
Maura beranjak dari pangkuan Bara, tubuhnya tidak menerima sentuhan Bara. Walau hatinya masih memiliki perasaan untuk Bara.
4 tahun berpacaran, tidak mudah untuk melupakan semua perasaan itu. Maura berharap semua perasaannya bisa cepat berganti menjadi benci. Kelakuan Bara, telah membuat dirinya sangat sakit hati dan kecewa.
"Kamu mau apa dariku? Cepat katakan! Ayahku membutuhkan bantuan sekarang!" Teriak Maura terburu-buru, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan di rumah sakit dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Santai dan duduk dulu, mari kita bicara!" Bara akan menggapai tangan Maura dan gadis itu dengan cepat menghindar darinya.
"Katakan saja apa maumu dariku dan berikan uangnya!" Maura tidak mau berbasa-basi dengan Bara, ayahnya tidak bisa menunggu.
"Pak Gerry, kemari!" teriak Bara pada Gerry seorang kepala pelayan di rumah Maura yang kini menjadi kepala pelayan yang bekerja untuk Bara.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dan berpakaian rapi, menghampiri Bara seraya memberi hormat kepadanya. Maura meringis sakit hati saat melihat Nathan, yang kini sudah menjadi orangnya Bara.
"Suratnya!" Bara menadahkan tangannya, meminta surat pada Nathan, entah surat apa.
"Ini tuan." jawab Nathan, sambil menyerahkan map berwarna merah pada Bara.
Bara mengambil map itu, lalu membukanya. Dia meminta Maura duduk terlebih dahulu dan bersabar menunggunya. Dengan malas, Maura duduk di seberang tempat Bara duduk, gadis itu selalu memasang wajah kesal saat melihat pria yang masih berstatus suaminya.
"Tanda tangani itu, lalu akan aku lunasi semua biaya rumah sakit ayahmu." Bara menatap tajam pada Maura, dia memberikan bolpoin pada Maura.
Maura mengambil surat itu dan dia membacanya. "Kenapa kamu membacanya? Langsung tanda tangan saja!" kata Bara sinis.
"Siapa tau kamu akan menipuku lagi?" ucap Maura sarkas.
"Kamu buang-buang waktu saja, kalau kamu mau ayahmu mati ya sudah!" kata Bara sambil mengangkat kakinya ke atas meja dengan sikap angkuhnya.
"Jangan bicara sembarangan soal ayahku, mulutmu tidak pantas bicara tentang dia!" Maura melotot ke arah Bara penuh amarah.
Bara tersenyum sinis. "Hah! Melihat dari sikapmu saat ini, kamu masih menganggap ayahmu orang suci ya?" tanya Bara.
Apa si Samuel bajing*n itu belum sempat memberitahu dia atau tidak ingin memberitahunya?
"Ayahku orang baik, tidak seperti kamu yang brengsek!" umpatnya pada Bara.
Mengapa Bara? Kamu sangat jahat...
"Wow...aku sangat tersanjung dengan kesetiaan kamu sebagai anak." ucap Bara sambil merentangkan kedua tangannya.
Hem, sepertinya si Samuel menolak menunjukkan sisi buruknya.
__ADS_1
Maura membaca surat itu dengan cepat, tiba-tiba saja ada seorang gadis remaja mendekati Bara dan memeluknya dari belakang. "Kakak, makasih banget karena aku dan ibu bisa tinggal di rumah besar ini." ucap gadis itu sambil tersenyum sambil mencium pipi Bara.
Maura melihat ke arah gadis itu, dengan tatapan penuh pertanyaan. Dia berusaha tidak peduli bersama siapa Bara saat ini.
Siapa dia? Apa wanitanya Bara juga sama seperti si Vera?
"Iya, untuk kamu dan ibu...apa sih yang enggak?" Bara mengelus rambut panjang gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
Gadis itu mendekati Maura, memperhatikan wajahnya dari dekat. "Kakak, bukankah dia istri kakak?" tanya gadis itu pada Bara.
"Iya dek, dia kakak ipar kamu." jawab Bara sambil tersenyum tipis.
Kakak ipar? Apa dia adiknya Bara? Bukankah Bara anak yatim piatu?. Maura tiba-tiba diam saat akan menandatangani suratnya, saat mendengar kata-kata Bara.
"Hah? Jadi dia anak si om-om pedofil itu ya? Dia yang sudah buat kak Alina hancur! Dasar anak orang jahat, penjahat wanita yang sukanya daun muda lalu menghancurkannya." kata gadis itu dengan sarkasnya pada Maura yang tidak tau apa-apa.
Deg!
Dari sinilah Maura mulai mengetahui bahwa ayahnya mungkin berbuat salah pada Alina. Dia pun menanyakan apa salah ayahnya agar dia tau kenapa Bara begitu membencinya.
