Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 75. Sudah tiada


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Bara, hentikan! Kumohon!" Maura mencoba melerai kedua pria yang berkelahi itu. Dia menarik tangan Bara.


"Diam kamu!" Bara yang tersulut emosi tak sengaja mendorong Maura.


"Ahhh!"


Wanita itu pun terdorong jatuh oleh Bara dan dia oleng ke tangga yang berada disana. Sepatu yang dikenakannya terlepas. Bryan yang melihat itu segera mendorong Bara dan berlari ke arah Maura yang hampir jatuh ke bawah tangga.


Namun, ketika Bryan dan Bara mengulurkan tangannya untuk menarik Maura. Mereka kurang cepat dan Maura sudah jatuh terguling-guling dari tangga.


"Maura!!" Bara dan Bryan berteriak kompak, panik melihat wanita itu sudah tergeletak dibawah tangga.


Kebetulan Vera ada disana, dia mencoba menolong Maura sampai tubuhnya tertindih Maura. "Kamu gak apa-apa?" Tanya Vera pada wanita yang berada diatas tubuhnya itu.


"Sakit....ugh... sakit sekali..."Maura meringis kesakitan, dengan keringat dingin membasahi wajahnya.


Terlihat darah yang berlinang dilantai tempat Maura berada. Rok Maura yang berwarna biru itu juga dipenuhi warna merah darah. "Kamu..." Vera cemas melihat Maura seperti pendarahan.


Bara, kamu sial sekali! Sepertinya dia keguguran.


Bryan dan Bara berlari menuruni tangga terburu-buru, Bryan sampai lebih dulu ke bawah sana. "Maura, kamu gak apa-apa?"


"Bry...perutku sakit sekali, tolong...aku Bry..."


Padahal ada Bara disana, tapi Maura sepertinya hanya melihat Bryan saja disana. Dia meminta tolong pada Bryan, ya tentu saja. Malam itu Bryan dan Maura sudah resmi menjadi pasangan kekasih yang akan menikah.


"Maura, aku yang akan bawa kamu ke rumah sakit!" Bara mendekati Maura, dia cemas melihat darah terus mengalir di bawah tubuh Maura.


Bryan menepis tangan Bara, dia menatap Bara dengan marah. Tanpa berkata apa-apa, Bryan langsung menangkup tubuh Maura. "Kita ke rumah sakit ya," ucap pria itu pada Maura.


"Ughh...iya..." Maura menganggukkan kepalanya, dia menahan sakit di perutnya.


Maura dibawa oleh Bryan keluar dari restoran akuarium itu, Bara hanya bisa menatap kepergian mereka dengan sedih. Vera melihatnya dan langsung menamparnya.

__ADS_1


"Bara! Sadarlah! Cepat kamu ikut mereka ke rumah sakit!"


"Vera..." Bara memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Vera.


"Dasar bodoh, ayo kita pergi! Aku akan mengantarmu kesana!" Ujar Vera pada Bara yang hanya diam saja.


Vera dan Bara pergi mengikut Bryan dan Maura yang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Namun perjalanan mereka tidak mulus sebab ada kemacetan panjang disana.


"Maura, kamu gimana? Masih sakit?" Bryan terlihat cemas melihat Maura.


Maura seperti tidak fokus dengan pertanyaan Bryan, perutnya sangat sakit dan dia kesulitan menahan rasa sakit itu. Hanya rintihan saja yang terdengar darinya, air mata berlinang membasahi wajah wanita itu.


Tok, tok, tok!


Bara yang mengendarai motor bersama Vera, mengetuk kaca mobil Bryan. Sontak pria itu melihat kearahnya. "Buka! Biarkan aku yang membawanya!"


Pria yang ada didalam mobil itu acuh terhadap Bara yang berteriak-teriak sambil memukul kaca mobil. "HEY! Buka pintunya!! Kamu mau Maura kenapa-napa? Dia akan lebih cepat naik motor daripada naik mobil bersamamu, kamu gak lihat jalanan yang macet??!" Bara berteriak mengingatkan Bryan pada situasi macet yang panjang itu.


Si Bara benar, aku harus membawa Maura ke rumah sakit...tapi jalanan begitu macet. Kalau aku telpon Ferry, pasti tak akan sempat.


"A-apa maksud kamu Bry? Kamu mau akuhh...diantar dia?" Tanya Maura dengan suara lemas yang terbata-bata.


"Ya, aku akan menyusul kamu, nanti!" Seru Bryan sambil membuka sabuk pengaman pada tubuh Maura.


