Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 92. Terluka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Samuel gemetar ketakutan, takut kalau Arya akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Selama dirawat oleh pria itu, Samuel selalu merasa tegang dan jantungan. Arya selalu menyuntiknya dengan cairan aneh yang bisa membuatnya tertidur lelap, terkadang kepalanya juga berdenyut-denyut kesakitan. Bahkan Arya selalu menyuntiknya di sembarang tempat. Tidak hanya itu, Arya juga memberikan siksaan yang paling membuat Samuel ketakutan. Yaitu, dia selalu mengancam semua untuk memotong anunya.


Bagi Samuel, perlakuan Arya kepadanya adalah seperti siksaan yang berat. Tapi dia ingin hidup, dia masih belum selesai menikmati dunia yang indah itu. Apalagi menikmati keindahan para wanita di luar sana. Masih saja dia belum selesai dengan hasrat dan n*fsu yang ada di dalam dirinya terhadap kaum hawa, Padahal dia sudah diberikan peringatan oleh yang kuasa untuk bertaubat.


"Santai dong pak...saya akan berikan Bapak surga dunia yang lainnya, dijamin deh bapak pasti bakal senam jantung! Hihihi..." Arya berbisik, dia cekikikan ditelinga Samuel.


"Gwiii..la...daswaarrr...gwillaa..."


"Hah? Bapak bilang apa pak? Saya gak denger tuh!" Arya tersenyum menyeringai, kemudian dia mendorong kursi roda yang ada Samuel di atasnya.


Arya mendorong dan memundurkan kursi roda itu secara sengaja, ke jalan raya yang banyak kendaraan yang lewat di sana. Samuel dibuat berkeringat dingin dan gemetar olehnya sampai ada cairan basah di kursi rodanya.


"Ih! Kok bau pesing sih?" Arya mencium Ada bau tidak sedap di sekitarnya. Kemudian dia melihat ada cairan yang mengucur dari kursi roda itu ke aspal. "Ih pak Samuel, jorok banget sih bapak! Udah tua ngompol di celana, hahaha..." Arya menertawakan pria itu yang mengompol celana.


Samuel menatap Arya dengan penuh kebencian, janji ketika sudah sembuh nanti dia akan membalas Arya berkali-kali lipat dari apa yang diterimanya saat ini.


"Ah...gak seru, bapak udah ngompol kayak gini. Kita main besok lagi aja ya? Yuk sekarang kita pulang ke rumah...hahahaha..." Arya tertawa terbahak-bahak, dia pun mendorong kursi roda yang membawa Samuel di atasnya.


Lalu mereka berdua pun kembali ke rumah Agradana. Samuel marah sekali, rasanya jantung yang dia miliki serasa copot akibat ulah Arya yang selalu menakutinya. Arya mungkin adalah perwujudan dari iblis yang menyamar menjadi manusia, dan hadir ke dalam kehidupan Samuel untuk mencabut nyawanya.


******


Pagi itu Maura dan Evan melakukan tugas mereka bekerja di kantor dengan baik. Hingga pada siang itu, tiba-tiba saja Nathan masuk ke ruang prestige dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.


"Kenapa ini? Kenapa tiba saja kamu menyerahkan surat pengunduran diri?" Tanya Evan seraya menatap surat yang ada di atas mejanya.


"Saya tidak akan meminta apapun, cukup setujui saja permintaan saya untuk keluar dari perusahaan ini." Nathan berkata dengan tegas dan ketus seperti biasanya.


Evan terheran-heran, mengapa tiba-tiba Nathan berpikir untuk keluar dari kantor itu. Padahal sebelumnya dia sangat ingin menguasai Agradana grup. "Apa kamu sedang bercanda dengan saya?" Tanya Evan pada Nathan, dengan tatapan penuh curiga.


"Saya serius. Setujui saja, lalu saya akan pergi dari sini dan dari kehidupan keluarga Agradana."


Aneh? Mengapa tiba-tiba saja Nathan meminta untuk mengundurkan diri? Kenapa hasratnya yang menggebu-gebu ingin menguasai perusahaan ini? Masa sih menghilang dalam sekejap saja?


Ada rasa tidak percaya di dalam hati Evan terhadap ucapan Nathan, aneh dan janggal. Dengan sikap Nathan yang berubah tiba-tiba dan dia ingin mengundurkan diri dari perusahaan Itu.


Evan langsung menyetujuinya, karena juga tidak meminta syarat apa-apa untuk pergi dari sana. Ditambah, Evan juga tidak suka dia bekerja di perusahaan yang sama dengannya.


