
...🍁🍁🍁🍁...
Evan menelisik Maura dengan tatapan tajam, menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh Maura padanya.
Apa aku masih ada hati untuknya?
"Maura, jawab!" tegas Evan.
"Tidak ada, hatiku untuknya sudah mati dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini padaku," Maura menjawab dengan senyuman getir terlihat dibibirnya.
Evan tidak bertanya lagi, wajah Maura juga sudah menunjukkan segalanya. Mana mungkin rasa sakit seperti itu tidak bisa membuat Maura membunuh rasa cinta pada Bara. Namun disisi lain Evan tau bahwa Maura tak mungkin melupakan kenangan 4 tahun itu.
Mungkin rasa di dalam hatinya telah musnah, namun kenangan pasti tetap ada.
"Ayo kak, kita berangkat kerja yuk! Udah telat nih, mari kita mulai hari yang baru." Maura tersenyum, seraya mengajak kakak sepupunya untuk pergi kerja bersama.
Tangan Evan mengusap-usap rambut panjang Maura yang diikat satu itu, dia menatap Maura dengan penuh kasih sayang. Mereka pun berjalan ke lantai bawah, alangkah kagetnya mereka begitu melihat Alya sedang membersihkan barang-barang dengan kemoceng, bahkan wanita itu memakai baju seragam seperti Bi Iyam dan Bi Inah.
"Selamat pagi Maura," sapa Alya pada Maura dengan ramah.
Maura tertegun sejenak, ketika melihat Alya. Lalu dia pun bertanya kepadanya, "Kenapa ibu memakai pakaian seperti ini?"
"Ibu hanya ingin menebus semua kesalahan ibu sama kamu nak, ibu akan menjadi pembantu di rumah ini seperti kamu dulu menjadi pembantu," Alya menundukkan kepalanya di depan Maura.
Maura terdiam dan mengepalkan tangannya dengan geram.
"Oh, gitu ya?" Evan tersenyum sinis, dia tau adiknya tidak akan bisa bersikap kejam. "Bi Inah! Sini!" Teriak Evan memanggil Bi Inah.
Entah apa yang akan dilakukan Evan dengan memanggil Bi Inah. Setelah bi Inah tiba di hadapan Evan, pria itu langsung meminta bi Inah untuk membawakan pakaian kotor ke hadapannya. Bi Inah hanya menurut saja apa perintah Evan, meski dia tak tahu kenapa Evan memerintahkannya seperti itu.
Beberapa detik kemudian, Bi Inah datang membawa baju-baju kotor yang ada di dalam keranjang. "Ini tuan Evan,"
Evan mengambil keranjang berisi baju-baju kotor itu, dia pun lalu melemparnya pada wajah Alya. "Bereskan, cuci yang bersih, jemur lalu setrika!" Kata Evan dengan lugas.
Tumpukan baju kotor itu kini berserakan di lantai setelah sebelumnya baju itu dilempar ke wajah Alya. "Baik, akan saya lakukan." Kata Alya menjawab sambil tersenyum pahit.
Ya, ini memang pantas aku dapatkan. Aku telah berbuat dzalim pada menantuku sendiri. Mendidik anak anakku dengan cara yang salah.
Alya memahami kesalahannya sendiri dan dia ikhlas diperlakukan kasar oleh Evan, sebagai penebusan dosa.
Sesaat Maura merasa iba pada Alya, teringat bahwa dulu dia pernah dilakukan lebih buruk dari itu oleh Bara dan keluarganya. Maura pun acuh dan pergi begitu saja dari sana, Evan nya menyusulnya.
Bi Inah juga tidak membantunya karena dulu Alya begitu jahat pada Maura, "Cepat lakukan perintah tuan Evan, kalau ibu gak mau tangan ibu terkena setrika panas!"
Kata-kata ketus Inah mengingatkan Alya pada dosa saat dirinya pernah menjatuhkan setrika ke tangan Maura. Bahkan bekas setrika itu masih ada di telapak tangan Maura dan tidak hilang.
"Ya, bibi juga bisa menyuruh saya melakukan apa saja. Saya siap membantu, jangan sungkan..." Alya bersikap sopan pada Inah.
"Baiklah,"
Bi Inah kembali ke dapur untuk melaksanakan tugasnya. Sementara itu Ghea yang baru bangun tidur dan akan berangkat, terkejut melihat ibunya sedang membereskan baju di lantai. "Ibu, ibu lagi ngapain?"
"Kamu gak lihat ibu lagi apa?" Alya malah bertanya balik pada putrinya.
"Pasti si Maura dan kakaknya itu yang melakukan ini kan?" Ghea gusar.
"Ghea, kita harus sadar diri! Apa yang kita lakukan pada Maura lebih dari ini." Alya merapikan semua baju itu dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang.
