
...🍀🍀🍀...
Bryan segera mengambil foto adiknya dan kembali menyimpannya kembali ke dalam dompet. Dia dan Maura pun tak sengaja melupakan tentang foto dan kalung gembok itu saat makanan yang dibawa Ferry sudah datang dan Maura segera menyuapi Bryan dengan makanan itu
Setelah makan siang, barulah Maura dan kekasihnya membicarakan masalah bisnis secara profesional. Tak terasa waktu pun sudah berjalan begitu cepat, sudah pukul 3 sore saja.
Telpon Maura terus berdering dari kakaknya yang meminta dia untuk segera kembali ke kantor. "Bry, aku sudah terlalu lama disini. Ya ampun, aku harus segera kembali ke kantor."
"Maura tunggu--"
"Ya?"
Bryan tiba-tiba saja mengecup bibir Maura dengan lembut. "Kamu belum mau nikah, tapi aku mau kita tunangan dulu aja? Gimana?" tatapan memohon tertuju pada Maura.
Dia tak sabar ingin mengikat Maura disisinya, tak apa-apa jika Maura belum mau menikah. Tunangan dulu akan mengikat mereka berdua.
"Tunangan?"
"Hem, iya."
"Oke, nanti aku bicarakan ini sama kakak dan ayah. Aku juga gak mau buat kamu lama menunggu,"
Terlihat senyuman lebar tertarik dibibir Bryan dengan manisnya. "Makasih Little girl." Bryan mengangkat tangan Maura lalu dia mengecup punggung tangannya itu.
Maura tersenyum mendapatkan perlakuan seperti Ratu itu, lalu dia pamit pergi dari sana. Ah...ya dan tak lupa dia membawa tas selempangnya.
"Oh ya little girl, malam ini aku ada janji sama klien ku." Ucap Bryan seraya meminta izin pada Maura bahwa ia janjian kliennya.
"Iya, tapi kenapa kamu bilang padaku?" Maura mengerutkan keningnya terheran.
"Kamu kan calon istriku, jadi kamu harus tau dong...mau pergi kemana calon suamimu dan apa yang dilakukannya, ya kan?" Pria itu bersikap layaknya calon suami atau mungkin suami untuk Maura.
__ADS_1
"Baiklah, jadi malam ini kamu ada rapat sama klien ya? Sampai jam berapa dan dimana lokasinya?" Tanya Maura mulai kepo dengan Bryan.
"Di hotel ku, mungkin sampai jam 8 malam juga beres. Aku akan telpon kamu setelah itu, kamu harus angkat! Ah enggak, aku gak akan telpon tapi aku mau video call." Bryan menyentil hidung Maura yang mancung itu dengan jarinya.
Maura tersenyum lalu dia menganggukkan kepalanya. Maura pun pergi dari sana setelah mengecup pipi Bryan dan memeluknya, tentu saja atas permintaan manja dari Bryan.
Ketika ia sampai di lantai bawah perusahaan Xander grup itu, Ia melihat sosok Dion masih berada disana dan menatapnya dengan tajam.
Ini kan om yang baru saja diceritakan oleh Bryan. Sebaiknya aku jangan dekat-dekat sama dia.
Maura merasa tidak enak dengan tatapan Dion padanya yang tajam, dia memilih menundukkan kepalanya dan bersikap biasa saja layaknya orang asing. "Hey! Kamu pacarnya Bryan kan? Kok kamu gak sopan ya, saya ini om nya Bryan." ucap Dion secara tiba-tiba dan sarkas pada Maura.
Aduh, gimana nih? Apa aku abaikan saja dia ya? Tapi gak enak juga.
Gadis itu pun membalikkan badannya dan melihat ke arah Dion. "Iya om, saya Maura."
"Saya Dion, omnya Bryan. By the way, saya pikir keponakan saya yang dingin itu akan melajang seumur hidupnya tapi ternyata dia bisa jatuh cinta juga. Itu artinya dia normal, ya kan? Ah ya...dan dulu dia juga pernah dekat kok dengan seorang wanita." Ucapan Dion seolah ingin memancing sesuatu pada Maura.
