Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 61. Tak ada kabar


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Maura kembali ke tempat duduknya setelah dia menuntaskan urusannya di kamar mandi. Terlihat matanya sembab, Bryan dan Evan sudah menduga bahwa Maura menangis.


Dia pasti nangis lagi, tidak apa Bryan. Jika pria itu membuatnya menangis, kamu bisa membuat dia tersenyum dan tertawa.


"Apa Kak Evan dan pak Bryan, sudah pesan makanannya?" Tanya Maura kepada dua orang pria yang duduk satu meja dengannya.


"Belum, kami lagi nunggu kamu." Bryan menjawab cepat.


"Oh gitu ya? Kita pesan makanan yuk, aku udah lapar." Maura memegang perutnya yang sudah demo minta makan itu. Menghabiskan waktu di dalam ruang pengadilan selama 3 jam membuatnya lapar, belum lagi tenaga yang terkuras karena dia menangis.


Ayo Maura, ini terakhir kali kamu menangis karenanya. Wanita itu menyemangati dirinya didalam hati.


"Maura, kamu mau makan apa?" Evan menoleh ke arah Maura.


"Aku mau karedok, seblak sama cumi hitam yang pedas."


"Kamu makan yang pedas semua? Nanti kamu sakit perut loh, mending kamu makan yang pakai nasi." Tegur Evan pada adik sepupunya itu.


"Kakak, kakak tau kan aku pecinta pedas? Aku gak akan kenapa-napa. Lagian, cuminya pakai nasi kok!" Wanita itu tetap kekeh untuk makan semua makanan pedas itu.


Evan menghela nafas, "Karena ini hari spesial kamu, baiklah...tapi jangan salahkan kakak kalau kamu sakit. Kakak udah ingetin kamu loh." Evan mewanti-wanti.


Maura hanya mengangguk-angguk. Sementara Bryan terlihat bingung, sampai Maura bertanya ada apa dengannya. "Pak! Bapak kenapa?"


"I-itu...nama makanan yang kamu sebutkan itu makanan dari negara mana ya? Kenapa aku tak pernah dengar?" Bryan mengerutkan keningnya, tangannya menggaruk belakang telinga.


Sontak adik-kakak itu tertawa mendengar pertanyaan Bryan. "PFut...haha..."


Presdir Xander grup itu melongo, menampakan wajah polos dan tidak tau apa-apa. "Loh kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Kak, lucu banget deh...masa pak Bryan gak tau makanan khas Indonesia? Dia taunya cuma nasi goreng." Ejek Maura pada Bryan sambil memegang perutnya, menahan sakit karena tawa.


Pria itu malah tersenyum senang melihat Maura tertawa, ternyata setelah bercerai dari Bara, Maura masih bisa tersenyum bahkan tertawa lepas karena dia.


"Maura, kamu diem aja deh...pak Bryan kan lama tinggal di luar negeri. Jelaslah dia gak tau makanan negeri kita sendiri," Bela Evan pada calon adik iparnya itu.


Aku harus membela calon adik iparku.


"Iya benar, saya tinggal lama di luar negeri jadi saya gak tau," alibinya sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu bapak harus mengenal masakan negeri sendiri mulai sekarang." Maura tersenyum.


"Oke, tapi kamu yang harus mengenalkan masakan itu." Kata Bryan dengan tatapan tegas pada Maura, menegaskan bahwa harus dia orangnya.

__ADS_1


"Eh? Saya?" tunjuk Maura pada dirinya sendiri.


"Ya, harus kamu yang mengenalkannya padaku, kalau bukan kamu aku tak mau," Bryan bergerak lebih maju ke depan dan agak memaksa. Mungkin pria itu ingin mendobrak hati Maura.


Bagus pak Bryan, bagus! Maura memang harus agak di paksa seperti itu. Evan tersenyum senyum sendiri. Lampu hijau telah dia berikan pada Bryan sepenuhnya.


Maura terdiam, jantungnya berdegup kencang tiba-tiba. Rasa aneh apa didalam hatinya? Dia tidak tahu. "Baiklah pak, saya akan melakukannya."


"Satu kali makan, satu kali juga kamu mengenalkan makanan khas Indonesia... terutama makanan khas Betawi. Oke?" Pria itu melakukan tawar menawar.


Ketika aku bergerak maju, kamu hanya harus diam disana Maura.


"Bukankah itu artinya kita akan sering makan bersama?" Tanya Maura.


"Iya benar dan itu yang aku mau,"


Tatapan nanar Bryan padanya membuat Maura gugup dan sontak memalingkan wajahnya. "Ehem, ayo kita pesan makanan! Aku sudah lapar!"


Sesaat aku terpesona pada wajah tampannya itu. Huuh....pria tampan memang berbahaya.


"Baiklah, aku pesan yang sama dengan yang dipesan Maura!" Seru Bryan sambil tersenyum semangat untuk mencoba makanan yang disebut karedok dan seblak itu.


Mereka bertiga pun makan bersama, Bryan terlihat berkeringat dingin. Lidahnya menjulur beberapa kali keluar, huh hah seperti kepanasan.


"Pak Bryan, apa anda baik-baik saja?" Evan peduli pada Bryan.


Sial! Perutku seperti terbakar, aku tidak menyangka akan pedas seperti ini.


Maura juga peduli pada Bryan, dia mengasongkan gelas berisi air minum pada Bryan, dengan cepat Bryan meneguknya.


