Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 51. Saran Vera


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Vera adalah wanita malam yang pernah ditolong oleh Bara saat dirinya hampir di perkosa beramai-ramai oleh pria hidung belang. Saat dirinya tengah bekerja sebagai PL di salah satu tempat karaoke, dia pun keluar dari tempat hiburan malam itu dan mendapatkan pekerjaan lain yaitu menjadi selingkuhan pura-puranya agar Maura terluka.


Kini giliran Vera membantu Bara untuk mendapatkan cintanya kembali dan membayar kebaikan Bara padanya.


"Kenapa kamu malah memintaku bercerai? Kalau aku bercerai, pria itu pasti akan semakin gencar mendekatinya!" Bara tidak menerima solusi yang diberikan oleh Vera padanya.


"Bara, apa kamu mau kalau istrimu semakin dekat dengan pria itu. Sementara kamu berada didalam penjara?"


"Tentu saja tidak mau!" Bara tegas.


"Kalau begitu setujui saja syaratnya seperti apa yang dia inginkan, lakukan perceraian itu dan kamu bebas dari sini tanpa perlu proses persidangan yang panjang, paling hanya sidang perceraian saja. Setelah bebas, kamu bisa mengejarnya kembali." Saran Vera pada Bara.


"Vera, kamu tidak mengerti...jika aku menceraikannya. Bukankah itu akan menjadi peluang besar baginya untuk berdekatan dengan pria lain?" Bara khawatir akan hal itu, melihat foto Maura bersama pria lain saja sudah membuatnya terbakar api cemburu.


"Itu memang benar, tapi daripada kamu berada di dalam penjara dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lebih baik kamu bebas dan bisa melakukan sesuatu ketika istrimu berduaan dengan pria lain, toh setelah bercerai...jika kamu bisa meluluhkan hatinya kembali. Bukankah kalian bisa kembali bersama lagi? Tidak ada yang tidak mungkin kan? Bara, kamu bisa memulai semuanya dari awal lagi."


Vera menjelaskan dengan panjang lebar kepada Bara tentang sarannya bercerai dari Maura agar dia bisa bebas terlebih dahulu, setelah itu dia bisa mengejarnya lagi. Ucapan Vera sukses membuat Bara berpikir keras.


"Tumben kamu berkata bijak dan kamu mau membantuku walau aku pernah memukul bahkan menyakitimu.


"Karena aku tau kamu itu sebenarnya baik, hanya saja hati kamu tertutupi oleh dendam. Lalu, anggap saja ini sebagai balas budiku karena kamu telah mengeluarkanku dari lubang neraka itu," Vera tersenyum tulus, dia ingin membantu Bara kembali mendapatkan cintanya.


Dia melihat sesal dan rasa bersalah pada diri Bara, dia tau bahwa adalah orang baik hanya saja dendam telah membuatnya berubah.


"Jangan panggil aku orang baik, tindakanku yang seperti binatang tidak bisa dimaafkan!"


"Bara, tenanglah... jangan berkecil hati. Aku yakin Maura akan memaafkanmu, bahkan Tuhan juga pasti akan memaafkanmu jika kamu bertaubat dan benar-benar menyesali perbuatanmu, lalu mau memperbaikinya." Wanita itu tersenyum bijak memberikan Bara semangat untuk menebus dosa.


Kamu itu baik Bara, hanya saja kamu salah jalan karena cintamu pada sosok Alina.


"Hem...baiklah Vera, aku akan mempertimbangkan saranmu. Terima kasih sudah datang dan bicara padaku," kata Bara sambil tersenyum tipis dengan bibirnya yang terluka itu.


"Sama-sama."


Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Bara.


Setelah perbincangan itu, Vera meninggalkan kantor polisi dan Bara juga kembali ke selnya. Di dalam sel itu, Bara terdiam dan berpikir lagi tentang saran dari Vera.


*****


Didepan kantor Xander grup, Maura masih berdiri disana dan mematung. Sebenarnya dia merasa kalau ada tatapan tajam padanya dari arah belakang. Ya, tatapan itu berasal dari Nathan sekretaris di perusahaan ayahnya.


