Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 43. Hidupmu berharga, little girl!


__ADS_3

Bryan dan Evan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Maura, namun di kamar itu tidak ada siapa-siapa.


"Loh? Kemana Hanna dan Maura ya?" tanya Evan yang heran karena tidak melihat siapapun di ruangan itu.


"Apa mungkin di pergi ke toilet?" Bryan menebak mungkin saja Maura pergi ke toilet.


Kedua pria itu masuk ke dalam ruang rawat yang tidak ada siapapun disana. Kemudian tak lama kemudian, Hanna datang membawa sekantong kecil kue di tangannya. "Maura, ini aku sudah bawa-"


Hanna tidak menyelesaikan ucapannya saat melihat Bryan dan Evan ada disana, tapi tidak ada Maura. "Loh? Han, kamu darimana? Bukannya kamu di toilet sama Maura?" tanya Evan pada Hanna.


"Di toilet? Enggak, aku baru aja pulang beli kue... Maura agak susah makan dan dia bilang mau kue coklat kesukaannya. Jadi, aku beliin deh ke depan." jelas Hanna pada Evan.


"Hah? Terus, Maura nya mana?" tanya Evan cemas.


"Tadi dia disini kok, emangnya gak ada ya?" Hanna bingung.


Bryan membuka pintu kamar mandi di ruangan itu dan tidak ada siapapun disana. "Mana? Gak ada?" Evan cemas karena tidak ada Maura di dalam kamar itu.


Ketika Bryan, Evan dan Hanna sedang mencari Maura disekitar sana. Seorang suster berjalan di lorong itu. Suster itu bertanya kepada Hanna, sedang apa dia di lorong seperti mencari sesuatu.


"Bu, ibu kerabat Bu Maura kan?" Tanya suster itu pada Hanna.


"Iya sus, suster kan yang memeriksa Maura tadi siang? Apa suster melihat Maura? Dia tidak ada di kamarnya, sus." Hanna bertanya kepada suster itu keningnya berkerut dan hatinya belum tenang karena Maura belum ditemukan.


"Tadi saya lihat Bu Maura keluar dari kamar katanya mau jalan-jalan sebentar. Apa dia belum kembali?" Suster itu balik bertanya karena dia melihat kepergian Maura sudah pergi cukup lama.


"Kapan suster melihatnya pergi?" tanya Bryan yang masih ada disana.


"Sekitar setengah jam yang lalu, pak." jawab suster itu pada Bryan.


Bryan terdiam, dia terlihat panik mendengarnya. Dia takut Maura akan berbuat yang tidak-tidak karena stress dan patah hati oleh Bara. "Suster, apa suster melihat kemana Maura pergi?" tanya Hanna.


"Saya lihat sih tadi ke arah tangga darurat," jawab suster itu.


"Tangga darurat?" Bryan, Hanna dan Evan tercekat mendengarnya, mereka bertanya-tanya kenapa Maura pergi kesana.


Pikiran dan prasangka buruk mulai bermunculan dikepala mereka. Mereka bertiga pun cara untuk mencari gadis itu ke setiap tangga darurat yang ada di rumah sakit.


Hanna dan Evan mencari ke tangga darurat yang menuju ke lantai bawah rumah sakit dan Bryan mencari ke tangga yang menuju ke atap rumah sakit. "Kumohon...kamu tidak ada disini kan little girl?" gumam Bryan cemas.


Pria itu menaiki tangga menuju ke lantai paling atas di rumah sakit, dia membuka pintu yang terbuat dari aluminium di lantai atas rumah sakit itu.


BRAK


Bryan mencari-cari keberadaan Maura disana. "Ah...apa sih yang aku lakukan? Dia tidak mungkin berada disini," ucap Bryan yang kembali membalikkan badannya.


Namun saat dia menoleh ke arah kiri, dia melihat seorang wanita berambut panjang tengah berdiri di atas tembok. "Hey!" Teriak Bryan pada wanita itu.

__ADS_1


Bryan berlari mendekati Maura yang berdiri di atas tembok. "Little girl, kamu tidak boleh melakukan ini!"


Maura menatap pria itu dengan terheran-heran, wajahnya polos seolah tak mengerti apa yang dikatakan Bryan. "Memangnya aku mau melakukan apa?"


Kenapa pak Bryan menatapku seperti itu? Dia terlihat panik.


"Apapun yang mau kamu lakukan, lebih baik kamu hentikan sekarang juga! Cepat turun, bahaya!" Ujar Bryan pada Maura seraya memintanya turun dari atas sana.


"Saya hanya..."


"TURUN!" Mata Bryan menatap wanita itu dengan panik, dia takut melihat Maura masih berdiri disana.


"Sebentar, saya mau-"


Lagi-lagi Bryan memotong ucapan Maura. "Aku tau kamu terluka karena dia, tapi apa kamu harus menghancurkan dirimu seperti ini? Kamu berhak bahagia, kamu berhak memulai hidup yang lebih baik...jangan hanya karena satu orang yang menyakitimu, kamu sampai mengakhiri hidup. Believe...bahwa kebahagiaan akan mendatangimu, menggangu semua air mata dengan senyuman, masih banyak yang menyayangimu. Little girl, hidupmu berharga..." Nasihat dan bujuk Bryan pada Maura.


Maura tercengang mendengar ucapan Bryan padanya. Akhirnya dia mengerti maksud dari ucapan Bryan itu.


Apa dia mengira aku mau bunuh diri? PFut.. wajah yang selalu percaya diri dan angkuh itu, ternyata bisa panik dan mencemaskan orang lain juga. Apa aku kerjai dia saja ya?


Wanita itu menahan tawanya didalam hati, dia terheran-heran melihat Bryan yang panik didepan matanya.


