Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 60. Ini yang kumau


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ketuk palu!


Pernikahan itu akhirnya berakhir, Maura resmi menjadi seorang janda dengan kebebasan yang selalu dia inginkan. Begitu pula dengan Bara, dia juga sudah menjadi seorang duda. Pria yang mempermainkan janji pernikahan dengan dasar balas dendam, merasa menyesal karena dia harus bercerai dengan Maura.


Namun, hal ini pantas dia dapatkan dan dia tahu itu. Kini Bara berada di persimpangan jalan yang berbeda dengan Maura, hubungan mereka benar-benar sudah tak terikat lagi dengan apa yang disebut pernikahan ataupun cinta.


"Kenapa dia menangis? Apa dia masih tidak ikhlas bercerai? Bukankah ini yang dia inginkan?" Ghea masih saja kesal dengan Maura, dia benci melihat mantan kakak iparnya itu menangis.


"Ghea, dia menangis bukan karena tidak ikhlas bercerai dari kakak. Tapi karena dia bahagia telah memperoleh kebebasannya," ucap Bara sambil menghela nafas, dia melihat Maura berada disisi lain tangga gedung pengadilan itu.


Maura, mulai sekarang dan seterusnya...aku akan memulai semuanya dari awal tanpa ada penipuan ataupun dendam. Ini murni hatiku dan aku tulus.


"Ayo nak, kita pergi dari sini. Kita lupakan semuanya dan hidup dengan tenang," Alya mengajak anak-anaknya untuk hidup tenang, memulai hidup yang baru.


Semoga kamu bahagia, Maura.


"Iya Bu, mari kita pergi!" Bara tersenyum lembut.


Tunggulah aku Maura, aku pasti bisa mendapatkanmu lagi dan untukmu Bryan, aku pasti akan menyingkirkan orang asing sepertimu dari hidup Maura.

__ADS_1


Bara, ibu dan adiknya pergi dari sana bersama-sama. Dari kejauhan Evan dan Maura melihat itu.


"Kamu kenapa nangis? Kamu sedih?" Tanya Bryan saat melihat gadis itu menangis.


"Aku gak apa-apa," jawab Maura sambil mengusap air matanya, lalu dia tersenyum.


Akhirnya aku dan Bara berakhir, ini yang kumau tapi kenapa aku menangis? Aku pikir itu karena aku merasa lega.


Bryan menatap Maura dengan sedih, entah apa yang dia pikirkan saat melihat Maura menangis setelah perceraiannya dengan mantan suaminya.


"Hehe, ayo kita makan siang bersama!" Evan berusaha mencairkan suasana, dia mengajak Bryan, Maura dan pengacara keluarganya yang bernama Prapto untuk makan siang bersama dan merayakan resminya perceraian Maura dan Bara.


Mereka bertiga pun pergi ke sebuah restoran khas Sunda yang selalu ingin dikunjungi oleh Maura, sayangnya pak Prapto tidak bisa ikut karena dia sedang sibuk. Sesampainya disana, Maura senang karena baru bisa pergi kesana.


Evan melihat semangat perjuangan yang membara pada diri Bryan. Dia merasakan bahwa Bryan terlihat bahagia dengan perceraian itu, sedangkan Maura masih terlihat membingungkan. Evan tak dapat menebak hatinya saat ini, namun Evan tak mau menghakimi Maura. Dia tau hal ini berat juga untuknya, melepaskan cintanya pada Bara yang sudah ada didalam diri Maura selama lebih dari 4 tahun.


Tak apa Maura, kamu pasti akan bisa membuka hatimu lagi untuk yang lain. Kamu hanya perlu waktu, aku tau itu. Evan menghela nafas, melihat Maura yang sedang mengobrol dengan Bryan tentang menu makanan yang akan di pesan.


"Sayang sekali pak, disini tidak ada nasi goreng kambing seperti apa yang bapak mau. Disini tertulis kosong, pak!" Maura menatap daftar menu makanan di tangannya.


"Kamu ternyata masih ingat makanan kesukaanku?" Bryan senang karena Maura masih mengingat makanan kesukaannya.

__ADS_1


Apa ini berarti aku mulai memiliki arti di hati kamu?


"Sa-saya kalau diberitahu sekali, pasti akan ingat kok."


Maaf pak Bryan, aku tidak mau memberimu harapan.


Wajah Bryan memperlihatkan kesedihan dan kekecewaan seolah Maura menepis harapannya. "Apa ini? Kenapa dia masih menjaga jarak?"


Evan juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Bryan, Maura memang masih jaga jarak dan tidak mau memberi harapan.


"Aku permisi ke toilet dulu," ucap Maura tiba-tiba saja pamit pergi.


Wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Bryan menatap kepergian Maura dengan sedih. "Pak Bryan?"


"Ya?" Sahut pria itu lesu.


"Semangat ya, saya yakin Maura hanya perlu waktu untuk membuka hatinya. Jika anda serius dengan Maura, saya harap anda bisa bersabar karena hatinya masih terluka."


"Pak Evan tenang saja, stok kesabaran saya untuk Maura tidak akan habis. Saya akan menunggu sampai dia siap," kata Bryan sambil tersenyum tegar.


Evan menyemangati dan mendukung Bryan menjadi pendamping Maura kelak, karena memang pria itu pantas untuk Maura. Dia baik dan dia mencintai Maura dengan tulus, selalu ada untuk Maura disaat dia membutuhkannya. Lelaki seperti inilah yang lantas untuk mendampingi Maura.

__ADS_1


...****...


__ADS_2