Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 27. Pria penggoda


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Apa dia sudah gila? Dia menciumku barusan?!. Maura masih syok, dia masih membeku dan bibirnya kelu.


"Bagaimana Maura? Apa aku bisa menjadi selingkuhanmu?" tanya Bryan pada Maura dengan mata yang tajam, dia menunjukkan keseriusannya pada Maura.


Setidaknya dia tidak menamparku, itu artinya dia tertarik padaku?


Pertanyaan Bryan yang baginya tidak masuk akal itu, lagi-lagi membuat Maura terkejut untuk yang kesekian kalinya.


"Candaan anda ini sangat tidak lucu pak Bryan." ucap Maura dengan kening berkerut.


Bryan tersenyum kemudian dia mengenal napas."Setelah semua sikap yang ku tunjukkan padamu, kamu masih menganggap ini semua candaan?"


"Saya sudah bersuami, logikanya mana mungkin pria sempurna seperti bapak mau jadi selingkuhan saya? Ini tidak logis pak, bapak bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik, berpendidikan bahkan yang sempurna daripada saya."


"Oh begitu ya? Tapi menurutku kamu juga cantik, berpendidikan, sempurna dan kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku nyaman."


Jangan terpesona Maura, pria itu sama saja. Batin Maura.


Maura mendongak ke arah Bryan, "Apa itu karena saya satu-satunya wanita yang bisa berdekatan dengan bapak? Sepertinya bapak salah mengartikannya sebagai perasaan suka."


"Maura, terlepas dari semua itu...aku suka kamu, itu sungguhan dan fakta. Bahkan sebelum aku tau, kalau kamu bisa membuatku tidak alergi." ucap Bryan sambil menatap wanita yang berstatus istri orang itu dengan nanar.


"Bapak benar-benar tidak tahu malu, beraninya bapak mengatakan hal ini pada saya dengan tatapan seperti itu!" Seru Maura tegas disertai rasa kesal tersirat di wajahnya.


Tatapan yang mungkin bisa membuat semua wanita bergetar saat melihatnya. Tapi aku tidak! Aku tidak akan bergetar!

__ADS_1


"Hem." Bryan mendekati Maura, tangannya melepaskan ikat yang mengikat rambut Maura. Hingga rambut Maura tergerai panjang. "Aku bisa melakukan hal yang lebih tidak tahu malu kalau kamu mau, bahkan didepan suamimu." Bibir Bryan berbisik di telinga Maura.


Maura berdebar-debar, ketika hembusan nafas pria itu terasa hangat di lehernya. "P-pak Bryan.." Maura tergagap dibuatnya.


Tangan Bryan menyentuh dan menyisir rambut panjang Maura. Mata biru milik Bryan tak sengaja bertatapan dengan mata berwarna coklat muda milik Maura.


Wanita ini pasti akan mengira rasa sukaku hanya candaannya saja, jika aku tidak bertindak lebih jauh.


"Aku akan selalu menunggumu, tawaran untuk membantumu balas dendam pada Bara Rahadian, akan selalu berlaku." Kata Bryan yang lalu mengecup lagi pipi Maura dengan lembut.


"Pak Bryan! Anda benar-benar..." Maura menatap Bryan tak percaya, bahwa pria itu akan berani menggodanya.


Ferry masih membelakangi Bryan dan Maura, dia takut akan melihat hal yang tidak boleh dia lihat. Baru pertama kali dia melihat Presdirnya begitu agresif kepada wanita dan dia tak mau mengacaukannya.


"Pak, pak Bara dan sekretarisnya kembali!" ujar Ferry tiba-tiba pada Bryan dan Maura.


Maura melotot ke arah Bryan, "Anda jangan macam-macam ya pak Bryan!"


Meski aku dan Bara mungkin tidak seperti suami-istri, tapi status kami masih menikah.


Bara pun kembali bersama Nathan, dia keheranan karena Maura sedang mengikat rambutnya dan pakaiannya terlihat agak berantakan. Sementara Bryan ada di kursi yang ada disebrangnya.


Setelah pertemuan itu, Bara, Nathan dan Maura pergi meninggalkan restoran. Kemudian mereka kembali ke kantor Agradana grup. Sesampainya di kantor presdir, Maura melihat Vera juga ada disana, dia bekerja sebagai asisten pribadi Bara.


"Hai istri sah!" ledek Vera pada Maura.


"Hah!" Maura tidak menanggapi Vera, dia m*ndes*h sambil memalingkan wajahnya dari Vera.

__ADS_1


"Bu Maura, pak presdir menyuruh kamu masuk." ucap Nathan yang baru saja keluar dari ruang kerja khusus Presdir.


Maura masuk ke dalam ruangan yang dulu adalah ruangan yang ditempati oleh Samuel. Dia memberikan contoh rancangan desain yang akan dipakai untuk kerjasama bersama Xander grup.


"Hem baiklah, ini cukup bagus. Kembalilah bekerja ke tempatmu!"


"Baik pak." Maura menundukkan kepalanya dengan wajah datar.


"Ets...Maura tunggu!"


"Ada apa pak?" tanya Maura sambil menoleh kepada Bara.


"Mana ponselmu!" ujar Bara meminta ponsel Maura, seraya menadahkan tangannya.


"Kenapa bapak meminta ponsel saya?" tanya Maura pada Bara dengan bingung.


Bara tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya, lalu dia mengambil ponsel Maura yang ada di dalam saku blazernya. "BARA! Apa yang kamu lakukan?!"


Bara langsung memeriksa ponsel istrinya itu. "Heh! Ternyata kodenya masih belum kamu ganti, masih tanggal ulang tahunku."


"Kamu! Ngapain kamu buka buka ponselku! Kembalikan padaku Bara! Kamu gak berhak melakukan ini...kamu gak boleh melihat privasi seseorang!" seru Maura setengah berteriak. Dia meminta Bara mengembalikan ponselnya.


"Privasi? Dalam hubungan suami-istri gak ada yang nama privasi, seorang suami wajib tau istrinya bersama siapa dan berkirim pesan dengan siapa," Bara menggunakan kata suami-istri disaat seperti ini.


Maura berusaha meraih ponselnya kembali, namun saat itu Bara menunjukkan pesan di ponselnya. "Beraninya kamu selingkuh dariku dan kamu akan bertemu dengan pria itu lagi? Siapa pria itu Maura? Siapa?!" Bara mencengkram dagu Maura dengan kasar dan erat.


"Kamu sakit Bara! Otak kamu sakit!" Teriak Maura pada Bara dengan emosi.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2