"Ibu...jangan melakukan ini Bu,"
"Ghea, kamu sendiri yang bilang kalau kita harus membujuk Maura dan keluarganya. Kenapa kamu melarang ibu melakukan ini? Lebih baik kamu bantu ibu daripada kamu diam saja!"
"Ibu-- maaf bukannya aku gak mau bantu, tapi hari ini adalah hari pengumuman ujian kelulusan kampusku."
__ADS_1
"Haaihh...ya sudahlah, pergilah Ghea semoga urusanmu berhasil. Jangan pulang malam, begitu hasilnya keluar, langsung pulang nak!" Alya mengingatkan anaknya itu.
"Ibu tenang saja! Aku akan langsung pulang setelah urusanku selesai lalu membantu itu membujuk si Maura." Ghea tersenyum pada ibunya dan berjanji akan membantunya.
"Panggil dia kakak!" Alya meralat ucapan Ghea yang selalu saja memanggil Maura dengan tidak sopan.
Ghea menyepelekan ucapan Alya. "Ya elah---ibu, orangnya juga gak denger."
"Tetap saja kamu harus sopan sama orang yang lebih tua, Ghea!" Kata Alya tegas.
"Oke Bu, Ghea berangkat dulu ya." Ghea mencium tangan ibunya, dia berpamitan untuk pergi ke kampus.
"Hati-hati kamu,"
"Assalamualaikum Bu,"
"Waalaikumsalam,"
Alya melihat kepergian putrinya dari rumah itu, dia berharap agar kedua anaknya bisa hidup tenang setelah penebusan dosanya pada Maura.
*****
Kantor Xander grup, terlihat Bryan sedang duduk di mejanya. Sedari tadi usai rapat, Bryan hanya diam sambil memandangi keluar jendela.
Maura sedang apa ya? Kalau aku telepon dia, apa dia akan mengangkat telpon ku? Ya Tuhan, aku sangat malu untuk melihatnya, aku tak berani untuk bicara padanya. Apa dia marah padaku?
Ferry dari tadi memanggil pria itu, namun Bryan melamun melihat ke arah jendela. "Apa ada sesuatu disana, sampai pak Bryan melihatnya sampai seperti itu?" gumam Ferry yang ikut ikutan Bryan melihat keluar jendela, dia mencari-cari apakah ada sesuatu yang aneh disana. Namun dia hanya melihat gedung-gedung tinggi dan kendaraan lalu lalang di bawah gedung kantor itu.
"Ferry!"
Ferry tersentak kaget mendengar panggilan dengan suara meninggi itu, saking kagetnya dia sampai menjatuhkan dokumen yang dibawanya. "Hah? Apa bapak memanggil saya?"
Presdir Xander grup itu melotot ke arah Ferry dengan tatapan mengancam. Ferry bergidik ngeri, "Sa-saya..."
"Kenapa kamu ada disini Ferry? Apa kamu gak ada kerjaan?!"
Ferry mengambil dokumen di lantai yang tadi dia jatuhkan secara tak sengaja. "Sa-saya kemari karena ingin memberikan dokumen ini pada bapak,"
"Terus kenapa kamu tidak mengeruk pintu!" Kata Bryan ketus.
"Saya sudah mengetuk pintu sampai 5 kali, tapi bapaknya saja yang tidak dengar!"
Lirikan tajam mengarah lagi pada Ferry seolah meminta pria itu untuk diam. Ferry merasakan tekanan yang luar biasa ketika pria itu meliriknya. Bryan langsung membaca dokumennya dengan fokus, dia meminta Ferry untuk kembali ke ruangannya.
Saat dia sedang fokus memeriksa dokumen itu, tiba-tiba dia merasakan hpnya bergetar didalam saku selama beberapa kali.
Dreett... Dreett...
Merasa terganggu dengan getaran itu, Bryan pun membuka ponselnya. Dia melihat ada panggilan tak terjawab dari Maura sebanyak 5 kali. "Dia menelponku apa hanya miscall saja? Tapi kenapa dia menelponku?" Bryan beranjak dari tempat duduknya dengan panik. "Aduh bagaimana ini...apa yang harus aku katakan? Kenapa dia menelponku? Apa dia marah padaku?!" Pria itu mondar-mandir dengan bingung.
Kemudian ponsel Bryan bergetar lagi, bertuliskan disana Little girl Calling.
"Oh! Astaga! Apa yang harus aku lakukan?" Kening Bryan berkerut, dia pun menekan tombol sambil memejamkan matanya. Lalu dia meletakkan ponselnya ke telinga. "Ha-halo.."
[...]
"Kenapa tidak ada suara?" Bryan terheran-heran kenapa tidak ada jawaban dari Maura. Dia pun melihat ke arah ponselnya dan disana tertulis bahwa panggilan sudah diakhiri.
"Apa little girl menutup panggilannya?" Bryan mengotak-atik ponselnya, lalu ada sebuah pesan masuk dari little girl.
