Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 96. Penolakan Bryan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bara meraih tangan Maura, ia bersandar di tubuh wanita itu. Mengakui Maura sebagai istrinya dan membuat semua orang bingung.


Tangan Bryan terkepal kuat, matanya terbakar oleh api cemburu. Dia tidak tau harus berkata apa. Dadanya bagai di hujam sangat dalam.


"Maaf tapi aku bukan is--"


Tiba-tiba saja Maura terdiam, saat benda kenyal milik Bara mengecup bibirnya sekilas. Alangkah terkejutnya semua orang yang melihat hal itu. Termasuk Bryan, hatinya porak poranda melihat calon istrinya yang baru saja ia lamar berdekatan dengan pria lain. Salah! Bukan pria lain, tapi adik kandungnya sendiri.


"Istri? Siapa istrimu?!" Tanya Bryan yang tidak bisa menahan emosinya lagi.


Bara dan Maura menatap ke arah Bryan. Maura berada dalam kebingungan, dia harus apa dan bagaimana? Matanya menatap Bryan, lalu dia melepaskan tangan Bara. Dia sadar bahwa ada yang terbakar api cemburu.


"Kamu siapa ya? Kenapa kamu membentak saya?" Bara bertanya dengan wajah polosnya. Matanya seperti tak tahu apa-apa. Benarkah dia hilang ingatan?


Clara juga tidak paham apa yang terjadi, dia melihat ke arah Alya dan Bryan secara bergantian dan dia membutuhkan penjelasan. Bara terlihat kecewa, ketika Maura melepaskan pegangan tangannya.


"Maaf, tapi saya bukan istri kamu!" Ujar Maura tegas.


"Sayang, kamu bicara apa sih?" Terlihat kening pria itu mengerut.


"Saya bukan istri kamu," ucapnya lagi tegas.


"Maura...kamu--ughhh..." Tiba-tiba saja Bara memegang kepalanya, ia meringis kesakitan. Mata Bryan dan Maura melebar melihat Bara seperti itu.


"Bara? Kamu kenapa nak?" Tanya Clara panik melihat anaknya kesakitan.


"Bara!" Kata Alya yang berjalan mendekat ke arah Bara dan dia sangat cemas.


"Dokter!" Ujar Clara pada dokter yang masih berdiri disana dan menyaksikan semuanya. Dokter pria itu segera bergegas mendekati Bara untuk memeriksanya.

__ADS_1


Maura memanfaatkan kesempatan untuk pergi menghampiri Bryan, namun langkahnya berhenti tatkala Bara terus memanggilnya dan Clara meminta Maura untuk tetap tinggal.


"Maura....Maura itu istriku! Maura...Syanita Agradana...dia istriku!" teriak Bara sambil memegang kepalanya.


"Tolong tenang ya kak, saya memeriksa kondisi bapak!" Dokter itu berusaha untuk menenangkan Bara. Namun caranya tidak berhasil.


"Nggak! Maura...Maura...Maura istriku!!" Teriak Bara yang masih memegang kepalanya.


Ya Tuhan, Maura benar-benar dilema. Dia melihat raut wajah Bryan yang terluka itu. Sedangkan disisi lain, Clara memohon agar dirinya tetap tinggal bersama Bara.


"Maura, tolong bantu mama ya nak! Kamu temani Bara disini!" Clara memohon pada Maura. Akan tetapi gadis itu melihat ke arah Bryan. "Bryan...tolong izinkan Maura disini dulu ya?"


"Maura, tolong Bryan ya nak?" Tanya Alya pada Maura. Dia tak tega lihat anak yang sangat disayanginya kesakitan.


"Ya, Ma." ucapnya dengan senyuman tipis. Ia memberi izin, tapi hatinya sakit dan tidak ikhlas. Sungguh, Bryan juga berada didalam dilema yang parah. Apalagi posisi Bara saat ini adalah adik kandungnya, dia Kenzo. Adik yang sangat ia sayangi, mana mungkin ia mengabaikan adiknya itu.


Bryan.... lirih Maura dalam hatinya, ditatapnya Bryan dengan sendu.


"Maura...kamu jangan pergi sayang, kamu disini saja sama aku!" Bara tidak mau melepaskan tangan Maura.


Clara dan Alya kompak mengisyaratkan sesuatu kepada Maura, agar Maura bicara dengan Bara. Maura menurut dan bicara untuk menenangkan hati pria itu. "Iya, aku akan berada disini....kamu tenang ya? Sekarang dokter mau periksa dulu kamu, kamu bisa diam, kan?"


