Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 24. Siapa yang selingkuh?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sesampainya di kantor, Bryan langsung memanggil Evan keruangan nya. Bryan menanyakan pada Evan, apakah Maura menerima bantuannya untuk melunasi hutang pada Bara.


"Jadi, adik sepupumu menolak bantuanku?" Bryan terdengar kecewa setelah dia mendengar jawaban dari Evan, bahwa Maura menolak bantuan darinya.


"Iya pak, Maura mengatakan bahwa dia memiliki rencana sendiri dan meminta saya untuk tidak melakukan apa-apa karena masalahnya bukan soal uang." jelas Evan pada Bryan.


"Maaf, aku bertanya seperti ini karena aku sangat penasaran. Aku akan mengatakan apapun kepada orang lain, tapi mungkinkah adik sepupumu itu berniat untuk balas dendam pada suaminya?" Bryan menangkap maksud Maura menolak bantuannya karena dia ingin membalas dendam.


Evan hanya mengiyakannya saja tanpa membahas lebih jelas. Dia belum bisa percaya pada Bryan sepenuhnya, apalagi saat dia tau bahwa Bryan memiliki pertemuan bisnis dengan Bara didalam salah satu jadwalnya yang dia ketahui tanpa sengaja.


Setelah bicara dengan Evan, Bryan memanggil Ferry ke ruangannya. Dia menanyai Ferry tentang Bara dan Maura. "Ferry, apa yang kamu temukan?"


"Saya berhasil menemukan beberapa informasi tentang pernikahan mereka, semua yang dikatakan pak Revandra memang benar. Pak Bara menikahi Bu Maura karena dendam pada pak Samuel." jelas Ferry sambil memberikan sebuah dokumen dalam amplop coklat ke meja Presdir.


"Dendam apa itu?" tanya Bryan semakin penasaran hubungan Bara dengan Maura. Bryan membuka amplop coklat besar itu.


"Bapak bisa melihatnya di dokumen itu." Ucap Ferry sambil menundukkan kepalanya.


Bryan membuka dokumennya, dia melihat data seorang gadis berusia 16 tahun yang mati bunuh diri di gedung sekolah. Alina Sahara, itulah nama wanita yang mati bunuh diri karena malu ketahuan hamil diluar nikah.


"Ferry, apa hubungannya gadis ini dengan Pak Bara dan pak Samuel?" tanya Bryan dengan kening berkerut.


"Dari informasi yang saya dapatkan, gadis bernama Alina ini diperkosa oleh pak Samuel hingga hamil dan dia adalah teman kecil pak Bara sekaligus pacarnya."


"Apa? Aku tidak percaya ini...orang berpendidikan seperti pak Samuel bisa melakukan hal bejat?!" Bryan mengerutkan kening, dia tak percaya bahwa Samuel yang terlihat baik dimata para klien dan teman bisnisnya akan melakukan hal bejat pada seorang gadis dibawah umur. Bahkan gadis itu sampai bunuh diri. "Tapi, apapun kesalahannya...tidak seharusnya Maura menjadi samsak!" Bryan mengepalkan tangannya dengan kesal.

__ADS_1


Little girl, aku akan membebaskanmu dari penjara yang bernama dendam itu.


****


Di rumah keluarga Agradana, Bara dan Maura masih berdebat karena surat dan bunga yang diantarkan kurir untuk Maura.


"Kamu tidak berhak membuang bunga itu!"


"Aku berhak melakukan ini karena aku adalah suamimu Maura!" bentak Bara pada Maura.


"Suami? Apa kamu bercanda? Hubungan kita sepertinya hanya majikan dan pembantu saja!" seru Maura kesal.


Maura yang kesal memutuskan untuk pergi dari sana, dia mengambil tas selempangnya, bahkan dia tidak menyelesaikan pekerjaannya.


"Mau kemana kamu?!" Bara memegang pergelangan tangan Maura. "Dasar, wanita tukang selingkuh." desis Bara marah.


"Cukup! Jangan bicara lagi!" Bara tidak mau kalah berdebat dengan Maura.


"Iya, aku memang tidak mau bicara lagi denganmu. Lebih baik aku pergi kerja saja!" Seru Maura sambil menepis tangan Bara dengan kesal.


Perdebatan mereka berakhir dengan kepergian Maura dari rumah itu. Bara juga harus pergi bekerja karena dia sudah terlambat, walau sebenarnya Bara masih ingin bicara dengan Maura. Hatinya kesal melihat surat dan bunga itu.


Ketika sampai di kantor saja, Bara terus kepikiran dengan Maura dan siapa pria yang menjadi selingkuhan Maura. Siang itu Bara mengadakan pertemuan dengan klien dari perusahaan Xander grup, dia mengajak Maura pergi bersamanya karena hal ini berkaitan dengan desain dan Maura sebagai ketua tim desain harus ikut dengannya bersama Nathan juga.


Mereka bertiga sampai disebuah restoran mewah berciri khas Jepang dan memiliki tempat duduk lesehan. "Nathan, apa Presdir Xander grup itu suka makanan Jepang?"


"Saya kurang tau pak, setahu saya Presdir Xander grup itu lebih senang dengan masakan Eropa karena beliau keturunan Eropa." jelas Nathan pada Bara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Bara terdiam, dia memikirkan sesuatu.


Apa ini kebetulan saja kalau Presdir Xander grup mengajak bertemu di restoran Jepang? Maura kan suka makanan Jepang, hahh...kenapa aku memikirkannya, Bara fokuslah pada balas dendammu, ingatlah bahwa Alina diatas sana akan senang kalau aku bisa menyakiti anak dari pria bejat yang sudah menghancurkannya.


Maura terlihat senang melihat restoran itu, sudah lama dia tidak datang ke restoran Jepang, karena dia tidak punya uang untuk makan disana.


"Heh! Kenapa kamu berdiri disana? Cepat kemari!" ujar Bara ketus.


"Saya izin ke toilet sebentar," ucap Maura tanpa senyuman sedikitpun pada Bara.


Bara sangat menyebalkan, aku jadi tidak tahan untuk selalu berpura-pura baik didepannya. Dengus Maura dalam hatinya.


"Baiklah, jangan lama-lama." kata Bara sambil berjalan pergi bersama Nathan ke tempat dia akan bertemu dengan presdir Xander grup itu.


Setelah Maura keluar dari toilet, dia melihat sosok tidak asing yang bersandar ditembok didekat toilet wanita. Tubuh dan wajahnya seperti patung pahatan yang indah, hingga semua wanita disana tidak bisa memalingkan wajah dari pria keturunan Eropa itu.


"Woah siapa itu? Apa artis?"


"Ganteng banget!" ucap seorang wanita terpesona.


Maura melihat jelas pria itu, namun dia memilih mengabaikannya dan berjalan begitu saja.


Grep!


Maura kaget dan membalikkan wajahnya saat merasakan tangannya dipegang oleh telapak tangan yang besar. "Lepas!"


"Woah, bagaimana bisa kita bertemu lagi disini? Aku sudah bilang kita ini takdir." ucap Bryan sambil tersenyum pada Maura.

__ADS_1


...****...


__ADS_2