Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 56. Kebaikan hati


__ADS_3

Evan mengikuti adiknya menuruni tangga, dia melihat Maura sudah sampai di lantai bawah. Alya yang baru saja dari dapur, melihat Maura keluar dari rumah sambil membawa-bawa kotak besar ditangannya, bahkan ada boneka juga.


"Maura? Mau kemana dia?"


Alya mengikuti Maura karena dia khawatir melihat wajah Maura yang merah dan terlihat tak baik. Evan berada di belakangnya.


Maura sampai didepan rumah, kebetulan sekali Hendra supir di rumah itu sedang membakar sampah sekalian menghangatkan dirinya. "Non Maura? Mau apa non-"


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Hendra di buat tercengang melihat Maura membuka kotak itu dan membuang barang-barang di dalamnya ke dalam tong sampah yang ada api besar. Dia menyisakan dua boneka beruang yang cukup besar di lantai dan dia akan membakarnya terakhir.


"Walah non, kenapa di bakar? Sayang banget barangnya non.." Hendra merasa sayang dengan foto, barang-barang yang ada didalam kotak itu.


Maura tidak fokus, dia melihat foto-fotonya dan Bara hangus menjadi abu disana. Tangannya terkepal erat, kini hanya sisa kalung pemberian Bara yang masih dia pegang dan dua boneka.


Hanguslah semuanya! Ku harap hatiku padanya juga bisa cepat hangus. Kumohon.


"Maura ada apa nak? Kenapa kamu lari-lari begitu?" Alya bertanya dengan suara sopan dan lembut, mengisyaratkan kecemasan pada Maura.


"Kamu kenapa Ra?" Tanya Evan yang juga baru tiba disana.


Wanita itu tak menjawab, dia hanya menangis. Alya dan Evan tidak paham apa yang ditangisi oleh Maura, sampai mereka melihat selembar fotonya dan Bara mengapung keluar dari tong sampah terbang terbawa angin.


Alya memungut foto Bara dan Maura yang terlihat mesra disana, keduanya berada di sebuah taman sambil berpelukan.


Apa Maura sedang berusaha untuk membuang kenangannya bersama Bara?. Pikir Alya saat melihat foto yang terbakar itu.


"Kebetulan Bu Alya ada disini. Jika ibu mau, ibu bisa simpan boneka boneka itu. Pasti harganya mahal, oh ya dan juga ini..." wanita itu menyerahkan kalung pada Alya, dia juga menyerahkan gelang yang terjatuh di tanah. Dia menyerahkan kedua benda itu pada Alya. "Dia pasti mengeluarkan banyak uang untuk ini, ibu simpan saja baik-baik. Atau mau dibuang, dijual...terserah ibu saja. Asalkan saya tidak melihatnya lagi."


Benda ini, adalah benda-benda yang paling penuh dengan kebohongan.


"Maura, ini dibelikan Bara untuk kamu. Mana mungkin ibu mengambilnya, ini milik kamu nak." Alya merasa tidak enak pada Maura, terlebih lagi saat dia melihat gelang dan kalung Maura ada ditangannya.

__ADS_1


Maura tersenyum tipis."Tidak, ini bukan milik saya. Ini milik ALINA, wanita yang sangat dia cintai."


Alya menatap Maura dengan bingung, dia jadi ikut merasakan sakit hatinya Maura dibohongi oleh Bara selama bertahun-tahun karena dendamnya tentang Alina yang telah tiada.


Aku gak mau baper lagi, aku harus melupakan kamu Bara. Semua barang kenangan yang hancur ini, akan hancur bersama perasaanku.


Maura masuk ke dalam rumah setelah dia membakar hangus semua benda kenangannya bersama Bara. Evan dan Alya melihat wanita itu yang sedih setelah semuanya hangus.


Ya, Maura memang perlu waktu untuk mengatur hatinya kembali. Malam itu Maura kesulitan untuk tidur karena memikirkan pertemuannya dengan Bara esok hari.


*****


Keesokan harinya, pagi itu Alya sudah menyiapkan sarapan di atas meja. Dia layaknya pembantu di rumah Maura. Melihat Alya bekerja keras, Maura terlihat tidak nyaman.


