Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 52. Kamu murahan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Manis, kenyal, memabukkan. Itulah yang dirasakan Bryan ketika dia mencuri keranuman bibir indah milik Maura yang selalu ingin dia dapatkan.


Pria itu semakin agresif menyentuh Maura, bahkan membuat bibir Maura terbuka lebar itu memberinya akses masuk lebih dalam ke dalam sana. Bryan terbuai, dia terlena dengan ciuman pertama yang dia anggapnya sebagai halusinasi.


Oh God! Apa begini rasanya berciuman? Walaupun ini hanya halusinasiku, tapi rasanya sungguh nikmat dan terasa nyata. Little girl, aku menciumnya...aku memeluknya.


Mata Maura terbuka lebar, gerakan pria itu semakin liar ingin membuka bibirnya. Bryan mengigit sedikit bibir Maura agar bibir itu terbuka.


"Hmphh! Hmphh!!"


Pak Bryan? Dia menciumku? Ya Tuhan!


Maura tiba-tiba saja kaku, dia tidak bisa bergerak. Tangannya yang ingin melawan itu tiba-tiba menjadi lemas dan tidak berdaya didalam pelukan Bryan karena skill ciumannya yang seperti sudah Pro saja.


Bryan berhasil membuat mulut itu terbuka untuknya, dia segera masuk membelit lidah Maura dan menyesapnya dengan semangat. Rupanya dia masih berpikir bahwa itu semua adalah mimpinya. Pikiran liar yang berasal dari otaknya yang selalu dipenuhi bayang-bayang wanita itu.


Belum cukup dengan lidah yang membelit, kini tangan Bryan mulai bermain nakal mempraktekkan apa yang ada didalam fantasinya semalam. Tangan Bryan meremass dada Maura dengan penuh gairah.


Kenapa ini terasa seperti sungguhan? Padahal ini mimpi. Mengapa juga little girl masih berada disini dan belum menghilang?


Maura pun tersadar lebih dulu ketika Bryan mulai melakukan lebih. Walau gerakannya lembut, namun dia jadi teringat pada kejadian Bara yang memperkosanya. Maura mendorong Bryan dengan sekuat tenaga sebelum mereka berbuat lebih jauh. Dia masih ingat bahwa statusnya masih lah istri Bara, jika dia melakukan semua ini apa bedanya dia dengan Bara yang berselingkuh.


"Bapak sungguh keterlaluan!" Maura terengah-engah, wajahnya memerah. Tatapan mata tajam mengarah pada Bryan.


"Kenapa terasa sakit? Apa ini bukan mimpi?" gumam Bryan yang merasakan sakit dipinggang saat Maura mendorongnya hingga terkena sudut meja.


Wanita itu seperti akan menangis, matanya berkaca-kaca. Dia menutup bibir dengan tangannya yang terlihat ada luka bakar disana. Tanpa peduli dengan keadaan sekitar dan dokumen yang lupa dia bawa. Maura berlari keluar dari ruangan itu dengan marah.


Bryan tersentak kaget, perginya Maura membuat dia tersadar bahwa yang barusan itu bukanlah mimpinya. 'ASTAGA! Apa yang aku lakukan? Dia bukan mimpi?''

__ADS_1


Pria itu mengejar Maura yang baru saja sampai di depan pintu, dia menarik tangannya. Dengan cepat Maura menepis tangannya itu. "Lepas!"


"Maura...maaf, aku pikir-"


Tamparan keras melayang di wajah tampan Bryan, membuat mulut pria itu bungkam untuk sejenak. Pukulan Maura sama sekali tidak sakit, tapi yang sakit adalah hatinya. Dia sudah melakukan tindakan di luar batas.


"Maura, aku bisa jelaskan!" Bryan ingin didengarkan oleh wanita itu.


"Saya tau kemarin saya bersalah karena saya sudah mencium dan memeluk bapak, tapi itu kan tidak sengaja. Tidak seharusnya bapak membalas saya seperti ini," Gerutu Maura sambil menangis, dia merasa dilecehkan.


Membalas? Tunggu...kenapa dia sampai berpikir aku membalasnya karena kejadian kemarin?


"Tunggu dulu! Aku...itu karena...itu...." Bryan gelagapan, dia bingung harus menjelaskan dari mana tentang hal yang baru saja terjadi itu.


