Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 104. Permohonan maaf


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"By..." Maura emangnya suaminya yang tak kunjung memberikan izin kepada pria paruh baya itu untuk masuk.


"Masuklah pak, mari kita bicara di dalam!" ucap Bryan dingin.


"Makasih ya Bryan," pria itu menghela nafas lega.


Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar hotel tempat Bryan dan Maura menginap. Maura bertanya-tanya dalam hati siapa pria paruh baya yang terlihat seperti bule itu dan mengapa Bryan memperlakukannya dengan dingin.


Keduanya sudah duduk berhadapan, di sofa yang ada di sana. Dengan teh yang tersaji didepan meja, teh itu dipesan Maura pada staf hotel. "By...kalau gitu aku keluar dulu ya."


"Gak sayang, kamu disini aja." Bryan memegang tangan Maura, memintanya untuk tinggal di sana. Itu karena dia tak mau menyembunyikan apapun dari istrinya.


Maura pun patuh, dia duduk disamping suaminya. Pria itu menatap lekat ke arah Maura, atensinya tertuju pada leher Maura yang di perban dan tangannya yang memar.


"Bapak mau bicara apa?" Tanya Bryan cuek.


Brugh!


Tiba-tiba saja pria paruh baya itu berlutut di depan Maura dan Bryan. Pasangan pengantin baru itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya.


"Bryan dan istrinya Bryan, saya mohon maafkan kesalahan Stella! Saya mohon pada kalian, agar memberikan Stella kesempatan.... Stella masih muda dan masa depannya masih panjang."


Stella? Kenapa bapak ini membahas Stella?


"Pak...bapak kenapa begini? Ayo bangun pak!" Ujar Maura seraya membantu pria itu untuk berdiri.


Sementara Bryan hanya diam saja. Dia menatap pria itu dengan kening berkerut, Maura semakin tak paham mengapa Bryan begitu.


Pria itu adalah profesor Gilbert, dia adalah ayah Stella. Sekaligus dosen Bryan waktu kuliah dulu. Dosen yang juga adalah tetangga dekat Bryan dan mamanya waktu tinggal di luar negeri.

__ADS_1


"Pak, saya tidak bisa mentolerir lagi kesalahan Stella!"


"Bahkan jika saya memohon sama kamu? Kamu tidak akan memaafkan Stella?" Gilbert memohon kepada Bryan untuk memaafkan anaknya.


"Pak, Stella...dia sudah sering melakukan ini pada saya dan kali ini... dia melukai wanita yang saya cintai. Saya tidak masalah, jika saya yang terluka. Tapi tidak dengan orang-orang yang saya cintai. Lebih baik bapak berpikir bijak saja. Lebih baik di penjara atau...berada di rumah sakit jiwa!"


"Bryan! Kamu tega sekali, apa kamu lupa? Saya adalah dosen kamu?! Saya juga tetangga dekat kamu! Hah...padahal istri kamu juga gak kenapa-napa tuh, kenapa kamu begitu kejam pada Stella?" Gilbert tak terima anaknya dihukum oleh Bryan, padahal ia melihat Naura baik-baik saja. Tidak terluka parah.


Mendengar ucapan Gilbert tentang Maura, membuat Bryan naik pitam. Ia melotot ke arah pria paruh baya itu dengan marah, "Apa yang bapak katakan? Istri saya gak kenapa-napa? Terus harus kenapa-napa dulu...biar saya bisa laporin Stella? Hah!" Bryan berteriak emosi.


"By...udah... teriak-teriak sama orang tua!" Maura memegang tangan suaminya. Seraya menahan emosi suaminya yang memuncak.


Aku lupa...aku lupa ada Maura disini. Bryan melirik ke arah istrinya yang panik itu.


"Sudahlah Bryan, selesaikan saja semuanya dengan jalan kekeluargaan..."


