berat. "Ya sudah, kita pergi ke rumah sakit dulu. Tapi ini bukan karena aku peduli padanya, ini karena aku kasihan pada mama." gumam Bryan mendecak kesal.


"Jadi..."


"Ya, kamu boleh pergi ke rumah sakit...tapi sama aku juga."


"Oke...Bry, Kamu benar-benar anak yang berbakti kepada orang tua." Bibir cantik itu keluarkan pujian untuk kekasihnya.


"Terus?" Atensi Bryan mengarah pada Maura.


"Karena inilah, aku jatuh cinta sama kamu."


Darah Bryan berdesir hebat manakala Maura mengucapkan lagi kata-kata manis yang bisa membuat tubuhnya bergetar. Jantungnya berdegup kencang di dalam hatinya seperti ada kembang api yang meledak-ledak.


"Aku juga cinta kamu, little girl." Tangan Bryan merengkuh tengkuk Maura dengan lembut. Pria itu semakin mendekat dan menghimpit tubuh kekasihnya. Tatapan nanar mengarah pada bibir cantiknya, sudah bisa ditebak Apa yang akan dilakukan Bryan selanjutnya pada bibir itu.


Ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa cm saja untuk bersentuhan, tiba-tiba saja terdengar suara orang berdehem cukup keras dari kursi kemudi mobil itu.


"Ehem!"


Sontak, Maura mendorong tubuh kekasihnya untuk menjauh. Sesaat mereka lupa bahwa di mobil itu bukan hanya ada mereka saja, tapi juga ada Ferry yang sedang menyetir.


"Ya, begitulah cinta... dunia serasa milik berdua. Saya ini kan cuma ngontrak." Ucap Ferry yang lalu tersenyum gemas dengan kelakuan pasangan muda mudi itu.


Perkataan Ferry, sontak membuat gelak tawa Bryan dan Maura. "PFut...pak Ferry orangnya lucu juga ya, saya kira bapak orangya serius seperti bongkahan es yang berada di samping saya ini." Godanya pada Bryan.


"Apa? Bongkahan es? Aku...maksudnya?" Pria itu menautkan alisnya, sembari menunjuk kepada dirinya sendiri.


"Iyalah kamu, emangnya siapa lagi?" Maura tersenyum lebar, kemudian dia bersandar di bahu lebar dan kekar kekasihnya itu. Bryan balas memegang tangan Maura dengan erat.

__ADS_1


Berbeda dengan dirinya yang cuek, kini Maura mulai menunjukkan kasih sayangnya kepada Bryan di depan orang lain. Betapa bahagianya hati Bryan, karena tidak hanya dia saja yang memiliki perasaan ini.


Ferry melihat keduanya begitu mesra dari kaca depan mobil, ia turut berbahagia karena akhirnya bosnya memiliki pawang. Setidaknya, bosnya tidak terlalu memikirkan masalah pekerjaan kalau dia sudah mempunyai pasangan hidup.


"Ferry, kita ke rumah sakit dulu ya!" ujarnya pada Ferry.


"Baik pak," jawab Ferry patuh.


****


Setibanya di rumah sakit, Bryan dan Maura langsung disambut hangat oleh Clara. "Kalian sudah datang?"


Maura dan Bryan langsung mencium tangan Clara dengan sopan dan hormat. "Iya Ma,"


"Sayang, kamu udah datang?" Sambut Bara langsung sumringah melihat Maura berada di sana.


Jujur, Maura merasa canggung ketika dipanggil seperti itu oleh mantan suaminya. Tapi dia juga kasihan karena Bara yang terluka karenanya.


"Bry..." Maura menatap kekasihnya sekilas.


"Haaahhh...kamu samperin dia gih," bisik Bryan pada Maura dengan berat hati.


Aku ingin lihat sampai berapa lama kamu bersandiwara Bara.


Maura mendekati Bara, kemudian pria itu memeluknya. Hal itu lagi membuat Bryan cemburu. "Akhirnya kamu datang juga, sayang."


"Iya Bara," jawab Maura dengan nada datar. Dia mendorong pelan tubuh Bara yang memeluknya itu.


"Oh ya, kakak juga datang? Kak, belum sempat berbincang ya, kemarin?" Bara menyapa Bryan dengan suara yang ramah dan wajah yang hangat.


"Iya, aku kakak kamu Kenzo." Bryan juga mendekati Bara dan Maura. Dia menyunggingkan senyuman yang tipis.


Dia Kenzo tapi sifatnya adalah Bara.


"Kita harus akur ya kak, kita kan saudara?" Bara mengulurkan tangannya untuk mengajak Bryan berjabatan tangan..


Iya kakak, kita harus akur. Aku denger kamu sayang padaku, jadi gak keberatan dong kalau aku ambil calon istrimu yang kamu rebut dariku.


"Benar, kita harus akur." Bryan membalas jabatan tangan dari Bara, namun kedua mata mereka seperti ada aliran listrik. "Kita harus akur dan tidak boleh saling menikung," ucap Bryan sambil tersenyum menyeringai.


Hah? Apa maksudnya? Saling menikung? Apa jangan-jangan Bryan sudah tahu kalau aku berpura-pura hilang ingatan?


Clara tersenyum senang melihat kedua anaknya berinteraksi, dia mulai membayangkan kedua saudara itu kembali harmonis seperti dulu. Clara salah menangkap keadaan, keadaan itu keadaan yang harmonis akan tetapi keadaan yang menunjukkan permusuhan.


"Oh ya, Kenzo harus makan dulu supaya dia bisa minum obat dan beristirahat. Maura, tolong ya suapi suamimu?"


Bryan mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia menahan rasa kesalnya saat itu. Saat mamanya mengatakan bahwa Maura adalah istri Bara. Sakit hatinya, tapi apa daya. Dia kasihan pada sang mama.


Akhirnya Maura menyuapi Bara atas permintaan calon ibu mertuanya, meski sebenarnya dia enggan melakukan itu. Saat semuanya sedang fokus pada Bara, diam-diam Bryan meletakkan benda kecil yang memiliki kaca kecil di dekat pot bunga yang ada disana.


"Maaf Bara, aku harus pergi ke kantor."


"Kenapa? Bukannya aku pernah bilang kalau kamu di rumah saja dan tadi ibu rumah tangga yang baik, aku nggak mau tuh kamu kerja-kerja." Gerutu Bara pada Maura.


"Ya,dulu kamu memang pernah mengatakan itu padaku... tapi semuanya saat itu palsu." Dessah Maura pelan senyum getir tersirat di bibirnya.


"Kamu ngomong apa?" Bara menengadah, kita mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Maura.


"Ah...nggak apa-apa kok. Udah ya, aku mau berangkat kerja..."


Tak mau memperpanjang lagi perbincangannya dengan mantan suaminya yang mungkin hanya berujung pada kenangan pahit yang lalu, Maura bergegas pamit pergi dari sana. Saat Maura pergi, Bara menarik gadis itu ke dalam pelukannya lalu mencium bibir wanita itu.


"Bara--hmphh--"


Darah Bryan langsung mendidih melihatnya. Clara juga terkejut dan tak menyangka bahwa Bara akan begitu pada Maura. Kali ini tatapannya fokus pada Bryan yang raut wajahnya marah.


Brengsek! Bajingan, kurang ajar!

__ADS_1


Maura langsung mendorong pria itu, dia mengusap bibirnya yang basah. Matanya melebar dan dengan cepat Bryan membawa Maura pergi dari sana.


...****...


__ADS_2