Seenaknya saja dia bertanya padaku, apa aku menyesal atau tidak atas perbuatanku seolah dosa ayahnya itu adalah hal yang remeh? Maura, kamu sungguh arogan! Sama seperti ayahmu. Aku harap kamu menderita dan mengandung anak dari pria yang kamu sebut sebagai bajingan itu. Nathan merutuki Maura didalam hatinya karena kesal dengan ucapannya yang dianggap arogan.


"Pak Nathan,"


"Ya?"

__ADS_1


Maura melirik ke arah Nathan. "Kenapa ya aku merasa kalau kamu sedang mengumpatku?"


"Benar, dalam hati saya mengumpat anda." Nathan menjawab tanpa ragu dan dia jujur.


"Oh begitu ya? Aku tidak tahu kalau bapak adalah orang yang jujur, kenapa saat itu harus menusukku dan ayahku dari belakang segala? Tidak langsung bertarung didepan saja?" Maura lagi-lagi mengeluarkan kata-kata pedasnya pada Nathan yang sudah mengkhianati papanya.


"Kalau langsung menyerang didepan, tidak seru Bu Maura," Nathan tersenyum dengan elegan menjawab pertanyaan Maura.


Maura dan Nathan malah jadi bertengkar didepan perusahaan Bryan. Mereka berdebat tentang dosa dan penyesalan, yang berkaitan dengan kelakuan Samuel.


"Pak Nathan...apa kesalahan ayahku tidak bisa cukup dengan maaf saja?"


Nathan mendesis sinis. "Mudah sekali anda bicara seperti itu Bu Maura, kakak saya sampai berada di rumah sakit jiwa mungkin untuk selamanya dan anda bilang semuanya bisa selesai degan maaf? Lucu sekali... padahal kamu dan kakak saya sama-sama wanita, tapi ternyata kamu tidak punya rasa empati sama sekali."


Sarkas! Itulah kata-kata yang terlontar dari mulut Nathan kepada Maura yang menunjukkan seolah Maura egois dan menganggap remeh kesalahan ayahnya. Mungkin itu karena Maura masih menganggap bahwa ayahnya adalah orang baik dan dia belum melihat bagaimana sifat asli dari ayahnya itu.


Maura terhenyak dengan ucapan Nathan, terlihat dari dirinya yang langsung terdiam. Rasa penasaran muncul didalam dirinya, dia jadi ingin tau apa yang terjadi pada kakak Nathan. Tapi dia tak berani bertanya lebih banyak. Maura hanya tau dari Bara, bahwa kakak Nathan berada di rumah sakit jiwa karena mengalami penyakit mental disebabkan oleh tindakan pelecehan yang dilakukan Samuel.


Ayah, sampai saat ini aku masih tidak percaya bahwa ayah akan melakukan hal sekejam itu. Ayah cepatlah sadar, jawab semua pertanyaanku ini katakan bahwa semua itu salah. Ayah tidak jahat! Ayah...sepertinya, aku harus menyelidiki tentang kakaknya pak Nathan.


"Ayo Bu, kita masuk ke dalam. Pacar ibu pasti sangat menunggu kehadiran ibu!" Nathan tersenyum, lalu dia membukakan lift untuk Maura dengan menekan tombol.


Pak Nathan, sebegitu marahnya kamu dengan kata-kataku?


Wanita itu tidak menjawab sindiran dari Nathan dan melangkah masuk ke dalam lift. Beberapa detik kemudian, lift berhenti tepat di lantai paling atas gedung itu tempat dimana ruangan Presdir berada.


Ting!


"Saya kemari mau bertemu dengan pak Bryan."


"Maaf Bu, pak Bryan sedang sibuk dan dia tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun hari ini." Kata pria itu.


"Saya memang tidak membuat janji dengan pak Bryan, tapi saya mempunyai sesuatu untuk diberikan padanya." Jelas Maura dengan sopan pada pengawal itu.


