Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 71. Pdkt Bryan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah Maura muntah-muntah, dia kembali ke ruang tamu dan menemui Bryan. Bryan memintanya untuk beristirahat saja karena kondisi Maura yang kurang sehat.


Maura merasa tidak enak karena Bryan baru saja datang dan dia malah tidak enak badan. "Tidak apa-apa kamu istirahat saja," ucap Bryan pada Maura.


"Tapi..."


"Aku kesini untuk melihat keadaanmu, bukan untuk menganggu istirahat kamu. Little girl, maaf aku datang malam-malam."


"Hem...tidak apa-apa pak, saya yang minta maaf karena saya membuat bapak cemas."


Obrolan mereka sudah terasa lebih dekat dari sebelumnya, Maura yang cuek perlahan-lahan mulai membuka dirinya. "Kalau ada sesuatu, ceritakan padaku ya!"


"Hem...iya pak."


Senang rasanya hati Bryan, padahal hanya mendengar kata 'Iya' saja sudah membuat hatinya melayang-layang. Kata 'ya' itu adalah persetujuan dari Maura agar dia bisa masuk jauh lebih dalam ke dalam hidupnya.


Setelah Maura sembuh dari sakit, Bryan dan Maura semakin dekat. Mereka sering makan siang bersama dan jalan bersama, hubungannya dan Nathan juga semakin tidak baik padahal dia sudah tau bahwa Nathan adalah kakaknya lain ibu. Maura selalu berusaha mendekati Nathan, tapi Nathan menutup dirinya dan selalu menatapnya dengan benci.


Pada suatu pagi, Maura merasa tidak enak pada perutnya itu. "Ughh...apa aku mau datang bulan ya? Kok rasanya gak enak banget. Oh ya... hampir dua bulan aku gak datang bulan. Apa karena efek KB ya?" Gumam Maura sambil bercermin di kaca dalam kamar mandinya.


Pagi itu Evan sudah menunggu Maura untuk sarapan bersama, Maura melihat ada minuman berwarna coklat didalam gelas dan buah ganas yang sudah di potong-potong diatas piring. "Kak..." Maura malas melihat sesuatu yang berwarna coklat itu didalam gelas, apalagi baunya lumayan menyengat.


"Kamu kan lagi sakit, kamu harus rajin minum jamu biar meningkatkan stamina kamu!" Seru Evan pada adiknya sambil tersenyum.


Maafin kakak, Maura...kakak melakukan ini demi kebahagiaan dan kebaikan kamu. Mumpung anak itu belum berbentuk bayi.


"Rasanya gak enak kak,"


"Minum ya, ini buat kesehatan kamu juga." Kata Evan perhatian diluar, padahal didalam dia sedih karena harus memaksa Maura meminum jamu penggugur kandungan.


"Ya udah deh, semoga aja aku cepat datang bulan. Udah dua bulan aku gak datang bulan," ucap Maura sambil tersenyum, dia meneguk jamu itu dalam sekali teguk. "Uwek...ih pahit,"


Maafin kakak, Maura...maaf.


Hampir setiap hari Evan selalu memberikan Maura ganas, jamu, soda dan junk food dengan alasan supaya Maura bisa cepat datang bulan agar tubuhnya lebih enakkan. Maura yang tidak tahu menahu tentang kehamilannya, meminum semua makanan yang bisa membahayakan janin nya itu. Kenapa Maura bisa tidak tahu? Karena sama sekali tidak ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya.

__ADS_1


Seperti biasanya, Maura di jemput oleh Bryan untuk berangkat ke kantor. Mereka sudah arti pasangan kekasih saja, apalagi Clara sudah menyetujui hubungan mereka berdua. Walaupun dia tahu Maura pernah menikah, alias seorang janda karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Bryan, seorang pria yang sulit untuk membuka hatinya pada wanita lain gara-gara mysophobia dan Maura saja yang bisa mendekatinya.


"Ayo pak, kita berangkat!" Seru Maura yang baru saja memasang seat beltnya.


"Hem, kita sudah sepakat gak ada panggilan bapak lagi." Bryan menatap wanita yang duduk sampingnya dengan kening berkerut.


"Ah...maaf, saya belum terbiasa." Maura menundukkan kepalanya.


"Aku...bukan saya anda...tapi aku kamu," ralat Bryan pada ucapan Maura yang masih memanggil bapak dan bicara formal padanya.