"Oke, aku setuju kamu keluar dari perusahaan ini... tapi tunggulah sampai aku menemukan sekretaris yang baru. Setelah itu kamu bisa langsung pergi." Ucap Evan pada Nathan tegas.


Nathan hanya tersenyum, lalu dia mengatakan bahwa ia punya rekomendasi sekretaris dari Bryan yang akan mulai bekerja besok. Evan terkejut, mengapa nama Bryan dibawa-bawa?


Nathan menjelaskan dengan singkat kepada Evan, bahwa jika bukan karena Bryan. Dia pasti akan tetap berada di perusahaan Agradana dan tidak akan meminta berhenti. Evan tak paham apa artinya, tapi dia sangat berterimakasih pada Bryan dan sebagai ucapan terimakasihnya. Saat itu juga Evan mengajak Bryan makan siang bersama.


"Halo pak Bryan."


["Halo, pak Evan? Ada apa?"]


"Maaf saya menganggu waktu pak Bryan, apa pak Bryan sedang sibuk?" Tanya Evan berhati-hati.


["Ehm...iya...eh tidak!"]


"Maaf pak, sepertinya saya menelepon di waktu yang salah. Kalau begitu saya tutup telponnya--"


["Tunggu pak Evan! Saya tidak sibuk kok! Bener saya tidak sibuk."]


Mana mungkin aku bilang sibuk kepada calon kakak iparku, bisa-bisa nilai plus menjadi minus.


"Kalau begitu, apa bapak bisa siang bersama saya hari ini?"


["Baik, sebutkan saja waktu dan tempatnya!"]


"Baik pak Bryan, saya akan kirimkan lewat pesan." Kata Evan sambil tersenyum.


Sebenarnya, Bryan memang sedang sibuk pada hari itu setelah dia menyelesaikan rapat. Bahkan ia belum menelepon Maura yang katanya akan bertemu dengan Hana karena dia belum sempat. Bahkan saat ini Bryan sedang merevisi dan memeriksa beberapa dokumen yang tadi dibahas di dalam rapat. Namun, mana bisa dia menolak ajakan Evan untuk makan siang bersama. Apalagi Evan adalah calon kakak iparnya.


"Pak, anda mau pergi kemana?" Ferry lihat Bryan yang beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan segudang pekerjaan, dokumen menumpuk di atas meja yang belum dia selesaikan.

__ADS_1


Ferry heran, sebab biasanya presidennya itu akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lain. Tapi sekarang Bryan terlihat seperti akan pergi dari sana.


"Ferry, aku mungkin akan kembali dalam setengah jam dan menyelesaikan semua pekerjaan ini." Kata Bryan.


"Baik pak." jawab Ferry patuh. "Tapi maaf, bapak mau pergi ke mana?"


"Aku akan menemui calon kakak iparku." Jawab Bryan sambil tersenyum manis.


Ferry hanya melakukan kepala dan menundukkan setengah badannya sebagai respon atas jawaban Bryan.


Kemudian Bryan pergi meninggalkan kantornya untuk bertemu dengan Evan, ke tempat mereka janjian untuk makan siang bersama.


*****


Di sebuah restoran kecil, Maura dan Hanna bertemu. Disana Hanna curhat kepada sahabatnya itu, bahwa dia ingin pindah kerja karena dia tidak betah dengan suasana di tempat kerjanya.


"Serius? Ah...pasti gak nyaman banget deh rasanya kalau di tempat kerja ada yang julid sama kita." Kata Maura setelah mendengar cerita dari Hana, kalau ada salah satu temannya yang memfitnahnya.


"Iya, gak enak banget kan? Sebenarnya aku udah gak tahan kerja di perusahaan itu, tapi aku juga nggak punya pilihan lain karena aku gak mungkin keluar dari sana." Hanna mendesah, memikirkan bagaimana pekerjaannya nanti sedangkan dia sangat tidak nyaman di sana.


"Han, apa kamu pakai sistem kontrak?" Tanya Maura pada Hanna.


"Enggak,"


"Terus? Tunggu apa lagi, mending kamu keluar aja deh dari sana."


"Maura, sebenarnya aku mau bilang jujur sama kamu... kalau pak Bryan menawarkan pekerjaan padaku."


Sontak saja Maura dibuat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Hana, kenapa Bryan menawarkannya pekerjaan? Dan juga kapan mereka berkomunikasi?


"Eh...Maura kamu jangan salah paham sama aku. Aku beneran nggak ada apa-apa lho sama calon suami kamu. Kami gak ketemu, cuma pesan-pesanan doang. Aku minta maaf ya Maura, " Hanna langsung menjelaskan dengan panjang lebar, melihat raut wajah Maura tampak tidak baik itu. Ia takut bahwa sahabatnya akan cemburu karena dia berkomunikasi dengan calon suaminya.


