Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 105. Rumah sendiri


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Claea menunjukkan kamar Bryan yang sudah di tata ulang serapi mungkin. Untuk menjadi kamar Bryan dan istrinya. Seprai dan dekorasi juga di ubah.


Maura terpana melihat dekorasi di kamar itu. Sampai mulutnya menganga. "Haaahh??"


"Kenapa sayang? Kamu--gak suka ya dekorasi kamarnya?" Tanya Clara melihat raut wajah Maura yang kaget itu.


"Hem..." Atensi wanita itu menatap ke sekelilingnya, memperhatikan setiap sudut ruangan itu.


Gimana bisa dekorasi kamar ini sama seperti kamarku di rumah? Warnanya juga ungu.


"Bry, kamu gimana sih? Mama sudah suruh pak Farhan untuk mendekorasinya sesuai saran kamu," ucap Clara sambil melirik ke arah putranya.


"Tapi...Maura--"


Kenapa ya Maura diem terus? Apa dia gak suka? Bukankah kamar ini persis seperti kamarnya? Masa dia gak suka?


"Sayang, kamu gak suka dekorasi kamarnya?" Clara bertanya sekali lagi pada Maura.


"Aku...suka Ma, suka banget!" Maura tersenyum, dia menatap ibu mertuanya dengan bahagia.


"Lalu kenapa kamu kayak kaget gitu?!"


"Dekorasinya mirip kamarku, Ma.Makanya aku bingung, rasanya kayak datang ke kamarku sendiri." Tutur wanita itu sambil tersenyum.


"Tuh kan Ma, apa Bryan bilang? Maura bakalan suka!" Bryan melirik ke arah mamahnya sembari tersenyum.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu suka sayang....ini Bryan yang bilang sama mama, supaya mendekorasi kamar ini ya begini. Katanya biar kamu betah tinggal di sini," Clara tersenyum senang, mendengar bahwa Maura sangat menyukai kamar itu. Kamar yang sudah didekorasi oleh Farhan.


"Tanpa Bryan melakukan semua ini pun, aku pasti bakalan betah tinggal di rumah ini... apalagi kalau ada Mama dan suamiku."


"Makasih sayang," ucap Clara. "Anggap saja rumah ini, seperti rumahmu sendiri..ets salah, ini memang rumah kamu."


"Makasih ya Ma, Mama sudah menerima Maura sebagai menantu Mama. Padahal Maura memiliki banyak kekurangan," ucap Maura dengan kepala tertunduk di depan wanita paruh baya itu.


Clara kedua tangan menantunya, ditatapnya wanita cantik itu dengan penuh kasih sayang. "Sayang, kenapa kamu bilang begitu? Kamu itu sempurna sayang, karena kamu berhasil meluluhkan hati Bryan." Clara memegang dagu Maura. "Jangan merasa kamu memiliki banyak kekurangan, setiap manusia memiliki banyak kekurangan sayang. Tapi kamu memiliki lebih banyak kelebihan," ucapnya lagi sambil tersenyum ramah.


Maura merasa bersyukur, mertuanya itu tidak seperti mertua mertua yang ada di film-film. Mertuanya sangat baik dan menghargainya, meski statusnya adalah seorang janda. Maura merasa sangat beruntung, bisa mendapatkan cinta dari suami dan ibu mertuanya sampai seperti ini.


"Ya udah, kalian istirahat dulu ya...kalian pasti capek. Nanti jam makan siang, kalian turun ke bawah ya?" Clara mempersilahkan anak dan menantunya untuk beristirahat terlebih dahulu, karena mereka baru saja sampai di rumah itu.


Bryan dan Maura mengangguk, lalu melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kamar itu. Maura masuk lebih dulu, ia masih mendesah tak percaya bahwa kamar itu benar-benar mirip dengan kamarnya yang berada di rumah.


BRAK!


Pintu kamar itu ditutup rapat oleh Bryan, bahkan sampai di kunci. "By, kenapa kamu kunci pintunya?" Tanya Maura sambil tersenyum.


Tanpa menjawab, Bryan langsung menghampiri istrinya sambil tersenyum. Lalu dia mengangkat tubuh istrinya ke atas. Tangan Bryan memegang pinggulnya, dia mendongak menatap ke arah Maura.

__ADS_1


"Akhh!! By!!" Maura terkejut bukan main, bahkan kedua matanya seperti mau lepas.


"Ssstt....jangan berisik my girl, nanti kedengaran Mama."


"Em...emang kamu mau ngapain?"


"Bukan kamu, tapi kita..." suara bariton rendah khas Bryan terdengar begitu seksi telinganya.


"Ki--ta? Mau ngapain?"


"Kita terusin yang tadi malam, sayang. Mumpung libur,"


"By, kamu--kita udah berapa kali semalam--akhhpp!!"


Maura terkesiap, ketika bibir Bryan melahapnya dengan rakus. Ia memberikan ciuman intens, liat dan menuntut pada istrinya. Maura mengalungkan kedua tangannya di leher Bryan, membalas pagutan bibir pria itu.


"By..." lirihnya lembut.


"little girl, one more okay?" Bujuk Bryan pada Maura.


"Sekali saja ya, aku lelah...aku mau tidur lagi setelahnya, gak apa-apa kan?" Wanita itu bernegosiasi dengan suaminya. Ia masih lelah dengan ritual semalam, tapi ia juga tak bisa menolak kewajibannya sebagai seorang istri.


