
...🍁🍁🍁...
"Nah...ibu dan bapak bisa lihat di layar monitor itu kan?" tanya seorang dokter wanita sambil menekan alat USG pada perut datar Maura. Ia menunjukkan sesuatu yang tertangkap di layar monitor.
Ada sebuah titik kecil di sana, seperti biji kacang. Pasangan suami-istri itu mengangguk seraya tersenyum melihat titik kecil di layar monitor tersebut.
"Iya dok, kami lihat!" jawab Maura.
"Dokter, mana bayinya? Kenapa hanya ada kacang kecil disana?" tanya Bryan dengan polosnya sambil memandangi layar monitor itu berkali-kali dengan seksama. "Ah tidak...mungkin lebih mirip kecebong." celetuknya yang membuat Maura menepuk keras tangan sang suami.
Plakk!
"Aduh sayang! Sakit dong!" pekik pria itu sambil memegang tangannya yang baru saja terkena pukulan dari Maura.
"By! Masa anak kita dibilang kecebong sih!" protesnya kesal.
"Ya, emang dia mirip cebong kan?" kata Bryan dengan wajah tanpa dosa dan polos. Memang kalau Bryan bicara suka seenaknya dan sesuaikan fakta tanpa mempedulikan perasaan, begitulah pria yang lebih mengedepankan logika.
"Hah! Kamu ini!" dengus wanita hamil itu kesal.
"Hehe maaf Bu, pak, kalau saya menyela dulu. Tapi bisakah saya mulai membicarakan tentang hasil diagnosis Bu Maura?" dokter wanita itu terpaksa menyela perdebatan antara suami istri itu, karena masih banyak pasien yang mengantri untuk diperiksa olehnya.
"Maaf dok, silahkan dok!" ujar Bryan mempersilahkan dokter untuk mengatakan hasil diagnosis bayinya.
Setelah di periksa dengan alat USG, Maura dan Bryan duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat duduk sang dokter. Dokter itu menyerahkan amplop kecil berwarna putih pada Bryan, amplop itu berisi tentang hasil USG Maura.
"Jadi gimana keadaan istri dan anak saya, dok?" tanya Bryan kepada sang dokter.
"Alhamdulillah kandungan ibu Maura baik-baik saja untuk saat ini, akan tetapi ada satu hal penting yang perlu ibu dan bapak ketahui." mendadak wajah dokter berubah menjadi serius dan membuat pasangan Maura Bryan penasaran.
"Ya? Apa itu dok?" kali ini Maura yang bertanya lebih dulu pada dokter.
"Keadaan rahim Bu Maura termasuk lemah, jadi saya sarankan pada istri bapak untuk tidak melakukan aktivitas yang berat-berat, karena akan berbahaya untuk kesehatan ibu dan janinnya." tutur dokter pada Maura dan Bryan, hingga wajah pasangan suami istri itu berubah jadi sedih.
Apa ini karena obat penggugur kandungan yang pernah diberikan oleh Evan sebelumnya?. Pikir Bryan dalam hatinya.
"Baik dok, saya akan perhatikan itu.." sahut Bryan seraya menganggukkan kepalanya.
"Dok saya mau tanya!" tiba-tiba Maura bicara.
"Ya Bu,"
"Apa mungkin ini semua karena saya pernah keguguran?" tanya Maura pada dokter kandungan itu.
__ADS_1
"Maaf--apa ibu pernah hamil sebelumnya dan keguguran?" dokter itu balik bertanya karena ia tidak tahu sebelumnya Maura pernah hamil.
Maura menjawabnya dengan anggukan.
"Oh jadi begitu ya, bisa jadi seperti itu Bu. Itu karena ibu mengonsumsi jamu peluruh kandungan."
Kedua mata Maura melebar seketika mendengar ucapan dokter itu. Bryan pun sama, dia memegang tangan istrinya untuk mengalihkan perhatian. Dia tidak ingin Maura tau bahwa orang yang sudah membuat Maura keguguran anak pertamanya karena Evan bukan hanya karena jatuh dari tangga.
"Ja-jamu...apa maksud dokter? Saya tidak pernah meminum itu dok? Sebenarnya--"
"Little girl, maaf kita harus segera pergi. Aku benar-benar harus segera pergi ke kantor dan banyak pasien mengantri di luar untuk bertemu dengan dokter Maya." Bryan memotong ucapan Maura dan rasa penasarannya, dia memegang tangan istrinya.