"Hahaha... Han, kamu santai aja...kenapa pakai minta maaf segala?" Maura kembali ke raut wajahnya yang tenang dan santai.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Bryan memintaku begitu? Aku bakal jelasin Ra, kalau semua karena pak Nathan yang akan mengundurkan diri dari perusahaan dan Bryan meminta aku untuk menggantikan posisinya sebagai sekretaris kak Evan." Ungkap Hanna menjelaskan.


Maura akhirnya paham, jadi ini yang direncanakan oleh calon suaminya untuk mengatasi masalah Nathan. Maura semakin kagum dan bertambah rasa sayangnya terhadap pria itu. Maura dan Hanna berbincang sambil makan siang bersama, kemudian Hanna mengambil keputusan bahwa dia akan menjadi sekretaris pribadi Evan di perusahaan Agradana. Maura senang sekali mendengarnya karena dia bisa satu pekerjaan bersama Hanna. Selain membicarakan masalah pekerjaan Hana, Maura juga mengatakan bahwa dia akan segera menikah dengan Bryan.


Terlihat raut wajah bahagia pada Maura. Hanna sangat senang karena mungkin Maura menemukan orang yang benar-benar mencintainya bukan karena dendam. "Aku doain semoga kamu bahagia ya Ra."


"Hehe...tapi aku belum lamaran."


"Hah? Apa? Masa sih pak Bryan selambat itu?" Hanna terperangah.


"Hem...gak tau deh. Oh ya...tapi gimana hubungan kamu sama Kak Evan?" Tiba-tiba saja Maura mengalihkan pembicaraan menjadi kepada Hanna dan Evan. Maura tau bahwa Hanna ada rasa pada Evan.


"Hubungan apa sih? Gak ah! Gak ada apa-apa kok!" Hanna menyangkal dengan wajah malu-malu.


Kedua wanita itu bergosip sambil tertawa-tawa dengan bahagia.


Usai makan siang, Maura dan Hanna berada di kasir untuk membayar makan mereka. "Eh, biar aku aja yang bayar!"


"Gak apa-apa, aku aja Han." Wanita itu mengeluarkan uang di dalam dompetnya lalu dia serahkan pada kasir.


Hanna dan Maura berjalan ke depan restoran, mereka masih asyik berbincang hingga mereka tak menyadari ada seseorang yang melempar batu ke arah Maura.


Disaat bersamaan, terlihat Bara dan beberapa rekan kerjanya yang baru akan makan siang disana. "Oh ya pak Bara, selamat ya bapak sudah dipromosikan menjadi kepala manager yang baru."


"Saya tau anda memang berbakat." Ucap salah satu rekan Bara memuji kinerja Bara yang hebat dan tekun.


"Saya tidak hebat bapak-bapak yang ada di sini kok!" Bara membalas pujian itu dengan rendah hati. Luka kehilangan Maura karena dendam setelah membuatnya ingin berubah menjadi lebih baik lagi dalam bersikap. Menjauhi sikap sombong dan egois.


Ketika berjalan di parkiran, Bara melihat sosok wanita yang ia cintai berjalan bersama temannya. Wanita itu tersenyum, alangkah bahagianya hati Bara melihat Maura tersenyum seperti itu. Pasalnya, Bara selalu membuat Maura menangis dan sedih selama mereka masih menikah dulu.


Namun, perhatian Bara teralihkan pada seseorang berpakaian hitam yang melempar batu ke arah Maura. "Maura!"


Bara berlari dekat ke arah Maura, lalu dia memeluk wanita itu. Dan terjadilah sebuah kejadian disana yang membuat semua orang terkejut melihatnya.


BRUK!

__ADS_1


"Bara..." Maura tercengang bingung. Saat Bara memeluknya dan saat juga saat dia melihat Bara terkena batu.


"Pak Bara!" Teriak ketiga teman Bara terkejut melihat Bara terkena batu di kepalanya.


"Maura...kamu gak apa-apa?" Tanya Bara yang masih memeluk Maura untuk melindunginya.


"Ba...ra..." lirih Maura bingung dengan kejadian yang begitu cepat itu. Maura terkejut bukan main saat melihat kepala Bara berdarah.


"Kamu...harus... baik-baik saja...."


Tubuh pria itu ambruk di dalam dekapan Maura, hingga keduanya jatuh terduduk. Bara tidak sadarkan diri, sementara orang yang melemparinya dengan batu , labur begitu saja karena semua orang sibuk dengan keadaan Bara.