"Maaf Bu, kalau ibu belum membuat janji maka ibu tidak---"


"Hey! Kalian hentikanlah," Ferry berlari menghampiri Maura dan Nathan yang ada di lorong itu. "Maaf ya Bu Maura, mereka ini pegawai baru jadi mereka belum tau tentang jadwal pak presdir dengan baik."


Apa mereka mau mati, beraninya menghalangi calon nyonya bertemu dengan pak presdir? Kalau pak presdir tau, mereka bisa dipecat!


"Pak Ferry, wanita ini--" seorang pria hendak bicara pada Ferry namun dengan cepat Ferry menghentikannya.


"Hehe, Bu Maura mau bertemu dengan pak Bryan kan? Silahkan jalan lurus saja, pak Bryan ada di ruangan paling ujung." Ferry cengengesan, dia bersikap ramah pada Maura.


"Kalau pak Bryan memang sibuk, lebih baik saya pergi saja. Salah saya karena tidak membuat janji," Maura merasa bersalah, sedangkan Nathan berdiri mematung seolah tak ada disana.


Dasar Maura, harusnya kamu buat janji dulu.


"Tidak tidak! Tidak apa-apa, masuk saja Bu Maura! Pak presdir pasti menunggu anda," Ferry meminta Maura tetap berjalan ke ruang Presdir.

__ADS_1


Keempat pengawal yang berbaris rapi itu, keheranan melihat sikap Ferry yang sangat baik pada Maura.


Akhirnya Maura berjalan sendirian ke ruangan paling ujung, dia meminta Nathan menunggu diluar saja karena ada pembicaraan pribadi yang harus dibicarakan dengan Bryan berdua saja dengannya. Nathan pun patuh dan menunggu diluar bersama Ferry.


"Pak, kenapa bapak ramah sekali padanya? Dia kan belum punya janji dengan pak presdir," ucap seorang pengawal pada Ferry.


"Ah! Kalian diam saja dan berterima kasihlah pada saya, kalau bukan karena saya kalian akan dipecat, tahu?"


"Lah emangnya kenapa pak?"


"Mulai sekarang kalian harus ingat wajah nyonya itu baik-baik, dia adalah calon nyonya dari Xander grup yang berikutnya!"


Pada pengawal itu menohok mendengarkan ceramah dari Ferry.


****


Maura sudah sampai di ruangan Bryan yang pintunya terbuka itu. Tak lupa dia mengetuk pintu sebelum berjalan masuk ke dalam sana.


Tok, tok, tok!


"Kenapa kamu harus mengetuk pintu segala? Masuk saja!" teriak Bryan yang masih fokus dengan dokumen di mejanya


Apa pak Bryan masih marah ya?. Maura terdiam, lalu dia berjalan masuk lebih dalam ke ruangan yang luas itu.


"Selamat siang pak," sapa Maura pada Bryan.


Suara merdu wanita itu sontak membuat Bryan mendongakkan kepalanya. Dia kemudian tertawa saat melihat Maura ada didepan matanya.


"Sial! Ada apa lagi ini? Kenapa kau ada disini?!" Bryan mendengus kesal.


Lagi-lagi aku berfantasi bahwa dia ada didepanku saat ini.


"Pak, saya..." Maura menatap Bryan dengan rasa bersalah.


Tampaknya dia benar-benar marah.


"Dalam hitungan ke 3," Bryan menunjukkan angka 3 dengan jarinya.


"Ya?" kening Maura berkerut.


"Kalau kamu tidak pergi dalam hitungan ketiga, aku akan melahapmu! Kau paham?!"


"A-apa maksud bapak?" Mata polos Maura menatap Bryan, dia tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu.


"Satu....dua....tiga.... enyahlah dari hadapanku setelah ini!"


Bryan mendekati Maura, dia meraih tubuh mungil Maura, kemudian dia membenamkan benda kenyal miliknya pada bibir cantik milik Maura.


"Akhp!!!"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2