Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 70. Bukan untukmu lagi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Beraninya dia naik ke dalam kamar seorang wanita seperti itu?


Dengan gigi gemertak, tatapan tajam, Bryan marah pada pria yang naik ke kamar Maura. Dia sudah tau dan sudah bisa menebak siapa pria itu, pastilah si mantan yang belum move on dari wanita incarannya.


Jahil!


Bryan menggoyang-goyangkan tangga yang sedang dinaiki oleh Bara. Bara menoleh ke arah Bryan yang menggoyang-goyangkan tangganya. "Hey! Apa kamu sudah gila?!"


"Siapa yang gila disini? Bukankah kamu yang paling tau?" Dia tersenyum menyeringai, tangannya masih menggoyangkan tangga itu, bahkan kini kakinya menendang-nendang tangga.


"He-hey...hentikan! Aku bisa jatuh!" Teriak Bara yang ternyata takut pada ketinggian, apalagi lantai 2 ke lantai 1 jaraknya lumayan tinggi.


"Mau turun sendiri, atau SAYA yang akan menurunkan kamu!" Bryan mengancam Bara, jika pria itu tidak turun, maka ia yang akan membuatnya jatuh.


"Oh...kamu mengancamku? Kamu gak akan berani," Bara memegang erat tangga kayu itu, tubuhnya gemetar, wajahnya berkeringat.


"Kamu pikir saya gak berani?!"


DUAK!!


Bryan menendang keras tangga itu hingga oleng dengan posisi Bara masih bergelantung disana. "Ah!! Sialan!!!" Bara berteriak, dia dan tangga yang dinaikinya itu jatuh. Dengan sengaja Bara menggerakkan tangannya ke arah Bryan, dia tak mau jatuh sendiri.


"WOAH!!!" Bryan yang tidak sadar Bara dan tangga yang dia naiki menuju ke arahnya, tidak dapat menghindar.


BRUK!!


Maura mendengar keributan itu, dia pergi ke balkon rumahnya yang terletak di lantai 2. Maura melihat Bara menindih Bryan dan ada anak tangga juga disana. "Kenapa mereka..." gumam Maura dengan suara kecilnya.


"Sialan! Kalau mau jatuh, jangan ajak ajak saya!!" Teriak Bryan marah-marah pada pria yang ada diatas tubuhnya itu. Dia jengkel sekali dengan Bara.


"Gak bisa gitu dong, kalau saya jatuh...harus jatuh sama kamu juga!" Bara tidak mau kalah bicara.


"A-apa? Dasar tidak tahu malu, cepat kamu turun dari tubuhku!" Ujar Bryan semakin sebal dengan pria itu.


Aduh, tubuhku sakit.


"PFut.... hahahahaaha.."


Bryan dan Bara kompak melirik ke arah balkon tempat Maura berada, begitu mereka mendengar suara tertawa. Disana juga ada mang Udin dan Hendra, melihat adegan Bara dan Bryan yang terlihat seperti berpelukan itu.


"Maura?" Bryan dan Bara kompak lagi memanggil nama Maura.


Ih, kenapa harus kompakan sama dia?. Batin Bara dan Bryan sama-sama jengkel.


"Kalian romantis banget sih, hahaaha..."


Sudah lama kedua pria itu tidak melihat tawa Maura, keduanya terpana. Bara beranjak dari tubuh Bryan, dia duduk dan melihat Maura. Bryan juga sama seperti Bara, melihat wanita yang sedang tertawa lepas itu.


Maura tertawa? Indah sekali, sudah lama aku tidak melihatnya tertawa...ya itu karena aku selalu membuatnya menangis.


Keributan itu terdengar juga oleh Evan, dia langsung pergi keluar rumah untuk melihat keributan apa yang terjadi disana. "Pak Bryan? Bapak gak apa-apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Evan membantu Bryan berdiri, sementara dia mengabaikan Bara yang masih duduk diatas rumput itu.


"Ini semua gara-gara dia, kalau saja dia tidak naik tangga...saya tidak akan tertimpa." Bryan menatap tajam ke arah Bara sambil memegang bahunya yang terasa sakit. Jelaslah dia merasa sakit, sebab dia yang tertindih dan berada di paling bawah.


