
...🍀🍀🍀...
Melihat istrinya terjatuh di lantai, membuat Bryan panik. Dia menghampiri istrinya dan melempar tas kerja dan keresek entah berisi apa yang dibawanya. "Sayang, kamu kenapa? Ya ampun..."
"Ah...aku gak apa-apa By, aku lupa kakiku lagi sakit. Jadi aku jalan buat nyambut kamu pulang."
Bryan memegang tangan istrinya, dia merasa bahagia dan terharu dengan istrinya yang cantik luar dalam ini. Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia akan menikah dan menjadi bahagia karena memiliki seseorang yang dia cintai karena penyakitnya. Dia pikir tidak akan ada wanita yang berlabuh di dalam hatinya dan meluluh lantakkan perasannya.
"Aku gak menyesal memilih menikah, apalagi menikah sama kamu." Bryan mendaratkan bibirnya di kening Maura.
Clara dan Farhan yang melihatnya tersenyum berseri-seri. "Aduh...saya jadi kangen istri saya di rumah." gumam Farhan sambil menahan tawa.
"Hihi..." Clara terkekeh menanggapi ucapan Farah.
Wajah Maura memerah tersipu malu dengan ibu mertuanya dan Farhan. "By, kamu tuh ya...gak dimana dimana.. gak tau waktu, main asal cium aku?" gerutu gadis itu kesal.
"Maafin aku my girl, habisnya aku cinta pakai banget sama kamu." tanpa malu dan tanpa ragu, Bryan mengucapkan itu pada Maura.
Hingga tanpa mereka sadari, dari tadi Bara berada di dekat pintu. Ia tersenyum melihat Maura, wanita yang pernah disakitinya kini bahagia bersama orang yang tepat. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan Maura, walau dengan kakaknya sendiri.
"Oh ya, kaki kamu sayang? Kaki kamu sakit ya? Pak Farhan cepat panggil dokter Haris!" titahnya pada Farhan. "Ah...enggak, jangan! Kita telepon ambulan aja!" katanya dengan wajah panik.
Clara, Farhan dan Maura tertawa melihat kepanikan Bryan yang berlebihan itu. Dia sudah kelewat bucin pada istrinya. Ya, tentu saja karena Maura adalah cinta pertamanya, wanita yang pertama kali mendobrak pintu hatinya. Jadi dia akan sangat menjaga wanita itu dengan baik.
Maura merasa bersyukur, dibalik lukanya saat pernikahan dengan Bara. Kini dia benar-benar merasakan arti pernikahan yang sebenarnya bersama Bryan. Dia merasa dicintai dengan sebenar-benarnya dan setulus-tulusnya.
****
5 hari kemudian, keadaan Samuel mengalami peningkatan. Kini dia sudah bisa mulai berjalan sedikit demi sedikit. Keadaan Maura juga sudah mulai membaik, gipsnya sudah di lepas.
Namun dibalik kesembuhannya itu, Samuel merasa tidak pantas mendapatkannya. Setelah semua dosa yang ia lakukan pada wanita-wanita tidak berdosa di luar sana.
"Keadaan pak Samuel sudah mulai membaik dan sudah menuju kesembuhan."
"Alhamdulillah, jadi ayah saya sudah bisa di rawat di rumah kan, dok?" tanya Maura pada dokter itu.
__ADS_1
"Sudah bisa kok," jawab dokter itu ramah.
"Yah...ayah denger kan? Ayah udah boleh pulang..." wanita itu tersenyum bahagia mendengar ayahnya sudah bisa pulang.
Akan tetapi wajah Samuel terlihat sedih dan tak senang. Evan dan Maura membawa Samuel pulang ke rumah. "Om, om kenapa sih? Dari tadi wajahnya masam banget," komen Evan yang sedari tadi melihat Samuel galau.
"Apa...benaran kalau Nathan gak mau ketemu sama---" Samuel memikirkan Nathan dan Jessica.
"Ayah, aku sama kak Evan udah coba bujukin kak Nathan dan soal kak Jessica...ayah tau kan gimana keadaan dia? Mereka gak mau ketemu sama ayah." tutur Maura pada ayahnya, dia sudah membujuk Nathan untuk mau bertemu dengan Samuel, tapi pria itu tetap tidak tamu bertemu dengan Samuel.
Ya Allah, hatiku tidak tenang karena belum bertemu dan meminta maaf pada mereka.
"Ayah pengen ketemu mereka sekarang, Maura...Evan, tolong antar om." pinta Samuel pada Maura dan Evan.
