Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 80. Saya bukan orang baik.


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Beberapa menit sebelumnya, Bara yang sudah membawa bunga Lily dan sebungkus sesuatu ditangannya. Masuk ke dalam rumah Maura diam-diam saat mang Udin dan Hendra asyik ngopi di pos satpam.


Kalau bukan karena itu, pasti Bara tidak akan bisa masuk ke dalam sana. Niatnya menjenguk Maura yang baru saja keguguran, membuktikan bahwa dia tidak hanya peduli pada anak yang ada di dalam kandungan Maura, tapi dia juga peduli pada perasaan Maura.


"Maura pasti senang, aku bawakan kue kesukaannya." Bara tersenyum melihat bungkusan yang dia bawa itu.


Wajah Bara yang tadinya semangat ingin menemui Maura. Ketika sampai didepan pintu rumah itu, hati Bara seperti terkena pukulan hebat saat melihat Maura berpelukan mesra dengan Bryan disana. Tak hanya berpelukan, Bara juga melihat Maura berciuman mesra.


Bara memukul-mukul dadanya yang sesak itu, kini dia merasakan apa yang dirasakan Maura dulu ketika melihat dirinya berselingkuh dengan Lisa dan Vera walau hanya pura-pura. Kini ia menyadari bahwa hati adalah hal yang paling rapuh di dalam dirinya.


Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Maura berpura-pura ataukah dia benar-benar memiliki hubungan dengan Presdir Xander grup itu.


*****


Pria yang membawa bunga Lily ditangannya itu tak lain adalah Bara. Mantan suami Maura, yang sepertinya masih mengharapkan cinta dari Maura.


Wajah Bara terlihat pucat dan gelisah ada di matanya, Maura melihat itu semua. Apa yang membuat Bara seperti itu, Maura sungguh tak peduli lagi.


"Mau apa kamu kemari?" Maura mengulangi pertanyaannya lagi pada Bara. Suaranya ketus seperti biasa.


"Hentikan semuanya Maura. Aku tau kamu melakukan semua ini hanya membalasku, kan?" Tanya pria itu sarkas.


"Apa maksud kamu tiba-tiba bicara begitu?" Gadis itu balik bertanya kepada Bara, dengan kening berkerut dan alis menaut ke atas.


"Kamu... melakukan ini untuk membalasku kan? Agar aku sakit hati? Agar... aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu? Bryan, hanya kamu manfaatkan? Begitu, kan?"


Maura belum paham apa yang dikatakan mantan suaminya itu. Namun, dia menyimpulkan satu hal saat mendengar suara dan raut wajah Bara. Jelas! Pria itu sakit hati kepadanya.


Mengapa aku mendengar suara Bara seperti sedang sakit hati? Apa dia melihat aku dan Bryan bermesraan?


"Oh... tampaknya kamu masih saja percaya diri ya? Siapa kamu? Kenapa aku harus membalas rasa sakit hatiku kepadamu dulu? Aku---sudah memutuskan untuk melupakan masa lalu apalagi tentang KITA. Cinta, penipuan dan dendam...aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan hal itu, terutama berurusan dengan kamu." Ucap Maura seraya menunjukkan jari telunjuk ke arah Bara. Ia yakin dengan ucapannya sendiri, memang iya ini melupakan masa lalu dan dia sedang belajar untuk melupakannya bersama orang yang baru, yaitu Bryan.


Sakit!


Rasanya seperti terjatuh dari atas gedung, lalu tertimpa reruntuhan gedung itu. Ya, itulah hati Bara saat ini..


"Nggak! Kamu pasti berbohong, kamu melupakan aku dan melupakan masa lalu kita sepenuhnya." Pria itu saja menyangkal hubungan mantan istrinya dengan pimpinan perusahaan Xander grup tersebut. Dia masih merasa kalau Maura belum melupakan dirinya.


"Bara! Kamu jangan halu terus ya, aku sudah melupakanmu dan kamu lihat sendiri kan? Kalau aku sudah menjalin hubungan dengan Bryan," tegasnya pada Bara.


"Maura... aku akan memaafkan kelakuan kamu dan Bryan barusan, asalkan kamu mau menerima aku kembali." Mata Bara Gadis itu dengan berkaca-kaca.