Sungguh, Bryan tidak sengaja karena dia pikir itu mimpi! Ingin Bryan bicara seperti itu tapi dia takut di kira mesum. Tapi dia menang sudah disangka mesum oleh Maura.


Wanita itu tidak bicara apa-apa, dia membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan cepat dari sana. Bryan semakin merasa bersalah karena Maura menangis akibat pikiran liarnya yang agresif itu. "Maura! Tunggu! Hey!"


Dia tidak menyerah dan mengejar Maura untuk menjelaskan semuanya. Pengawal pengawal disana langsung menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat saat Maura berjalan melewati mereka.


Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis?. Nathan melihat ke arah Maura.


"Maura, tunggu..." Bryan memegang tangan Maura, lalu dia menepisnya dengan cepat.


"Pak Nathan, kita pergi sekarang!"


"Apa sudah selesai diskusinya?" Tanya Nathan pada wanita itu.


"Jangan banyak bicara, kita pergi saja!" Maura berteriak marah, dia pun masuk ke dalam lift dengan langkah yang cepat.


"Baiklah," Nathan tersenyum menyeringai, begitu melihat noda lipstik di bibir Bryan, warna yang sama dengan warna lipstik yang dipakai Maura pada hari itu, warna pink.

__ADS_1


"Maura, kita bicara...." Bujuk Bryan pada wanita yang sudah masuk ke dalam lift itu.


"Saya tidak bisa bicara dengan bapak sekarang, kita bicara saja nanti pak." Kata Maura dengan suara dinginnya, tanpa menatap lawan bicaranya itu.


Nathan menekan tombol untuk menutup lift. Bryan ingin menahan Maura, namun dia tau kalau Maura marah dan tidak akan baik bicara dengan seseorang yang sedang marah. Ferry melihat raut wajah bosnya yang tidak baik itu. "Pak, ada apa?" tanya Ferry pada Bryan terheran-heran.


Eh! Mengapa ada noda lipstik di bibir pak Bryan? Apa pak Bryan didalam sana melakukan sesuatu pada Bu Maura?. Ferry tersentak kaget melihat noda lipstik berwarna pink itu di sudut bibir Bryan.


"Sial!" Bryan menendang tong sampah berbahan aluminium disana, sampai tong sampai itu terjungkal terguling ke lantai.


Pikiran Bryan kalang kabut, dia pun memutuskan untuk menenangkan pikirannya di dalam ruangan. Dia memerintahkan semua orang untuk tidak mengganggunya.


"Ah! Bagaimana ini? Bagaimana caraku meminta maaf padanya? Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Dia pasti sangat marah...tapi ciuman ternyata seperti itu rasanya. Manis, kenyal dan panas, aku ingin menyesap bibir itu sekali lagi. Tapi, aku harus melakukannya saat aku menikah nanti." Gumam Bryan yang sebentar-sebentar marah dan sesaat kemudian dia tersenyum senyum cengengesan sendiri mengingat ciuman pertamanya dengan seorang wanita, yaitu Maura.


*****


Nathan dan Maura kembali ke dalam mobil, menuju ke Agradana grup. Nathan tersenyum sinis melihat Maura, apalagi saat melihat sudut bibir wanita itu.


Pak Bryan...kenapa dia menciumku begitu? Aku...aku...


Tiba-tiba saja Nathan menyodorkan selembar tisu pada Maura yang duduk tepat disampingnya. "Kenapa?" Maura bertanya.


"Di bibirmu, ada noda lipstik belepotan." ucap Nathan terkekeh, dia tersenyum mengejek Maura.


"Kenapa kamu melihatku begitu, pak Nathan?" Tanya Maura yang tidak senang dengan senyuman dan tatapan Nathan padanya.


"Tidak apa-apa, hanya saja kamu begitu murahan." ejek Nathan pada Maura.


"Apa kamu BILANG?" Tercengang, Maura mendengar ejekan Nathan yang sudah kelewatan itu.


"Anda murahan Bu Maura," ucap Nathan tanpa ragu dan takut mengejek Maura.

__ADS_1


Tatapan Maura memicing, tangannya gemetar dia ingin memukul Nathan saat itu juga. Namun dia ingat posisi karena mereka masih berada didalam mobil dan Nathan sedang menyetir.


...****...


__ADS_2