"Bara...Bara kamu kenapa? BARA!" Tangan Maura memegang kepala Bara dan dia merasakan ada basah disana, setelah dilihat itu darah.


"Maura...kamu gak apa-apa?" tanya Hanna pada Maura yang juga terkejut dengan semua kejadian barusan.


"Ayo kita bawa pak Bara ke rumah sakit!" Ujar seorang teman Bara pada Maura.


Tangan Maura gemetar, wajahnya pucat pasi. Jika bukan karena Bara, pastilah kepalanya yang akan bocor.


*****


Beberapa saat kemudian, Bryan aja kembali ke kantornya setelah dia makan siang bersama Evan. Bryan juga membicarakan masalah pernikahan dan lamarannya yang akan dilakukan nanti malam untuk Maura di depan semua keluarga dekat mereka. Evan senang mendengarnya dan dia ingin turut membantu Bryan menyukseskan acara lamaran itu.


Belum lama sampai di ruangannya, telpon Bryan berdering. "Hanna? Mau apa dia meneleponku?" Gumam Bryan bingung dan heran, kenapa teman dekat Maura itu menelpon dirinya. "Bukankah harusnya dia baru saja kembali ke kantor setelah makan siang bareng Maura?"


Bryan langsung mengangkat teleponnya kalau-kalau ada yang penting. "Halo!"


["Pak...maaf saya menelpon bapak tiba-tiba seperti ini. Saya ingin mengabari bapak, kalau Maura berada di rumah sakit."]


"APA?!" Bryan tersentak kaget mendengar berita buruk itu, jantungnya terasa copot. "Apa yang terjadi?!"


["Saya menjelaskan detailnya ditelepon, Pak tolong datang ke sini saja ya, rumah sakit Citra Medika ruang UGD!"]


"Oke, saya akan segera pergi kesana." Ucap Bryan sambil menenangkan dirinya yang sangat tidak tenang mendengar berita tentang kekasihnya itu.


Lagi-lagi Bryan menunda pekerjaannya yang menumpuk pada hari itu, namun dia tidak peduli sama sekali karena baginya Maura adalah hal yang paling penting dalam kehidupannya. Pekerjaan bisa dilakukan nanti saat dia senggang dan dia akan menyelesaikan pekerjaannya meski bukan sekarang.


Beberapa menit kemudian, Bryan sampai di rumah sakit yang di sebutkan oleh Hanna. Terlihat Hanna, Maura dan dia orang pria berpakaian seragam polisi disana.


"Pak, maaf! Bapak bisa tanya nanti saja kan? Teman saya masih syok, belum bisa dimintai keterangan!" Hanna memeluk Maura yang menangis.


"Baiklah Bu, kalau kami tidak bisa bicara Ibu Maura. Bolehkah kami meminta keterangan dari Ibu Hana saja?"


"Apa bapak gak lihat? Kalau saya sedang menenangkan teman saya!" Hanna bicara dengan suara keras.


"Udah Han, jangan marah-marah...hiks...aku gak apa-apa."


Bryan cemas melihat Maura menangis, dia langsung menghampiri kekasihnya itu. "Maura kenapa? Apa kamu luka?" Tatapan mata Bryan tertuju pada baju Maura yang berdarah.


Maura tidak menjawab, dia hanya menangis lalu menghampiri Bryan dan memeluknya. "Hiks...Bry...aku takut Bry."


Bryan memeluk Maura seraya menenangkannya. "Ada apa?" Tanya Bryan pada Hanna dan polisi yang masih berada disana.


Gadis itu mengeratkan pelukannya semakin dalam. "Bry..."


"Ada... seseorang yang ingin mencelakai Bu Maura, tapi pak Bara yang terluka karenanya." Ungkap seorang anggota kepolisian yang sontak saja membuat Bryan terkejut.


"APA?!"


Ada seseorang yang ingin mencelakai Maura? Dan Bara yang menolongnya? Apa ini akal-akalan Bara?. Bryan berpikiran buruk kepada mantan suami kekasihnya itu.


"Bry...aku takut, gimana kalau terjadi sesuatu pada Bara? Gimana kalau Bara--hiks... dia berdarah sangat banyak, kepalanya terluka...gimana ini?"


"Kamu tenang dulu ya, Bara pasti akan baik-baik saja!" Bryan tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain menenangkan Maura.


Sementara itu Hanna bicara dengan polisi di tempat lain, Hanna keterangan oleh anggota kepolisian.


Maura dan Bryan masih berada didepan ruang UGD, menunggu seseorang keluar dari ruangan itu dan mengabari mereka tentang kondisi Bara.

__ADS_1


...****...


__ADS_2