"Iya ayah, kak kita antar ayah ya?" tanya Maura seraya melirik ke arah Evan
"Haaahh...Ya udah, kita anter ya." ucap Evan yang sebenarnya malas mengantar Samuel, tapi dia tak mau di omeli oleh Maura karena menolaknya.
Mereka bertiga pun pergi ke tempat Nathan dan Jessica berada. Samuel dengan tongkatnya, berjalan buru-buru keluar dari mobil dan melihat rumah sederhana yang ditempati oleh Nathan dan Jessica.
"Ayah...ayah kenapa?" tanya Maura melihat ayahnya yang menangis.
"Ayah gak apa-apa," jawab Samuel lalu menyeka air matanya.
Samuel berjalan mendekati rumah itu, diikuti dengan Maura dan Evan dibelakangnya. Tiba-tiba saja atensi mereka teralihkan begitu mendengar suara seorang wanita yang berteriak dari arah samping.
"Kamu... KAMU penjahat! Kamu pembunuh, kamu ayah bayiku tapi KAMU JAHAT!" teriak Jessica, dengan tatapan tajam penuh kabur kebencian pada Samuel.
Samuel menatap wanita yang tak lain adalah putrinya sendiri, wanita yang mengingatkannya akan dosa besar. "Jessica, ini ayah...ini ayah..." Samuel mendekati Jessica dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Jessica, tenanglah...ayah kesini untuk bertemu kak Jessica." Maura mencoba menenangkan Jessica.
Jessica berjalan mundur, ditangannya selalu ada boneka bayi. Dia ketakutan melihat sosok Samuel disana. Jessica berlari ke jalanan raya, Samuel, Maura dan Evan mengejarnya sambil berteriak-teriak memanggil namanya.
"Nak, hati-hati! Jangan kesana, nak!"
__ADS_1
"Orang jahat! Orang jahat!!" teriak Jessica sambil berlari kencang.
Tak sengaja tersandung dan membuat boneka bayinya terlempar ke tengah jalan. "Anakku!!" teriak Jessica yang berlari ke tengah jalan untuk mengambil bonekanya.
Di saat bersamaan, Maura, Evan dan Samuel berteriak ketakutan melihat sebuah mobil truk mengarah pada Jessica. "Kak Jessica!" teriak Nathan yang berada di seberang jalan lainnya. Matanya melebar melihat kakaknya yang berjarak tak jauh dari mobil truk itu.
Jessica yang polos berhasil mengambil boneka bayinya itu, kemudian Samuel berlari ke tengah jalan. Ia bermaksud untuk menarik Jessica dari sana , dia berhasil melakukan itu. Namun naas, Samuel tak bisa menghindar.Truk itu menghantam tubuhnya hingga terpental jauh ke aspal.
"AYAH!!" Teriak Maura sambil berlari menghampiri ayahnya yang berlumuran darah di tengah jalan.
Samuel terkapar di jalanan dengan kondisi kepala terluka parah dan darah yang bercucuran. "Ayah...hiks...ayah..."
Sementara itu Jessica dan Nathan berada tak jauh dari mereka. Mereka berdua mendekati Samuel yang sudah tidak berdaya itu. "Jessica... Nathan...maafkan ayah nak...maafkan semua kesalahan ayah," lirihnya seraya menatap Jessica dan Nathan. Kedua anak yang dia abaikan.
Nathan menjadi tidak tega, dia jongkok didepan Samuel dan menatapnya dengan iba. "Ya...kami maafkan anda pak Samuel."
"To-long panggil aku--ayah..." lirih Samuel seperti permintaan terakhirnya.
"A-ayah..." ucap Nathan dengan mata yang berembun.
Sementara itu Maura memegang tangan ayahnya, dia menangis sedih. "Ayah..."
"Maafkan ayah... Maura, Nathan...Jessica...maaf..Ugh...ayah harus pergi."
Syukurlah aku masih sempat meminta maaf.
Tangan Samuel terkulai lemas, dia menutup matanya. "AYAH!!! Ayah!!"
Nathan dan Evan sedih melihat Samuel meregang nyawa seperti itu, walau perbuatannya terlampau kejam. Mereka tetap punya hati dan kasihan.
"Ayah..."
Brugh!
Maura jatuh pingsan di samping Samuel yang tidak bernyawa. "Maura! Maura..." Evan memegangi tubuh adik sepupunya itu.
__ADS_1
****