
...🍁🍁🍁...
["Ya, kamu cepatlah tidur. Ini sudah malam, nanti kamu telat bangun" ] ucap Bara dengan suara lembut pada Maura mengingatkannya untuk segera tidur.
Berdebar! Itulah perasaan Maura saat ini, mendengar suara lembut Bara yang sudah lama tidak dia dengar. Suara yang membuat dirinya terjebak dalam cinta palsu Bara.
Tidak Maura...kamu tidak boleh berdebar lagi. Ingat apa yang sudah dia lakukan padamu. Maura melihat tangannya yang pernah terkena sundutan rokok dari Bara dan telapak tangannya yang melepuh karena terbakar setrika.
["Maura? Apa kamu masih ada disana?"] Bara cemas karena tidak mendengar suara Maura menjawabnya.
"Kamu tidak usah sok peduli padaku. Aku tidak akan termakan lagi ucapan manismu, Bara."
["Aku tau kamu pasti akan bicara begitu. Tidak apa, nanti aku akan tunjukkan sikap manis bukan ucapan manis padamu. Maura...aku tau maaf saja tidak cukup, tapi aku benar-benar mencintaimu,"]
Tidak sanggup mendengar kata-kata Bara lagi padanya, dia langsung menutup telpon begitu saja. Maura merebahkan tubuhnya diatas ranjang, bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya. "Ayolah Maura, kenapa kamu menangis? Apa yang sebenarnya kamu tangisi? Bukankah harusnya bahagia karena kamu akan berpisah dengan suamimu yang brengsek itu? Lalu kenapa kamu menangis? Ayo hentikan....jangan menangis, jangan."
Tiba-tiba saja dia beranjak bangun, dihapusnya air mata itu dengan kedua tangannya. Maura mendekati laci lemarinya, dia membuka laci itu dan disana ada banyak surat juga barang-barang. Seperti gelang, kalung dan dalam sebuah kotak entah apa isinya .
Maura menatap barang-barang itu dengan tajam. "Aku harus buang semua ini," gumamnya. Maura menyimpan barang-barang itu dan dia masukkan semuanya ke dalam kotak besar. Setelah selesai berbenah, Maura berdiri dan membawa kotak itu entah mau dibawa kemana.
Tak sengaja kaki Maura tersandung karpet dan membuat tubuhnya agak oleng ke depan. Kotak yang dia bawa juga jatuh ke lantai dan yang ada didalamnya ikut berserakan. Maura jongkok untuk membereskan barang-barang itu, namun hatinya terhenyak melihat foto-foto yang berserakan di lantai.
Foto-foto Bara dan dirinya saat masih berkuliah dulu di luar negri, masih banyak lagi foto romantis mereka disana. Memperlihatkan bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia.
Maura mengambil selembar foto itu, terlihat dirinya dan Bara sedang tersenyum bahagia. Disana Bara memakai baju putih dan dia mengenakan rambut palsu yang panjang sambil membawakan kue ulang tahun untuk Maura. Lagi-lagi mata itu berlinang air mata, sakit hatinya melihat kenangan tentang cinta palsu Bara. Ya, empat tahun menjalin hubungan bukan hal mudah untuk melupakan perasaan yang sudah tertanam di dalam hati.
"Kenapa Bara? Kenapa kamu menghancurkan semuanya...hiks.." tumpah lagi air mata Maura karena pria brengsek yang telah pura-pura mencintainya selama empat tahun itu.
Salah satu kenangan terlintas di pikirannya saat melihat foto tersebut.
__ADS_1
#Flashback
Malam itu, Maura pulang dari kampusnya dan pergi ke asrama. Dulu Maura tinggal di asrama pada saat dia masih bersekolah di luar negeri, karena dia tidak suka tinggal sendirian dan kesepian. Saat itu Maura adalah mahasiswa tingkat 5.
"Kenapa sih Bara tidak ada menelponku? Apa dia sesibuk itu sampai tidak sempat menghubungiku? Pesanku juga tidak dibalasnya! Huh, punya pacar kok nyebelin banget." gerutu Maura sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia menyimpan ponselnya di atas meja yang tak jauh dari ranjangnya.
