Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 65. Pria tak tahu malu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Pria berpakaian satpam itu adalah Bara, dia menghancurkan suasana antara Maura dan Bryan. Membuat pegangan tangan itu terlepas dan keduanya melihat ke arah Bara.


Maura dan Bryan terpana melihat Bara berpakaian satpam, sama seperti mang Udin satpam di rumah itu. Bara membuka gerbang rumah, lalu melihat ke arah dua orang itu.


Bryan melotot, alisnya terangkat melihat Bara seolah pria itu adalah ancaman. Ya, ancaman apa yang lebih besar daripada 'mantan'. Seseorang yang pernah memberikan kenangan indah dan kenangan pahit, mantan alias Bara adalah orang yang pernah berada didalam hati seorang Maura. Tentu saja ini ancaman bagi Bryan yang masih terbilang sebagai orang baru di dalam hidup Maura.


Kenapa dia ada disini? Tidak ada kabar selama satu Minggu, kupikir dia akan pergi terhempas jauh...tapi kenapa dia ada disini?


"Kamu--" Mata Maura melebar melihat Bara berpakaian satpam itu.


Kenapa dia ada disini dan memakai pakaian mang Udin?. Maura melihat name tag Udin yang ada di baju Bara.


"Selamat malam pak Bryan, sepertinya anda terlalu malam mengantar non Maura pulang." kata Bara dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Sepertinya itu bukan urusan kamu," ucap Bryan dengan tatapan tajam mengarah pada Maura.


"Tentu saja ini urusan saya karena saya peduli pada nona saya," Bara tersenyum santai, dia senang melihat Bryan yang marah.


"Apa? Nona?" Bryan terperangah.


Apa yang dia rencanakan?


"Stop! Pak, lebih baik anda pulang karena ini sudah malam."


Maura meminta Bryan untuk pergi dari sana karena dia akan menyelesaikan masalah Bara yang tiba-tiba saja ada di rumahnya dan menjadi satpam.


"Tapi...dia--" Bryan meragu, dia masih ingin berada di sana karena dia ingin tahu apa yang dilakukan mantan suami Maura itu.


"Pak, saya mohon...kita bicara lagi nanti ya." pinta Maura pada Bryan.


Bara memerhatikan tatapan Maura pada Bryan, dia menelan ludah dan sangat tidak nyaman. Tatapan Maura menyiratkan bahwa dia ada rasa pada Bryan.


Aku ingin sekali berada di sini dan melarang pria itu untuk mendekatinya. Tapi siapa aku? Aku belum ada hubungan apapun dengan Maura.


Bryan mengepal kuat tangannya, lalu dia pun mendesah. "Baiklah, aku akan pulang."


"Hati-hati di jalan pak," ucap Maura sambil tersenyum.


Pria itu menegang tangan Maura lalu mencium punggung tangannya, membuat Bara terbelalak terbakar api yang bernama cemburu. "Aku pamit ya,"

__ADS_1


"Ya pak,"


"Besok kamu harus penuhi janjimu."


"Besok? Janji apa?" tanya Maura dengan kening berkerut.


"Mengenalkan masakan Nusantara padaku," ucap Bryan sambil tersenyum, menyunggingkan bibir seksinya.


Bibir Maura membulat, "Oh...yang itu, tentu saja, saya tidak lupa."


"Bagus, besok kita bertemu di kantormu ya? Aku jemput." Ajak Bryan.


"Oke," Maura setuju.


Maura tidak menolak ajakanku, dia sepertinya sudah mulai membuka hati untukku. Bryan senang Maura tidak menolak ajakannya.


Sial, aku seperti nyamuk disini!. Pekik Bara didalam hati, ketika dua orang itu bertatapan dan saling bicara, dia hanya diam saja disana.


Setelah Bryan pergi dari sana, raut wajah Maura yang lembut langsung berubah menjadi dingin saat berhadapan dengan Bara, mantan suaminya.


"Kenapa kamu ada disini? Kenapa kamu memakai pakaian mang Udin?" tanya Maura ketus pada Bara.


"Menurutmu kenapa aku berada disini, Ra?"


Hati Bara terhenyak dengan tatapan itu, tatapan cinta yang biasa ditujukan padanya dari Maura mungkin kini sudah musnah.


