Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 98. Tak mau mengalah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Maaf ma, aku gak bisa biarkan calon istriku berdekatan dengan pria manapun, sekalipun orang itu adalah adikku sendiri." Presdir grup Xander itu kembali menegaskan, bahwa Iya tidak memberi izin kepada sang mama untuk mendekatkan calon istrinya dan adik kandungnya.


Clara menatap Bryan dalam-dalam. "Bry, mama mohon...kamu gak kasihan apa sama adik kamu? Kita baru saja menemukannya dan dia sedang hilang ingatan. Kamu jangan baper gini dong,. lagi pula Maura hanya berpura-pura sampai Bara sembuh aja!"


"Ma, aku paham bagaimana perasaan Mama saat ini. Mama kasihan sama Bara, tapi aku tetap tidak mau dan aku tidak memberikan izin ku. Maura tetap tidak boleh dekat dengannya, apalagi berpura-pura sebagai istrinya. Maaf ma, Bryan gak bisa...Bryan nggak sanggup kalau harus melihat calon istriku berdekatan kembali dengan mantan suaminya." Bryan menekankan kata mantan suami kepada sang mama, agar namanya paham bagaimana rasa sakit hatinya dia dan bagaimana cemasnya dia bila melihat calon istrinya berdekatan dengan mantan suaminya sendiri.


Clara memang belum paham perasaan Bryan sampai kesitu, yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar ingatan Bara bisa sembuh. Dan dokter mengatakan bahwa Maura adalah satu-satunya orang yang bisa membuat ingatan Bara kembali lagi.


"Bry..." Clara memegang tangan anak sulungnya itu seraya mohon lagi padanya.


"Lepas...Ma!" Bryan kembali masuk ke dalam ruang rawat Bara.


Alangkah sakit hatinya dia, begitu melihat Maura dan Bara berpegangan tangan. Tentu saja Bryan tahu itu bukan salahnya Maura, pasti Bara yang memegang tangan calon istrinya. Namun hati Bryan tetaplah sakit saat melihat Bara berdekatan seperti itu dengan Maura.


"Bry..." Maura menatap pria itu, dia beranjak dari ranjang. Namun tangan Bara memeganginya dengan erat, padahal Bara sedang tidur.


"Biar aku aja yang kesitu,"ucap Bryan pada Maura.


Bara, apakah kamu benar-benar hilang ingatan? Baik, aku akan ikuti permainanmu.


Bryan berjalan mendekat ke arah Bara dan Maura, dengan kasar tanpa perasaan dia melepaskan tangan Bara dari Maura. Begitu posesifnya Bryan pada wanita pertama dan wanita yang juga di klaim sebagai wanita terakhir didalam hidupnya itu.


"Sayang, aku antar pulang ya? Lagian Bara juga udah tidur." Pria itu meninggikan suaranya, sembari melihat ke arah Bara memperhatikan gerak-geriknya.


Sayang? Barusan Bry, panggil aku sayang? Ya Allah, rasanya seperti ada kembang api yang meledak didalam hatiku.


"Iya, ini udah malam... jadi kamu harus pulang dan istirahat. Tak lama lagi, kita akan segera menikah. Jadi kamu harus menjaga kesehatanmu baik-baik, sayang." Pria itu membelai rambut panjang Maura dengan jari-jarinya. Namun matanya melirik ke arah Bara dan pria itu masih tertidur pulas.


Cih! Tidak ada reaksi apa-apa. Lihat saja Bara, aku tidak akan membiarkan kamu lebih lama lagi berpura-pura.


"Bry...apa kita gak apa-apa ninggalin Bara sendirian?"


"Kamu tenang saja little girl, dia kan lagi tidur. Ada dokter, mama, Bu Alya yang akan menjaganya disini. Kita pulang aja, aku antar kamu ya?" Ditatapnya wajah gadis cantik itu dengan lembut, begitu perhatian Bryan kepadanya.


Bryan benar memperlakukan gadis itu seperti berlian. Berbeda dengan Bara mantan suaminya, yang dulu memperlakukannya seperti sampah.


"Ya udah deh," Maura menurut saja karena dia pun sudah merasa sangat lelah setelah seharian bulak balik rumah sakit dan menjaga Bara.


Semoga kamu cepat sembuh Bara, semoga ingatanmu cepat pulih kembali. Dalam hati ia tulus berdoa untuk kesembuhan mantan suaminya.