"Oke, janji deh..sekali saja..."


Kemudian Bryan menanggalkan pakaiannya, begitu pula dengan Maura. Mereka yang sudah tanpa sehelai benang, melakukan aktivitas mereka di atas ranjang. Bryan yang melakukan banyak pergerakan, ia kasihan pada istrinya yang sudah memberikan servis hampir semalaman. Tidak lama, kegiatan itu hanya berlangsung selama 15 menit saja.


"Haaahh....haahhh...sudah cukup ya By?" Maura memohon ampun pada suaminya untuk menghentikan ritual intim mereka. Tubuhnya sudah berkeringat.


"Oke sayang, thanks for servis day...honey. Kamu bobo lagi aja ya?"


"Tapi mama..." Maura teringat dengan mertuanya. Dia adalah menantu baru di keluarga itu, ia takut dikira bermalas-malasan dengan tidur di kamar.


"Gak apa-apa, mama pasti paham. Bobo aja sayang," ucap Bryan lembut.


~Chu


Bryan mencium kening istrinya, tak lupa ia terima kasih atas penghargaannya telah memberikan kenikmatan penyatuan. Setelah itu Bryan meninggalkan istrinya yang tertidur pulas dan lelah.


Pria itu pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket. Padahal tadinya dia ingin mengajak Maura untuk mandi bersama, namun ia kasihan dan tak tega melihat istrinya yang kelelahan.


Usai mandi dan berpakaian, Bryan melihat istri cantiknya itu masih tertidur. "I love you so much, sayang..."


CEKLET!


Bryan keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, takut akan bangunkan istrinya yang sedang tidur. Bahkan menutup pintu saja dia lakukan dengan pelan.


"Tuan muda..." ucap Farhan yang sudah berada di depan kamar itu.


"Ssst...jangan berisik pak Farhan, istriku lagi tidur." ucap pria itu sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.

__ADS_1


Farhan tersenyum.


Tuan Bryan benar-benar berubah ketika Bu Maura hadir di dalam hidupnya. Dia banyak tersenyum dan tidak dingin seperti dulu.


"Iya tuan muda, saya tidak akan berisik." Farhan berbisik.


"Ada apa pak Farhan kesini?"


"Saya diperintahkan oleh nyonya besar untuk mengajak tuan muda dan nona Maura makan siang bersama." Jelasnya pada Bryan.


"Oke, aku kebawah."


Tibalah Bryan dan Farhan di lantai bawah, terlihat Clara sudah menyiapkan banyak makanan di atas meja untuk anak dan menantunya. Tak lupa untuk Bara juga, yang katanya akan makan siang di rumah.


"Eh Bryan? Kamu udah turun? Mana menantu mama?" Clara langsung menanyakan keberadaan menantunya yang tak ada di sana.


"Maura lagi istirahat, Ma. Makan siangnya nanti aja aku antar ke atas,"


"Lagi istirahat? Emang kalian habis ngapain?" Tanya Clara dengan mata polosnya menatap Bryan.


"Nyonya...nyonya Ya nggak tau aja deh gimana pengantin baru." ucap Farhan setengah berbisik.


Clara langsung tercekat dengan mata membulat menatap ke arah putranya. "Bryan, kamu jangan sering-sering menyiksa istrimu... ckckck..." Clara kasihan kepada tubuh mungilnya, bila dia harus terus melayani suaminya yang berbadan kekar itu.


Tapi sebenarnya bagus juga sih, kalau Maura dan Bryan rajin itu...aku bisa cepat-cepat momong cucu.


"Iya Ma, Udah ah jangan ngomongin itu lagi. Makanya aku suruh Maura istirahat dulu, dia pasti capek." Bryan duduk di meja makan, ia melihat makanan tersaji didepannya. Sebagian dari makanan yang tersaji di sana adalah makanan kesukaan Maura. "Makasih ya ma, mama udah siapin makanan kesukaan Maura."


"Untuk anak mama, apa sih yang nggak? Maura sama kayak kamu, sama-sama anak mama." Clara tersenyum gemas melihat Bryan.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumsalam, Kenzo." jawab Clara menyambut kedatangan putranya.


"Waalaikumsalam," Bryan juga menjawab salam dari Bara dengan ramah.


"Ayo sayang, sini...kita makan siang bareng ya."


Bara duduk disamping Bryan, ia membalikkan piring yang tertutup itu.


Ya Allah, aku tidak menyangka bahwa kedua anakku bisa duduk bersamaku. Mereka berdua sudah dewasa. Aku tidak menyangka Kenzo bisa kembali ke dalam rumah ini. Frans.. suamiku, seandainya kamu masih berada di sini...kamu pasti bahagia melihat kedua anak kita.


Ketika akan makan bersama, terdengar suara langkah kaki yang lambat berjalan menuruni tangga. Perhatian ketiga orang yang duduk di meja makan itu langsung tertuju pada sosok Maura yang memegang punggungnya.


"Little girl? Kok kamu udah bangun?" Bryan langsung beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Maura.


Bara melihat perhatian Bryan pada Maura. Lalu dia mulai berandai-andai, bahwa dirinya yang berada disisi Maura. Mungkin penyesalan di dalam hatinya karena Bara memperlakukan Maura dengan kejam, dan ada pria lain yang memperlakukan Maura dengan sangat baik.


'Astaga, apa yang kamu pikirkan Bara? Ayo move on!'

__ADS_1


...****...


__ADS_2