"Aku berada disini untuk kamu,"


"Hah?!" Wanita itu mendongakkan kepalanya, alisnya terangkat, kening berkerut.


"Aku ingin kita memulai semuanya dari awal," kata Bara sambil menatap wanita itu.


"Kita...maaf ralat, maksudku aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Semua sudah berakhir dan gak ada yang namanya memulai dari awal, paham? Nah, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga! Jangan lakukan hal yang tidak berguna, pergilah dan hidup dengan hidupmu sendiri jangan saling menganggu."


"Maura, apa perasaan kamu berubah karena ada dia? Kamu sadar gak dia hanya orang asing yang terlihat baik dari luar,"


"Siapa yang kamu panggil orang asing terlihat baik dari luar itu?"


"Siapa lagi kalau bukan pria yang mengantarmu pulang barusan? Dia kan orang yang membuat kamu menjauh dariku dan perasaan kamu mulai berubah. Maura, dia gak sebaik yang kamu pikirkan!" Bara mengatakan rasa tidak senangnya pada Maura yang berdekatan dengan Bryan.


"Bara, kamu pria tidak tahu malu. Kenapa kamu bicara seolah-olah kita berpisah karena perasanku berubah? Kamu..." jari telunjuk Maura menekan-nekan dada Bryan, tatapannya begitu tajam pada Bara dan mengandung kebencian disana. "Kamu yang sudah menghancurkan semuanya dengan dendam itu, kamu mempermainkan cinta tulus ku!"

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu...ya aku akui dendam, tapi aku tulus cinta sama kamu Ra! Hanya saja aku terlambat menyadarinya dan soal dendam itu...kamu tidak tahu betapa brengseknya ayah kamu, makanya kamu bisa berkata dengan mudah begini." Bara menatap Maura dengan perasaan.


"Ayah ku tidak brengsek!" tepis wanita itu terhadap pernyataan Bara tentang ayahnya.


"Ternyata kamu masih gak percaya, kalau kamu tidak percaya...silahkan tanyakan pada Nathan, dia tau banyak kebusukan ayahmu." Aku bukan menjelekkan ayahmu, tapi ini adalah fakta."


"Bara...apa kamu tau tentang pak Nathan? Sebenarnya dia--"


"Maura kamu sudah pulang?" Teriak Evan yang terlihat sedang berjalan menghampiri adik sepupunya itu.


"Kakak?" Maura melihat ke arah kakaknya.


"Maura, kamu masuklah ini sudah malam!"


"Kak, kenapa dia ada disini? Apa kakak--"


"Kamu masuk dulu ke dalam, kita bicara nanti. Kakak mau bicara sama pria tidak tahu malu ini," ucap Evan pada Maura.


"Tapi kak--"


"Maura masuk! Kamu belum menemui om Samuel kan hari ini? Pergilah temui dia, suster Anna sudah mau pulang."


Maura masuk ke dalam rumah dengan enggan, dia ingin tau ada rahasia Nathan dari Bara. Namun Evan datang disaat dia bertanya pada Bara.


Kenapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku? Sebenarnya kenapa dan apa?


Setelah yakin Maura sudah pergi masuk ke dalam rumah.Evan langsung bicara pada Bara dan mengusirnya dari rumah itu.


"Pergi dari sini! Jangan bersikap tidak tahu malu seperti apa yang kamu lakukan di masa lalu,"


"Maaf, tapi aku tidak mau pergi. Jangan halangi orang yang berjuang, kakak ipar."


"Brengsek! Siapa yang kamu panggil kakak ipar?!" Evan mengepal tangannya, dia ingin sekali memukul pria itu namun dia tahan.


"Apa Maura belum tau tentang Nathan dan kakaknya? Tentang kebejatan ayahnya? Kenapa ditutupi?"


"Kamu..." mata Evan menatap Bara dengan gemetar.


"Dia harusnya tau tentang ayahnya yang memperkosa putrinya sendiri dan tentang kebenaran bahwa Nathan yang juga adalah putra kandung ayahnya!"


"Diam kamu, BARA!" Evan mencengkram kerah baju Bara dengan marah.

__ADS_1


...****...


Pasti belum ngerti kan siapa putrinya Sendiri disini? Akan dibahas di chapter berikutnya nanti ya 🤭


__ADS_2