Setelah Bryan dan Maura pergi meninggalkan ruangan itu, hanya ada Bara sendiri disana. Tiba-tiba saja, ia yang tadinya terbaring. Kini membuka matanya. "Takdir macam apa ini? Aku dan kamu adalah saudara? Tidak...kita itu ditakdirkan menjadi rival selama masih ada Maura diantara kita." Bara kan tangannya dengan kuat.

__ADS_1


Ya, pria itu memang tidak hilang ingatan tapi dia berpura-pura. Setelah dia sadar dan mendengar pembicaraan Clara dan Alya, bahwa dirinya ini adalah Kenzo. Anak Clara yang hilang, Bara awalnya tak percaya. Namun setelah golongan darah yang cocok dan juga kalung gembok yang dimilikinya. Menjadi bukti kuat bahwa dia memang anak Clara yang menghilang sejak lama.


Kemudian Bara mulai memikirkan rencana jahat dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan kembali Maura dan juga mencuri kasih sayang Clara dari Bryan. "Bryan, kakakku... Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia setelah apa yang kamu lakukan padaku dengan mengambil Maura dariku."


Tadinya Bara tidak ada niatan merebut Maura dari Bryan, setengah hatinya sudah ikhlas untuk merelakan Maura bahagia bersama pria lain. Akan tetapi, saat ia mengetahui fakta bahwa Bryan adalah kakak kandungnya. Maka terbesit di dalam pikiran laknatnya, bahwa ia akan memanfaatkan kesempatan ini sekali lagi untuk mengambil semua yang dimiliki oleh Bryan.


Bara dengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan itu, buru-buru lah dia kembali tidur seperti sebelumnya. Clara dan Alya lah yang datang kesana.


"Bara sudah tidur," ucap Clara lega melihat putranya Kenzo tertidur lelap.


"Iya Bu, malam ini biar saya saja yang menjaga Bara. Ibu bisa pulang saja." Ucap Alya yang kasihan melihat wajah Clara tampak lelah.


"Tidak! Saya tidak mungkin meninggalkan Kenzo, eh..maksud saya Bara, sendirian disini. Saya baru saja kembali dipertemukan dengan anak saya,"


"Baiklah kalau begitu Bu, saya titip Bara ya." Alya mengulas nafas panjang sambil tersenyum, ia paham bahwa saat ini Clara adalah mamanya Bara juga. Ibu kandung Bara dan tentunya dia sangat merindukan kehadiran Bara.


"Maaf ya Bu, Ibu bisa ketemu dengan Bara...besok lagi." Clara tersenyum ramah, dia memegang tangan Alya. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup, untuk pengapian besar Bu Alya yang telah membesarkan Bara hingga Bara sampai sebesar ini.


Tak hentinya Clara mengucapkan terima kasih kepada Alya. Alya sendiri, tidak merasa bahwa Bara adalah anak angkatnya. Karena posisi Bara sama seperti Ghea. Apalagi Bara adalah anak yang baik dan patuh terhadap ibunya.


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu ya, Bu."


"Iya Bu, sekali lagi makasih."


Tiba-tiba saja air mata Clara mengalir lagi untuk kesekian kalinya. "Ibu sangat baik...hiks.. terimakasih Bu."


"Ibu jangan nangis ya, sekarang kita harus pikirkan cara agar Bara bisa cepat sembuh." Kata Alya menyarankan.


"Ya benar, harusnya saya tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kesehatan Bara sangat penting untuk saat ini." Kata Clara sembari melirik ke arah pria yang masih terbaru di atas ranjang rumah sakit.


"Ibu...saya pikir Maura adalah satu-satunya yang bisa membantu Bara untuk memulihkan ingatannya kembali."


Clara menganggukan kepalanya, ia setuju dengan apa yang dikatakan Alya. Memang kata dokter pengaruh dari Maura sangat besar untuk kesembuhan Bara. "Saya setuju dengan saran Bu Alya, akan tetapi Bryan anak saya tidak memberi izin calon istrinya berdekatan dengan Bara."


"Loh? Kok begitu ya? Bara kan adalah adik kandungnya, masa dia tidak mau berkorban sedikit untuk adiknya? Apalagi adiknya baru saja ditemukan setelah bertahun-tahun menghilang...lagipula ini hanya sampai Bara sembuh saja," Alya menunjukkan ketidaksukaannya kepada Bryan yang dianggap tak mau berkorban untuk adiknya yang baru saja kembali ditemukan.