Bryan mengambil nafas dalam-dalam, dia mencoba mengendalikan emosinya. "Maaf pak Gilbert, saya menghormati Bapak sebagai dosen saya dan juga tetangga baik..Tapi urusan ini adalah urusan yang berbeda Pak, saya melakukan ini juga demi kebaikan Stella. Jika dia berada di dalam rumah sakit jiwa , dia akan ditangani dan mungkin akan sembuh."


Kali ini Bryan bicara tidak memakai emosi, tapi Gilbert sudah termakan oleh emosi. Dia tetap tidak terima anaknya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Baginya, Stella melakukan ini karena dia sangat mencintai Bryan.


Setelah Gilbert pergi tanpa mendapatkan maaf dari Bryan. Maura berusaha menjadi penyejuk di kala suaminya sedang marah.


"By, apa sebaiknya kita memaafkan saja dia? Kasihan orang tuanya,"


"Sayang? Apa kamu gak salah? Kamu kasihan sama orang tuanya? Dia... udah menyepelekan nyawa kamu! Dan dia juga tidak merasa bersalah atas kesalahan anaknya, dia selalu menganggap kesalahan anaknya adalah hal yang biasa! Dulu juga kayak gitu. Gak... pokoknya aku melarang tugas kamu untuk memaafkannya, Stella tetap harus berada di rumah sakit jiwa atau kantor polisi, pokoknya terserah. Asalkan jauh-jauh dari kita!" Ujarnya tegas.


"Haaahh...tapi By," Maura mendesah pelan.


"Little girl, kamu jangan terlalu lembut sama orang. Pria itu nggak sebaik kelihatannya," ucap Bryan sambil memegang tangan Maura.


"Tapi aku kasihan padanya By,"

__ADS_1


"Udah ah, jangan bahas dia lagi! Pokoknya, kamu nurut aja sama aku... ini kan demi kebaikan kamu juga." Bryan membelai rambut panjang sang istri, lalu memberikan kecupan di keningnya.


"Ya udah deh,"


Aku terharu banget, ternyata Bryan sangat mencintai aku. Kenapa aku tidak menerimanya dari dulu ya?


*****


Rumah Xander.


Setibanya di sana, mereka langsung disambut oleh Farhan dan beberapa pelayan di sana. Tak lupa Clara dan Bara juga menyambut pasangan pengantin baru itu. Ketika itu Bara akan berangkat bekerja.


"Loh? Kok kalian udah pulang aja sih? Kenapa nggak diem dulu di hotel?"


"Istriku udah gak betah di sana, Ma. Jadi ya udah deh kita pulang aja."


Clara tersenyum melihat wajah anak dan menantunya Itu tampak bercahaya. Wajah pengantin baru yang baru saja mengalami malam pertama terindah, tentu saja bercahaya.


Lain halnya dengan Clara yang senang, Bara melihat mereka dengan tatapan yang berbeda. Apalagi saat ia melihat ada beberapa kiss Mark di leher Maura. Masih ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya.


"Oh ya Ma, Bara berangkat kerja dulu ya!" Kata Bara sambil mencium tangan mamanya seraya berpamitan. "Oh ya kak, kakak ipar...aku duluan ya."


Kakak ipar.


Ya, sekarang mantan istrinya telah resmi menjadi kakak iparnya. Aneh tapi nyata, memang itulah faktanya. Hanya Bara saja yang merasakan perasaan tidak nyaman. Tapi Maura tidak merasakannya sama sekali, terlihat dari dirinya yang biasa saja saat berhadapan dengan Bara.


Come on, Bara...harus bisa move on..


"Ya udah hati-hati kamu di jalan," kata Bryan pada Bara adiknya.


Setelah pembicaraan mereka tempo hari, yang mengatakan bahwa Bara menyerah untuk mendapatkan Maura. Membuat Bryan memberikan perhatiannya kepada Bara, dia juga berjanji tidak akan memusuhi adiknya.

__ADS_1


Kemudian, setelah itu Maura dan Bryan menaiki tangga ke kamar yang akan mereka tempati.


...****...


__ADS_2