Ya Allah, jangan sampai Maura terus bertanya tentang kegugurannya waktu itu dan nanti ujung-ujungnya Evan akan ketahuan. Bisa bahaya! Biarlah hal itu menjadi masa lalu. Bryan panik didalam hatinya.
Benar juga yang dikatakan Bryan, suaminya itu harus segera pergi ke kantor karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Pasien dokter Maya juga sudah mengantri di luar sana untuk menunggu giliran mereka diperiksa.
"Ta-tapi By..."
"Dok, maaf kami harus segera pergi." Bryan mengisyaratkan kepada dokter itu untuk tidak bicara lagi.
"Ah baiklah pak, Bu! Sebelum itu saya akan menulis resep vitamin dan obat penguat kandungan untuk ibu Maura," jelas dokter itu lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas.
Setelah mengambil kertas yang ada resep obatnya itu, Bryan dan Maura pergi keluar dari ruangan dokter kandungan mengambil resep obat dan vitamin. Lalu mereka sudah berada di dalam mobil saja. "By, aku gak salah denger kan? Dokter bilang kalau aku minum jamu peluruh kandungan?"
"Hem...sayang, menurutku kita harus punya nama untuk kecebong kita." Bryan berusaha untuk mengalihkan perhatian dan pembicaraan. Bryan membuka foto USG bayinya dan menunjukkannya pada Maura.
"Kecebong? By, masa anak kita kamu panggul kecebong sih?" protesnya lagi dengan kening berkerut.
"Kamu lihat sendiri, di foto ini...dia seperti kecebong?"
"By!"
"Bagaimana kalau kacang kecil? Dia seperti kacang,bukan?"
Semoga saja hal ini berhasil mengalihkan perhatian Maura. Biarlah masalah kakak iparku itu menjadi rahasia saja.
Maura semakin kesal saja mendengar usulan nama janinnya dari suaminya. Dia menggelengkan kepalanya seraya menyatakan penolakan.
"Kamu ini emang gak bisa pilih nama ya? Kacang, kecebong, gak ada yang bagusan dikit apa?"
"Oke, kalau gitu apa kamu punya saran?" tanya Bryan sambil memasangkan seat belt pada tubuh istrinya.
"Little Bean...nah itu keren kan?"
__ADS_1
"PFut...haha.." Bryan terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu? Daripada kamu kasih ana. kecebong, kacang kecil, apaan?" bibirnya mengerucut sebal mendengar ejekan dari suaminya.
"Maaf sayang, tapi little Bean itu kan sama dengan kacang kecil. Kata kamu nama itu jelek?"
Maura tidak mau kalah dari suaminya. "Beda lah! Kacang kecil ya kacang kecil, little Bean ya little Bean."
"My girl, little Bean itu kan bahasa Inggrisnya kacang kecil, jadi sama aja dong? Ya kan?"
Ya, Bryan benar. Little Bean itu sama dengan kacang kecil. Bedanya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
"Gak lah! Beda, yang jelas nama yang aku berikan untuk anak kita itu keren! Pokoknya namanya little Bean, gak mau tau ya By!"
"Gak sekalian aja Mr. Bean?" godanya pada Maura seraya tersenyum.
"Tuh kan kamu ledekin aku lagi, sebel deh!" Maura kembali di buat kesal oleh suaminya.
Cup!
Bryan mengecup bibir Maura yang manyun itu sekilas, tangannya membelai pipi Maura dengan lembutnya. "Iya sayang, namanya little Bean...bukan Mr. Bean."
"Kamu ledekin aku lagi, hah?" Wanita hamil itu kembali sensi.
"Gak sayang, aku gak ledekin kamu...beneran, little Bean bagus kok. Hehe." Bryan terkekeh kecil.
Terserah kamu lah my girl, yang penting kamu bahagia.
"Udah jangan marah lagi ya, ayo kita pergi ke apartemen kita. Aku antar kamu ya."
"Tapi By nanti kamu terlambat kerja." kata wanita itu merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, udah telat kok. Udah anter kamu ke apartemen, aku bakal ke kantor ada rapat. Sayang sama kecebong mau makan apa?"
"Jangan panggil kecebong!" teriak Maura kesal.
Bryan tersenyum dan terkekeh melihat istrinya yang menjadi pemarah. Hal-hal sedikit pun jadi sensitif, ya itulah ibu hamil.
...*****
...
__ADS_1