Clara tertegun, dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Alya memang benar. Wanita itu pun memutuskan untuk berbicara dengan Bryan sekali lagi tentang hal ini dan membujuknya.


*****


Di dalam perjalanan pulang, didalam malam yang larut itu. Maura terlihat mengantuk, namun Bryan terus bicara tentang Bara. "Little girl, pokoknya nanti kamu harus nolak Kalau Mama nyuruh kamu untuk berpura-pura jadi istrinya! Gak boleh!" Bryan terus mau wanti wanti Maura dengan peringatan.


"Iya...iya...aku tau, kamu kan gak kasih izin sama aku. Tapi itu mama Clara yang minta loh? Masa kamu tolak?"

__ADS_1


"Oh gitu, jadi kamu mau pura-pura jadi istrinya?" Bryan mendelik sekilas ke arah wanita yang duduk di sampingnya.


"Kamu ngomong apa sih Bry? Aku kan cuma nanya!"


"Kalau misalkan aku setuju, apa kamu mau pura-pura jadi suaminya?"


"Bry, dari tadi kamu ngomong terus muter-muter deh. Aku pusing ah!" Maura sedang berusaha menahan rasa kantuknya karena ia lelah. "Hoaaamm..." Maura menguap.


Sudah berapa kali Bryan mengingatkanku untuk menolak permintaan mama Clara. Apa dia gak capek, apa? Kok dia jadi cerewet.


"Jangan-jangan kamu--"


Saking asyiknya bicara, tanpa sadar mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Maura. Bryan pun memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang tanpa memasukkannya ke dalam halaman rumah Maura karena ia akan langsung pulang ke rumah.


"Little girl, kamu denger kan? Kamu udah jadi calon istri aku, jadi kamu harus jauh-jauh dari cowok lain meskipun cowok itu adalah adik aku sendiri. Maura...aku gak mau kamu kembali ke dalam masa lalu kamu bersama dia. Aku begini, karena aku sadar diri...aku adalah orang baru di dalam hidup kamu." Kata Bryan sedih. "Little girl? Apa kamu dengar ak--"


Bryan menoleh ke arah Maura, gadis itu sudah tertidur dengan posisi bersandar ke pintu mobil. "Yaahh.... ternyata dia tidur," ucap Bryan sambil tersenyum gemas melihat little girlnya ketiduran. Ditatapnya wanita itu penuh cinta. "Bagaimana aku membiarkan little girl ku direbut pria lain? Sekalipun Bara hilang ingatan, ataupun dia adalah adikku. Aku tidak rela, aku mencintaimu." Diciumnya kening dari wanita yang tertidur itu.


Kemudian Bryan keluar dari mobil, ia menggendong Maura yang tidur pulas dengan ala bridal. Wanita itu tertidur sangat pulas hingga digendong pun dia tak sadar. Wajar saja jika Maura ketiduran, jam saja sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


"Eh? Pak Bryan? Maura kenapa pak?" Tanya Evan yang cemas melihat Maura digendong seperti itu oleh Bryan, ia berpikir telah terjadi sesuatu pada sepupunya.


"Jangan khawatir, dia hanya tidur."


"Oh gitu, ya udah pak! Bawa ke kamar aja, Mauranya!" Ujar Evan sambil berjalan menuntun Bryan ke kamar Maura.


Usai dibaringkan diatas ranjang, Bryan menarik selimut lalu menutup tubuh Maura dengan selimut itu penuh kasih sayang.


Evan menatap Bryan dengan tatapan yang aneh. Entah apa yang ia pikirkan.


"Pak Bryan, apa boleh saya bicara dengan bapak 5 menit saja? Jika bapak tidak keberatan."


"Oke, mari."


Bryan melirik ke arah Maura, sebelum ia pergi keluar dari kamar itu bersama Evan. Pintu kamar itu pun tertutup rapat, Evan langsung saja mengajak Bryan bicara di ruang tamu. Tak lupa, ia menyuruh bi Iyam untuk membuatkan kopi untuk mereka.


"Ini kopinya, tuan Evan." Bi Iyam meletakkan dua gelas cangkir diatas meja. Evan hanya menjawabnya dengan anggukan saja. Kemudian Bi Iyam pergi dari sana dan kembali ke dapur.


"Maaf jika saya tidak sopan pak, tapi saya tidak bisa menunda untuk membicarakan masalah ini lagi."


"Baik, jadi apa yang pak Evan mau bicarakan?" Bryan menatap Evan dengan tatapan mata tajam.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2