
...🍀🍀🍀...
"Revandra Agradana!" Bara membentak pria yang bernama Evan itu.
"Apa maksudmu? Kamu pasti salah dengar," Evan menutup telponnya dan menyimpan ponselnya di saku jas.
Gawat! Bagaimana ini?
"Aku tidak salah dengar, jelas-jelas aku mendengar kalau kamu bilang Maura sedang hamil dan kamu ingin menggugurkannya. Itu anakku, kan?" Bara semakin mendekat ke arah Evan yang resah.
Evan risih dengan pertanyaan yang terus menerus ditanyakan Bara padanya. "Apa sih? Mang Udin, usir pria ini!" Ujar Evan pada satpam rumahnya itu.
"Baik tuan," Udin menghampiri Bara dan memegang tangannya. "Pak Bara, saya mohon..."
"Aku akan pergi tapi kamu jawab dulu, Maura hamil anakku kan?" Bara menepis tangan Udin yang memeganginya.
Evan acuh, dia masuk begitu saja ke dalam mobilnya bersama Hendra. Bara marah-marah karena pria itu menghindar dari pertanyaannya. Namun, dia tersenyum menyeringai dan senang karena tau kalau Maura hamil anaknya.
Ini artinya kesempatanku untuk bersama dengan Maura terbuka lebar. Aku harus memanfaatkan ini dengan baik, bahkan Tuhan pun sudah memberi jalan. Aku harus temui Maura hari ini juga.
Bara menyelah motornya yang mogok itu, dia berencana untuk pergi ke kantor Agradana karena dia yakin bahwa saat ini Maura ada disana. Dengan hati bahagia penuh harapan dia pergi kesana, setelah motornya kembali menyala.
Tapi usaha Bara tentu tidak mudah, setelah dia sampai di depan kantor. Petugas keamanan disana mengusirnya dengan tidak hormat. "Saya harus bertemu dengan Maura,"
"Maaf pak, bapak tidak bisa masuk ke dalam!" Seru salah satu seorang petugas keamanan pada Bara.
"Mohon kerjasamanya pak!" Kata seorang petugas sambil mendorong pria itu.
"Tapi pak---"
Aku menerobos saja deh.
Ketika Bara akan menerobos masuk ke dalam kantor, ponselnya terus berdering. Dia mendapatkan telepon dari bosnya. "Ya pak?"
["Bara, kamu dimana sih? Masih niat kerja gak kamu?"]
Terdengar suara marah dan lugas dari seseorang yang menelpon Bara. "Maaf pak, motor saya mogok. Sebentar lagi saya sampai," Bara ketar-ketir pasalnya dia jadi lupa bahwa dia memiliki pekerjaan karena ingin segera bertemu Maura.
__ADS_1
Dia pun memutuskan untuk pergi dari sana dan berencana akan menjemputnya setelah dia pulang kerja.
Dari ruang Presdir lantai paling atas kantor itu, Evan melihat dari kaca ruangan, sosok Bara yang baru saja pergi dengan motor bututnya.
"Haaahh... syukurlah dia sudah pergi. Tidak akan aku biarkan kamu masuk kembali pada kehidupan Maura," ucap Evan sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
****
Siang itu, Maura mengikuti rapat bersama Evan. Dia melakukan persentasi, segala pekerjaan yang berkaitan dengan desain harus Maura yang mengerjakannya seolah Evan sengaja membuat adiknya lelah.
Tega memang, tapi Evan terpaksa melakukan ini agar Maura cepat keguguran sebelum dia menyadari kehamilannya. Ketika sedang persentasi, Maura merasakan bahwa perutnya mulai sakit. Seperti biasa dia mengira ini pertanda dia akan datang bulan.
"Maura, kamu kenapa?" Tanya Evan pada Maura yang baru saja keluar dari ruang rapat bersama dengan sebagian karyawan lainnya yang bekerja di perusahaan itu.
Apa Maura mulai merasakan sesuatu di perutnya? Dari tadi dia terus memegang perutnya.
"Sepertinya aku mau datang bulan kak, gak apa-apa ini udah biasa." Jelas Maura sambil tersenyum.
Apa bayi itu akan keluar?
Evan menatap Maura dengan kening berkerut, di belakang Evan ada Nathan juga. "Kak, kakak gak usah cemas...aku gak apa-apa kok." Maura tersenyum.
"Kakak?" Maura melihat kakaknya yang tiba-tiba diam dengan wajah cemas.