"Bu Alya,"


"Ya, nak?" sahut Alya dengan sopan seperti pembantu pada majikannya.


"Duduklah, kita sarapan bersama." titah Maura pada ibu mertuanya itu.


"Kakak, Bu Alya masihlah ini mertuaku dan dia adalah orang tua yang harus kita hormati. Dia juga bukan pembantu di rumah ini kak, jadi tolong...kakak jangan bicara lagi."


Alya terperangah mendengar ucapan Maura yang mengatakan bahwa dirinya masih berstatus ibu mertuanya.


"Haaahhh...ibu mertua? Ibu mertua mana yang akan menyetrika tangan menantunya dengan tangan, membuatnya jatuh dari tangga dan juga--" Evan mendesah, tak setuju dengan keputusan Maura.


"Kakak cukup! Aku tidak mau sama dengan mereka, membalas dendam dengan dendam lainnya. Kalau terus seperti itu, dendam tidak akan pernah berakhir." Wanita itu mencoba untuk menjelaskan bahwa dia tidak seperti Bara dan keluarganya.


Evan pun berkata, "Terserah kamu aja deh,"


Bara, kenapa kamu selalu bilang istrimu adalah orang yang keras kepala dan manja? Kamu selalu bilang dia seperti ayahnya, tapi nyatanya dia sangat baik masih mengampuni kesalahan ibu. Ya Allah, Bara...

__ADS_1


Alya menahan tangis, dia tersentuh dengan Maura yang masih bersikap baik padanya meski dia dan keluarga telah melakukan kedzaliman besar. Alya malu, malu pada kelapangan hati Maura.


"Bu, ajak juga Ghea untuk makan!" Seru Maura yang memikirkan Ghea.


Evan tak berkomentar, dia malas apalagi Ghea selalu bersikap tidak sopan pada Maura. Dia makan sarapannya lebih dulu.


Hati Maura terbuat dari apa sih? Kenapa dia masih peduli sama ibu dan anak Dajjal itu?


"Ghea masih belum mau membuka pintu kamarnya, dia masih belum mau makan," jawab Alya sambil menundukkan kepalanya.


Maura terdiam, lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Melihat keadaan Ghea semalam membuatnya teringat saat Bara memperkosanya.


Benar juga, dia kan semalam pulang dalam keadaan yang tidak baik.


"Kamu mau kemana? Cepat sarapan, sebentar lagi kamu mau ketemu calon mantan suamimu di penjara," ucap Evan pada Maura.


Alya tercekat mendengar ucapan Evan. Apa maksudnya calon mantan suami? Apa artinya Bara sudah setuju untuk bercerai?


"Aku mau melihat Ghea," jawab Maura sambil melangkah pergi dari sana.


Alya dan Maura berada didepan kamar Ghea yang pintunya tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Maura menggedor-gedor pintu kamar itu dan memanggil nama adik iparnya selama beberapa kali. "Ghea! Buka pintunya, Ghea...kalau kamu gak buka, aku akan--"


Dia gak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak kan?. Kening Maura berkerut..


Terlihat wajah Alya yang cemas karena pintu itu tak kunjung terbuka sejak tadi malam. "Ghea...buka pintunya nak," pinta Alya sambil mengetuk ngetuk pintu kamar anaknya.


Tidak kunjung ada jawaban dari Ghea, akhirnya Maura mengambil kunci cadangan kamar itu dari Bi Iyam. Dia membuka pintu kamar itu dan alangkah kagetnya dia begitu melihat Ghea hendak menelan sesuatu ke dalam mulutnya.


"Astagfirullah! Ghea!" Alya menghampiri Ghea dengan panik.


Maura juga melakukan hal yang sama, dia langsung membuang sesuatu berbahaya yang akan di minum oleh Ghea. Hingga cairan hijau itu tumpah ke lantai.

__ADS_1


"Apa kamu sudah GILA?!" Teriak Maura yang lalu tangannya melayang menampar Ghea cukup keras.


...*****...


__ADS_2