Maura menautkan alisnya, ia semakin tak respect pada pria yang ada didepannya ini. Mendadak ada rasa tak enak dan penasaran didadanya mendengar Bryan pernah dekat dengan wanita lain. Siapa?
"Tentu saja normal pak, bapak jangan memutar-mutar ya kalau mau bicara. Katakan saja apa yang mau bapak katakan pada saya!" Maura berujar dengan tegas, tidak suka ia dengan orang yang bertele-tele.
"Saya akan mengatakannya nanti, apa boleh saya minta nomor ponsel kamu?" Tanya Dion sambil tersenyum.
"Maaf tapi saya gak bisa kasih nomor ponsel sembarangan." Maura menolak dan dia risih dengan sikap Dion yang sok dekat itu.
"Ayolah, ini kan tentang Bryan dan wanita itu. Apa kamu gak penasaran? Nanti saya akan kasih tau mengenai dia. Lagian saya kan om nya Bryan!" Dion tersenyum menyeringai, entah apa yang direncanakan dia dikepalanya.
Gadis itu sempat terdiam, sampai beberapa saat kemudian dia akhirnya seperti tersihir oleh Dion dan memberikan nomor ponselnya. Dion langsung me-miscall ke hp Maura. "Itu nomor saya, di save ya."
Tidak menjawab, Maura pergi meninggalkan Dion disana sendirian. Dion tersenyum menyeringai, lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung menelepon seseorang,
__ADS_1
"Halo.....iya malam ini ya......"
Percakapan itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja dan Dion langsung menutup telponnya dengan cepat.
"Bryan... akhirnya aku menemukan kelemahan kamu, anak sombong! Apa aku harus buat kamu merasa kehilangan lagi?" Dion meremass setir kemudinya, lalu dia tancap gas dan pergi dari sana.
*****
Usai bekerja, Bara yang sedang patah hati itu pergi ke sebuah restoran kecil tempat dia selalu makan bersama Maura. Tampaknya pria itu masih belum melupakan masa lalu bersama Maura.
"Mulutku berkata kalau aku rela, tapi hatiku tidak! Hatiku belum rela!" Bara meneguk minuman dingin yang ada di atas meja. Bukan minuman keras, tapi minuman biasa saja. Sebenarnya Bara bukan tipe pria yang suka mabuk-mabukan atau merokok. Hanya saja didepan Maura saat itu dia ingin terlihat kejam.
Seandainya waktu bisa kembali diulang, Bara ingin kembali menjadi dirinya sendiri dan mendapatkan cinta dari Maura. Sikapnya yang lembut dan bukan kejam karena dendam. Tapi apalah daya kalau nasi sudah jadi bubur. Maura juga sudah mulai melupakannya dan mulai membuka lembaran baru dengan Bryan, pria yang selalu ada untuknya.
Ketika tengah asyik sendiri dalam kegalauannya, dia melihat disebelah lain restoran ada seorang wanita sedang diganggu seorang wanita. "Dasar kamu pelakor ya! Beraninya godain suami saya," ucap wanita itu lalu memukul wanita yang di panggilnya sebagai pelakor.
Plaakk!
"Heh!" wanita berambut pendek dan cantik itu mendelik sinis, memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh si wanita.
Plaakk!!
Wanita itu adalah Vera, dia menampar balik si ibu yang sedang bersama suaminya itu. "Kamu berani nampar saya?!" suara wanita itu meninggi, matanya melotot menatap Vera.
"Sa-sayang, udah dong malu di lihatin orang-orang!" kata pria yang ada disebelahnya yang tampak sedang berusaha menenangkan istrinya.
"Diam kamu, mas! Aku akan kasih pelajaran sama selingkuhan kamu ini!" Tatapan wanita itu sungguh sinis pada Vera seraya merendahkannya. Ya, penampilan Vera yang cukup menantang itu tak heran membuat yang melihatnya berpikir negatif.
Bara beranjak dari kursinya, "Itu Vera? Apa dia melakukan pekerjaan itu lagi?"
...*****...
__ADS_1