Lalu adik Bara lah yang mengatakan kebenaran bahwa Samuel memperkosa Alina, pacar kakaknya sampai hamil dan Alina pun bunuh diri.
Maura menahan tangisnya, dia tidak tahu bahwa ayahnya berbuat sebejat itu dan dia juga tidak percaya. "Nah, rasa penasaranmu sudah terjawab kan? Bagaimana? Mau menolong ayahmu sekarang?" tanya Bara sambil menatap Maura dengan tajam.
Adik Bara juga menatap Maura dengan sinis dan rasa tidak suka. Dia sangat menyayangi Alina yang sudah seperti keluarganya sendiri, saat dia tau Alina pacar Bara bunuh diri dan diperlakukan seperti itu oleh pria, membuatnya menaruh benci pada Maura dan ayahnya.
"Baik," jawab Maura sambil mengambil bolpoin. "Aku akan menjadi pembantu selama setengah hari di rumahmu, tapi tolong bantu aku satu hal lagi." ucap Maura dengan suara gemetar menahan tangis.
"APA?"
"Bebaskan kak Evan dari penjara, cabut tuntutanmu." jelas Maura.
"Kalau begitu aku juga akan menambah hal lain didalam kontrak sebagai gantinya "
"Baiklah, tapi tolong cabut tuntutannya sekarang dan transfer uangnya untuk ayahku." ucap Maura tegas.
"Kamu sangat tidak sabaran."
Setelah transaksi dan semua keinginan Maura terpenuhi. Maura merasa sedikit tenang, walau dia harus terikat dengan Bara untuk sementara waktu karena kontrak. Dia terpaksa melakukannya karena keadaan terdesak.
"Kamu mau kemana?" tanya Bara yang melihat Maura beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Aku mau kemanapun bukan urusanmu."
"Aku ini tuanmu!" Bentak Bara kesal pada Maura.
"Aku mau pergi ke rumah sakit, menunggu ayahku operasi."
"Oh begitu...baiklah, kamu boleh pergi tapi cepatlah kemari setelahnya!"
"Baik." jawabnya singkat.
"Ingatlah, dibalik kontrak yang kamu tandatangani... statusmu masih istriku." Kata pria itu tegas.
Maura mengepalkan tangannya dengan kesal, dia bersumpah dalam hati saat dia sudah punya kekuatan untuk melawan Bara. Dia akan bercerai dan mengambil kembali apa yang menjadi keluarganya.
*****
Gadis itu pergi meninggalkan rumah yang dulu adalah miliknya. Dia melihat beberapa penjaga di rumah itu yang masih bersimpati padanya, karena bagi mereka Maura adalah gadis yang baik.
"Non, non mau kemana? Mau mang Udin antar?" tanya Udin satpam penjaga rumah itu sambil menatap Maura dengan tatapan iba.
"Gak usah mang Udin, makasih ya." Maura tersenyum pahit, matanya berkaca-kaca. Dia terharu karena orang di rumah itu masih ada yang peduli padanya dan tidak dipecat oleh Bara.
Setidaknya dirumah ini masih ada yang peduli padaku. Saat aku berada di rumah ini nanti, maka tidak akan terlalu sulit.
"Benaran non?" Udin menatap Maura dengan kening berkerut.
"Iya, gak apa-apa kok." jawab Maura sambil tersenyum. "Mang Udin kerja saja ya, nanti saya balik lagi kesini kok." ucap Maura sopan.
Gadis itu pergi darisana dan menaiki ojeg, karena dia tidak punya uang. Bahkan untuk naik ojeg, dia sampai menjual kalungnya. Dari tadi perutnya terus bersuara, baju nya yang tadinya basah sudah mulai mengering. Gadis itu mulai flu, dia bersin dan batuk.
"Perutku sepertinya tidak bisa menunggu, aku harus sehat agar bisa menjaga ayah dan bekerja." gumam Maura sambil memegang perutnya.
Maura meminta tukang ojeg berhenti didepan supermarket yang tidak jauh dari rumah sakit. Dia akan membeli beberapa makanan untuk mengisi perutnya. Tubuhnya mulai menggigil dan kepalanya berdenyut.
"Astagfirullah...jangan sakit, Maura jangan sakit." Maura membayar barang belanjaannya dikasir. Saat dia sedang membayar, tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.
Seorang pria yang ada dibelakangnya menahan tubuh Maura. Kasir supermarket itu terkejut melihatnya. "Hey! Kamu baik-baik saja? Ya Tuhan, panas sekali badannya ini." pria itu menatap Maura yang jatuh pingsan didekapan tubuh kekarnya.
Bukankah dia adalah gadis yang berebut taksi denganku tempo hari?
...****...
__ADS_1