Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 19. Jangan bersikap polos


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bara menatap pria yang membawa istrinya dengan tatapan membara. Dia berada di kursi belakang dan Nathan yang menyetir.


"Nathan, siapa pria itu?" Tanya Bara pada Nathan sambil mengepalkan tangannya dengan geram.


"Saya tidak tau pak." jawab Nathan yakin bahwa dia sama sekali tidak tahu menahu tentang


"Kamu kan sudah lama kenal dengannya dibandingkan aku, kamu pasti tau kan siapa laki-laki itu!" teriak Bara yang tiba-tiba saja emosi.


"Saya tidak tahu, baru pertama kali saya melihatnya. Selama ini saya tidak pernah melihat ada pria yang dekat dengan non Maura, hanya bapak saja yang dekat dengannya." ucap Nathan menjelaskan apa yang dia tau tentang Maura. Dia sudah bekerja cukup lama sebagai bawahan Samuel dan tau Maura dari SMP.


"Ya kan? Hanya aku saja kan? Lalu kenapa dia bisa bersama dengan pria lain? Apa jangan-jangan dia...." Bara tiba-tiba saja tersentak kaget, ketika dia teringat sesuatu.


#Flashback


2 Minggu yang lalu, Bara melihat Maura sedang beres-beres di kamarnya. "Apa kamu sudah beres-beres?" tanya Bara pada Maura.


Maura menoleh ke arah Bara. "Kebetulan kamu sudah pulang, aku akan berikan ini padamu." ucap Maura sambil tersenyum tipis. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. Terlihat sebuah amplop coklat, dia langsung memberikan amplop itu pada Bara.


"Apa ini?"


"Jumlahnya 12 juta, anggap saja aku sedang menyicil membayar hutangku, walau yang aku pakai adalah uang ayahku yang kamu curi." kata Maura sarkas.


"Darimana kamu punya uang sebanyak ini?" Tanya Bara pada istrinya itu terheran-heran. Bara tidak pernah menggajinya selama Maura bekerja menjadi pembantu di rumah itu. Gaji Maura di perusahaan juga belum cair, karena pada saat ini masih tengah bulan.


"Darimana uang itu bukan urusanmu, yang penting aku bayar hutangku." Maura tersenyum sinis dan menolak menjelaskan darimana dia dapat uangnya.


"Apa jangan-jangan kamu melayani pria hidung belang?" Bara menganggu Maura dengan ucapan pedasnya.


"Kalau aku melayani pria lain, juga bukan urusanmu kan? Yang penting aku bayar!" kata Maura sambil merapikan bantal.

__ADS_1


Hah! Mana berani Maura berdekatan dengan pria lain, dia kan hanya mencintaiku saja. Dia hanya bercanda mengatakan ini untuk menarik perhatianku. Batin Bara percaya diri.


Bara tiba-tiba saja menarik tangan Maura, hingga tubuh gadis itu berada diatas tubuh Bara. "Kenapa kamu tidak melayaniku saja? Satu malam aku bisa memberimu puluhan juta..."


Maura menepis tangan Bara. "Bermain dengan pria lain lebih baik daripada bermain dengan b*jing*n sepertimu." kata Maura marah.


#EndFlashback


"Jangan-jangan dia... beneran melayani pria hidung belang." Gumam Bara kesal sendiri membayangkan hal itu. "Nathan, ikuti mobil itu!! CEPAT!" teriak Bara terburu-buru.


"Ah...iya baiklah pak." kata Nathan sambil membelokkan kembali mobil ke arah yang berlawanan dengan arah pulang.


Bara dan Nathan ketinggalan cukup jauh ketika mereka mengikuti kemana Maura pergi bersama Bryan.


Bryan mengajak Maura ke sebuah hotel mewah. "Ayo turun..." ucap Bryan pada Maura yang masih bengong saja.


"Katanya bapak mau bicara dengan saya, tapi kenapa bapak bawa saya kesini. Bapak mau apa?" tanya Maura berhati-hati, sambil melihat hotel mewah didepannya itu.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi aku kemari untuk makan malam saja." ucap Bryan menjelaskan.


