Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 115. Vera gimana?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"By...kamu gak mau pergi? Kamu masih mau disini?" tanya Maura yang jengkel karena melihat suaminya terus saja berada disampingnya.



Ya, bukan karena dia tidak senang. Tapi kan Bryan punya banyak pekerjaan lain di kantor. Bukan hanya mengurusi dirinya saja. Bukankah sebaiknya dia pergi ke kantor saja? Lagipula dia tidak apa-apa. Pikir wanita itu dalam hatinya.


"Little girl, kamu tuh kenapa sih? Kok kayak gak senang suamimu ada di rumah?" atensi Bryan yang tajam mengarah pada istrinya yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang.


"Bukan begitu By, kamu kan banyak kerjaan di kantor. Kenapa kamu gak pergi aja ke kantor? Kamu kan lagi sibuk-sibuknya, gak baik ninggalin kerjaan terus menerus." Nasihatnya pada sang suami.


"Sayang...gimana bisa aku ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini? Kalau kamu butuh sesuatu gimana? Kalau kamu mau ke kamar gimana? Aku kan harus ada disini, jadi suami siaga buat kamu..."


Maura mendesah, dia menyunggingkan senyuman tipis dibibir cantiknya. "By, aku akan baik-baik saja. Lagipula di rumah kan mama, ada pak Farhan ada bi Sumi, ada bi Ijah dan yang ada yang lain juga. Aku gak sendirian." tuturnya.


Bryan malah cemberut mendengar ucapan Maura, dia menatap wanita itu dengan kening yang berkerut. "Jadi kamu lebih butuh mereka daripada aku, suami kamu?!"


"By...kok kamu bilang gitu sih? Maksudku bukan begitu!"


"Tapi kamu gak suka aku ada di rumah, kan?!" Tanyanya sebal.


Wanita itu memegang hidung Bryan lalu mencubitnya gemas. "Kamu baperan banget sih, bukan gitu maksudku Hubby...tentu saja aku butuh kamu, tapi kamu kan punya tanggung jawab untuk istri kamu ini. Kamu kan gak mau aku kerja lagi nanti? Jadi kamu harus memenuhi kebutuhan aku dan anak kita kelak...jadi kamu harus kerja, ya kan?"



Pria itu terdiam seperti berpikir, ya apa yang dikatakan Maura tidak salah. Dia harus bekerja demi anak dan istrinya kelak. "Sayang, kamu benar juga! Nanti kita punya anak dan aku harus bekerja keras untuk menafkahi keluarga kita."


"Ya kan? Kalau gitu kamu harus bagaimana?"


"Aku harus pergi kerja,"


"Ya udah pergi kerja sana! Masih ada jadwal kan sore ini?" Maura tersenyum seraya memegang tangan suaminya.


"Tapi kamu gimana sayang?"

__ADS_1


"Kamu tenang saja Bryan, mama akan jaga anak perempuan mama..." ucap Clara yang sudah berdiri di ambang pintu kamar itu. Clara menenangkan Bryan yang resah karena harus meninggalkan Maura.


"Iya tuh, ada mama! Kamu tenang aja," ucap Maura menenangkan suaminya.


"Mama harus jagain Maura ya ma, Bryan mau kerja dulu. Jangan biarin istriku jalan-jalan, di harus istirahat ya ma?" ucap pria itu memberitahu mamanya.


"Iya sayang, kamu gak usah khawatir. Pergi saja kerja,"


Maura tersenyum memandangi suaminya. Kemudian Bryan mendekati istrinya, mencuri ciuman di bibirnya, tak lupa Bryan memeluknya. Tak peduli di sana ada orang lain yang melihatnya. "I love you sayang, aku kerja dulu ya buat kamu dan anak kita nanti." ucapnya lembut sembari memegang perut Maura yang datar.


Clara tersenyum melihatnya.


"By, anaknya belum ada..." bisik Maura pada suaminya malu-malu.


"Bentar lagi, eh salah...gak lama lagi akan ada Bryan junior disini." ucap Bryan tanpa malu-malu, bahkan mengucapkannya dengan suara keras di depan mamanya.


"Aamiin..." ucap mamanya sambil tersenyum simpul. Dia juga tidak sabar ingin segera menimang cucu dari Putra sulungnya.