"Iya kamu pasti akan baik-baik saja. Kalau kamu sudah datang bulan, kamu kasih tau kakak ya, Ra?"
"Hah? Ish kakak...apaan sih? Kenapa aku harus kasih tau datang bulanku sama kakak?" Maura memonyongkan bibirnya, dia pun melangkah pergi dari sana dan kembali bersama timnya, bagian tim desain.
Evan melihat kepergian Maura dengan tatapan sedih. Nathan melirik Evan dan tersenyum menyeringai. "Apa kamu lihat-lihat?" Tanya Evan.
"Tidak apa-apa," jawab Nathan cuek.
"Ehem, kamu tidak usah cemas. Setelah om saya sadar, saya pastikan kamu akan mendapatkan hak-hak kamu sebagai anaknya." Kata Evan.
Nathan hanya merespon dengan tersenyum tipis seperti biasanya. Sebenernya dia tidak mengharapkan harta atau statusnya sebagai anak kandung, tapi dia mengharapkan hal yang lain ketika Samuel sadar. Entah apa yang akan dia minta.
***
__ADS_1
Sore itu, satu persatu karyawan mulai bubaran karena jam kerja mereka telah habis. Karyawan di Xander grup, maupun karyawan di Agradana grup memiliki jadwal pulang yang sama yaitu pukul 05.00 sore.
Bryan masih berada di dalam kantornya, dia juga baru selesai dengan urusannya. Beberapa dokumen menumpuk sudah dia selesaikan. "Ferry, hari ini aku yang akan menyetir."
"Ba-baiklah pak," Ferry menjawab dengan wajah menunduk seperti kecewa.
"Kenapa wajahmu begitu?"
"Saya hanya heran, kenapa sekarang bapak tidak mau saya antar pulang. Bapak akan biasanya selalu malas menyetir, bapak kalau bilang kalau setir mobil itu mengandung bakteri dan sebagainya."
Ferry tercengang melihat Bryan tersenyum manis sampai salah satu lesung pipinya terlihat. "Hahaha...jadi sekarang kamu sedang kecewa? Bukankah karena aku menyetir sendiri, kamu bisa pulang lebih awal? Harusnya kamu senang dong,"
"Hehe iya juga sih pak, hanya saja saya merasa heran. Akhir-akhir ini bapak telah banyak berubah," sekretaris yang telah bekerja lama untuk Bryan itu terlihat senang karena bosnya telah banyak berubah.
"Hem, apa begitu? Berubahnya gimana?" Tanya Bryan sambil berjalan menuju ke lift bersama Ferry.
"Iya pak, bapak berubah menjadi orang yang lebih terbuka dan kebiasaan bapak juga, bapak banyak mencoba hal-hal yang baru karena Bu Maura."
"Kamu benar, aku banyak berubah karena dia." Gumam Bryan pelan. "Oh ya Ferry, tentang reservasi restoran...apa kamu tidak lupa?"
"Saya sudah siapkan semuanya pak, termasuk pemain musiknya juga. Sesuai instruksi bapak, pokoknya bapak dan Bu Maura tinggal datang saja." Ferry menjelaskan bahwa semuanya beres!
"Terima kasih, kalau malam ini berjalan lancar. Aku akan naikan gaji mu," Presdir Xander grup itu terlihat bahagia.
"Wah! Bapak baik sekali, semoga malam ini acara bapak dan Bu Maura lancar ya." Ferry mendoakan dengan tulus.
"Ya, makasih."
Sepulang dari kantor, Bryan langsung menjemput Maura di kantornya karena mereka sudah janjian untuk bertemu. Masa Iddah Maura juga sudah lewat dan Bryan semakin gencar mendekati Maura.
Maura pun pergi dengan Bryan tanpa ada halangan, tepat saat mereka pergi. Bara mengikuti mereka dengan sepeda motornya, namun naas disana ada mobil yang menyerempetnya hingga jatuh.
"Auw! Hey! Kalau naik mobil hati-hati dong!" Teriak Bara pada mobil hitam yang menabraknya.
Kaca mobil hitam itu terbuka, terlihat Evan ada disana. "KAMU!" Bara menatap pria itu dengan emosi.
"Makanya jangan menghalangi jalan, jadi ini lah akibatnya!" Evan tersenyum sinis melihat Bara yang terduduk dengan motor yang menindihnya.
__ADS_1
Tidak akan aku biarkan kamu menganggu Maura dan pak Bryan.
...****...