"PFut....haha..." Maura menahan tawa, tawa yang mengejek Bara. "Tidak ada kata kembali di dalam KAMUS KU! Kamu tau itu, Bara! Bahwa aku tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama. Sekali cinta, aku akan sangat mencinta dan sekali benci, aku akan sangat membenci. Kamu tau benar sifatku, aku seperti apa."

__ADS_1


"Maura..."


"Pergilah! Aku harap aku tidak pernah melihatmu lagi. Bukan karena aku membencimu, tapi aku tidak suka saja melihat masa laluku. Setiap melihat kamu, aku jadi teringat semua luka-luka itu, luka-luka yang kamu berikan kepadaku. Jadi, tolong... jangan membuat lukaku yang jauh dari kata kering ini terbuka lagi." Tuturnya sambil mengatupkan kedua tangan seraya memohon pada Bara untuk tidak muncul lagi di hadapannya. "Tolong Bara, aku juga ingin bahagia."


Senyum getir dan tatapan Maura padanya yang memohon untuk bahagia, mengusik hati Bara. Seolah dialah penyebab semua penderitaan dan luka Maura. Tapi itu memang benar, dialah yang menjadi alasan Maura terluka.


Bara terdiam, lalu dia tersenyum getir. Sulit dipercaya, bawa air mata kini mengalir dari matanya membasahi wajah tampan itu. Maura sampai tercengang dibuatnya.


Apa ini? Kenapa Bara menangis? Dia menangis karena apa?


"Hem...baiklah, aku tidak akan datang lagi. Kecuali kamu memanggilku untuk datang, tapi tolong terima ini." Bara menyerahkan bunga Lily dan sebungkus keresek berwarna putih ditangannya pada Maura.


Tangan Maura terulur dan mengambil apa diserahkan oleh Bara. Setelah itu Bara mengucapkan salam, lalu dia pergi dari sana dengan motor bututnya. Raut wajahnya sungguh menampakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.


"Aku harap kamu juga bisa menemukan kebahagiaan kamu, Bara. Walau hubungan kita sudah berakhir sebagai pasangan suami-istri." Doa Maura tulus pada Bara.


*****


Di dalam perjalanan menuju ke kantornya, Bara terus menangis sakit hati. Teringat lagi adegan di mana mantan istrinya tengah bermesraan dengan kekasih barunya. Hati Bara, rasanya seperti dihujam sesuatu yang tajam berkali-kali sampai rasanya dia mau mati.


Masih belum ada keikhlasan di hati Bara, melihat Maura bahagia bersama yang lain. Ya, itu karena Bara belum melepaskan Maura sepenuhnya.


Sungguh! Aku ingin melupakan kamu, tapi setiap aku melupakan hatiku terasa sangat sakit. Setiap kenangan kita, terlintas di kepalaku.


Ketika berada dalam tengah perjalanan menuju ke kantor, Bara melihat seorang ibu-ibu sedang di begal oleh dua orang pria bersenjata.


"Diam!" Teriak salah seorang pria itu membentak Clara.


Clara pun bungkam, dia masih berusaha melindungi dompetnya. Lebih tepatnya kalung yang ada di dalam dompet tersebut.


Namun, kedua orang pria pembegal itu tidak mau mendengarkan Clara. Mereka terus menjarah barang-barang Clara yang ada di dalam mobil sampai habis. Tak cukup disana, gelang, cincin, anting, bahkan sampai kalung yang dipakai Clara diambilnya juga.


Emosi Clara pecah saat melihat seorang preman itu mengambil dompetnya dan kalung yang berada didalam sana. Terlihat foto dua orang anak laki-laki didalam dompetnya itu.


"Tolong--kalian bisa ambil apapun yang kalian mau, jangan mengambil foto dan kalung yang ada di dalam dompet tersebut. Saya mohon!!" Clara mengatupkan kedua tangannya seraya memohon kepada dua orang yang memegangnya itu untuk tidak mengambil kalung dan foto yang ada di dalam dompetnya.


"Diam kamu! Atau saya gorok leher kamu!" Ancam pria itu yang semakin menodongkan pisau ke leher Clara dan membuat Clara semakin terpojok.


Clara menahan tangis, dia sudah mencoba meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya. Sebab jalanan itu terkenal sebagai jalanan yang sepi. Dan yang lebih bodohnya lagi, harusnya Clara pergi bersama supirnya saja tadi. Clara tidak tahu hal seperti akan terjadi padanya.


"Hey! Simpan kembali barang-barang itu dan pergilah dari sini!" Bara sudah berdiri disana dan bersiap untuk melawan begal itu.