"Kenapa ya? Karena aku ingin disini saja dan katanya makanan disini sangat enak." kata Bryan sambil tersenyum tipis.


Maura dan Bryan berjalan masuk ke dalam hotel itu untuk makan malam, mereka disambut ramah oleh pegawai disana. Bahkan Bryan dipersilahkan masuk begitu saja tanpa harus ditanya-tanya terlebih dahulu seperti pengunjung hotel lainnya.


Tak lama setelah Maura dan Bryan masuk ke dalam hotel, Bara dan Nathan juga sampai didepan sana.


Hotel Xander.


Bara langsung berlari menuju ke dalam hotel, dia terlihat marah melihat Maura masuk ke dalam hotel itu bersama dengan seorang pria.


"Maaf pak, anda tidak bisa masuk sebelum menunjukkan kartu identitas keanggotaan dan reservasi kamar terlebih dahulu." kata seorang pegawai pada Bara, dia menghalangi Bara dan Nathan untuk masuk ke dalam hotel.

__ADS_1


Bara tercengang. "Apa? Jadi aku harus membuat reservasi kamar dulu untuk masuk ke dalam?" tanya Bara dengan mata menyala dan berapi-api, dia berpikir yang bukan-bukan.


Sialan kamu Maura! Beraninya kamu berselingkuh dariku, dasar wanita j*l*Ng!


******


Di restoran yang ada di dalam hotel itu, Maura terlihat bingung karena tiba-tiba dia diajak kesana. Bingung karena dia mengira harus membayar biaya makan yang mahal. Maura bahkan memesan makanan yang paling mulai, satu porsi 250 ribu.


"Pak, apa saya ada salah sama bapak? Mengapa bapak membawa saya ke tempat mahal seperti ini?" Maura terlihat sedih melihat makanan yang tersaji didepan matanya itu.


"Sejujurnya aku tidak tenang karena kamu sudah berbohong dan bisa bersikap polos seperti ini." kata Bryan dengan tatapan mata tajam pada Maura.


"Maksud bapak apa ya?" Maura tidak mengerti.


"Kamu sudah menikah tapi beraninya menggoda pria lain, bersikap polos dan bodoh seolah-olah kamu masih lajang. Tapi anehnya aku terus memikirkanmu, kamu berhasil memikat ku." Bryan mengutarakan isi hatinya pada Maura.


Wanita ini pasti mendekati ku karena uang, wanita memang sama saja.


"Pak...apa maksud ucapan bapak ini?" tanya Maura dan suara meninggi.


Apa maksudnya aku pura-pura polos?


"Berapa yang kamu butuhkan, akan aku bayar? Puluhan juta? Ratusan juta? Milyaran? Asal kamu pergi dari pikiranku." kata Bryan sinis.


Maura mengertakan giginya, dia pun menyiramkan segelas air putih pada wajah Bryan. "Kamu!" Bryan terperanjat ketika wajahnya disiram dan akhirnya basah.


"Jaga ucapan anda pak Bryan, apa anda sudah gila? Anda mengira saya wanita macam apa?!" teriak Maura marah pada Bryan. Matanya berkaca-kaca menatap Bryan. "Saya pikir anda berbeda dari pria lainnya, tapi anda juga memandang rendah saya. Saya memang sudah menikah, tapi saya tidak pernah berbohong tentang status pernikahan saya... bapak saja yang tidak tanya." ucap Maura sakit hati.


Maura mengambil tasnya, kini api di hatinya membesar dan kepalanya seperti terbakar amarah. Bryan sendiri sedang membersihkan dirinya, "Sial! Aku sangat keterlaluan padanya...aku harus meminta maaf."


Bryan menyusul Maura ke depan hotel itu, namun yang dia lihat adalah pemandangan tidak menyenangkan. Seorang pria baru saja menampar Maura dan menyeretnya masuk ke dalam mobil dengan paksa.

__ADS_1


"Apa-apaan pria itu?!" Bryan terperangah melihat pria yang ringan tangan itu.


...*****...


__ADS_2