"Saya tidak mau hidup lagi, saya tidak bisa...menanggung semua ini." Maura memegang dadanya, wajahnya memelas menunjukkan ketidakberdayaan.


Bryan semakin panik melihatnya begitu. "Jangan bicara begitu, aku yakin kamu kuat! Masih banyak yang menyayangimu di dunia ini, Revandra dan juga temanmu Hanna. Mereka akan sedih kalau kamu memutuskan untuk pergi."


Si Bara brengsek itu! Dia harus membayar berkali-kali lipat karena sudah membuat little girl seperti ini. Bryan kesal pada Bara yang sudah membuat Maura menyerah untuk hidup.


"Ayo turunlah...kemari, aku akan menangkapmu!" Bryan merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap Maura.


"Kalau aku tidak mau turun, bagaimana?" Maura menahan senyumnya melihat wajah panik itu.


"Maka aku akan menarikmu, kumohon cepat turun... menakutkan berdiri disana!" Seru Bryan semakin panik.


Niat Maura ingin segera turun, namun naas kakinya terpeleset. "Kyaakkk!!"


Bryan memegangi erat tangannya sebelum wanita itu jatuh ke bawah, kini Maura tergantung di lantai paling atas gedung rumah sakit itu. "Tolong..." Maura menatap Bryan, dia panik karena takut jatuh.


"Dasar.. kalau pada akhirnya kamu minta tolong seperti ini, kenapa kamu memutuskan untuk mati sebelumnya? Dasar bodoh!" Pria itu berusaha menarik tubuh Maura yang bergelantungan disana.


"Apa? Bapak bilang saya bodoh?!" Maura baik pitam dikatai bodoh oleh Bryan.


Dalam keadaan genting seperti itu, masih sempat-sempatnya Bryan dan Maura berdebat. Bryan pun berhasil mengangkat Maura kembali ke atas dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Maura menghela nafas lega, dia terjatuh diatas tubuh sang presdir group Xander itu.


"Kamu benar-benar bodoh!" Bryan menatap kesal pada wanita itu. Keduanya bertatapan satu sama lain.


"Cukup pak! Bapak terus saja mengatai saya bodoh! Apa bapak pikir saya tidak akan marah?" Maura balik marah pada pria yang menolongnya itu.

__ADS_1


"Ya, kamu kan memang bodoh! Memutuskan untuk bunuh diri, seolah di dunia ini tidak ada yang bisa kamu syukuri!" Teriak Bryan marah-marah.


"PFut...." Maura menutup mulutnya, menahan tawa.


"Apa? Kenapa kamu malah tertawa begitu? Apa ada yang lucu?" Bryan menaikkan alis, menatap wanita itu. Keningnya berkerut, tidak paham kenapa Maura begitu.


Aku mencemaskannya dan takut terjadi sesuatu padanya dan dia malah tertawa?


"Siapa yang bilang kalau saya mau bunuh diri?"


"Apa sekarang kamu menyangkalnya? Setelah yang akan terjadi barusan?" tanya Bryan sinis.


"Saya tidak menyangkalnya, saya tidak punya niat bunuh diri sama sekali. Seperti apa kata bapak, kalau hidup saya berharga dan masih banyak yang bisa saya syukuri." tutur wanita itu jujur, dia menang sama sekali tidak ada niatan untuk bunuh diri seperti apa yang dikatakan Bryan.


Bryan mendesis sinis, dia tidak percaya ucapan Maura. "Pembohong, lalu kenapa kamu berdiri di atas tembok itu kalau bukan mau mati?"


"Bapak salah paham, tidak semua yang bapak lihat seperti apa yang bapak pikirkan!"


"Lalu seperti apa pikiranku dan apa yang salah paham dengan apa yang aku lihat?" Bryan tampak marah, terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Apapun yang saya ucapkan sekarang, sepertinya terdengar seperti alasan untuk bapak. Tapi saya benar-benar tidak memiliki niatan untuk bunuh diri,"


Bryan yang masih marah, tidak mendengarkan penjelasan Maura. Dia pun membantu Maura berdiri, lalu dia menggendong Maura. Dia mengajak Maura kembali ke lantai bawah karena kakak dan temannya sedang mencari dia.


"Pak, saya bisa jalan sendiri."


"Diam saja! Siapa tau kamu mencoba untuk melompat lagi?" Bryan mengomel pada wanita itu, dia takut Maura akan mencoba bunuh diri seperti apa yang dia pikirkan.


Deg!


Maura merasakan ada sesuatu yang berdegup kencang didalam dadanya. Dia merasa bahagia karena ada bertambah seseorang yang memperhatikannya. "Terima kasih, bapak adalah teman yang baik." ucap Maura sambil tersenyum.


Bryan tersentak mendengar kata teman itu, dia tidak nyaman dengan ungkapan terimakasih itu.


Teman ya? Maaf, tapi aku tak mau jadi temanmu, aku maunya jadi kekasihmu. Tapi bagaimana aku mengatakannya sekarang? Ini bukan waktu yang tepat.


Bryan menggendong Maura, menuruni tangga dan mereka kembali ke ruang rawat.


****


🍀 Di Kantor polisi 🍀


"Bara..." Alya menatap anaknya yang terlihat marah. Disana juga ada Ghea yang menjenguk kakaknya.


"Apa benar Maura mengatakan itu pada ibu?" Bara mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Iya," jawab Alya singkat

__ADS_1


"Aku bisa mengembalikan semua hartanya kembali, aku bisa melakukan apa saja! Tapi aku tidak mau bercerai!" Bara menggebrak meja dengan emosi. Begitu mendengar Alya mengatakan syarat untuk pembebasannya dari jeruji besi.


...****...


__ADS_2