Maura dan Bryan tersenyum malu-malu, mereka juga rupanya ingin segera punya anak.


Bryan mengecup kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang. "Aku berangkat dulu ya sayang,"


"Hati-hati ya By, yang bener kerjanya." Maura balas mengecup punggung tangan suaminya dengan sopan.


"Heem... assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." balas Maura dan Clara bersamaan.


Bryan pun kembali ke kantornya, ia bahkan lupa bertanya kenapa istrinya bisa terluka dan bagaimana ceritanya tentang Nathan juga Jessica. Ia memutuskan untuk membicarakan hal ini nanti malam saja dengannya.


Kini dia kembali saja pada pekerjaannya di kantor.


****


Seharian Maura berada di kamarnya dan di rawat oleh ibu mertuanya. Malam itu Clara mengajak Maura untuk menonton drama Korea di ruang tengah selagi menunggu suaminya yang masih berada di kantor. Dengan semangat, Maura menonton film itu dengan ibu mertuanya. Ya, mereka berdua sama-sama menyukai drama terutama drama Korea. Rasanya lebih seru saja daripada drama FTV yang mengisahkan mertua mertua jahat, pelakor dan juga suami laknat atau suami tidak berguna.

__ADS_1


Dibantu oleh Bi Sumi dan mertuanya, Maura berhasil duduk di sofa ruang tengah. Yang mana film drama Korea itu telah mulai. "Sini sayang, duduk sama mama!" Clara menuntun Maura dengan hati-hati.


Ya Allah, Terima kasih atas nikmat yang engkau berikan kepada hamba. Mempunyai ibu mertua yang baik hati seperti ibu sendiri, ini sungguh berkah yang luar biasa dariMu. Batinnya bahagia.


Clara dan Maura sudah duduk di sofa, mereka bersiap-siap untuk menonton drama Korea yang mereka nanti-nantikan. Ditemani secangkir susu dan juga cemilan kue kering yang tersaji di atas piring. Di sela-sela tontonan drama Korea itu, Clara mengajak Maura berbicara.


"Oh ya sayang--" panggil Clara pada menantunya.


"Ya ma? Ada apa?" sahutnya dengan suara lembut seperti biasa.


"Kamu--tau tentang Vera gak?"


Maura menaikkan alisnya ke atas, dia terheran-heran mengapa ibu mertuanya tiba-tiba menanyakan tentang kekasih adik iparnya. "Uh...Vera ya?"


"Iya, dia pacarnya Bara.. kan?"


"Maaf Ma, Maura gak tau tentang itu." wanita itu menggelengkan kepala.


"Maafkan mama ya Maura, mama hanya ingin tahu tentang masa lalu kamu, Vera dan Bara. Jadi Mama harap kamu mengatakan yang jujur tentang Vera. Mama rasa, dia bukan wanita yang baik." tutur Clara dengan wajah yang ragu.


"Kenapa mama berpikir begitu?" tanya Maura heran.


Clara pun mengatakan bahwa dia memperoleh informasi dari Farhan, kalau Vera pernah bekerja menjadi seorang pemandu lagu di sebuah diskotik. Lalu dia mengambil kesimpulan bahwa wanita itu bukan wanita baik-baik, alias bukan wanita suci.


"Ma... di manapun orang itu bekerja dan bagaimanapun pekerjaannya, Mama tidak bisa menyimpulkan sembarangan seperti itu. Memangnya kenapa kalau Kak Vera pernah bekerja di tempat seperti itu? Dia baik kok Ma, dan dia sangat menyukai Bara...aku tau itu dari dulu."


Maura teringat ketika Vera berciuman mesra dengan Bara, Vera begitu menikmati perannya sebagai pacar Bara. Dan Maura bisa melihat cinta di mata Vera untuk Bara.


"Tapi Maura...mama rasanya--" Clara tidak melanjutkan ucapannya manakala suara bel pintu berbunyi.


"Bentar ya Ma, itu pasti Bryan pulang."


Maura yang tidak sadar akan keadaan kakinya, langsung berdiri lalu sedetik kemudian dia jatuh ke lantai. "Aduh..."


"Maura, kamu hati-hati dong sayang!" Clara membantu menantunya berdiri.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2