"Iya, aku diam....tapi kamu jangan pergi...ughhh... " rintihnya lagi.


Wanita itu tidak menjawab apa-apa selain dengan anggukan. Bara pun menurut dan diperiksa oleh dokter, tapi dia tak mau melepaskan Maura dan terus memeganginya.


Setelah disuntik, Bara mulai mengantuk. Dia memandangi Maura sebelum menutup matanya. "Maura...kamu--cantik banget." Ucap Bara yang lalu tertidur lelap.


Aduh...Bara tidak mau melepaskanku.


Clara melihat ke arah Bara dan Maura."Maura, kamu disini sebentar ya sebelum Bara benar-benar pulas."

__ADS_1


Maura tidak menjawab, sebenarnya dia tidak mau melakukan ini jika bukan karena keadaan. Clara dan Alya pun keluar dari ruangan itu, meniggalkan Maura dan Bara di sana.


Dilihatnya Bryan, Hanna, Evan dan Ghea duduk di kursi ruang tunggu. Bryan terlihat galau karena calon istrinya berada didalam sana bersama Bryan.


"Ma, gimana keadaan Bara? Apa dokter dia benar-benar hilang ingatan?" Tanya Bryan tidak percaya.


Clara menelan ludah, ia tak menyangka Putra sulungnya akan menanyakan Bara dengan seperti itu. Clara menangkap di dalam diri Bryan ada rasa tidak suka pada Bara. "Bryan, kamu kenapa nanyanya gitu? Adik kamu benar-benar hilang ingatan! Dan mama heran, kenapa kamu bisa bisanya cemburu disaat seperti ini?"


Bryan menoleh ke arah mamanya, dia tidak percaya akan mendengar kata-kata itu dari mamanya. Sungguh! Clara tidak paham apa yang membuat sangat berat. Baru kali ini Bryan menyadari, bahwa takdir Tuhan begitu menyakitkan.


"Heh! Ma, apa aku gak boleh cemburu melihat calon istriku berdekatan dengan pria lain?"


"Bara bukan pria lain, dia adik kamu!" Clara bicara dengan penuh penegasan. "Bryan, mama mohon pengertian kamu sebagai kakak. Bara baru ditemukan dan keadaan Bara seperti ini. Mama mohon pengertiannya, biarkan Maura menemani Bara sampai ia sembuh. Dokter bilang hanya Maura yang bisa menenangkan Bara, adik kamu!"


"Aku tau dia adikku, Ma! Tapi aku gak bisa, aku bis serahkan segalanya asalkan jangan Maura." Bryan menolak permintaan mamanya, meski Bara adalah adiknya sendiri. Ia tak mau melihat calon istrinya dekat dengan Bara. Apalagi Bara adalah mantan suami Maura.


Membayangkannya saja sudah terlalu sakit untuk Bryan. "Kenapa sih? Hanya sampai BRa sembuh saja kok. Setelah ini kalian--"


"Mama!" Bentaknya pada Clara. "AKU gak bisa biarkan calon istriku dekat dengan mantan suaminya lagi!" Tegasnya kesal menolak permintaan mamanya.


"Apa kamu bilang Bryan?" Clara sedikit tidak paham, apa yang dikatakan Bryan.


"Bu Clara, saya paham bagaimana perasaan pak Bryan. Tapi sepertinya ibu tidak tahu, kalau Bara adalah mantan suami Maura." Ungkap Alya yang sontak saja membuat Clara terkejut.


"A-apa?!" Clara menatap Bryan yang kesal dan galau itu.


Bara mantan suami Maura yang katanya brengsek itu? Ya Tuhan, takdir macam apa ini? Mengapa anakku terlibat dengan satu wanita yang sama?


Kini Clara juga merasakan apa yang namanya dilema, disatu sisi dia paham bagaimana perasaan Bryan yang cemburu melihat kedekatan Bara dan Maura. Namun, di sisi lain Clara merasa kasihan kepada anak bungsunya itu. "Bryan, mama mohon...hanya sampai...Bara sembuh." Akhirnya Clara ucapkan sebuah permohonan kepada Bryan walau berat hatinya.


Bryan mengepalkan tangannya dengan kuat, seraya menahan emosi didalam jiwanya yang akan meledak.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2