*****


Setelah makan siang itu, Bryan tidak terlihat lagi di sekitar Maura dan Evan. Dia tidak ada kabar bahkan membatalkan janji bertemu dengan Maura untuk membahas desain proyek.


"Kak, menurutmu pak Bryan kenapa?" Tanya Maura pada kakaknya.


"Kenapa tanya padaku? Kamu cemas ya padanya?" Evan tersenyum seraya menggoda Maura.


Tampaknya Maura sudah mulai menyadari kehadiran pak Bryan.


"Cemas? Siapa yang cemas?" Maura langsung menyangkal dan matanya membulat.


"Lalu kenapa kamu tanya padaku? Kenapa tidak tanya padanya saja kenapa dia membatalkan janji bertemu?" Evan cuek.


"I-tu...kenapa kakak tidak bantu aku tanyakan? Ini demi kepentingan kerjasama," Maura gelagapan.

__ADS_1


Kemana sih pak Bryan? Apa dia baik-baik saja ya? Katanya mau makan siang bersama dan ini itu, tapi dia gak ada kabar.


"Kerjasama ketua tim desain yaitu kamu dengannya kan? Jadi, kamu yang selesaikan dong. Ingatlah Maura kalau persetujuan dari pak Bryan harus kamu dapatkan 2 hari lagi, kamu penanggung jawabnya!" Kata Evan tegas soal pekerjaan, tidak terkecuali pada Maura.


"Wah, kak Evan kejam sekali ya? Aku ini adikmu loh kak," gerutu wanita itu sebal.


"Urusan keluarga dan pekerjaan adalah hal yang berbeda. Sudah sudah...pergilah, kamu harus kerjakan tugasmu secepatnya." Kata Evan mengusir adiknya dari ruangan itu.


Bibir Maura mengerucut sebal, dia pun melangkah pergi keluar dan sebelum keluar dia berpapasan dengan Nathan yang juga akan masuk ke dalam ruangan Presdir.


Oh ya, Nathan? Ada rahasia apa dengan Nathan dan kak Evan?. Maura penasaran.


Nathan cuek dan berjalan masuk tanpa rasa hormat pada Maura yang notabenenya adalah anak atasan. Maura sengaja melambatkan langkahnya untuk mendengarkan percakapan Nathan dan Evan. "Pak, besok saya izin cuti."


Maura baru berpikir, Nathan selalu ambil cuti di akhir bulan dan pergi entah kemana, dia tak pernah memberikan alasannya. "Besok, aku harus ikutin Pak Nathan!" tekad wanita itu sudah bulat.


****


Sore itu sepulang kerja, Maura menelpon Ferry sekretaris Bryan untuk menanyakan keadaan Bryan. "Apa? Pak Bryan sakit?" Maura terperangah mendengar jawaban dari Ferry, bahwa bosnya itu sedang sakit.


Oh pantas saja dia tidak ada kabar selama beberapa hari ini.


Akhirnya dia pergi ke rumah Bryan untuk pertama kalinya dengan alasan bisnis, meski sebenernya ada alasan lain dibalik semua itu. Maura tiba di sebuah rumah mewah bak istana, rumah yang berkali-kali lipat lebih mewah dari rumahnya.


Bahkan didepan rumahnya banyak pria berpakaian hitam yang berjaga. "Alamatnya sudah benar," gumam Maura sambil berjalan masuk ke gerbang rumah itu, dia pergi naik taksi kesana karena dia belum bisa menyetir sendiri.


Beberapa orang berpakaian hitam berdiri didepannya, bertanya mau apa Maura kesana. Maura menjawab bahwa dia adalah perwakilan dari perusahaan Agradana dan mau bertemu dengan Bryan. Namun mereka tidak mengizinkan Maura masuk karena dia belum memiliki janji dengan Bryan, bagaimana dia membuat janji ponsel Bryan saja tidak aktif. "Saya mohon pak, saya perlu bertemu dengan pak Bryan! Tolong beritahu pak Bryan bahwa sayang datang,"


"Maaf Bu tidak bisa,"


Oh, baiklah...kalian yang memaksaku. Maura geram, dia pun berjalan masuk ke dalam sana. Lalu salah satu pria itu mendorongnya sampai jatuh ke aspal.


"Kalian kasar sekali!" Maura kembali berdiri, dia menatap kesal pengawal di rumah itu.


Uuhh...kakiku perih. Maura merasakan perih di bagian lututnya.


"Ibu yang memaksa kami berbuat kasar!" ujar salah satu penjaga disana pada Maura.


Perdebatan itu berakhir ketika Farhan kesana dan menghampiri Maura. Maura langsung menjelaskan pada pria paruh baya itu, bahwa dia bermaksud bertemu Bryan tapi dihalangi oleh penjaga disana.


"Ibu, mau bertemu tuan muda?" Tanya Farhan lagi. Sudah 3 kali pria itu menanyakan hal yang sama. Tatapannya menelisik pada Maura.


"Iya pak, pak Bryan mengenal saya...bapak bisa tolong sampaikan padanya, bahwa saya datang?" Kata wanita itu sopan.


Ada seorang wanita datang ke rumah ini mencari tuan muda untuk pertama kalinya. Apa dia adalah calon nyonya muda? Aku harus segera beritahu nyonya hal ini.

__ADS_1


Maura terheran-heran dengan pria paruh baya yang menatapnya dengan tersenyum-senyum aneh itu. 'Apa pria ini baik-baik saja? Kenapa dia senyum-senyum begitu padaku?'


...*****...


__ADS_2