Akhirnya dia mengalah, dia menggendong Maura dan meminta Bara dan juga Vera untuk membawanya ke rumah sakit. Kalau bukan karena terpaksa, Bryan tidak mau melakukan itu apalagi menyerahkan Maura.


Awalnya Maura juga menolak, tapi dia sudah kehilangan tenaga bahkan untuk bicara saja sulit. Saat itulah terjadi bonceng tiga, Vera menyetir, Maura didik ditengah dan Bara di belakang mendekap tubuh Maura dengan hati-hati.


"Maura, aku minta maaf..." Bara menatap Maura dengan sesal.


"Diam...aku mohon diam," pinta Maura yang diiringi air mata. Entah kenapa dia menangis dan apa yang dia tangisi itu.


Di tempat kemacetan, Bryan langsung menelpon Ferry untuk membawa mobilnya dan dia pergi mencari ojeg untuk pergi ke rumah sakit. "Sial! Gimana caranya naik ojeg? Aku bahkan tidak tahu." Gumam Bryan polos, dia tidak pernah naik ojeg sebelumya.


Mungkin nasib baik memang berpihak padanya, dia mendapatkan ojeg dengan cepat. Hanya dalam beberapa menit saja, Bryan sudah sampai didepan rumah sakit.

__ADS_1


"Eh...Mas ongkosnya dong! Main pergi aja," protes si tukang ojeg pada Bryan yang berlari begitu saja tanpa bayar.


Huft...karena panik aku sampai lupa bayar. Bryan kembali menghampiri si supir ojeg yang berada didepan rumah sakit. Dia mengeluarkan dompetnya , terlihat disana ada beberapa kartu ATM, black card juga ada beberapa biji.


"Maaf pak, saya gak punya uang cash. Adanya ATM, bapak ada alat geseknya gak?"


"Wah...si bapak ini, masa iya saya yang tukang ojeg punya yang seperti itu. Ayo mas bayar, istri saya sudah nunggu di rumah."


"Bapak lihat sendiri, saya gak ada uang cash! Adanya ATM!"


"Tapi maaf ya mas, saya butuhnya uang cash." kata supir ojeg ngeyel.


"Ya udah," Bryan melepas arloji mahal miliknya lalu dia serahkan pada si supir ojeg itu. "Nih ambil pak, harga jam ini lebih dari 8 juta...semoga cukup buat bayar ongkos ojeg bapak. Kembaliannya ambil aja pak," ucap Bryan.


Bryan langsung masuk terburu-buru ke ruang sakit, sementara si tukang ojeg melihat arloji yang harganya lebih dari 8 juta itu.


Tibalah Bryan di ruang UGD, dia melihat Bara dan Vera ada disana. Bryan langsung meraih baju Bara dengan emosi. "Sial! Aku ingin sekali memukulmu, tapi aku sadar ini di rumah sakit." Bryan melepaskan lagi tangannya dari Bara.


Bara terdiam dan tidak tersulut emosi seperti tadi, pria itu memandangi ruang UGD dan menunggu dokter keluar dari sana.


Ya Allah, semoga Maura dan anakku baik-baik saja. Anak itu adalah harapanku satu-satunya untuk bisa kembali bersama Maura. Papa mohon nak, kamu harus selamat...agar papa dan mamamu bisa bersatu kembali. Bara berdoa dalam hatinya.


Disisi lain, Bryan juga sedang berdoa. "Apakah benar Maura hamil? Kalau dia hamil anaknya Bara, aku bisa menerima anak itu...tapi bagaimana dengan mamaku? Semoga Maura dan anaknya baik-baik saja.


Tak lama kemudian, pintu ruang UGD itu terbuka dan keluarlah dokter wanita dari sana. Bryan, Vera dan Bara langsung menghampiri dokter itu. "Dok! Bagaimana keadaannya?" Bara menyerobot bertanya lebih dulu dari Bryan.


"Keadaan Bu Maura saat ini baik-baik saja, tapi bayinya tidak selamat. Maafkan kami, kamu sudah berusaha semampunya."


Kecewa!


Mungkin itu yang dirasakan Bara saat ini, harapan dan kesempatannya untuk kembali bersama mantan istri mungkin sudah tidak ada lagi.


Sementara Bryan, dia terlihat bingung mau sedih atau senang dalam keadaan ini. Dan Vera, dia melihat Bara dengan tatapan aneh.


...****...

__ADS_1


__ADS_2