Terlihat jelas bagaimana perlakuan Evan pada Bryan dan Bara, Bryan dianggap sebagai Raja sedangkan Bara hanyalah butiran debu. Sakit, hati Bara diperlakukan seperti itu oleh Evan.


"Pak Bara, bapak gak apa-apa?" Hendra yang masih punya rasa kemanusiaan, tidak tega melihat Bara diabaikan. Pikirnya dia hanya jahat pada Maura dan keluarganya, bukan padanya. Jadi dia tak punya alasan untuk memusuhi Bara.

__ADS_1


"Makasih pak Hendra,"


"Oh, jadi kamu lagi? Bukankah saya sudah suruh kamu untuk pergi, kenapa belum pergi juga?!" Hardik Evan dengan tatapan sinisnya seperti biasa.


"Aku..." Bara tidak tahu bagaimana menjelaskannya, dia akan pergi ke kamar Maura secara diam-diam untuk menghiburnya.


"Dia mau naik ke kamar Maura, saya melihatnya." Bryan yang membantunya menjelaskan. "Gak usah khawatir, saya udah bantu jelaskan." Presdir Xander grup itu menepuk bahu Bara sambil tersenyum mengejek.


Dasar licik!. Umpat Bara dalam hati.


"Oh, terima kasih pak Bryan...tapi seharusnya tidak perlu." Kata Bara sambil menepis tangan Bryan yang menyentuh bahunya. Dia tersenyum lebar, dengan mata tajam mengarah pada Bryan.


"Kamu masih belum menyerah juga ya?"


"Selama janur kuning belum melengkung dan selama bendera putih belum berkibar, aku tidak akan menyerah."


"Tapi bagiku kamu sudah bendera KUNING!" Kata Evan tegas pada pria itu. Bendera kuning yang menandakan kematian.


Bara tersentak kaget sampai menelan ludah mendengarnya, dia mengepal tangannya dengan kuat. Tanpa mereka sadari, Maura sudah berada disana dan sepertinya dia mendengar ucapan Evan pada Bara.


"Maura?" Bryan melihat ke arah Maura yang masih pucat pasi.


Wanita itu langsung tersenyum ramah dan hangat menyambut Bryan. Dia mengabaikan Bara yang ada disana, seolah dia makhluk gaib.


Sabar Bara, sabar. Bara menguatkan dirinya sendiri.


"Maura, kamu kenapa keluar? Kamu kan lagi gak enak badan?" Evan bertanya dengan cemas pada adiknya.


"Aku dengar keributan, jadi aku turun deh." Maura melirik sekilas pada Bara. Lalu dia beralih pada Bryan, tatapan pada Bara dan Bryan jelaslah sangat berbeda.


Bara merasakan itu, merasakan sakit melihat wanita yang dia cintai menatap pria lain dengan lembut. Tatapan lembut yang biasanya ditujukan padanya, kini berpaling pada orang lain.


Dengan gentle, Bryan membuka jaketnya dan memakaikan jaket itu pada Maura. "Pak Bryan,tidak usah--"


"Makasih pak,"


Maura tidak menolaknya? Apa ini artinya benar-benar lampu hijau untukku?. Tidak ada reaksi penolakan dari Maura, membuat Bryan berbesar hati dan ingin segera mengatakan cintanya pada Maura.


"Ayo kamu masuk sama pak Bryan," ucap Evan pada Maura dan Bryan.


Bryan dan Maura masuk ke dalam rumah lebih dulu, sementara Bara berada disana bersama Evan. "Kamu sudah tau kan kalau kamu gak ada kesempatan lagi untuk bersama Maura. Kenapa masih ngotot?"


"Kesempatan itu pasti ada, Allah pasti akan memberikan jalan tidak terduga pada seseorang yang tulus dan menyesali perbuatannya, suatu hari nanti...akan ada kesempatan tidak terduga."


Evan tercengang mendengar ucapan Bara, dia gelisah bagaimana kalau Bara tau tentang kehamilan Maura. Kesempatan untuk Bara, terbuka lebar dan dia akan merasa menang. Tapi Evan tidak akan membiarkan itu terjadi, dia akan melenyapkan bayi itu sebelum Bara dan Maura tau semuanya.