"Hey, siapa Lo? Ikut campur urusan kita aja Lo," ucap seorang pria bertubuh tinggi sambil memandang ke arah Bara.


"Kalau kalian gak mau pergi, ya udah!" Bara memukul kedua pria bersenjata itu dengan tangan kosong.

__ADS_1


Kemampuan berkelahi mereka jauh dibawah kemampuan Bara. Hanya butuh waktu 3 menit, mereka sudah kabur darisana tanpa membawa barang-barang Clara.


"Kalau mau jadi begal, belajar bela diri dulu! Sialan!" Umpat Bara pada kedua pria yang lari kocar-kacir darinya.


Perhatian Bara tertuju pada dompet yang ada di aspal, dia menyerahkannya pada Clara yang masih mendesah karena syok. "Bu, coba periksa dulu...takutnya ada yang hilang." Kata Bara sopan pada Clara.


"Iya, makasih ya nak." Clara mengambil dompet itu, lalu dia buru-buru lihat isi dompetnya. Ia memperhatikan uang ataupun kartu ATM yang ada di sana, dia hanya memperhatikan selembar foto yang terdapat dua anak kecil disana dan juga seutas kalung berbentuk kunci disana. "Alhamdulillah..." Clara memeluk dompetnya dengan lega, air matanya mengalir.


"Lengkap semua kan Bu? Gak ada yang hilang?" Tanya Bara lagi dengan sopan.


"Iya, makasih ya kamu sudah menolong saya. Kalau gak ada kamu, saya akan kehilangan benda berharga dalam hidup saya. Makasih ya nak!" Clara menatap Bara dengan lega, tak henti-hentinya ia berterimakasih.


"Sama-sama Bu, syukurlah kalau gak ada yang hilang. Ibu sendiri gimana? Gak apa-apa? Saya lupa tanya, hehe." Bara terkekeh kecil.


"Alhamdulillah saya gak apa-apa kok, untung ada kamu nak. Makasih banyak! Saya harus bagaimana membalas kebaikan kamu?" Clara tulus ucapkan terima kasih kepada Bara yang telah menyelamatkannya dari begal.


Kenapa aku seperti tidak asing dengan matanya ya?. Clara menatap mata Bara.


"Tidak usah Bu, saya ikhlas kok menolong Ibu. Oh ya Bu, mobil ibu kenapa? Dan kenapa ibu bisa ada di jalan sepi ini? Jalanan ini hewan dengan begal, bu."


Clara pun menjelaskan kepada Bara, bahwa dia bermaksud untuk mengambil jalan pintas dan tak sengaja ban mobilnya kempes disana. Lalu para begal itu datang dan menyerang dirinya.


Akhirnya Bara memberikan tumpangan kepada Clara karena kasihan pada Clara yang buru-buru. "Maaf ya Bu, ibu harus naik motor saya."


"Eh tidak! Jangan bilang begitu, harusnya saya yang berterimakasih karena kamu sudah mau mengantar saya. Maaf merepotkan kamu."


"Tidak apa-apa Bu, kebetulan kita juga searah." Bara tersenyum dibalik helmnya.


"Oh ya, nama kamu siapa? Usia kamu berapa?" Clara penasaran dengan identitas penolongnya itu.


"Saya Bara, Bu...usia 26 tahun." jelas Bara jujur.


"Saya Clara. Bara kamu anak yang baik ya, jarang loh ada anak baik seperti kamu."


26 tahun? Jika Kenzo masih ada, pasti dia sudah sebesar anak ini. Batin Clara sambil melihat punggung Bara.


"Nggak Bu, saya gak baik. Saya ini orang jahat Bu." Gumam Bara yang teringat sudah menyakiti Maura.


"Loh? Kok kamu bilang gitu sih?" Clara heran, kenapa Bara mengklaim dirinya sebagai orang jahat.


"Saya, sudah membuat mantan istri saya dan keluarganya menderita Bu." Curhat Bara sedikit.


Clara terusik hatinya mendengar curhat Bara, dia ingin bertanya lebih lanjut tapi dia sudah sampai di tempat tujuan yaitu didepan kantor Bryan. Bara langsung pamit pergi karena dia sudah terlambat ke kantor.


"Ya Allah, aku lupa tanya nomor ponselnya! Bagaimana aku bisa berterimakasih padanya?"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2