Maura tiba-tiba terbangun ketika dia mendengar suara aneh dari jendela kamarnya. "Kenapa seperti ada yang mengetuk kaca?" Maura menelan salivanya, dia memang cukup penakut untuk hal-hal yang berhubungan dengan hantu. Bahkan dia suka takut ke kamar mandi kalau habis menonton film hantu bersama Bara. Demi Bara dia rela menonton film yang tidak disukainya itu.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan di jendela itu semakin keras, Maura bergidik ngeri mendengarnya. Dia tidak berani beranjak dari tempat tidurnya dan memilih untuk menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Hiyy..."gumam gadis itu meringkuk ketakutan di dalam selimutnya.
Tanpa dia sadari ada seseorang berbaju putih dan berambut panjang, berdiri tepat disampingnya. Maura gemetar saat merasakan kehadirannya.
Siapa itu? Hah! Mengapa seperti ada tangan yang menyentuhku?
Maura masih punya kekuatan refleks akibat rasa takutnya, dia berlari ke arah pintu dan keluar dari kamarnya. Lampu lorong itu berkedip-kedip, membuat suasana semakin horor untuk Maura. Belum lagi si hantu itu terus mendekatinya dan masih ada banyak hantu yang mendekatinya.
Maura berlari ketakutan tanpa alas kaki, nafasnya terengah-engah. kemudian dia terkejut melihat ada cahaya lilin di depannya tepat didalam kegelapan. Maura terdiam melihatnya, dia berhenti berlari karena merasa ada yang aneh dengan suasana itu.
"Happy birthday to you...happy birthday to you... saengil cukha hamidha.. saengil cukha hamidha.."
Maura melihat didepannya kini banyak orang berpakaian hantu dan ada sosok rambut panjang yang mengganggunya di kamar. Dia membawa kue ulang tahun, sambil mendekat ke arah Maura dan bernyanyi selamat ulang tahun.
Maura terpana saat melihat sosok rambut panjang itu dibawah cahaya lilin. "Selamat ulang tahun sayang,"
Dia adalah pria yang bisa membuat hati Maura bergetar, dia adalah kekasihnya Bara Rahadian. Pria itu tersenyum lembut, dibalik wajahnya yang dihiasi seperti hantu. Disana juga tidak hanya ada dirinya dan sang kekasih, tapi juga teman-temannya di asrama yang berpakaian hantu.
__ADS_1
"Happy birthday Maura!!" Seru semua orang disana memberikan selamat pada Maura.
Maura pun menangis terharu dengan kejutan yang benar-benar membuatnya terkejut itu. Belum lagi pada Bara, yang ternyata dalang dibaliknya kejutan hantu itu.
"Oh, jadi kamu dalangnya? Berani banget ya kamu buat aku ketakutan? Dasar... benar-benar deh." Maura memukul mukul tubuh Bara yang masih memakai pakaian hantu dan rambut palsunya itu.
"Memang...kan namanya juga terkejut. Kalau gak buat terkejut gak asik dong," tangan Bara menyeka keringat di wajah Maura, dia tersenyum dan Maura menatap wajah kekasihnya itu.
"Kamu ini ya,"
"Ayo sayang, make a wish dulu." Bara menyodorkan kue ulang tahun yang dihiasi lilin menyala.
Gadis itu tersenyum, dia menutup matanya dan mengucapkan permohonan didalam hatinya. "Aku harap, aku dan Bara bisa bersama selamanya, aku harap ayah dan semua keluargaku bahagia. Aamiin."
Kemudian gadis itu meniup lilinnya, dia tersenyum bahagia dan memeluk Bara. "Makasih sayang,"
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Bara sambil mengecup kening Maura dengan mesra. Dia menghadiahkan kekasihnya sebuah gelang emas karena dia tak mampu membelikan Maura gelang berlian.
Dengan hadiah itu saja, Maura sudah sangat bahagia.
Teman-teman Maura mengambil potret kemesraan mereka berdua. Hari ulang tahun adalah ulang tahun yang tak bisa Maura lupakan.
#End flashback.
"Semuanya sudah kamu hancurkan Bara, semua sampah ini! Perasaan kamu, aku juga akan menghancurkannya," Maura menyeka air matanya, dia yang tadinya ingin menyimpan barang kenangan itu, akhirnya memilih untuk membakarnya saja daripada menyimpan di gudang.
Evan yang baru saja melihat keadaan Samuel, melihat Maura keluar malam-malam sambil membawa kotak ditangannya. "Maura...kamu mau kemana?"
Wanita itu tidak mendengar apa kata Evan, dia terus berjalan menuruni tangga. "Mau kemana dia?"
__ADS_1
...*****...