"Kesempatan itu tidak akan ada untukmu, Bara Rahadian! Sadarlah, tempat itu bukan untukmu lagi." Evan memeringati Bara.


Evan masuk kedalam rumah setelah Dia menyuruh Hendra untuk mengusir Bara darisana. Bara hanya bisa pasrah, dia tidak bisa menerobos masuk ke rumah itu. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Rumah sederhana yang dia tinggali bersama Ibu dan adiknya, Ghea. Rumah itu ternyata bukan kontrakan, melainkan adalah rumah yang dibeli Bara dari tabungannya sendiri.


Terlihat Ghea sedang duduk di ruang tamu sambil mendengarkan musik. Bara tak sengaja mendengar musik itu, musik yang membuat Bara duduk di sofa dan terdiam.


🎢🎢🎢


Apakah yang terbaik, cinta harus begini?


Ini semua karenamu, terserah apa maumu...

__ADS_1


Aku masih bisa berdiri dan menatap matahari..


Meski tak lagi tempatku dihatimu..


Tak perlu ku mengejarmu, karena kau takkan kembali...


Cintamu bukan untukku, cintamu bukan untukku...


Ho-ohhh-ohh..


Bukankah dulu begitu besar cintamu?


Entah apa yang terjadi di hatimu (dihatimu)


Oh di hatimu (dihatimu)


Dihatimu..ooh..


Aku masih bisa berdiri dan menatap matahari, meski tak lagi tempatku dihatimu...


Tak perlu ku mengejarmu, karena kau takkan kembali..


Cinta kini tak untukku, cintamu bukan untukku...


🎢🎢🎢


"Kakak? Kakak sudah pulang?" sambut Ghea yang baru saja menyadari kehadiran kakaknya disana.


Bara langsung mengambil remot box speaker dan mematikan lagunya. "Kakak! Kok dimatiin sih?!" Ghea menautkan alisnya ke atas, dia kesal karena kakaknya mematikan musik yang sedang dia dengar.


Bara hanya diam, dia melamun. "Aku gak akan menyerah...meski hatimu bukan untukku lagi,"


"Bara, kamu sudah pulang nak? Ayo makan malam dulu," Alya menyambut putranya dengan perhatian.


"Iya bu," jawab Bara dengan wajah lelah. "Tapi Bara, mau shalat isya dulu."


"Baiklah nak, ibu hangatkan dulu ya makanannya. Semangat nak, ibu yakin kamu bisa membawa Maura kembali ke rumah ini." Alya menyemangati Bara yang sudah mulai berubah menjadi lebih baik.


"Makasih Bu,"


Maura dan dia gak akan ngapa-ngapain kan?. Pikiran Bara terngiang oleh Bryan dan Maura yang sedang bersama.


*****


"Pak Bryan, maaf saya sudah membuat bapak sampai datang kemari dan terimakasih bapak sudah membawa saya ke rumah sakit." Kata Maura pada Bryan.


"Tidak usah berterimakasih, tapi kamu harus tau....saya begini sama kamu aja." Ucap Bryan jujur.


Maura terpana melihat wajah Bryan dan kebaikan hatinya. Sudah saatnya dia membuka hati untuk pria lain dan sepertinya Bryan adalah orang tepat.


"Pak, saya---"


Uwekkk...uwekkk...


Evan dan Bryan terkejut melihat Maura yang mual-mual. Namun wajah Evan sedikit diliputi rasa takut. "Saya permisi dulu pak---uwekkk..."


Wanita itu berlari ke arah kamar mandi yang ada di dapur. Bryan melihatnya dengan cemas. "Pak Evan, apa Maura baik-baik saja? Tadi pemeriksaan dokter bagaimana? Maaf...apa saya boleh tau?" Bryan bertanya dengan hati-hati.


"Hem...Maura hanya sakit maag biasa, bukan hal yang serius kok."

__ADS_1


Evan menelan salivanya, dia takut Bryan tau bahwa Maura hamil.


...*****...


__ADS_2