"Iya, pak- eh... maksudku Bry, eh...Bryan." Terdengar malu dan gugup saat Maura memanggil nama Bryan tanpa ada panggilan depan "Bapak" seperti biasanya.


Ya, hubungan mereka memang sudah selangkah lebih dekat. Mungkin sangat dekat sekarang, apalagi Bara jarang muncul di sekitar mereka.


"Tunggu...jangan Bryan, yang barusan saja. Aku suka itu." Pria itu mendekatkan wajahnya kepada wajah Maura dengan berani dia menatap wanita itu dengan penuh perasaan.


Melihat Bryan mendekat, menatap dan tersenyum ke arahnya membuat dia memalingkan wajah. "Ya-yang mana Bryan?"


Kenapa melihat senyumannya aku meleleh dan berdebar? Sulit aku percaya bahwa pria sempurna sepertinya menyukaiku.


"Yang barusan, kata sebelum maksudku."


Kata Bry yang keluar dari tipis dan seksi Maura, sungguh memabukkan untuk Bryan yang sedang di panah asmara. Segala hal yang dilakukan oleh Maura, membuatnya gemas. Ingin sekali dia segera memiliki Maura, bebas memeluk dan menciumnya.


Dia bisa saja melakukan hal itu, namun dia tidak mau buat kesalahan seperti yang terjadi terakhir kali. Dia tidak mau cinta hanya terhadap wanita itu dianggap tak murni. Dia ingin mencintai, menjalin hubungan, menikah dalam urutan yang normal.


"Panggil aku begitu, Bry..."


"Tapi..."


"Hanya kamu yang bisa memanggilku begitu dan aku juga akan memanggilmu dengan nama panggilan kesayangan."


"Panggilan kesayangan?" Maura menatap ke arah Bryan.


"Heem, aku akan panggil kamu Rara gembul."


"Bry!!" Bibir Maura mengerucut, keningnya berkerut.

__ADS_1


"Aku bercanda, aku panggil kamu Mak Rara saja." Goda Bryan pada wanita itu.


"APA??!"


"Hahaha...Ura atau maw maw saja!" Bryan tertawa, gemas dia melihat Maura yang marah padanya.


"Huh!" Maura menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia terlihat kesal pada Bryan yang terus menggodanya.


"Oke, aku panggil cantik aja deh. Gimana?" Goda pria itu lagi sambil mendekatkan dirinya hingga Maura bersandar di pintu mobil.


"Bry..." lirih Maura menatap Bryan dengan tatapan berbinar-binar.


Oh shitt!! Aku benar-benar lemah dengan mata polos dan tatapan itu.


Pria itu kembali duduk di kemudinya dengan posisi tegak. "Kita berangkat aja ya,"


Maura mengangguk sambil tersenyum. Bryan melihat lagi wajah Maura yang cantik natural itu. "Aku janji, malam ini akan aku buat pernyataan cintaku tidak akan bisa kamu lupakan seumur hidupmu,"


Mereka pun berangkat ke kantor, Bryan mengantar dulu Maura ke kantornya lalu dia sendiri akan berangkat ke kantornya sendiri. Tanpa mereka sadari, Bara datang kesana dengan menggunakan motor bututnya dan melihat kepergian Maura dan Bryan.


"Lagi-lagi aku terlambat," gerutu Bara. "Apa aku juga terlambat untuk mendapatkanmu kembali?" Pikiran negatif mulai bermunculan di kepala Bara.


Namun keterlambatannya itu membuat motor Bara mogok dan tanpa sengaja dia melihat Evan sedang berada di luar rumah, menelpon seseorang dengan wajah kalut.


"Ren, kamu bagaimana sih? Katanya jamu, ganas, cola bisa membuat keguguran. Tapi adikku belum keguguran juga tuh,"


Keguguran? Adik, apa maksudnya?. Bara berada di samping tembok tempat Evan bicara dengan seseorang di telpon.


["......"]


"Aku sudah lakukan semuanya, tapi Maura belum keguguran juga. Harusnya dia udah pendarahan kan? Bayi didalam kandungannya gak boleh lahir kedunia,"


"Apa maksudnya bagi dikandungan Maura? Apa Maura hamil?!" Bara sudah berdiri didepan Evan dengan menajamkan pandangan kepada mantan kakak iparnya itu.


Tercengang!


Evan melihat Bara berada disana dan sudah jelas dari pertanyaannya, Bara sudah mendengar semuanya.

__ADS_1


"Jawab!!" Teriak Bara meminta jawaban.


...*****...


__ADS_2