...'Pak, saya mohon maaf karena saya sudah menganggu bapak dan menelpon disaat bapak sedang sibuk. Maafkan saya atas kejadian kemarin pak!'...
Kedua mata Bryan melebar melihat pesan dari Maura. "A-apa ini? Kenapa dia berkata seolah-olah aku yang menutup telponnya? Dan kenapa dia meminta maaf kepadaku?"
__ADS_1
Dia memeriksa panggilan di ponselnya. "Hah...apa aku yang menutupnya?!"
Bryan panik, dia langsung menelpon balik Maura. Nada sambung masih terdengar, namun belum ada kata terhubung di ponsel itu.
Beberapa saat kemudian...
...Maaf, nomor yang ada hubungi sedang sibuk mohon---...
"Teleponku di reject? ****! Dia marah padaku? Dia tidak marah padaku kan?" Bryan panik karena telponnya di reject oleh Maura. "Aku harus minta maaf padanya!"
****
Benar saja, Maura memang menolak telepon dari Bryan. Namun itu karena dia berada didalam perjalanan bersama Nathan menuju ke kantor Bryan. Hatinya tidak tenang karena dia merasa bersalah pada Bryan, dia pikir Bryan padanya dan dia harus meminta maaf secara langsung pada Bryan sekalian bertemu, membicarakan masalah bisnis dengan Bryan.
Di dalam mobil, Nathan terus melirik ke arah Maura sambil menyetir mobilnya. "Ada apa?" tanya Maura sinis.
"Tidak apa-apa,"
"Apa pak Nathan mau bertanya kenapa saya dan kak Evan masih mempekerjakan bapak setelah semua yang bapak lakukan?" Maura menyilangkan kedua tangannya didada, tatapannya mengarah tajam pada Nathan.
Mata Nathan membulat, mengisyaratkan seolah apa yang dikatakan Maura padanya memang benar.
"Pak Nathan? Kenapa diam?" Tanya Maura lagi.
"Ya, saya memang berpikir seperti apa yang Bu Maura pikirkan." Nathan menjawab jujur pertanyaan tebakan Maura.
"Jadi, apa perasaanmu? Apa kamu menyesal? Merasa bersalah padaku dan ayah?"
"Tidak sama sekali, saya tidak menyesal ataupun merasa bersalah atas apa yang saya lakukan pada Bu Maura dan pak Samuel. Semua penderitaan kalian tidak sebanding dengan penderitaan kakak saya," Nathan tersenyum menyeringai, dia tidak terlihat merasa bersalah pada Maura ataupun ayahnya.
Wanita itu mengepalkan tangannya, lalu dia meminum pil di dalam tasnya dan meneguk air yang ada didalam botol. Entah apa yang Maura minum itu.
Maura kesal karena Nathan sama sekali belum menyesali perbuatannya berkhianat pada Maura, dia sebenarnya tidak suka Nathan masih bekerja di perusahaan Agradana. Namun Evan yang bersikeras mempertahankannya, entah kenapa.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Maura dan Nathan sampai di depan kantor Xander grup. Maura memegang dokumen ditangannya, dia menatap gedung yang tinggi itu.
"Apa pak Bryan akan marah ya kalau aku mengunjunginya tiba-tiba seperti ini?" Gumam Maura bingung.
****
Di penjara tempat Bara mendekam, Vera datang mengunjungi Bara. Dia bahkan membawakan Bara makanan, Vera terlihat cemas melihat Bara yang babak belur dan acak-acakan berada di penjara.
"Kamu mau apa kesini? Mau minta uang padaku? Aku sudah miskin sekarang," kata Bara cuek.
"Aku tau, tapi aku kesini bukan untuk itu kok. Aku bawakan makanan untuk kamu, sepertinya kamu kekurangan makanan disini,"
"Jangan berkata seolah kamu peduli, pergi saja dari sini!"
"Haahh...aku tau yang kamu harapkan bukan kehadiranku. Makanya aku datang kesini untuk memberikanmu solusi," Vera menyodorkan sebuah amplop pada Bara. Dia meminta Bara untuk membuka amplop itu.
Bara melihat didalam sana ada foto Maura dan Bryan berpelukan didekat tempat parkir restoran. Terbakar hatinya melihat foto istrinya bersama pria lain. "Bajingan itu! Beraninya dia mendekati istriku, disaat aku menderita berada didalam sini..."
"Aku hanya kasihan saja sama kamu, Bara. Makanya aku menunjukkan semua ini dan aku punya solusinya,"
"Apa maksud kamu Vera?!"
"Kamu ceraikan Maura,"
Bara menatap Vera dengan bingung, apa maksud dari kedatangannya ke penjara menunjukkan foto itu dan memberikan solusi perceraian dengan Maura.
...*****...
Hai Readers, jangan lupa komen like nya ya 😘 kasih gift dan vote nya juga boleh kok.
__ADS_1